I Love You, J!

I Love You, J!
Bab VIII - Zaman Daendels



Aku panik. Panik sepanik-paniknya. Seberapa jauh aku berjalan, yang kulihat hanyalah gambaran Indonesia di masa lalu. Aku tidak tahu pasti ini gambaran tahun berapa, yang jelas bukan era 1900-an. Pasti lebih tua dari itu.


Aku melewati pasar seperti orang bingung. Orang-orang bertransaksi dengan koin yang sering kulihat di buku sejarah perdagangan. Aku tidak percaya ini. Masa sih ini bukan prank? Kalau memang ini mimpi, kenapa aku tidak bangun juga? Aku bahkan menepuk pipiku berulang kali dan masih merasakan sakit.


Ini jelas salah. Aku tidak mengenal siapapun di sini. Saking bingungnya, kakiku seolah tidak bisa berhenti melangkah. Aku terus saja berjalan sampai masuk hutan. Setelah sadar kalau aku akan semakin sulit jika masuk hutan, aku memaki diriku sendiri. Harusnya aku tetap di pasar saja, atau kembali ke pondok untuk menenangkan diri.


Aku makin bingung saat ingin kembali ke pusat keramaian. Apakah aku berjalan terlalu jauh? Sial. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Aku benar-benar tidak punya petunjuk!


Sayup-sayup aku kemudian mendengar sebuah suara. Terdengar seperti suara orang yang berkelahi. Aku menajamkan telinga dan mendekat ke sumber suara. Dengan hati-hati aku berjalan supaya tidak menimbulkan suara.


Aku mengintip dari balik pohon besar. Aku melihat seorang pemuda sedang memukul batang kayu dengan kepalan tangannya. Dia tidak sedang mengamuk, dia seperti sedang latihan.


BUG!


Keras juga pukulannya. Dia sama sekali tidak terlihat kesakitan ketika menghajar batang kayu itu. Aku mengintip lagi dari sudut pandang yang berbeda, berharap bisa melihat wajahnya. Namun aku kesulitan, pemuda itu membelakangiku. Ah, apa gunanya aku bisa melihat wajahnya? Aku pasti tidak akan kenal.


BUG!


Kali ini pemuda itu menendang batang kayu yang menjadi sarana latihannya. Astaga, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi rasanya aku benar-benar pergi ke masa lalu. Lihat saja cara pemuda itu latihan, di tahun 2023 orang-orang latihan memukul samsak, bukan batang kayu keras.


Di saat aku sedang asyik menontonnya latihan, tiba-tiba saja pemuda itu berbalik. Aku buru-buru bersembunyi. Sial. Aku tidak sempat melihat wajahnya. Aku nekat mengintip sekali lagi dan melihat pemuda itu sedang minum.


Aku tidak percaya ini. Aku melihat Junot versi 1800? Aku yakin itu Junot! Hanya saja di sini rambutnya lebih panjang, otot-ototnya lebih terlihat dan kulitnya sedikit lebih gelap. Dia bertelanjang dada dan hanya memakai kain yang melilit pinggangnya. Ini Junot versi drama kolosal!


Untung saja aku tidak keceplosan karena kaget dan menimbulkan suara. Sepertinya pemuda itu belum menyadari keberadaanku.


“Kirana, kenapa kamu di sini?”


“KYAAA!!!” aku terkejut dan menjerit. Seseorang menepuk bahuku dan bertanya padaku. Apakah akhirnya ada orang yang mengenalku?


Aku membalikkan badan dan makin terkejut setelah melihat Mas Yudha berdiri di hadapanku.


“Mas Yudha!” pekiknya. “Akhirnya Mas!” aku spontan memeluk Mas Yudha sambil menangis. “Siapa sih yang mengerjaiku sampai segininya?” isakku.


“Kamu kenapa?” tanya Mas Yudha.


