
Ki Sura. Aku menyebut nama ayah Kinasih yang seorang tabib sebagai guruku. Aku jawaban tahu itu akan memancing pertanyaan berikutnya. Namun aku memilih untuk mengambil risiko. Aku hanya menyebut nama yang melintas begitu saja di kepalaku.
“Bukankah Ki Sura adalah seorang tabib?” tanya Pangeran Natawijaya.
“Benar, Pangeran,” sahutku. “Beliau adalah seorang tabib, tetapi saya belajar banyak tentang kehidupan darinya.”
“Aku mengerti,” kata Pangeran Natawijaya. “Lanjutkan pekerjaanmu, aku ingin bicara dengan Raden Ananta.”
“Baik, Pangeran.” Aku merapikan meja, mengangkat alat-alat makan yang kotor dengan cepat, lalu membawanya ke belakang. Diam-diam aku mencari cara agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Aku ingin dia tetap di sini.” Samar-samar aku mendengar Raden Ananta bicara. Namun aku tidak mendengar tanggapan dari Pangeran Natawijaya untuk permintaannya itu.
Sesuai aturan, aku harus menunggu di salah satu sisi pendopo, untuk berjaga-jaga barangkali pangeran membutuhkan sesuatu. Laras duduk bersimpuh di sebelahku. Entah dimana keberadaannya tadi saat aku membawakan sarapan untuk pangeran.
“Sepertinya kau melakukan tugasmu dengan baik,” bisik Laras.
“Jadi Mbak Laras sengaja membiarkanku kerja sendirian?”
Laras tersenyum. “Tangkapan yang bagus, Kirana. Pangeran tidak pernah menguji dayang seperti itu sebelumnya.”
“Itu karena tadinya aku pikir Raden Ananta akan menyentuh tanganku.”
“Kau memang harus hati-hati padanya.” Laras memperingatkan. “Ah, tadi aku mendengar kau menyebut nama Ki Sura. Ternyata beliau adalah gurumu.”
“Beliau adalah ayah dari sahabatku, Kinasih,” jelasku.
“Berarti kau mengenal Jantaka?”
Tunggu. Jantaka? Bukankah Jantaka adalah temanku di tahun 1809 yang mirip dengan Junot? Wah, aku tidak akan kaget jika Laras mengaku sebagai kekasihnya. Kalau memang benar begitu, cerita di masa lalu dan di masa depan ini sungguh berhubungan seolah-olah memang sengaja dirancang seperti itu.
“Dia temanku,” sahutku. “Kakakku dekat dengannya.”
Aku tidak ingin bilang kalau Jantaka adalah teman dekatku sejak kecil. Lebih baik bilang kalau dia dekat dengan Mas Yudha.
“Kami sudah lama tak bertemu,” kata Laras dengan lirih. “Jantaka punya misi yang harus dia selesaikan, begitu juga denganku.”
Aku melirik Laras. Sepertinya dugaanku benar. Junot-Amanda adalah Jantaka-Laras. Mereka adalah pasangan.
“Kalian adalah sepasang kekasih?” tanyaku hati-hati.
“Jantaka tidak bilang padamu?”
“Dia tertutup soal hubungan asmaranya.”
Sekarang Laras melirikku. “Dimana dia sekarang?”
Aku harus menjawabnya dengan hati-hati. Aku tidak boleh percaya dengan siapapun di keraton. “Kau tidak tahu dimana keberadaan kekasihmu?”
“Aku tidak tahu dia akan menepati janjinya untuk kembali atau akan mati di tengah jalan.”
“Kurasa dia akan kembali,” kataku. “Tunggu saja. Aku pun tak tahu kemana dia pergi dan apa yang ia capai.”
“Dasar laki-laki keras kepala,” gerutu Laras.
Kami saling berbisik begitu lama sampai pangeran memintaku untuk menyiapkan wedang jahe dan tambahan penganan untuk Raden Ananta. Aku pun harus memutus obrolanku dengan Laras.
Saat aku menyajikan wedang jahe dan penganan, aku mendengar Pangeran Natawijaya mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan. Aku fokus mendengarkan dan bersikap tenang.
“Kau yakin ayahmu tidak mengambil uang itu untuk dirinya sendiri?”
