I Love You, J!

I Love You, J!
Bab III - Topik Gibah



Pasca kejadian bola basket nyasar yang mengenai kepalaku, orang-orang jadi membicarakanku. Kalau saja si pelempar bola nyasar bukan Javier, mungkin mereka tidak akan membicarakanku.


Yasmin terus mendesakku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dia khawatir ada yang konslet di kepalaku gara-gara bola basket itu. Menurutnya tingkahku makin aneh sejak kejadian itu.


“Lo jadi sering ketawa sendiri,” kata Yasmin saat kami makan siang bersama di kantin kampus. “Look, orang-orang ngeliatin lo kayak orang gila.”


Aku memang tertawa tiap kali mengingat kejadian itu. Aku membayangkan wajah Jevan penyok-penyok terkena hantaman bola basket. Rasanya puas melihat bayangan wajahnya yang hancur.


“Tuh kan, lo senyum-senyum lagi. Lo kenapa sih, Na?” desak Yasmin lagi.


“I’m okay,” kataku.


“Lo selalu bilang ok padahal jelas-jelas lagi nggak ok!” gerutu Yasmin. “Lo sadar nggak sih, Javier yang Agung jongkok di depan lo, mukanya khawatir, say sorry ke lo dan nanya apa lo nggak kenapa-napa? Dan lo cuma bilang thank you? Oh, come on! Ada yang salah di kepala lo ini!”


“Gue memang ok, nggak usah khawatir,” kataku lagi. “Gue berterimakasih ke Javier karena udah ngelempar bola itu ke arah gue.”


“Hah?” Yasmin menatapku tidak percaya. “Gimana, gimana? Gue nggak ngerti. Coba jelasin.”


“Setelah kena bola nyasar, gue jadi sadar sepenuhnya. Bayangan Jevan langsung lenyap di kepala gue. Boom! Kayak bom meledak, hancur berkeping-keping,” kataku sembari memberi ilustrasi letupan bom dengan kedua tanganku.


“Ck,” Yasmin berdecak. “Lo memang ajaib, Na,” katanya. “Lo masih bisa santai dan cuek di saat orang-orang gibahin elo.” Yasmin melirik seseorang yang terang-terangan menunjuk ke arahku. Ia lalu mendelik ke orang itu. “Lo dikatain sinting sama dia,” Yasin menunjuk orang itu.


“Mereka kan nggak tahu cerita yang sebenarnya. Nanti juga orang-orang bakalan lupa,” kataku. “Gue bukan artis, masa iya gue harus klarifikasi?”


“Mana mungkin lupa? Seandainya yang ngelempar bola basketnya bukan Javier, mungkin iya. Tapi ini Javier lho, Na. Kenapa lo nggak pura-pura pingsan aja di depan Javier?” tanya Yasmin. “Setidaknya ceritanya bakal lebih menarik, lo nggak akan dikatain bengong bego, gila, sinting…”


Aku mengangkat bahu. “Belum tentu dia bakal gendong gue dan berusaha bikin gue sadar.”


Yasmin menarik napas panjang. “Kan bisa dicoba dulu, barangkali dia panik terus gendong elo.”


Aku tertawa. “Gue nggak mau halu untuk hal-hal yang susah digapai.” Aku menyeruput minumanku sampai habis, kemudian bergegas untuk mengikuti mata kuliah berikutnya.


Yasmin pun buru-buru menghabiskan minumannya dan setengah berlari menyusulku. “Aba-aba dulu kek, kalo mau pergi,” gerutunya.


 


Yasmin benar, orang-orang menyebutku gila. Masa iya, ada orang yang habis kena bola basket reaksinya cuma bengong? Minimal mengaduh kesakitan.


Aku mendengar pembicaraan itu dari bilik toilet kampus. Aku membiarkan orang-orang yang bergosip itu keluar lebih dulu. Anehnya, aku tidak marah sama sekali mendengar mereka bergosip tentangku. Malah terdengar lucu.


Aku juga mendengar bisik-bisik yang sama saat meminjam buku di perpustakaan. Orang di dekatku menyadari bahwa akulah cewek yang tiba-tiba jadi bego setelah kena lemparan bola basket Javier. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum geli. Sekalinya aku terkenal, justru karena alasan konyol.


Belum lagi bisik-bisik lain di sepanjang koridor. Yasmin benar, ini karena Javier. Kalau saja yang melempar bola basket itu bukan Javier, rasanya tidak mungkin aku jadi bahan gibah satu kampus begini.


“Hai, J hater!” aku mendengar suara Juan tepat di belakangku saat aku berjalan ke parkir motor. Apa katanya tadi? J hater?


Aku menoleh dan melihat Juan tersenyum. “Maksudnya gue?”


Juan mengangguk. “Lo pembenci cowok berinisial J kan?” Aku tidak menanggapi. Dia pun melanjutkan, “Hmm, gue denger desas-desus lo kena bola basket nyasar dan pelakunya adalah Javier. Nggak kebayang deh gue, seberapa bencinya lo sekarang sama cowok berinisial J.”


