I Love You, J!

I Love You, J!
Bab X - Kejutan Berikutnya



Note: Nama tempat, karakter dan alur cerita di novel ini adalah fiktif.


 


Masuk ke lingkungan keraton adalah hal yang paling bikin deg-degan seumur hidupku. Mas Yudha pergi ke Mulyosari kemarin sore untuk menemui Ki Sura, tabib yang merupakan ayah Kinasih.


Semalam Kinasih mengajari apapun yang harus aku ketahui untuk menjadi dayang. Tata cara dan etika di keraton membuatku pusing. Aku juga baru tahu dari Kinasih, bahwa aku -yang hidup di tahun 1809- adalah orang yang cukup serampangan dan tak jarang berkelahi. Jadi aku cukup kesulitan berjalan tanpa suara dan bicara lembut.


Aku tak percaya aku bisa memukul seseorang dengan tinjuku. Kalau memang aku bisa mengandalkan tinjuku, mestinya paling tidak aku sudah pernah menghajar Jumanta satu kali.


Aku sudah mengikuti ujian untuk menjadi dayang keraton. Walaupun tidak mulus-mulus amat, setidaknya aku dinyatakan lulus dengan catatan. Mungkin benar kata Kinasih, aku benar-benar bisa berkelahi karena salah seorang dayang senior mengatakan aku punya cengkraman tangan yang kuat.


Hal itu ketahuan saat seseorang menepuk pundakku dari belakang dan aku reflek mencengkram tangannya. Ternyata itu bagian dari tes untuk mengetahui seberapa bagus gerak reflek kita bekerja. Dayang penguji juga sengaja menjatuhkan cangkir hanya untuk mengetahui apakah calon dayang cukup responsif atau tidak.


Kupikir aku dapat nilai tambah karena reflekku bagus. Namun hal itu bisa jadi masalah kalau aku diminta untuk memijat. Kalaupun aku lolos tahap berikutnya, sepertinya aku tidak akan ditugaskan untuk memijat.


Kini aku bersama calon dayang yang lain duduk bersimpuh dan berjejer untuk menunggu hasil penilaian. Tak pernah kubayangkan mereka seserius ini memilih dayang.


“Kirana,” panggil salah seorang dayang senior.


Aku mencakupkan kedua tangan untuk merespon, seperti yang diajarkan Kinasih.


“Kau terpilih menjadi dayang Pangeran Natawijaya,” kata dayang senior.


WHAT?!


Apa aku tidak salah dengar? Dayang Pangeran Natawijaya katanya? Bukahkah ada banyak calon dayang yang lebih terampil dibanding aku?


“Kau akan mengikuti pelatihan dayang bersama Laras sampai benar-benar telaten untuk bisa melayani pangeran,” jelas dayang senior itu sambil menunjuk Laras.


Laras masih muda, usianya mungkin hanya 2-3 di atasku. Perawakannya langsing, senyumnya tipis dan memancarkan keanggunan. Kurasa dia sangat potensial menjadi selir pangeran.


“Setelah pengumuman ini, kau bisa mengikuti Laras ke asrama dayang dan berlatih mulai besok,” lanjut dayang senior itu.


Hmm, aku terpilih menjadi dayang pangeran. Meski masih tak percaya, ini seharusnya menjadi berita baik karena aku akan sangat dekat dengan pangeran!


 


***


 


Laras adalah guru yang baik. Dia begitu sabar mengajariku tata cara dayang. Mulai dari hal sederhana seperti membawakan teh untuk pangeran, sampai membersihkan sudut-sudut ruang yang sulit. Katanya Pangeran Natawijaya tidak suka berantakan.


Saat istirahat, aku yang masih penasaran memberanikan diri bertanya pada Laras.


“Mbak Laras, kalau boleh tahu, kenapa saya yang terpilih menjadi dayang pangeran?”


Laras tertawa pelan. “Kau pasti sangat penasaran.”


Aku mengangguk.


“Aku pun penasaran kenapa dulu aku terpilih menjadi dayang pangeran,” kata Laras. “Namun setelah melihat hasil tesmu, aku pun menyadari sesuatu. Ternyata catatan kita sama.”


Aku mengerutkan kening. “Catatan? Apakah Mbak Laras punya cengkraman yang kuat juga?”


Laras kemudian mengambil satu buah apel dan meremasnya sampai hancur dengan satu genggaman saja. Wow.


“Kau bisa melakukannya juga kan?”


“Saya tidak yakin.”


“Aku justru yakin kau bisa.” Laras mengambil sebuah apel lagi untukku. “Coba hancurkan dengan satu tangan.”


Aku ragu-ragu mengambil apel itu. Aku tidak pernah menghancurkan apel dengan satu tangan. Selama beberapa detik aku hanya memandangi apel itu, menimang-nimang, haruskah kucoba saja?


“Ayo,” desak Laras.


“Benar kan? Kau bahkan melakukannya dengan lebih baik. Kau menguasai ilmu beladiri, Kirana?” tanya Laras.


