I Love You, J!

I Love You, J!
Bab V - Jangan Pacaran Dulu!



Seolah belum cukup merepotkan, aku mendapat kejutan lain saat tiba di rumah. Pintu utama masih terkunci, artinya Papa, Mama dan Yudha, kakak laki-lakiku belum pulang. Namun, Jevan terlihat duduk di bangku teras dan tampak terkejut saat aku muncul.


“Kirana!” katanya.


Sial. Aku baru saja ingin move on, tetapi tukang selingkuh ini malah muncul lagi. Perlukah aku meminta Javier melempar bola basket lagi untukku?


“Kirana, please, aku mau bicara sama kamu,” kata Jevan sembari mendekatiku.


“Apa lagi yang mesti diomongin?” tanyaku judes. “Kan udah jelas semuanya!”


“Aku bener-bener nyesel, Na!” seolah tampang memelasnya belum cukup, Jevan melanjutkan aksi teatrikalnya dengan berlutut di hadapanku. “Aku nggak serius sama Vanya, hubungan kami singkat banget, itu pun karena dia deketin aku duluan!”


“Dan elonya mau!” sambarku. Aduh, menyusahkan saja. Aku memutar otak bagaimana caranya mengusir cowok ini. “Mending lo pergi deh, sebelum gue aduin ke Pak RT! Lo udah mengganggu kenyamanan warga!”


“Please, jangan gitu, Na! Gimana caranya biar kamu mau maafin aku?” Jevan semakin menjadi-jadi, kali ini dia seperti akan menangis. Aku sudah bertekad tidak akan terpengaruh dengan aktingnya.


“Gue udah maafin lo, tapi gue nggak akan lupain perbuatan lo dan nggak akan pernah balik lagi sama tukang selingkuh. Lo udah dua kali main di belakang gue, lupa?” kataku.


Jevan terdiam. Air matanya mulai menetes. Astaga, kenapa dia jago banget akting sedih begini? Lama-lama bisa bahaya ini, aku bisa kasihan beneran sama dia.


“Lo pergi sekarang, atau gue beneran bakal laporin lo ke Pak RT,” kataku tegas. Aku menolak melihat wajahnya. Jangan sampai aku terpengaruh dengan aktingnya yang hebat. Harusnya dia main FTV saja.


Jevan masih bandel. Seolah tidak terpengaruh oleh ancamanku, dia tidak beranjak dari posisinya berlutut di hadapanku. Sumpah, lebay banget cowok ini. Kenapa sih mesti bela-belain minta dimaafin terus ujung-ujungnya minta balik, kalau suatu saat bakal dia ulangi lagi aksi selingkuhnya? 


“Jevan!” bentakku. Rasanya darahku sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. “Pergi nggak?!” bentakku sekali lagi dengan suara lebih keras.


Jevan terkejut melihat aku marah. Dia mendongak menatapku dan tak bisa berkata-kata. Sesaat kemudian tetangga-tetangga mulai menengok ke rumahku karena mendengarku berteriak.


“Mbak Kirana, ada apa Mbak?” tanya Bu Nanda, tetangga sebelah yang mendongak dari tembok pembatas rumah kami. Perhatiannya kemudian beralih ke Jevan yang menangis. Bu Nanda pun terlihat bingung.


“Nggak apa-apa Bu, saya cuma kesel aja,” kataku sambil melirik judes ke Jevan.


“Perlu bantuan, Na?” kali ini Bang Arman, anak Bu Nanda yang bertanya. Sepertinya dia cepat menangkap situasi.


“Kalo dia nggak mau pergi, tolong ya Bang,” kataku.


Jevan akhirnya bergeming. Dia melirik Bang Arman yang sedang memperlihatkan lengan berotot. Nyali Jevan pun akhirnya menciut. Dia buru-buru bangkit berdiri dan sedikit ragu. Haruskah pergi saja? Atau masih bisa mengulur waktu sedikit?


“Bang Arman…”


“Ok, aku pergi sekarang,” potong Jevan saat aku memanggil Bang Arman lagi. “Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Na, aku masih sayang sama kamu. Aku nggak bakal nyerah sampai di sini.”


“Terserah,” kataku sembari menghela napas. Mau berkali-kali aku bilang kalau aku tidak akan kembali lagi ke Jevan, cowok itu tetap ngotot. Jadi terserah. Mau masih sayang kek, aku tidak akan peduli.


Dengan ekspresi kesal Jevan akhirnya pergi. Dia sempat melirik Bang Arman sebentar. Namun Bang Arman melotot padanya sampai-sampai dia mempercepat langkahnya. Saat Jevan sudah tidak ada lagi di pandanganku, aku pun mengucapkan terima kasih pada Bang Arman.


“Si Yudha belum pulang?” tanya Bang Arman.


“Belum Bang, mungkin masih ada kuliah,” jawabku.


“Pantes, biasanya dia maju paling depan kalo lo digangguin,” kata Bang Arman.


Aku menanggapinya dengan senyum. Kakakku memang protektif. Ada bagusnya, tapi lebih sering menyusahkan. Kalau saja aku tidak cuek dengan nasihat bijaknya tentang pacaran, mungkin aku tidak akan pernah punya pacar selamanya.


 ***


Aku masih bergulat dengan tugas kuliah saat Mas Yudha masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Kakakku ini kadang memang suka serampangan.


