I Love You, J!

I Love You, J!
Bab VII - Membangunkan Macan Tidur



Untung saja bahuku tidak mengalami masalah serius. Setelah tiga hari nyerinya sudah berkurang. Yasmin memenuhi janjinya untuk menemaniku untuk menjalani fisioterapi.


Hari-hariku makin tersiksa di rumah karena aku dan Mas Yudha belum ada tanda-tanda baikan. Kakakku itu masih merasa dirinya benar. Dia tahu bahuku sakit, tapi seperti menahan diri untuk bertanya. Aku pun tidak mau repot-repot menjelaskan padanya.


“Kamu masih belum ngomong juga sama Mas Yudha?” tanya Mama saat makan siang. Hanya ada aku dan Mama. Papa sedang sibuk dengan proyeknya. Mas Yudha pergi entah kemana.


Aku menggeleng. “Mas Yudha ngatur banget,” sahutku sambil mengunyah bakwan sayur bikinan Mama.


Mama menghela napas. “Yudha begitu karena peduli sama kamu,” ujar Mama. “Kan bisa ngomong baik-baik. Nggak enak tahu, nggak saling bicara begitu.”


“Kasih tahu Mas Yudha kalo gitu, minta dia bicara baik-baik.”


“Dua-duanya keras kepala,” gumam Mama pelan. “Gimana bahu kamu? Kemarin jadi ke fisioterapis?”


Aku mengangguk. “Udah mendingan sih, Ma. Tinggal datang satu kali lagi.”


“Syukurlah. Besok-besok nggak usah nonton konser lagi deh, bahaya banget. Untung kamu nggak mengalami luka serius. Junot juga nggak akan marah kan, kalo kamu nggak nonton dia manggung. Dia pasti ngerti.”


“Iya,” sahutku singkat supaya Mama tidak memperpanjang masalah itu. Pasca kejadian aku pingsan waktu itu, Mama mengomeliku habis-habisan. Padahal kondisiku waktu itu sedang tidak baik-baik saja.


“Yudha sempat nanya ke Mama kamu kenapa,” kata Mama lagi.


Aku berhenti mengunyah bakwan sayur Mama yang super lezat. “Terus Mama bilang apa?” aku deg-degan menunggu jawaban Mama.


Mama mengangkat bahu. “Mama bilang kamu jatuh. Kalo Mama bilang kamu pingsan pas nonton konser, nggak kebayang deh Yudha ributnya bakal kayak apa-apa. Dia kan sebelas dua belas kayak Papa.”


“Super protektif!” ucapku dan Mama secara bersamaan. Kami lalu tertawa. Mas Yudha memang fotokopi Papa. Aku lega Mama tidak mengatakan yang sebenarnya pada Mas Yudha. Jangan sampai Papa juga tahu. Bisa gawat.


“Lain kali hati-hati, Na. Kamu kadang masih suka ceroboh,” pesan Mama.


“Iya, Ma,” kataku. “Aku mau habisin ini dulu.” Aku mencomot satu bakwan sayur lagi dan sepotong tempe mendoan.”


Mama hanya geleng-geleng kepala melihat nafsu makanku yang besar. Aku harus isi bensin untuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk, perutku tidak boleh keroncongan.


***


Di antara semua film perang, favoritku adalah Pearl Harbor. Sesering apa pun aku menontonnya, aku tidak akan pernah bosan. Aku sudah hapal setiap detail dan dialog film itu.


Aku mendapatkan sesuatu dari Pearl Harbor. Jangan pernah membangunkan macan tidur. Sekeras apapun kau menghantam dia, dia tidak akan menjadi lemah, melainkan akan balas menghantammu lebih keras dari siapapun.


Jepang mencari gara-gara dengan menyerang pangkalan angkatan laut Amerika. Amerika boleh saja hancur lebur karena serangan itu. Namun tiga tahun kemudian, Amerika membalas Jepang dengan cara yang lebih menyakitkan. Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak.


Tidak ada yang tidak mungkin.


Aku mengerutkan kening membaca sebuah twit yang dibagikan oleh Yasmin. Jevan berulah lagi. Seolah menjadi korban patah hati, dia mengunggah foto-foto kami berdua, mengenang momen-momen manis kami menjadi sebuah thread.