“Lo cuma mau ngomong itu doang?” tanyaku.


“Oh, tentu tidak. Ada banyak yang pengen gue obrolin sama lo.”


“Sori, gue nggak ada waktu.” Aku bergegas menuju tempat motorku diparkir.


Juan mengikutiku dari belakang. “Kirana kan?” tanyanya.


Aku menghentikan langkahku dan untuk kedua kalinya menoleh ke arahnya. “Sepertinya lo udah tahu nama gue, berkat bola nyasar Javier.”


Juan tertawa. “Thank to Javier!” katanya. “Eh, bukannya lo juga bilang makasih ke dia? Isu lo mendadak jadi bego itu bener nggak sih?” Juan tampak penasaran.


“Menurut lo?” aku mendelik.


“Kayaknya nggak sih,” sahutnya. “Tapi kenapa lo malah bilang makasih? Kepala lo kena bola nyasar, itu kan sakit…”


“Lo kenapa sih?” potongku. “Kayaknya kepo banget sama urusan gue. Bisa jauh-jauh nggak? Gue mau pulang.” Aku berjalan cepat ke motorku dan buru-buru mengeluarkan kunci motor dari saku.


Juan masih bandel. Dia tetap mengikutiku dan berdiri di belakang motorku. “Kenapa lo mau buru-buru pulang?” tanyanya.


“Ck,” aku berdecak. “Urusan gue dong, mau buru-buru kek, mau selow kek.” Aku menyalakan motor dan dengan cuek bergerak mundur hingga hampir menabrak Juan. “Gue bilangin juga minggir.”


“Besok lo ada kuliah lagi kan? Gue samperin lo ya? Awas kalo ngilang!” kata Juan.


“Ih, apaan sih ngatur-ngatur,” kataku. “Minggir!”


Juan menghalangi motorku lagi. “Pokoknya besok gue samperin lo,” katanya. “Gue belum selesai sama lo.”


Aku mengerutkan kening. “Apanya yang belum selesai? Nggak jelas banget!”


Juan memamerkan senyumnya yang menyebalkan. “Urusan gue sama lo,” katanya. “See you tomorrow, sweetie! Besok kita lanjut lagi ya?” setelah itu ia melambaikan tangan dan berlalu begitu saja.


Sweetie katanya? Ish, kenapa begitu banyak orang-orang aneh di sekelilingku? Diriku saja sudah cukup aneh, tolonglah jangan ada yang aneh lagi!


 


Esok harinya, orang-orang makin ramai membicarakan diriku. Kali ini bukan karena aku yang mendadak bego atau jadi gila karena ulah Javier. Namun ada hal lain yang membuat cewek-cewek menatap sinis ke arahku.


Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku baru paham setelah Yasmin berlari dengan napas terengah-engah mendekatiku di halaman kampus. Dengan susah payah dia mengatur napas sebelum memberitahuku sesuatu.


“Sabar,” kataku. “Duduk dulu gih.” Aku mengajaknya duduk di bangku beton di dekat kami.


Yasmin langsung duduk. “Javier nyariin elo,” katanya. “Javier, Na! JAVIER!”


“Iya, terus kenapa?”


“Hah? Terus kenapa?” Yasmin mulai gregetan. “Kenapa lo tanya terus kenapa? Ini reaksi yang sama sekali nggak gue harapkan dari lo. Javier yang Agung nyariin elo!”


Aku bingung. “Ya kenapa dia nyariin gue?”


Yasmin mengeluarkan ponselnya. “Dia ngetwit, Na. Dia nanya ke orang-orang, ada yang kenal elo nggak, cewek yang tempo hari nggak sengaja kena lemparan bola basket dia.” Dengan gerakan cepat Yasmin mencari twit yang dimaksud, lalu menunjukkannya kepadaku. “Nih, lihat!”


Aku mengambil ponsel Yasmin dan membaca twit Javier. Cowok itu bertanya siapa aku dan bilang ingin menemuiku untuk minta maaf sekali lagi. Aku membaca balasan twit itu satu per satu. Pengikutnya kebanyakan tidak tahu siapa aku, sampai akhirnya aku menemukan balasan dari seseorang yang menyebut namaku.


Aku melotot ke Yasmin. “Heh! Kenapa lo balas?” tanyaku. Aku menunjukkan balasan yang jelas-jelas dari akun Yasmin. Dia dengan gamblang mengetik namaku dengan huruf kapital. “KIRANA. Jurusan Ilmu Sejarah, bestie gue. FYI, dia nggak gila, cuma shock.”


“Karena Javier bertanya,” jawab Yasmin. “Gue baru balas barusan, sebelum gue ngeliat lo.”


“Kan lo nggak harus jawab!” protesku.