“Bingung!” sahutku. Tunggu, aku menyadari sesuatu lagi. Mas Yudha juga berpakaian sama seperti pemuda yang memukul kayu tadi. Dia memakai ikat kepala hitam dan terlihat seperti Mas Yudha versi jadul.


“Bingung kenapa?”


“Kita lagi dimana sih Mas? Apa semua ini? Kenapa orang-orang…” aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku karena saking bingungnya.


“Pertanyaanmu aneh,” sela Mas Yudha. “Kamu kan sudah sering kemari, pondok kecil itu rumah Jantaka.”


Aku mengalihkan pandangan ke pondok yang ditunjuk Mas Yudha yang katanya rumah Jantaka.


“Jantaka?” aku mengerutkan kening.


“Jantaka,” jelas Mas Yudha. “Temanmu itu.” Mas Yudha menunjuk si pemukul batang kayu yang kini sudah mendekat ke arahku. Dari dekat dia semakin terlihat sama dengan Junot.


“Sepertinya kepala Kirana terbentur sesuatu, Mas,” kata Jantaka sambil tersenyum. Entah kenapa aku senang melihat senyuman pemuda itu. Rasanya melihat Junot yang didandani seperti Suliwa. Lebih tampan.


“Apa yang terjadi padamu, Kirana?” tanya Mas Yudha dengan nada khawatir.


Kenapa ngomongnya jadi baku sekali? Kalau memang aku pergi ke masa lalu, berarti Mas Yudha tetap menjadi kakakku dan Junot tetap menjadi temanku?


“Ini tahun berapa?” tanyaku.


Mas Yudha dan Jantaka saling pandang, lalu menatapku tidak percaya.


“Kamu bertanya ini tahun berapa?” ulang Mas Yudha. “Apa yang terjadi Kirana? Tadi Mas tinggal kamu sebentar untuk membeli makanan, kamu sudah menghilang. Sebelum kemari apa kamu mampir ke suatu tempat?”


Aku menggeleng. “Ini tahun berapa?” tanyaku lagi.


“1809,” sahut Jantaka. “Sudah ingat?” Dia lalu mengetuk pelan kepalaku.


“Kirana? Kamu kelihatan bingung sekarang,” kata Mas Yudha.


“Jadi ini tahun 1809,” gumamku. Dilihat dari penampilanku, aku hanyalah rakyat biasa di tahun 1809. Begitu juga dengan Mas Yudha dan Jantaka.


“Bagaimana kalau kita makan dulu?” tawar Jantakan. “Aku lapar setelah latihan.”


“Ayo!” ajak Mas Yudha. Dia menarik tanganku mendekat ke pondok milik Jantaka. Kami duduk bertiga di bale-bale kayu yang sudah tua.


Ah, bagaimana caranya aku menggali informasi tanpa membuat Mas Yudha versi jadul dan Jantaka tidak curiga? Aku ingin mengetahui banyak hal. Apakah Jantaka hidup sendirian? Apakah aku hanya bersama Mas Yudha di sini? Apakah keluarga kami ikut kerja paksa? Ah, aku makin pusing memikirkannya.


“Setelah makan, kita rapat sebentar,” kata Mas Yudha.


“Kau punya berita baru, Mas?” tanya Jantaka.


Mas Yudha mengangguk. “Makan saja dulu, kita bicarakan nanti.”


Baiklah. Sepertinya inilah saatnya aku harus menjadi pendengar yang baik. Kira-kira berita baru apa yang Mas Yudha punya?


***


Ini buruk. Sangat buruk. Aku masih berharap ini prank. Namun tidak mungkin rasanya Mas Yudha dan Junot mengerjaiku dengan totalitas seperti ini.


Mas Yudha dan Jantaka -atau Junot- merencanakan pemberontakan terhadap Daendels. Mereka sedang menghimpun massa dari tenaga kerja yang belum mendapatkan upah. Jadi aku terlahir dari keluarga pemberontak. Ini posisi yang tidak baik. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih menjadi keluarga pedagang yang tidak berpolitik.


