
Hari-hariku selanjutnya masih berjalan normal. Aku nyaris tidak pernah bermimpi yang aneh-aneh lagi. Seingatku, aku hanya sempat mimpi berenang di pantai yang luas sendirian. Yasmin muncul di mimpiku itu. Dia naik boat bersama Mas Yudha dan menarikku untuk ikut naik.
Ngomong-ngomong, kenapa Mas Yudha harus ikut-ikutan muncul ya. Kalau yang datang ke mimpiku adalah Javier, mungkin aku tidak mau cepat-cepat bangun. Aku akan menghabiskan malam naik boat bersama Javier. Tentu saja, Yasmin akan kuceburkan ke laut lebih dulu.
Malam ini aku merasa super lelah setelah mengerjakan tugas bersama Yasmin. Dia baru saja pulang. Karena kedua mataku sudah terasa berat, jadi kuputuskan untuk tidur saja. Sisa tugas bisa kukerjakan besok. Aku menarik selimut dan tidak perlu waktu lama untuk jatuh terlelap.
Kurasa aku sudah benar-benar tidur. Namun apa yang aku alami terasa nyata. Ini tidak seperti mimpi, tetapi rasanya tidak mungkin kalau ini bukan mimpi. Astaga, terjadi lagi. Baru saja aku memejamkan mata, tetapi sebuah suara membuatku terpaksa membuka mata.
“Ah, kau sudah sadar rupanya.”
Oh, tidak. Fenomena apa lagi ini? Aku melihat wajah Javier, ah bukan, ini Pangeran Natawijaya. Nggak mungkin. Masa mimpi yang sudah berakhir beberapa waktu lalu bisa bersambung? Ini gila sih. Aku tadi beneran tidur kan?
“Syukurlah.” Kali ini aku mendengar suara Laras. Rasanya aneh melihat Laras kembali setelah di dunia nyata aku bertemu Amanda. Mereka benar-benar sama persis.
“Aku dimana?” tanyaku. Aku melirik kanan kiri. Jelas aku sedang tidak berada di kamarku. Aku benar-benar kembali ke tahun 1809.
“Di ruang pengobatan,” jawab Laras. “Tadi kau pingsan, pangeran tidak sengaja menendang bola rotan ke arahmu.”
Gila. Benar-benar menyambung. Aku bahkan merasakan nyeri yang sama di dahiku saat aku terbangun waktu itu. Apa yang kualami makin aneh saja.
“Sebenarnya apa yang terjadi,” gumamku tanpa sadar.
“Kenapa kau bertanya lagi? Aku sudah menjelaskannya tadi,” tukas Laras. “Pangapunten Pangeran, sepertinya Kirana tidak apa-apa, biarlah selanjutnya saya yang mengurusnya,” kata Laras dengan nada yang lebih sopan pada Pangeran Natawijaya.
“Kau sungguh tidak apa-apa, Kirana?” tanya Pangeran Natawijaya.
“Sungguh tidak apa-apa, Pangeran,” jawabku dengan perasaan yang masih bingung.
“Baiklah kalau begitu. Kau bisa memulai tugasmu besok,” kata Pangeran Natawijaya sebelum pergi meninggalkan ruang pengobatan bersama ajudannya.
Laras menarik napas panjang. “Kenapa kau bisa pingsan hanya gara-gara bola rotan? Sebelumnya tidak ada yang mengalami hal konyol seperti itu.”
“Aku pun tidak tahu kenapa aku bisa pingsan. Namun dahiku terasa nyeri sekali,” kataku. “Kekuatan pangeran tidak main-main, aku merasa terlempar ke masa depan.”
Laras tertawa mendengar ocehanku. “Baru kali ini aku mendengar seseorang bergurau tentang masa depan. Kemana saja kau sudah berkelana, Kirana? Apakah kau mengarungi tempat-tempat indah?”
“Aku pergi ke tahun 2023,” kataku. Sekalian saja aku mengoceh tentang masa depan di sini. “Kau tahu, suatu saat kita akan terbebas dari penjajahan, kita akan punya presiden sebagai pemimpin, tetapi pemberontakan akan terus terjadi.”
“Kau benar-benar terdengar seperti datang dari masa depan.”
“Aku memang datang dari masa depan.”
“Sudah cukup bercandamu itu.”
“Aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu di masa depan.”
“Kurasa ada yang salah dengan kepalamu.”
“Kau kekasih sahabatku. Kau memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan sahabatku.”
Giliranku yang menarik napas panjang. Tidak ada yang akan percaya. Hal yang aku alami memang aneh dan sulit dijelaskan. Sekarang aku justru yakin Laras dan Amanda adalah orang yang sama. Mereka hanya beda gaya rambut dan cara berpakaian.
