I Love You, J!

I Love You, J!
Bab IV - Inisial J Bukan Cowok Brengsek



Menurutku tidak ada yang lebih epik dari kisah romansa Ken Dedes dan Ken Arok. Dengan kecantikannya, Ken Dedes membuat Tunggul Ametung jatuh hati. Namun kemudian, Ken Arok yang notabene adalah pengawal Tunggul Ametung, ternyata ikut terperangkap dalam pesona Ken Dedes. Dia bahkan nekat membunuh Tunggul Ametung, bosnya sendiri, demi mendapatkan Ken Dedes.


Di zaman sekarang, Ken Dedes mungkin akan disebut wanita murahan. Setelah dinikahi dan mengandung anak dari Tunggul Ametung, ia justru jatuh ke pelukan Ken Arok, si pembunuh. Namun bagiku, Ken Dedes tetaplah sosok wanita hebat. Keberadaannya membuat pria-pria di dekatnya terbunuh. Itu keren. Sungguh.


Beda nasib denganku yang sekarang disebut sebagai cewek caper. Selamanya aku tidak akan pernah bisa seperti Ken Dedes. Bukan berarti aku ingin cowok-cowok di dekatku terbunuh. Meskipun tidak cantik-cantik amat, aku hanya ingin keberadaanku bisa memberi pengaruh yang besar seperti yang dilakukan Ken Dedes dengan kecantikannya.


“Gila, cepet banget sih reaksi orang-orang,” gumam Yasmin. “Gue rasa lo punya bakat terkenal, Na.”


Yasmin menunjukkan beberapa twit dari anak-anak kampus yang seolah menyindirku. Habis caper ke Javier, sekarang caper ke Juan.


Aku menarik napas dalam-dalam. “Rasanya gue pengen balik ke zaman dulu, zaman belum ada sosmed,” kataku. “Baru segini doang gue udah capek, gimana kalo gue jadi artis ya?”


“Akhirnya lo nggak bisa santai lagi digosipin anak-anak,” cibir Yasmin.


“Kalo cuma kejadian bola nyasar doang gue santai. Kalo ditambah kejadian Juan nangkep badan gue, itu sama dengan kayak mancing keributan. Gimana gue bisa santai?”


“Tapi lo jadi ketemu Javier kan?”


“Lo gila ya? Kalo gue jadi ketemu Javier yang ada malah nambah masalah lagi. Gue nggak mau ah, jadi topik gibah nggak penting gini.”


Yasmin cemberut. Dia berdiri di depan mejaku, seolah ingin menghalangiku kabur. Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam sembari memasukkan buku ke dalam tas. Aku pun berharap Javier tidak serius ingin menemuiku.


“Lima menit lagi Javier bakal muncul dari situ,” kata Yasmin sambil menunjuk pintu kelas. “Ah, Juan harusnya batal ketemu elo kan? Harusnya dia mundur alon-alon dulu, jangan sampai malah dia yang muncul dari situ.”


Aku tersenyum kecut. Rasanya aku tidak sepenting itu sampai-sampai Juan dan Javier harus berlomba siapa yang bisa menemuiku lebih dulu. Akan lebih bagus kalau mereka tidak perlu repot-repot kemari.


Jurusan Ilmu Sejarah nyaris tidak pernah menjadi pusat perhatian. Lokasi gedung kami menyempil antara gedung Fakultas Sastra dan perpustakaan, agak menyendiri di sisi barat area kampus yang sepi. Mahasiswa jurusan lain mungkin tidak banyak yang tahu dimana persisnya gedung kami.


Kalau Javier benar-benar muncul di gedung Ilmu Sejarah, itu akan menjadi keajaiban dunia. Bahkan aku sebenarnya ragu dia tahu lokasi gedung Ilmu Sejarah.


Yasmin melirik jam tangannya. “Ck, jangan-jangan Javier nggak tahu dimana gedung Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Gue udah kasih petunjuk, gedung kita nyempil di antara gedung Sastra dan perpustakaan, terus tinggal jalan lurus ke belakang sampai ketemu Jurusan Ilmu Sejarah.”


“Kalau dia pernah ke perpustakaan, harusnya dia tahu,” kataku cuek.


“Fakultas Ekonomi kan punya gedung perpustakaan sendiri yang gede,” kata Yasmin. “Aish, masa harus gue jelasin lagi.” Ia menggaruk-garuk kepalanya, lalu memeriksa ponsel. Jarinya mulai mengetik, mungkin mengirim pesan untuk Javier.


“Jangan berusaha terlalu keras, Yas,” kataku lagi. “Javier mungkin nggak serius. Mending gue balik, ngerjain tugas di rumah.”


