
“Kirana!”
Aku mengerjap. Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Kelopak mataku terasa berat untuk membuka. Kepalaku terasa pening saat aku menggerakkannya ke kanan dan kiri.
“Kirana! Sudah jam berapa ini?”
Sekarang aku merasa bahuku diguncang-guncang. Ah, aku masih pusing, kenapa dipaksa bangun sih? Oh tunggu, bukankah aku sudah menjadi dayang sekarang? Aku pingsan setelah terhantam rotan. Bagaimana kalau pangeran marah karena aku sudah memalukan di hari pertamaku?
Aku memaksa bangun dengan mata masih terpenjam karena panik. “Ampun pangeran! Saya bersalah, harusnya saya tidak mendekat. Pangapunten pangeran!”
“Kirana? Kamu kenapa?”
Heh? Kenapa bukan pangeran yang menjawab? Aku membuka mata dan melihat ke sekelilingku.
No way. Aku berada di kamarku, di tahun 2023. Apakah ini nyata? Atau sesungguhnya aku sudah bermimpi ke tahun 1809 yang terasa begitu nyata.
“Kamu kenapa sih?” Mama menatapku bingung. “Habis mimpi buruk ya?”
“Mama!” aku memekik sembari memeluk Mama karena merasa lega. Aku sudah kembali ke waktu yang semestinya. Syukurlah yang tadi itu hanya mimpi.
“Aduh, kamu kok bikin Mama takut sih?” kata Mama dengan nada cemas. “Nggak biasanya kayak gini.”
“Aku mimpi buruk, Ma! Buruk banget! Masa ceritanya aku pergi ke tahun 1800an, pas zaman kerja paksa!”
“Hah? Jauh banget mimpi kamu. Mandi dulu gih, biar lebih segar, udah siang ini,” kata Mama.
Aku hanya mengangguk dan melangkah pelan ke kamar mandi. Harusnya ini hari Sabtu, kemarin Jumat malam aku ketiduran setelaj mengerjakan tugas. Harusnya begitu. Jadi hari ini aku tidak ada kuliah, aku bisa istirahat dan menenangkan diri.
Dengan malas aku membasuh wajahku di wastafel. Kepalaku masih terasa berat. Apa aku begadang sampai terlalu larut semalam? Rasanya seperti aku sudah tidur berhari-hari.
“Aw!” aku meringis saat tak sengaja menyentuh jidatku. Tunggu, kenapa jidatku sakit? Karena penasaran, aku memencet jidatku lagi. “Aduh!” aku meringis lagi. Beneran sakit, di bagian yang terkena hantaman rotan Pangeran Natawijaya.
Nah, lho. Kenapa aneh begini sih? Kalau hanya mimpi harusnya aku tidak merasa sakit, kecuali saat tidur aku tak sengaja menghantam sesuatu.
Aku buru-buru kembali ke kamar dan melihat tempat tidurku. Tidak ada apapun yang bisa atau tak sengaja kuhantam di sekitar tempat tidur. Masa iya saat adu jurus dengan Laras di dalam mimpi, aku memukul jidatku sendiri di kehidupan nyata?
Aneh. Sulit dipercaya. Kalau memang hanya mimpi, kenapa aku mengingatnya dengan jelas? Aku merinding. Mas Yudha, Jantaka, Kinasih, Laras, Pangeran Natawijaya. Mereka semua ada di mimpiku. Mungkinkah mereka semua nyata?
***
“Lo ngomong apa barusan?” tanya Yasmin.
Kami bertemu di rumah Junot. Aku bilang padanya aku mengalami sesuatu yang aneh.
“Gue mimpi pergi ke tahun 1809, waktu proyek jalan raya Anyer-Panarukan masih dikerjakan,” kataku.
“Ck, lo terlalu mendalami tugas kuliah ya, sampai kebawa mimpi,” kata Junot.