“Kau selalu mencurigai ayahku,” kata Raden Ananta. “Aku tidak tahu apapun tentang urusan keuangan proyek jalan di Mulyosari “
“Banyak pekerja yang meninggal, Ananta,” kata Pangeran Natawijaya. “Mereka bekerja dengan tidak layak, tanpa upah!”
“Apakah itu menjadi kesalahan ayahku? Salahkan Daendels!”
“Setidaknya berikan mereka upah yang layak. Bisakah kau selidiki ini?”
Aku berjalan mundur dengan perlahan. Masih terdengar sayup-sayup perbincangan mereka setelah aku duduk lagi di sisi pendopo dengan Laras.
“Kau memintaku untuk menyelidiki ayahku sendiri?” tanya Raden Ananta.
“Ayahmu penanggungjawab proyek itu. Apa lagi tawaran kerjasama Daendels yang disepakati ayahmu?”
“Setahuku hanya proyek itu.”
“Cari tahu lagi.”
“Astaga, Pangeran! Kau sungguh mencurigai ayahku! Apa yang akan kudapat jika aku menuruti permintaanmu?”
“Katakan apa maumu.”
“Dia!”
“Kau menginginkan dayangku?” tanya Pangeran Natawijaya.
“Sepertinya Raden Ananta ingin memilikimu,” bisik Laras.
Astaga. Anak priyayi benar-benar seenaknya. Dia semakin mirip dengan Juan yang menyebalkan dan suka bertindak sesuka hati.
“Kenapa? Kau tidak mau menyerahkannya?” tantang Raden Ananta.
“Kalau begitu aku sendiri yang akan datang ke Mulyosari esok hari,” kata Pangeran Natawijaya tegas.
Ada perasaan lega saat pangeran berkata begitu. Itu artinya dia tidak ingin menyerahkanku -yang hanya dayang ini- kepada Raden Ananta.
“Kau beruntung, Kirana,” bisik Laras lagi. “Pangeran menjagamu.”
***
Aku masih terbangun di tahun 1809 keesokan harinya. Hal itu membuatku semakin tidak mengerti dengan apa yang kualami. Aku mulai ragu yang kualami ini adalah mimpi. Jangan- jangan aku memang datang ke masa lalu dan berperan sebagai diriku sendiri di masa itu.
Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Tugas baru telah menantiku. Aku harus pergi ke Mulyosari bersama Laras untuk menemani kunjungan Pangeran Natawijaya. Aku rasa ini kesempatanku untuk mendengar lebih banyak lagi informasi penting.
“Lupakan apa yang telah dan akan kau dengar,” kata Laras memperingatkanku saat kami sufau berada di dalam kereta.
Aku hanya mengangguk. Tujuan kami adalah Mulyosari. Mas Yudha pasti sudah berada di sana untuk menemui Jantaka. Aku tidak menyangka kami akan memiliki tujuan yang sama. Dari apa yang kudengar kemarin, sepertinya Pangeran Natawijaya mencurigai Bupati Mulyosari, ayah dari Raden Ananta. Namun aku masih belum tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Pangeran Natawijaya.
Perjalanan dari Kadipaten Sukaraja ke Mulyosari memakan waktu dua jam. Tanpa banyak protokol Pangeran Natawijaya langsung menemui Raden Mas Beno, ayah dari Raden Ananta. Putranya yang hidung belang itu sendiri ikut menyambut Pangeran Natawijaya di pendopo.
“Wah, kau membawa dayang favoritku, apakah kau menerima tawaranku, Pangeran?” tanya Raden Ananta.
“Tutup mulutmu Ananta, dia bisa mencabik mulutmu jika kuminta,” kata Pangeran Natawijaya, terdengar sedikit bercanda, tetapi tajam.
“Aku sudah mendengar dari Ananta kau akan datang, Natawijaya,” kata Raden Mas Beno. “Izinkan aku untuk menjamu, sudah lama aku tidak melihat keponakanku ini.”
“Terimakasih, Paman. Aku akan langsung utarakan maksudku.” Pangeran Natawijaya lalu mengalihkan pandangannya kepada para pegawai yang ikut dalam kunjungan ini. “Aku akan bersama Ki Noto di sini, kalian bisa menungguku di luar pendopo.”