“Kan Javier nanya!” Yasmin ngotot. “Dia bilang mau minta maaf sekali lagi. Dia nggak enak sama lo, Na!”


“Aish, sok tahu.”


“Kalo gitu kenapa dia harus ngetwit segala? Dia ngetwit begitu kan karena nggak enak, karena waktu itu lo langsung pergi, terus orang-orang ngiranya lo gila!”


Ada notifikasi dari Twitter, belum sempat aku membacanya, Yasmin sudah keburu menyambar ponselnya. Kedua matanya melotot saat membaca notifikasi itu.


“Na! Javier DM gue!” katanya. “OMG! Mimpi apa gue semalem! Katanya dia mau ketemu elo! Aduh, lo harus ketemu dia sih! HARUS!”


“Kalo gue nggak mau gimana?”


“Asli lo beneran jadi bego gara-gara bola nyasar!”


“Heh!”


“Apa hah heh hoh? Gue bales nih ya, biar dia nyamperin lo nanti siang. Tempat bebas!”


“Ih, kok situ yang ngatur? Mana siniin! Biar gue yang bales!”


“Ih, ini DM-nya ke gue, kok situ yang bales?”


“YASMIN!” aku melotot.


“KIRANA!” Yasmin ikut melotot.


Ah, percuma. Jari Yasmin secepat shinkansen membalas DM Javier. Sekalinya ngotot, dia tidak akan mau menyerah. Gara-gara kami saling teriak juga, kami jadi pusat perhatian selama beberapa saat.


“Beres!” kata Yasmin kemudian. “Kita tidak tahu ke depannya seperti apa, jadi ketemu aja dulu, okay?”


“Ih, manajer gue juga bukan, kenapa gue jadi berasa diatur-atur?” protesku.


“Karena lo nggak bisa manfaatin situasi!” balas Yasmin.


Aku baru saja akan membalas kata-kata Yasmin saat Juan tiba-tiba muncul dengan senyumnya yang menyebalkan. Dia bahkan dengan sok akrab merangkul pundakku dan menyapa Yasmin dengan santai.


“Ih, apaan sih!” aku menghempas tangan Juan. “Jangan sok akrab!”


“Mohon maaf nih, perasaan gue bikin janji temu sama Javier, bukan Juan,” kata Yasmin. Dia terlihat bingung, kenapa Juan kelihatan sok akrab denganku.


“Gue udah bikin janji duluan sama Kirana kemarin,” kata Juan.


“Hah? Mana ada janji-janji begitu?” protesku. “Udah ah, gue ada kuliah. Jangan ganggu pagi-pagi!”


“Gue cuma mau ngingetin doang, nanti habis kuliah gue mau nyamperin elo, jangan bikin janji sama yang lain dulu,” kata Juan.


“Wah, nggak bisa, Pak,” sanggah Yasmin. “Nanti siang Kirana mau ketemu Javier. Bapak bisa ngalah dulu nggak? Ini lebih penting lho, berhubungan sama reputasi Kirana di kampus ini.”


Aku mendelik ke Yasmin. Kata-katanya makin ngawur. Juan pun kelihatan bingung dan tidak mengerti dengan penjelasan Yasmin. Namun ada bagusnya juga Yasmin bilang aku ada janji dengan Javier, barangkali Juan menyerah dan nggak ngotot minta nyamperin.


“Lho, kan gue udah bikin janji duluan,” protes Juan.


“Tujuan lo apa sih sebenarnya?” tanyaku. “Mau gue ketemu siapa kek, ya terserah gue! Nggak penting siapa yang bikin janji duuan, gue yang menentukan!” kataku tegas. “Udah ya, gue udah telat.”


Aku buru-buru pergi dan berharap Juan tidak mengikutiku. Sialnya langkahku tersandung paving yang rusak dan membuatku kehilangan keseimbangan. Aku sudah menyangka badanku akan jatuh berdebum. Namun sepasang tangan kokoh dengan sigap menahan tubuhku sehingga aku terhindar dari kejadian memalukan.


“Hati-hati dong!” kata Juan.


Aish, sial! Kenapa harus Juan yang melakukannya? Kurasa ini lebih memalukan dibanding jatuh ke tanah. Dengan panik aku mencoba melepaskan diri dari dekapan tangan Juan dan berdiri dengan seimbang.


“Makanya jangan buru-buru,” kata Juan lagi.


“Thanks.” Hanya itu yang bisa kuucapkan sebelum melangkah pergi dengan kepala tertunduk malu. Orang-orang yang melihatku hampir jatuh dan ditangkap Juan akhirnya punya topik gibah baru. Dari Kirana bego, mungkin jadi Kirana caper.


“KIRANA! Tungguin gue!” Yasmin berteriak di belakangku, ikut mengabaikan pandangan orang-orang yang kepo.


Astaga, suara Yasmin yang melengking justru makin memperparah situasi. Kenapa sih aku sial banget akhir-akhir ini?