Ingin rasanya aku berkata bahwa upah tenaga kerja itu dikorupsi oleh bupati atau pejabat pemerintahan. Dari buku sejarah Indonesia yang kubaca, tenaga kerja itu sebenarnya diberi upah.


“Haruskah kita menjadikan Jumanta sebagai tawanan?” tanya Jantaka. “Aku yakin sekali dia telah mengambil hak para pekerja.”


“Jumanta?” aku mengerutkan kening.


“Kau pernah menjalin hubungan dengannya, pria busuk itu,” kata Mas Yudha dengan nada kesal. “Apa kau masih mencintainya dan keberatan jika kami menyakitinya?”


Hah? Aku bahkan tidak tahu mantanku di era 1800-an ini. Siapa Jumanta? Aku tidak kenal. “Terserah kau saja,” kataku. “Aku tidak peduli,” jawabku sekenanya.


Sekarang giliran Mas Yudha dan Jantaka mengerutkan kening. Apa aku salah bicara?


“Baru kali ini kau tidak membela Jumanta,” kata Mas Yudha. “Aku makin penasaran dengan apa yang terjadi padamu, adikku.”


“Benar. Biasanya kau membela laki-laki busuk itu, apa yang kau suka darinya? Dia hanya laki-laki payah yang pintar menjilat. Dia bekerja untuk pemerintah Belanda, dia mengambil keuntungan dari sana dan menindas bangsanya sendiri. Pengkhianat,” kata Jantaka dengan nada penuh kebencian.


Oh, jadi begitu ceritanya. Kini aku paham. Karena aku tidak mengenal Jumanta, jadi tidak masalah bagiku jika sekarang aku tidak membelanya. Lagipula, kenapa aku sepayah itu sampai-sampai punya pacar pengkhianat. Aku tidak bisa menerima diriku yang itu. Maaf. Aku membenci pengkhianat.


“Aku sadar, aku terlalu bagus untuk Jumanta yang payah,” kataku.


Mas Yudha tertawa. “Harusnya kau katakan itu dari dulu!” katanya.


Jantaka tersenyum. “Kau berhak mendapatkan yang lebih baik,” ujarnya.


“Hei, Jantaka, jangan kau dekati adikku. Aku tahu niatmu itu, kau menunggunya putus dari Jumanta kan? Jangan harap aku akan merestuimu.”


Jantaka tergelak. “Tidak Mas, aku tidak berani. Kirana pun terlalu bagus untukku. Aku hanya pengembara yang tidak memiliki harta.”


Oh, jadi Jantaka pengembara pas-pasan. Tanpa sadar aku tersipu mendengar percakapan Mas Yudha dan Jantaka. Setidaknya ada seseorang yang ingin mendekatiku. Itu membuatku sedikit terhibur setelah -ceritanya- putus dari laki-laki payah.


“Aku akan mengumpulkan informasi lagi,” kata Mas Yudha kemudian. “Kirana, kamu tahu kan tugasmu apa?”


“Heh?” aku sedikit terkejut karena Mas Yudha tiba-tiba menanyaiku. Aku tidak tahu tugasku apa. Aku bahkan masih belum tahu aku di sini untuk apa.


Mas Yudha geleng-geleng kepala. “Pasti kau lupa lagi,” katanya. “Kau kutugaskan ke kadipaten Sukaraja, cari informasi sebanyak mungkin tentang Pangeran Natawijaya. Ingat, jangan sampai ketahuan.”


Astaga. Siapa pula Pangeran Natawijaya? Bolehkah aku hanya duduk manis di pondok? Aku sama sekali tidak siap dengan tugas ini. Bagaimana kalau mati dan tidak bisa kembali ke masa depan? Amit-amit. Kirana, cepat bangun! Ini mimpi buruk!