Ah, sayang sekali. Aku harus menunggu di pendopo bersama Laras dan satu orang pengawal pangeran. Ki Noto sendiri adalah penasehat pangeran yang selalu mendampinginya untuk urusan keraton. Jadi dia bisa tetap bersama pangeran. Kalau begini aku tidak bisa mendengar apapun.
Aku dan Laras duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon besar. Dari sini kami tidak bisa mendengar apapun, tetapi masih dapat melihat pangeran yang sedang berbincang dengan bupati. Selama sepuluh menit aku dan Laras menunggu dalam diam. Laras kemudian pamit sebentar untuk ke belakang.
Saat Laras pergi, Raden Ananta tahu-tahu duduk di sebelahku. Aku spontan pindah tempat duduk dan bersimpuh di samping bangku kayu.
“Kau tidak perlu begitu, Kirana. Duduklah di sebelahku,” kata Raden Ananta. Jadi dia sudah tahu namaku. Aku sudah melihat anak priyayi ini kemarin. Namun rasanya aneh sekali melihat sosok mirip Juan dengan penampilan bangsawan Jawa seperti ini. Aku ingin tertawa, tetapi sebisa mungkin kutahan.
“Pangapunten Raden, saya tidak bisa duduk di sebelah Raden,” kataku sopan.
“Aku yang memintamu, jadi tidak apa-apa.”
“Maaf, tetap tidak bisa, Raden.”
“Kau tidak seperti gadis kebanyakan. Pangeran melindungimu tanpa aku ketahui alasannya. Apakah kau akan menjadi selirnya?”
Mataku membelalak. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. “Sepertinya Raden salah paham, saya hanya dayang.”
Raden Ananta manggut-manggut. “Kupikir juga begitu, pangeran bukan golongan laki-laki yang mudah mencari selir. Sampai saat ini dia hanya punya satu istri. Namun aku tetap penasaran, kenapa dia tidak mengizinkanku untuk membawamu.”
Aku hanya diam, tak menanggapi kata-kata Raden Ananta. Lebih baik dengarkan saja ocehannya.
“Bisakah kita menjadi teman?” tanya Raden Ananta.
“Teman?” aku mengerutkan kening.
“Iya, teman. Kau hanya perlu mendengar keluh kesahku, kisah-kisahku dengan para gadis, hal-hal konyol yang kulakukan…” Raden Ananta terdiam sejenak. “Aku butuh pendengar. Aku pikir kau orang yang terus terang. Aku ingin pendapat jujur dari seseorang.”
“Namun saya bekerja di Kadipaten Sukaraja, bagaimana saya bisa mendengarkan Raden yang tinggal di Mulyosari?”
“Aku selalu datang ke Sukaraja setidaknya dua kali seminggu. Pangeran tidak mengizinkanku untuk membawamu, jadi aku akan mencarimu di saat kau bebas tugas.”
Hmm, sepertinya kesempatan ini bisa kumanfaatkan untuk menggali lebih banyak informasi. Jika sulit mendapatkannya dari pangeran, aku bisa mendekati Raden Ananta untuk mencari tahu lebih banyak. Aku hanya perlu hati-hati.
“Jika pangeran mengizinkan, saya tidak keberatan,” kataku.
Raden Ananta tersenyum. Kilat matanya seperti bocah yang kesenangan. Meski sudah dewasa, sepertinya dia hanyalah seorang anak kecil dalam jiwanya.
“Bagus. Aku akan datang saat kau libur. Bersiaplah menjadi pendengarku, aku tidak mau kau menyerah di tengah jalan.”
“Apakah kisah Raden membosankan?”
“Oh, tentu tidak. Justru kau akan terkejut.” Setelah berkata begitu, Raden Ananta bangkit lalu meninggalkanku yang berpikir keras.
Kira-kira apa yang diceritakan Raden Ananta? Jika hanya petualangan cintanya dengan para gadis, sepertinya aku benar-benar akan menyerah di tengah jalan. Namun, jika aku bisa mendengar sesuatu yang lebih berharga dari itu, aku akan tahan sampai kapanpun.