Aku tidak menjawab. Aku belum pernah melakukan jurus tertentu. Itu kan cuma kata Mas Yudha dan Kinasih kalau aku cukup baik dalam ilmu beladiri.


Tiba-tiba saja tangan Laras melayang dan hampir mengenai wajahku kalau saja aku tidak menangkisnya. Kukira dia hanya akan menyerangku satu kali, tapi ternyata dia melakukannya bertubi-tubi dan memaksaku bertahan  dengan serangan Laras itu.


“Hey! Kenapa tiba-tiba menyerang saya?” protesku sembari menghindari pukulan dan tendangan Laras.


“Jangan hanya menghindar, coba serang aku!”


“Ah, tidak bisa begitu!”


“Cepat serang aku!”


Gerakan Laras semakin cepat dan membabi buta. Dia berhasil menghajar pipi kiriku. Aku merasakan kedutan menyakitkan dan mau tidak mau aku harus balik menyerang. Seolah aku sudah melakukannya sejak lama, aku melancarkan serangan ke arah Laras. Tanpa ragu kulayangkan tinjuku ke arahnya dan berhasil mendarat di wajahnya.


“Maaf Mbak Laras!” kataku panik.


Di luar dugaan, Laras tersenyum. “Sudah kuduga, kau bukan dayang biasa,” katanya. Dia menyeka bibirnya yang sedikit terluka. “Terlepas dari apapun tujuanmu masuk ke lingkungan keraton, tugas kita hanya satu, melindungi pangeran.”


“Melindungi?” aku mengernyit. “Bukan melayani?”


Laras menggeleng. “Kau pikir kenapa kita berdua dibutuhkan? Kita bukan sekadar dayang yang membantu pangeran, tetapi juga diharapkan mampu melindungi. Musuh tak akan menduga dayang seperti kita akan menghajar seseorang.”


Aku tercengang. Jadi itu maksudnya? Seoramg pangeran pun butuh pendekar berkedok dayang untuk mengelabui musuh.


“Saat kau muncul, aku merasa senang karena tidak sendirian lagi,” kata Laras. “Sudah siap melihat pangeran?”


“Hah?” aku sedikit kaget. Secepat inikah bertemu pangeran?


“Ikuti aku,” Laras memberi instruksi. Dia berjalan keluar areal pelatihan dan aku mengikutinya dari belakang.


Kami menyusuri jalan setapak yang menghubungkan asrama dayang dan area servis keraton. Aku mencium bau masakan sebelum berhenti di pinggir tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon besar.


Ada seorang pria sedang berlatih silat di tengah lapangan. Seorang pria tua mendampinginya, seperti guru. Gerakan pria yang berlatih itu gesit dan kuat. Bertubi-tubi dia memecahkan kendi yang diletakkan berjejer dengan tinju dan tendangannya.


“Pangeran Natawijaya,” bisik Laras. “Kau sudah melihatnya.”


Aku menahan napas. Jarakku begitu dekat dengan pangeran. Entah kenapa aku mendadak gugup, detak jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.


“Wah, ada apa ini Kirana? Kenapa kau kelihatan gugup?” Laras menyadari gerak-gerikku yang makin aneh, kini aku dengan cemas meremas jemariku. “Kau belum sedekat itu dengan pangeran, kenapa sudah gugup? Apa yang terjadi jika kau harus berdiri di dekatnya? Kendalikan dirimu!”


“Ma.. maaf, Mbak Laras,” kataku terbata-bata.


“Ayo melihat lebih dekat lagi, kau akan kuperkenalkan pada pangeran. Dia tidak suka diganggu saat bekerja. Saat inilah waktu terbaik, sebentar lagi pangeran akan istirahat.”


Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti Laras berjalan ke tengah. Aku masih tidak mengerti kenapa jantungku masih tak keruan.


Aku melihat pangeran masih berlatih memukul. Dia meninju bola-bola dari rotan yag terpental jauh kesana kemari. Ini jelas berbahaya, kenapa Laras tidak menunggu pangeran sampai benar-benar istirahat?


“Maaf Mbak, apa sebaiknya kita menunggu saja sampai pangeran selesai?” aku melirik Laras.


“Kenapa? Kau takut kena rotan itu?” tanya Laras dengan nada menantang. “Kau sudah bisa melihat wajah pangeran lebih jelas sekarang.”


Aku mengalihkan pandanganku ke arah pangeran yang masih sibuk memukul. Ternyata kulitnya putih bersih, seperti bersinar. Dari samping rahangnya terlihat tajam, sangat maskulin. Lalu ketika dia bergerak sedikit memutar, aku bisa melihat wajahnya dari depan.


Shock. Itu yang kurasakan saat ini. Lagi-lagi aku dikejutkan dengan hal tak terduga.


“Javier??”


BUG!!!


Tepat setelah aku menggumamkan nama Javier, sesuatu menghantam wajahku. Aku merasa diriku berputar, dari lambat menjadi semakin cepat hingga semuanya tampak kabur. Badanku seperti ditarik ke tanah, sampai aku merasa badanku lunglai. Aku terjatuh ke tanah. Lalu gelap. Aku tidak bisa melihat apapun.