“Besok kau harus siap memulai tugas, jangan melakukan hal konyol. Di sini ada banyak telinga, kau harus hati-hati. Seseorang bisa saja percaya kau datang dari masa depan dan tiba-tiba kau berubah menjadi peramal,” kata Laras.
Astaga. Aku memang dari masa depan! Bagaimana cara menjelaskan situasi ini? Bagaimana caraku bangun lagi di tahun 2023? Haruskah aku tidur lagi?
***
Aku memulai tugasku sebagai dayang dengan mengantarkan sarapan untuk Pangeran Natawijaya. Sebelumnya aku sudah mencicipi makanan yang akan disantap pangeran. Tentu saja semuanya enak dan dapat kupastikan aman untuk dikonsumsi.
Hal yang tidak aku sangka akan datang adalah kemunculan Raden Ananta di pendopo. Dia ikut bergabung bersama pangeran yang tengah sarapan. Aku ingat Kinasih pernah memperingatkanku soal raden yang satu ini. Dia senang mendekati gadis-gadis muda, jadi aku harus hati-hati.
Namun yang membuatku terkejut adalah sosok Raden Wijaya yang ternyata mirip dengan Juan. Serius. Akhirnya cowok itu muncul di mimpi panjangku ini sebagai priyayi playboy.
“Sepertinya aku baru pertama kali melihat dayang ini,” kata Raden Ananta sembari menunjukku. “Dayang baru?” tanyanya pada Pangeran Natawijaya.
“Jangan kau ganggu dia, ini hari pertamanya,” kata Pangeran Natawijaya memperingatkan sepupunya itu.
Ada rasa senang membuncah di hatiku karena pangeran seperti melindungiku. Namun cepat-cepat kuhalau rasa senang itu karena aku hanya seorang dayang. Aku tidak boleh geer dan harus ingat tugasku di keraton. Aku harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin.
“Kau selalu saja mendapatkan dayang yang cantik, darimana kau dapatkan gadis-gadis itu?” tanya Raden Ananta.
“Mereka sendiri yang datang kemari, dayang senior akan memilihkan yang terbaik untukku,” sahut Pangeran Natawijaya.
Sepertinya Raden Ananta tidak mengindahkan peringatan dari pangeran. Dia menatapku yang sedang menuangkan teh ke cangkir pangeran. Rasanya risih sekali. Juan dan Raden Ananta sama-sama menyebalkan.
“Tuangkan juga untukku,” kata Raden Ananta.
Aku mengikuti perintahnya dengan tetap menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat. Namun saat cangkir baru terisi setengahnya, aku melihat tangan Raden Ananta bergerak ingin menyentuh tanganku. Tanganku pun reflek menahan tangan Raden Ananta, sementara tanganku yang satunya tetap menuangkan teh. Wow, kemampuanku di zaman dulu keren sekali.
“Wah, ternyata kau gesit sekali,” kata Raden Ananta. Aku pikir dia akan marah karena aku sebagai dayang tidak boleh bersikap seperti itu pada kerabat pangeran. Namun ternyata dia malah makin menjadi-jadi menatapku dengan penuh kekaguman.
Aku melepas tangan Raden Ananta tepat ketika cangkir sudah terisi penuh.
“Pangapunten Raden, saya menahan tangan Raden karena mengira Raden akan menyentuh cangkir yang panas ini,” kilahku.
“Wah… dayang ini pandai mencari alasan,” kata Raden Ananta. Di luar dugaan, dengan sengaja dia menyenggol mangkuk hingga jatuh, tetapi lagi-lagi aku dengan gerak refleks yang baik berhasil menangkap mangkuk itu. “Kau memang bukan dayang biasa,” kata Raden Ananta lagi.
“Pantas saja mereka memilihmu,” kata Pangeran Natawijaya. Sedetik kemudian dia menjatuhkan mangkuk yang lain dengan sengaja untuk mengujiku. Untung saja aku bisa menahannya dengan kakiku, lalu melemparnya dengan pelan dan kutangkap dengan tanganku yang bebas.
Aku benar-benar keren. Rasanya aku bisa menangkap apa saja dengan tangan dan kakiku yang gesit.
“Sepertinya aku akan mengajakmu untuk tugas keluar. Kau memang bisa diandalkan,” kata Pangeran Natawijaya. “Kau menangkap kedua mangkuk dengan gerakan yang gesit dan halus. Siapa gurumu?”
Heh? Siapa guruku? Aku tidak tahu. Aku bahkan terkejut dengan kemampuanku. Siapa nama yang harus kusebut?