Selama ini aku hanya diam. Aku tidak mengunggah apapun saat perasaanku kacau gara-gara perselingkuhan Jevan. Namun cowok itu justru berlagak sebagai pria romantis di media sosial, seolah dialah korbannya. Netizen pun berpikir betapa tidak bersyukurnya aku punya pacar seperti Jevan.


Kali ini Jevan berhasil membuatku emosi.


Jevan tidak ada bedanya dengan mulut manis Jepang di saat awal kedatangan mereka ke Indonesia. Dia tidak sadar bahwa dia sudah menghancurkan ekspektasiku tentang cowok romantis yang setia, sama seperti Jepang yang menghancurkan Pearl Harbor. Dia pikir aku tidak bisa bertingkah seperti Amerika yang diam selama beberapa saat untuk melakukan pembalasan kemudian?


Sial. Aku jadi tidak fokus mengerjakan tugas gara-gara Jevan.


Yasmin meneleponku.


“Kirana, rasanya gue pengen lempar tabung gas LPG 12 kilo ke kepala Jevan. Bisa-bisanya playing victim!” Yasmin langsung meracau.


“Memangnya lo bisa angkat tabung gas LPG 12 kilo?”


“Gue serius! Lo nggak boleh diem aja, Na! Lo yang dirugikan di sini.”


“I know. Ini gue lagi mikir, enaknya gue apain ini si Jevan.”


“Mau gue bantu untuk kasih pelajaran?”


“Nggak perlu. Amerika nggak butuh bantuan siapa pun waktu nyerang Hiroshima-Nagasaki. Gue juga akan memberdayakan diri gue untuk nyerang balik.”


“Gue kan kesel juga!” kataku. “Gue nggak terima dia upload-upload foto gue, bukannya dihapus, malah dipamerin. Dia udah melanggar privasi gue.”


“Betul! Dia upload foto lo tanpa izin!” Yasmin mengompori.


“Gue benci banget sama orang yang pakai sosmed untuk manipulasi!” aku makin emosi karena terpancing Yasmin. “Gue beneran pengen balik ke zaman dulu, sumpah! Mending gue ukir muka gue di prasasti! Disebar-sebar gini sama dengan mencemarkan nama baik gue!”


“Bener! Lo harus balas! Lo harus serang balik!”


Aku gregetan sendiri. Otakku berputar. Harus aku apakan bajingan satu ini? Haruskah aku membalasnya dengan media sosial juga?


Tanpa aba-aba dulu, aku mengakhiri sambungan telepon Yasmin. Anak itu pasti sedang memaki sekarang. Masa bodoh dengan itu. Aku membuka akun twitter Jevan dan melihat siapa saja yang dia ikuti.


Ternyata dia bermain bersih. Dia hanya mengikuti teman-temannya. Tidak ada akun mencurigakan. Dia pasti sudah berhenti mengikuti Vanya, selingkuhannya.


Ah, aku ingat. Aku sempat menangkap layar ponsel Jevan yang isinya chat mesra dengan Vanya. Itu akan menjadi senjataku untuk menyerangnya. Aku juga masih menyimpan tangkapan layar chat tidak senonohnya dengan Mila. Aku akan mencari tangkapan layar itu tidak peduli seberapa banyak aku men-scroll layar ponsel karena kejadian itu sudah cukup lama.


Mati kau Jevan.


Ketika aku masih mencari tangkapan layar itu, aku menerima notifikasi dari Twitter. Aku mendapat banyak mention. Keningku berkerut. Apa lagi ini?


Aku beralih mengecek notifikasi dan mataku membelalak lebar setelahnya. Seseorang menyebutku meninggalkan Jevan demi Javier atau Juan? Astaga, kesalahpahaman melebar. Jevan pasti akan memanfaatkan momen ini.


Benar saja. Jevan menanggapi komentar itu dengan twit berbunyi, ‘Oh, jadinya namanya Javier dan Juan? Pantas belakangan dia kayak nggak peduli sama gue, ternyata udah cari cadangan. Dua orang pula.”


