
Aku tidak bicara dengan Mas Yudha selama beberapa hari. Kali ini kakakku itu sudah keterlaluan. Aku mengerti, dia tidak ingin aku disakiti. Namun bukan berarti dia berhak mengaturku untuk bergaul dengan siapa.
Okelah kalau aku dilarang pacaran dulu. Aku menerima kalau aku dianggap masih gampang percaya dengan cowok. Namun pada akhirnya aku berhasil untuk tidak tertipu dengan akting Jevan yang berlutut di hadapanku sambil menangis. Dan kenapa juga aku tidak boleh berteman dengan Junot yang tidak ada hubungannya dengan patah hatiku ini?
Lagipula Junot sudah punya pacar. Aku melihatnya sendiri. Cewek itu menyemangati Junot di belakang panggung saat Junot manggung mengisi acara kampus. Hanya saja Junot belum mengenalkan pacarnya itu.
“Itu pacarnya Junot?” tanya Yasmin sambil menunjuk cewek yang memakai crop top itu. “Diam-diam ternyata seleranya Junot girly juga.” Yasmin terkikik. “Eh, dia belum kasih tahu kita secara resmi ya, kapan jadiannya?”
“Takut kita todong pajak jadian kali,” kataku.
“Udah seharusnya Junot punya pacar. Supaya nggak dikira pacaran sama lo mulu.”
“Emang kelihatannya begitu?”
“Kalo orang-orang nggak tahu kalian temenan dari kecil, pasti dikira pacaran,” kata Yasmin yakin.
Aku melirik Yasmin. “Masa sih?”
Yasmin mengangguk mantap. “Dulu pas awal-awal lo ngenalin Junot ke gue, gue kira kalian pacaran.”
Aku ingat dulu aku mengenalkan Junot ke Yasmin saat kami kelas 1 SMA. Waktu itu Yasmin dan Junot sama-sama main ke rumah. Melihat Junot akrab denganku, bahkan bersikap santai dengan Mas Yudha dan orangtuaku, mungkin itu yang menyebabkan Yasmin berpikir bahwa kami pacaran.
“Lo nggak ada perasaan sedikit pun gitu ke Junot?” tanya Yasmin.
“Kenapa pertanyaannya jadi gitu?”
“Soalnya kalian temenan dari kecil. Betah gitu, cuma temenan doang? Junot itu boyfriend material banget. Meski nggak banyak ngomong, tapi dia peduli sama lo, rela jadi tong sampah dan mau dengerin semua keluh kesah lo. Apa lo nggak merasakan sesuatu yang beda dari dia?”
Aku mengangkat bahu. “Justru karena kami berteman dari kecil, ya rasanya aneh aja kalo tiba-tiba berubah jadi hubungan yang lain.”
Yasmin menjentikkan jari. “Bisa jadi kalian sama-sama menahan diri karena takut jadi aneh kalo masing-masing punya perasaan lebih. Kata gue sih, lo udah terlalu nyaman temenan sama Junot.”
“Nggak usah kebanyakan analisis deh lo,” kataku. “Si Junot udah mau tampil noh.” Aku menunjuk ke arah panggung dan mencari posisi nyaman untuk nonton.
Penonton sudah bersorak saat Junot menyapa dengan suara renyahnya. Aura Junot beda banget kalau sedang tampil dengan gitarnya. Padahal penampilannya sederhana, dia hanya mengenakan kaus polos dan jeans, rambutnya juga dibiarkan acak-acakan. Namun saat dia memainkan gitarnya, dia tidak seperti Junot yang aku kenal.
“Junot kalo manggung jadi ganteng ya,” kata Yasmin.
Mau tidak mau aku harus setuju. Junot memang kelihatan ganteng kalau lagi manggung.
“Coba aliran musiknya nggak berisik gini,” kataku setengah berteriak karena suara musik yang keras.
“Eh, seru tahu!” Yasmin bicara di dekat telingaku. “Lo kebanyakan denger musik-musik senja.”
Aku tidak menanggapinya. Peminat musik Junot kebanyakan laki-laki. Mereka loncat-loncat dan ikut menyanyi. Aku heran, kok pada hapal sih sama lagu-lagu band-nya Junot? Aku tidak menyangka band-nya Junot sepopuler ini di kalangan anak kampus.