Aku berusaha tidak memedulikan Mas Yudha. Aku pikir dia sudah dengar dari Bang Arman soal kejadian tadi siang. Kakakku itu hanya berdiri di sebelah meja kerjaku dan menatapku galak.


“Bisa di-pause dulu nggak?” tanya Mas Yudha.


“Nggak bisa,” sahutku cuek. Aku tetap fokus mengetik di laptop karena malas meladeninya.


“Mas Yudha!” aku memekik. “Apa-apaan sih? Lagi sibuk ini!”


“Kan tinggal di-undo,” sahut Mas Yudha enteng. “Gue cuma sebentar doang. Denger dulu.”


“Apa?”


“Awas ya, kalo lo balik lagi sama Jevan. Gue kan udah pernah kasih tahu kalo Jevan itu…”


“Brengsek, playboy, tukang selingkuh,” potongku. “Iya, Mas Yudha pernah kasih tahu.”


“Yang belum gue kasih tahu ke elo adalah kalo Jevan tiba-tiba nyamperin lo ke sini, harusnya lo panggil gue, biar gue bisa hantam mukanya!”


“Sabar Mas, aku masih bisa handle kok…”


“Handle apaan? Kalo Arman nggak nongol, emang tuh laki bangsat mau pergi?”


Aku menghela napas. “Kalaupun aku minta Mas Yudha buru-buru pulang, emangnya Mas Yudha bakal langsung nongol gitu? Udahlah, aku malas bahas-bahas Jevan.” Aku bergidik. “Duh, nyebut namanya aja udah bikin males.”


“Sekarang lo nyesel kan?” tanya Mas Yudha. “Mending nggak usah pacaran dulu deh, lo masih gampang dibohongin laki.”


“Karma kali,” cetusku. “Habisnya Mas Yudha juga gonta-ganti cewek mulu, giliran adiknya dimainin cowok ikut marah.”


“Heh!” Mas Yudha melotot lagi. “Setidaknya gue nggak selingkuh ya, walaupun gue tiap pacaran cuma hitungan minggu.”


Aku tertawa mengejek. Mas Yudha punya banyak alasan untuk menutupi hobinya yang pacaran terus. Jangankan hitungan minggu, dia pernah mutusin cewek padahal baru tiga hari jadian.


“Kok ketawa sih?” protes Mas Yudha. “Awas ya kalo pacaran lagi, jangan deket-deket cowok dulu. Kalo ada yang deketin lo, kasih tahu gue.” Setelah menceramahiku, kupikir Mas Yudha akan meninggalkan kamarku. Namun dia berbalik lagi dan berkata, “Termasuk Junot, temen lo itu, yang anak band.”


Aku melotot. “Apaan sih Mas? Junot itu temen main aku dari kecil, kan mainnya sama Mas Yudha juga sebelum Junot pindah rumah!”


Aku marah. Keluarga Junot sebelumnya adalah tetangga kami. Rumah yang dulu mereka tempati adalah rumah Bang Arman. Dulu aku, Junot dan Mas Yudha sering bermain bersama dan naik sepeda keliling komplek. Bisa-bisanya Mas Yudha bicara begitu.


“Kirana, cewek temenan sama cowok itu nggak masuk akal, pasti lama-lama akan jadi lebih dari sekadar temen,” jelas Mas Yudha dengan suara lebih pelan. “Lo yakin Junot sampai sekarang masih temenan sama lo nggak ada maksud apa-apa?”


“Maksud apa-apa gimana?” tanyaku.


Mas Yudha menghela napas. “Susah gue jelasinnya ke lo. Intinya hati-hati, ok? Gue begini karena nggak mau lo kenapa-napa.”


“Ya, makanya Mas Yudha juga jangan suka ngeremehin perasaan cewek! Bisanya nasehatin orang lain, takut aku kenapa-napa, tapi sendirinya malah bikin cewek kenapa-napa!”


“Kirana!” suara Mas Yudha meninggi lagi. “Ngomong apa barusan? Jangan kurang ajar!”


“Mas Yudha juga jangan ngelewatin batas!” balasku. “Aku bisa handle perasaanku sendiri!”


“Jelas-jelas lo nggak bisa!”


“Aku udah gede, Mas! Tolonglah, jangan terlalu ikut campur!”


“Lho, kewajiban gue sebagai kakak untuk melindungi adik gue dari cowok-cowok bangsat.”


“Ya udah kalo gitu aku balik ke zaman kerajaan aja! Biar tenang, nggak usah pacaran, nggak usah mikir bakal diselingkuhi, susah selingkuh juga karena belum ada handphone!” suaraku sudah tidak terkontrol. Teriakanku memuat Mama muncul dari balik pintu kamar dengan raut cemas.


“Kalian kenapa sih? Ini sudah malam, jangan berisik. Kalo ada masalah omongin pelan-pelan,” kata Mama.


“Mas Yudha keluar!” aku teriak lagi.


“Kirana!” Mama memberiku peringatan. “Jangan teriak.” Mama lalu mengalihkan pandangan ke Mas Yudha. “Yudha, keluar dulu. Jangan ganggu adik kamu, dia lagi bikin tugas itu.”


Mas Yudha terlihat ingin membantah, tapi ditahannya. Dengan berat hati dia keluar diikuti oleh Mama. Enak saja menyuruhku supaya tidak dekat-dekat dengan Junot. Padahal Mas Yudha tahu Junot seperti apa. Dia nggak mungkin punya maksud tertentu. Dimana salahnya kita punya teman satu frekuensi?