“Nggak, gue lagi ngerjain tugas mata kuliah Sejarah Asia Timur,” tukasku. “Lo berdua ada di mimpi gue. Lo, Yasmin, lo jadi Kinasih, anak Ki Sura, seorang tabib.”
“Hah? Kok kedengerannya lo kayak ngarang novel, Na. Gue? Anak tabib?” Yasmin menatapku tak percaya.
“Kalo gue jadi apa?” tanya Junot.
“Pendekar miskin, tinggal di pondok tua di tengah hutan.”
“Lho, giliran gue kok pendekar miskin?” protes Junot. “Wah, beneran ngarang nih anak.”
Yasmin tertawa mendengar Junot protes. “Masih mending gue jadi anak tabib.”
“Gue nggak ngarang,” kataku. “Nama lo Jantaka, Jun. Lo jago silat, batang kayu bisa penyok kalo lo pukul. Sayangnya lo miskin.”
Tawa Yasmin meledak, sedangkan Junot makin bete karena tidak terima menjadi pendekar miskin.
“Terus lo jadi apa di mimpi itu?” tanya Junot.
“Gue tetap jadi Kirana, gue juga bisa berantem, ceritanya gue menjalankan misi menyamar jadi dayang Pangeran Natawijaya, untuk mencari tahu informasi dan keberpihakan pangeran.”
Yasmin yang sedang meneguk air putih langsung menyembur. Aku tak menyalahkannya kenapa jadi tak sopan begitu, dia pasti kaget mendengar aku yang menyamar menjadi dayang keraton.
“Aish, jorok!” keluh Junot. “Yang bener dong, Yas!”
“Lo bilang Pangeran Natawijaya? Yang mimpin Kadipaten Sukaraja? Yang terkenal rupawan dan dicintai rakyat?” tanya Yasmin.
“Iya!” sahutku gemas. “Lo tahu, siapa yang jadi Pangeran Natawijaya di mimpi gue?”
“Diem dulu, Jun,” kata Yasmin. “Kasih tahu gue, Na, siapa yang jadi Pangeran Natawijaya? Beneran ganteng seperti yang digambarkan buku sejarah?”
“Javier.”
“Hah?”
“Javier. Dia yang jadi Pangeran Natawijaya.”
“Ah, apa-apaan sih?” protes Junot. “Giliran idola lo itu malah jadi pangeran! Nggak adil ini mah.”
“Heh, Javier emang pantes kali, jadi pangeran! Kalo dia mah gue setuju! Nggak usah protes lo pendekar miskin!” kata Yasmin.
“Jadi anak tabib bacot juga lo ya,” balas Junot. “Na, kayaknya mimpi lo berlebihan deh, lo bisa ngatur sesuka lo siapa yang jadi pangerannya.”
“Ini bukan setingan, Jun. Gue aja kaget lihat Javier di mimpi gue sebagai pangeran. Aura dia emang sultan. Lucunya, gue kebangun karena nggak sengaja kena lempar bola rotan dia.”
“Hah?” Yasmin membelalakkan mata. “Buset deh, sampai di dunia mimpi pun lo masih kena hantam bola? Wah, salut gue…” Yasmin tepuk tangan.
“Tuh orang nggak bisa lempar bola yang bener ya? Perasaan kena mulu,” kata Junot.
“Lo sewot amat sih, Jun? Itu artinya Javier konsisten, bisa jadi dia emang jodoh Kirana,” pungkas Yasmin.
“Jodoh? Lebay lu,” balas Junot.
“Kalian tahu nggak, yang aneh apa?” tanyaku. “Bangun-bangun jidat gue rasanya nyeri, seolah-olah gue emang kena hantam bola rotan.”
“Serius?” Yasmin memperhatikan dahiku lebih dekat. “Yang mana?”
“Ini.” Aku menunjuk dahiku yang masih sakit kalau disentuh. “Masih nyeri ini kalo dipegang.”
“Mungkin lo gerak-gerak waktu tidur terus nggak sengaja kepentok,” kata Junot mencoba positive thinking.