Band Junot menampilkan empat lagu. Setelah dua lagu lewat, penonton tidak hanya head bang saja mengikuti irama musik, tetapi juga melakukan moshing. Aku pun mendesak Yasmin untuk cari posisi aman. Namun temanku itu tidak mau beranjak dari posisi yang dia anggap strategis.
“Nanti Junotnya nggak kelihatan!” kata Yasmin.
“Nanti kita bisa kena senggol!” kataku.
Penonton membenturkan badan mereka satu sama lain. Bukan tidak mungkin kami yang berada tidak jauh dari kelompok yang melakukan moshing akan kena dampaknya. Iya kalau cuma kena senggol. Kalau mereka pogo dan kami ikut terseret bagaimana?
Saat lagu terakhir, penonton semakin menggila. Aku menarik Yasmin untuk menyingkir. Penonton pasti akan melakukan pogo. Aku melihat mereka sudah berpegangan tangan dan siap untuk berputar. Jika salah satu orang atau lebih pegangannya terlepas, orang itu akan menabrak penonton lain.
“Yas! Ini bakalan rusuh kalo kita kena!” teriakku.
“Ih, tanggung, satu lagu lagi! Aman kok ini, mereka kan pogonya depan situ!” kata Yasmin.
“Tapi kan bisa merembet ke sini, Yas! Gue udah pernah lihat orang pogo, jauh-jauh deh!”
“Bentar lagi seru!”
Astaga Yasmin. Susah banget dibilangin. Bisa-bisanya dia santai menikmati musik selagi orang-orang di dekatnya sudah menggila dan berputar-putar. Satu orang terlihat terlepas dari pegangan dan dengan sengaja menabrak penonton lain. Penonton yang kena tabrak pun membalas dan mereka saling membenturkan badan.
Sebentar lagi aksi ini akan meluas. Aku menarik paksa lengan Yasmin. Bodo amat. Aku lebih memilih cari aman.
“Wait! Jangan tarik-tarik!” protes Yasmin.
“Ayo! Udah makin rusuh ini!” kataku.
BUG!!
Aku merasa seseorang membentur bahuku. Aku terhuyung sambil berpegangan pada Yasmin. Namun sedetik kemudian aku merasa badanku ditarik menjauh. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya. Tiba-tiba saja badanku mulai terombang-ambing, membentur apa pun yang ada di dekatku. Entah berapa lama aku terseret kesana-kemari, yang jelas sekitarku berubah menjadi gelap.
***
Aku bermimpi. Di mimpiku itu, seorang pendekar menggendongku di tengah hutan. Dia mengenakan ikat kepala hitam, wajahnya tampan dengan rahang yang tegas dan tatapan mata yang tajam. Kedua lengannya kokoh, aku merasa nyaman berada dalam dekapan si pendekar. Rasanya tidak apa-apa jika aku bersandar di dadanya yang bidang untuk waktu yang lebih lama.
“Kita hampir sampai,” kata si pendekar.
Aku terpana. Suara si pendekar ini begitu dalam. Saking terpananya aku hanya diam.
Sesaat kemudian, kami sampai di sebuah pondok kecil. Si pendekar membaringkanku dengan hati-hati di dipan kayu yang sudah tua. Dia menatapku selama beberapa saat sebelum berkata.
“Ini kenapa sampai keseret anak-anak pogo sih?”
Hah? Aku melongo. Kenapa jadi pogo? Ini beneran si pendekar tampan yang bicara? Ah, sepertinya ada yang salah. Aku mengerjap pelan. Pandanganku mendadak kabur. Aku mengerjap lagi sampai penglihatanku lebih jelas. Aku mendesah pelan, sungguh kecewa dengan apa yang kulihat.
“Kirana! Lo udah sadar?”
Aku melihat ekspresi khawatir Junot. Jadi suara yang kudengar tadi adalah suara cowok ini. Di sebelahnya Yasmin juga tak kalah cemas. Aish, padahal aku belum mau bangun.
“Gue dimana?” tanyaku.