Tanganku menggenggam keras ponsel yang kupegang. Selama ini aku tidak peduli dengan gosip yang menyebutku gila. Namun jika seseorang membicarakanku seolah-olah aku adalah bukan cewek baik-baik, aku bisa mengamuk.


Aku kembali mencari screenshot percakapan Jevan dengan Vanya dan Mila. Setelah ketemu, aku mengunggahnya di Twitter, langsung di cuitan Jevan. “Jevan, stop sekarang. Jangan playing victim. Kamu yang selingkuh. Satu lagi, jangan bawa-bawa Javier atau Juan. Siapa sih aku yang kepedean ngejar-ngejar mereka?”


Balasanku untuk Jevan membuat warga Twitter semakin heboh. Wow, jadi begini rasanya membuat kehebohan? Aku dan Jevan hanya orang biasa, bukan selebtwit atau selebgram. Namun sensasi yang dibuat Jevan ternyata mampu menarik perhatian banyak orang.


Aku membaca balasan yang makin ramai satu per satu.


“Oh, jadi cowoknya yang selingkuh? Terus sekarang berlagak jadi korban?”


“Ya ampun, chatnya gitu amat. Maafkan aku yang tadi sempat negative thinking padamu mbak.”


“Warga Twitter gini amat ya. Banyak drama. Untung gue nggak ikut-ikut hujat mbaknya. Ternyata yang rese cowoknya.”


“Kenapa cowoknya bisa selingkuh? Karena ceweknya memang nggak pedulikah? Jadi cowoknya selingkuh untuk cari perhatian.”


“Goblok. Selingkuh ya selingkuh. Nggak usah banyak alasan.”


“BANGSAT! MAMPUS LO ANJING! SEKALI LAGI LO MACAM-MACAM SAMA ADIK GUE, HABIS LO SAMA GUA!”


Keningku berkerut saat membaca balasan dengan huruf kapital. Astaga. Kenapa Mas Yudha ikut ngamuk di sini? Ya Tuhan, aku benar-benar lelah. Rasanya ingin menghilang saja.


***


Aku tertidur setelah melalui kehebohan yang terjadi di Twitter. Syukurlah orang-orang kini berbalik menyerang Jevan. Tuh orang memangnya nggak kepikiran akan diserang balik ya? Yang membuatku heran, Mas Yudha malah mendapat banyak pengikut baru gara-gara twit emosionalnya. 


Warga Twitter menyebutnya kakak laki-laki protektif. Mendadak semua orang ingin punya kakak laki-laki seperti Mas Yudha. Kalau kalian mau, ambil saja Mas Yudha untuk jadi kakak. Aku akan berterimakasih.


Aku terbangun saat mendengar suara ayam berkokok. Aku mengerjap pelan. Ayam berkokok? Sudah lama aku tidak mendengar kokokan ayam. Apakah Bang Arman sekarang memelihara ayam?


Aku mengucek pelan mataku. Aargh, kenapa kasurku menjadi keras begini? Aku menggeliat untuk menarik otot-otot tubuhku sebelum bergegas bangun. Saat aku bisa melihat dengan jelas dan benar-benar sadar, aku melihat keanehan.


Langit-langit kamarku tampak berbeda. Aku bangun dan duduk di tepi dipan kayu. Ini jelas bukan kasurku. Aku melihat ke sekeliling. Aku berada di ruangan sempit dengan dinding yang terbuat dari kayu. Kakiku menginjak lantai tanah yang dingin. Dan pakaianku. Ini yang paling aneh. Aku mengenakan kain yang dililit seperti kemben.


Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku sedang bermimpi? Atau seseorang mengerjaiku?


Aku segera berlari keluar. No way. Aku melihat situasi yang sama sekali tidak mungkin kulihat di tahun 2023. Ini seperti setting drama kolosal. Jalan tanah, deretan pondok kayu. Orang-orang mengenakan kain yang melilit tubuh mereka.


Aku mengalihkan pandangan ke pusat keramaian. Tampak seperti pasar. Sesekali kulihat laki-laki paruh baya bertelanjang dada menarik gerobak kayu ke sana. Aku menoleh ke kanan-kiri, barangkali ada kamera tersembunyi. Seseorang pasti sedang mengerjaiku. Aku tidak mungkin pergi ke masa lalu kan?