Yah, kupikir juga begitu. Namun sampai sekarang aku masih merasa mimpiku itu nyata. Aku juga tidak menemukan alasan kenapa aku bermimpi seperti itu. Aku bahkan tidak pernah memimpikan sosok Suliwa, karakter favoritku di drama kolosal Angling Dharma. Aku juga tidak pernah mimpi dengan setting masa lalu sebelumnya.
Aku penasaran. Sebenarnya apa yang baru saja aku alami semalam?
***
Aku mengawali hari Senin dengan perasaan yang masih bingung. Setelah mimpi aneh itu, aku tidak pernah mengalaminya lagi. Tidurku mulai normal dan dahiku sudah tidak terasa sakit.
Pasca kejadian cuitan Jevan yang memojokkanku dan aku berhasil menamparnya dengan fakta, situasi menjadi lebih baik. Orang-orang juga mulai lupa dengan kejadian-kejadian lain yang aku alami yang berkaitan dengan Javier dan Juan. Aku kembali menjadi Kirana yang bukan siapa-siapa.
Baru saja aku akhirnya bisa menarik napas lega, seseorang muncul lagi di hadapanku saat aku akan masuk ke perpustakaan. Gadis dengan rambut sebahu, bertubuh langsing dan bersikap percaya diri. Oh wait. Aku pernah melihatnya. Seketika aku merinding. Aku melihat Laras versi kekinian. Sulit dipercaya, apakah ini hanya kebetulan?
Gadis itu mencegatku. Ekspresi wajahnya jelas tidak ramah. Dia menatapku jengkel, beda dengan sikap bersahabat Laras dalam mimpiku.
“Lo Kirana kan?” tanya gadis itu.
“Iya, ada apa ya?” aku balik bertanya.
“Gue Amanda, pacar Junot,” sahut gadis itu. Dia menekankan kata pacar dengan sangat jelas.
Tunggu. Pacar?? Apakah dia gadis yang menunggu Junot di backstage saat cowok itu manggung? Waktu itu aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Aish, aku juga malas mengingat momen itu. Aku jadi ingat lagi kejadian memalukan saat aku pingsan gara-gara terseret orang-orang pogo.
“Gue mau ngomong sebentar sama lo,” lanjut Amanda. “Gue nggak tahu ya, hubungan lo sama Junot seperti apa, yang jelas dia bilang kalo kalian temenan dari kecil.”
“Yes, itu bener.”
“Tapi ngelihat bagaimana Junot langsung nyamperin lo dengan muka panik saat lo pingsan, sepertinya hubungan kalian lebih dari sekadar teman masa kecil.”
“Itu karena pertama kalinya dia lihat gue pingsan, bukan apa-apa. We’re just friend. Santai aja.”
“Dia nggak sekadar nyamperin lo, tapi gendong lo ke ruang kesehatan, ninggalin gue di backstage. Dia bahkan lupa gue masih ada di sana,” lanjut Amanda. “Lo tahu betapa jengkelnya gue gara-gara itu. Gue nggak nyalahin lo, cuma gue nggak ngerti kenapa cewek dan cowok bisa temenan doang tanpa ada perasaan lebih.”
“Justru lebih aneh kalo gue ada perasaan lebih ke Junot,” kilahku. “Ngebayangin dia jadi pacar gue, hmm… nggak bisa, aneh banget. Gue rasa lo nggak perlu khawatir.”
Amanda selangkah mendekat dan menatapku intens. “Gue nggak mau ada lo di antara gue sama Junot. Sori, tapi gue rasa gue berhak khawatir. Lo bisa kan, nggak sering-sering berhubungan sama dia?”
“Bisa,” sahutku mantap. Laras versi kekinian ini ternyata sama lugas dan tegasnya dengan Laras versi jadul.
“Thanks,” kata Amanda singkat.
Amanda lalu berbalik pergi. Aku melihat cara berjalannya yang sama persis seperti Laras. Bulu kudukku merinding lagi. Apa yang sedang direncanakan semesta kepadaku?