“Ruang kesehatan,” sahut Yasmin. “Aduh, gue udah takut banget lo kenapa-napa.”
Aku bergerak untuk bangun. Namun kepalaku masih terasa pusing.
“Diem dulu, jangan bangun,” cegah Junot. “Sumpah lo bikin gue takut, gue nggak kepikiran lo bakal keseret anak-anak yang pogo.”
Aku menunjuk Yasmin. “Ini anak bandel banget,” kataku.
“Maaf, Na. Maaf banget,” kata Yasmin dengan nada memelas. “Gue pikir mereka nggak bakal sampai nyenggol kita.”
“Yas, yang namanya pogo itu efeknya bisa meluas, mereka saling tabrak dan siapa pun bisa kena. Akhirnya yang kena senggol ikut pogo juga. Untung Kirana nggak kena injek,” kata Junot.
“Na, sori…” kata Yasmin lagi. Dia terlihat sangat merasa bersalah.
“Iya, iya,” kataku. “Lain kali jangan bandel kalo dibilangin.” Aku menoleh ke Junot. “Lo udah selesai manggung?” tanyaku. “Gimana tadi?”
Junot menggaruk-garuk kepalanya. “Gue paniklah, jadi langsung turun panggung begitu tahu lo pingsan.”
Aku langsung merasa tidak enak. Apa aku mengacaukan penampilan Junot? “Ya ampun Jun, kenapa harus turun panggung segala sih? Biar bagaimana pun lo harus kelarin penampilan lo. Lagipula pasti ada yang bakal nolongin gue.”
Junot menghela napas. “Nggak apa-apa, udah lagu terakhir juga. Mau gue lanjutin juga suasananya udah nggak enak.”
“Sori Jun…”
“Kenapa bilang sori? Kan lo korban.”
“Ya gara-gara gue penampilan band lo jadi kacau.”
Junot mengibaskan tangannya. “Nggak kacau. Udah deh, nggak usah merasa nggak enak gitu. Yang penting sekarang lo udah baik-baik aja. Oh ya, ada yang luka nggak? Coba cek dulu, barangkali ada yang sakit.”
Pelan-pelan aku duduk di tepi matras. Aku menggerakkan tanganku dan langsung meringis karena bahuku sakit.
“Sakit ya?” Junot menyentuh pelan bahuku. “Pasti karena kesenggol tadi.”
Aku mengangguk. “Tapi kayaknya nggak serius. Kalo gimana-gimana gue tinggal ke fisioterapi.”
“Ngomong ya kalo mau ke fisioterapi, biar gue temenin,” kata Yasmin.
Sesaat kemudian rekan satu band Junot memanggilnya. Sepertinya mereka masih ada urusan yang harus diselesaikan. Jadi hanya tinggal aku dan Yasmin di ruang kesehatan.
Aku meringis lagi saat tulang rusukku terasa nyeri ketika aku menggerakan badan. Yasmin seperti ingin menangis melihatku kesakitan.
“Gue nggak apa-apa,” kataku, meski aku masih merasa kesal karena kebandelan Yasmin tadi.
“Gue takut banget tadi,” kata Yasmin pelan. “By the way, Na…”
“Ya?”
“Tadi Junot kelihatan khawatir banget. Tumben gue lihat dia sepanik itu. Begitu turun panggung, dia langsung gendong lo ke sini.”
“Oh ya?”
“Kok lo datar banget sih?”
“Terus gue harus apa?”
“Junot bahkan lupa pacarnya masih ada di backstage demi ngurusin elo.”
“Itu kan karena dia panik.”
“Iya, tapi kan… ah, udahlah. Susah gue jelasinnya. Lo mau balik pulang sekarang kan? Biar gue antar. Motor lo Junot yang urus katanya. Gue nggak ngerti deh sama tuh anak, mau-maunya repot demi elo,” gerutu Yasmin.
Aku tersenyum tipis. Entah apa yang sedang dipikirkan Yasmin. Aku harap dia tidak membesar-besarkan Junot yang panik dan khawatir saat aku pingsan. Yah, karena memang nggak perlu dibesar-besarkan juga. Junot is my best friend. FRIEND.