“Eh, tunggu dulu!” sanggah Yasmin. “Jangan kemana-mana,” ancamnya dengan muka galak.


“Lama-lama lo makin nyebelin ya,” keluhku. Aku melirik pintu. Tidak ada tanda-tanda Javier akan muncul dari situ. Namun aku justru melihat sosok lain yang mengintip dari balik jendela. Aku tersenyum kecut. “Ngapain lo ngintip-ngintip?” tanyaku pada Juan, yang entah sejak kapan mengintip.


Yasmin menoleh ke jendela. “Ish, kenapa lo yang nongol sih?” gerutunya.


Aku mencangklong tas dan buru-buru melangkah keluar kelas saat Yasmin lengah. “Gue pulang ya!”


“Nggak bisa!” kata Yasmin sambil berusaha menghalangiku.


Langkahku terhenti di depan pintu karena tahu-tahu ada sosok lain lagi yang berdiri di situ. Mataku mengerjap. Yasmin yang berdiri di sebelahku menahan lenganku supaya aku tetap diam di tempatku. Mulutnya menganga karena kaget melihat cowok yang dari tadi sudah ditunggu-tunggu.


“Iya,” jawabku singkat.


“Bisa ngobrol sebentar?” tanya Javier. “Ah iya, gue Javier, yang tempo hari nggak sengaja lempar bola basket…”


“I know,” potongku. “Semua orang kenal elo.”


Javier seperti tersipu. Aku tidak percaya ini. Apakah dia sedang bertingkah sebagai cowok pemalu? Biasanya dia sangat percaya diri.


“Gue minta maaf, gue nggak sengaja. Lo beneran nggak apa-apa kan?”


“Nggak apa-apa. Itu bukan apa-apa.”


“Tapi orang-orang pada ngomongin lo, katanya lo…”


“Gila?” potongku lagi. Aku menggeleng. “Gue nggak gila. Gue juga nggak mendadak bego. Gue memang bego dari dulu. Ketipu cowok bekali-kali.”


Javier tampak kaget dengan kata-kataku. “I’m sorry…”


“Nggak usah minta maaf. Anggap gue lagi sial.”


“Dia habis patah hati bro.” Tiba-tiba Juan masuk ke pembicaraan kami. “Gue rasa bola basket lo bikin dia sadar kalo cowok nggak cuma mantannya yang berinisial J itu. Masih ada cowok-cowok berinisial J lainnya yang lebih baik.”


Javier terlihat makin bingung. Sepertinya dia butuh waktu untuk mencerna kata-kata Juan.


“Gini, Javier,” selaku. “Gue memang habis patah hati. Waktu bola basket lo menghantam kepala gue, bayangan mantan di kepala gue langsung ambyar seketika. Makanya gue bilang makasih ke elo. Bukan karena gue mendadak sinting. Bukan.” Aku menggeleng. “Gue bener-bener makasih banget, rasanya gue melihat kehancuran mantan gue setelah lo lempar bola basket itu ke gue.”


“Wow…” hanya itu yang keluar dari mulut Javier. “Gue nggak menduga dapat penjelasan sedetail itu.”


“Dan dia sekarang benci sama cowok-cowok berinisial J,” sela Juan lagi.


“Nggak semua,” sanggahku.


“Gue Javier, by the way, inisial gue J,” kata Javier sambil tersenyum. “Jadi gue masuk daftar cowok red flag?”


“Me too, bro,” Juan menimpali.


“Gue bilang nggak semua,” kataku lagi. Ekspresi Juan dan Javier terlihat meragukan kata-kataku. “Ok, terserah. Intinya gue baik-baik saja, gue nggak gila, cuma patah hati. But now I’m super okay. Sekian. Gue pulang dulu ya.”


“Tunggu.” Javier mencegahku. “Gue cuma mau bilang kalo gue bukan cowok brengsek.”


“Gue juga,” Juan menimpali lagi. Javier meliriknya dengan tampang heran, tapi Juan cuek saja dan malah nyengir.


“Ok, percaya,” kataku. “Permisi.”


Aku berjalan di antara dua cowok berinisial J itu. Yasmin yang dari tadi hanya diam mendengarkan mengikutiku. Dia pun kelihatan bingung dengan percakapan tadi, mungkin di luar ekspektasi dia.


Aku tertawa kecil. Kalau dipikir-pikir, pembicaraan tadi memang aneh dan random. Aku tidak perlu pembelaan dari dua cowok berinisial J itu kalau mereka bukan cowok brengsek. Apa gunanya? Toh aku bukan siapa-siapa mereka.