I Love You, J!

I Love You, J!
Bab II - Thank You



"Kirana! Are you okay?” Yasmin menghampiriku saat aku berhasil masuk kelas tanpa hambatan. Dia tampak khawatir setelah melihat mataku yang sembap.


“I’m not okay,” sahutku. “Please jangan tanya gue detailnya.”


“Okay,” kata Yasmin pelan. “Lo udah makan kan? Jangan sampai lo pingsan. Lo harus kuat, patah hati ini bukan apa-apa, okay?”


“Ini jelas apa-apa,” sanggahku. “Nggak mungkin nggak apa-apa.”


“I know, tapi gue percaya lo bisa melewati ini dengan baik.” Yasmin terlihat optimis, mungkin karena sebelumnya aku hanya perlu waktu satu minggu untuk kembali ceria. Namun kali ini aku tidak yakin. Aku rasa aku butuh waktu lebih dari satu minggu untuk kembali normal.


“Thanks,” kataku. Aku tidak mau memperpanjang keluhanku. Yasmin tidak akan berhenti menyemangatiku dengan quote-quote bijak kalau aku bilang aku tidak akan sanggup move on dengan cepat.


“Gue yakin Junot udah ngasih lo kata-kata mutiara, jadi gue nggak mau nambahin,” kata Yasmin seolah bisa membaca pikiranku.


Aku tersenyum kecut. “Dia bilang gue harus belajar yang bener, sejarah Indonesia lebih menarik dibanding sejarah percintaan gue.”


Yasmin susah payah menahan tawa. “Junot rese,” gumamnya. “Ah, udahlah, nggak usah bahas-bahas percintaan. Gimana kalo nanti kita cari hiburan? Nonton anak-anak latihan basket! Javier pasti main, siapa tahu suasana hati lo jadi lebih baik setelah lihat dia.”


“Ck, inisial J lagi,” keluhku.


“Eh, kenapa?” Yasmin kelihatan bingung. “Lo udah nggak ngefans sama Javier?”


Aku menggeleng. “Udah ah, gue males!”


“Lho, kok gitu? Bukannya lo terpesona banget ya sama kulitnya yang sebening kristal? Lesung pipinya yang seksi? Suaranya yang deep banget sampai bikin deg-degan nggak terkontrol?”


Aku menggeleng lagi. “Gue lagi nggak pengen nonton basket.”


Yasmin belum menyerah. “Ayolah, Na. Kan udah lama kita nggak nonton Javier main basket. Gue bakal cari posisi paling strategis supaya nontonnya enak.”


Aku berniat menghindari Yasmin saat kuliah berakhir dan berharap dia lupa dengan idenya untuk nonton Javier main basket. Namun Yasmin bergerak lebih cepat. Dia menarik tanganku dan menggeretku ke lapangan basket.


Yasmin seperti orang kesurupan, padahal ini cuma mau nonton tanding basket iseng-isengnya Javier dan teman-temannya, bukan pertandingan resmi. Namun lagaknya sudah seperti nonton pertandingan IBL.


“Yas, nggak usah narik-narik gue deh,” keluhku.


“Eh, kita harus cepet. Nanti Javier keburu main,” kata Yasmin. “Di sana pasti udah rame cewek-cewek nonton dia.”


Javier itu anak Fakultas Ekonomi, tetapi popularitasnya sudah lintas jurusan. Seperti yang Yasmin bilang, Javier punya kulit sebening kristal dan lesung pipi yang seksi. Dia punya aura sultan yang menurutku belum ada tandingannya seantero kampus. Hobinya yang main basket bareng teman-temannya selalu menjadi tontonan cewek-cewek dari berbagai jurusan. Mereka bahkan bela-belain datang ke gedung Fakultas Ekonomi hanya untuk melihat Javier keringetan usai main basket.


Aku dan Yasmin yang berasal dari jurusan kurang populer di kampus, terasa seperti anak ayam saat bergabung dengan cewek-cewek dari jurusan lain. Namun Yasmin tidak peduli. Dia sering berkata bahwa aku pun fashionable dan tidak terlihat seperti anak Ilmu Sejarah yang kebanyakan nerd di kampusku.


“Lo masih keren walaupun lagi patah hati, Na,” kata Yasmin. “Nggak kalah kok sama cewek-cewek itu.” Yasmin menunjuk gerombolan cewek-cewek Fakultas Ekonomi dengan dagunya. “Sok cantik deh yang baju kuning,” desisnya lagi.


Aku menghela napas. Kalau saja aku bukan penggemar drama kolosal, mungkin aku akan masuk Fakultas Ekonomi sesuai saran Mama. Sayangnya aku penggemar berat Suliwa, salah satu karakter favoritku di drama kolosal Angling Dharma.


Ok, aku memang agak old school. Aku juga penggemar saeguk. Pendekar-pendekar di drama Korea itu bikin aku tergila-gila. Tidak ada yang lebih seksi dari cowok-cowok pengembara zaman dulu.


“Eh, itu Javier!” Yasmin mulai histeris. “Gila, visualnya cocok banget sama karakter cowok di novel historical romance favorit lo itu. Kayak pangeran-pangeran zaman dulu. Gue sih nggak keberatan manggil dia Lord.”


“Jangan halu,” kataku. Javier memang setampan itu. Aku tidak akan kaget kalau dia memang punya garis keturunan bangsawan. Namun aku tidak segila Yasmin yang tidak keberatan memanggilnya dengan sebutan Lord.


Aku tidak menikmati suasana ini, beda dengan Yasmin yang berteriak kencang begitu Javier mendapatkan bola. Aku hanya duduk dengan tatapan kosong. Pikiranku kembali melayang ke momen dimana aku tak sengaja membaca chat Jevan dengan Vanya.


Jevan bangsat. Aku tidak akan pernah lupa dengan chat mesum mereka. Aku jijik dengan cara Jevan memuji tubuh Vanya yang –sori- sebenarnya nggak hot-hot banget.


Aku tidak menanggapinya. Pikiranku masih melayang. Kali ini aku teringat bagaimana Jevan lagi-lagi memohon untuk dimaafkan. Brengsek.


“Kirana! Fokus dong!” aku mendengar Yasmin menjerit lagi. “Javier mainnya bagus banget! Wow! Dia buka kaus! Kyaaa… bisa pingsan gue!”


Tidak hanya Yasmin yang kayak cacing kepanasan saat melihat Javier membuka kaus karena sudah banyak berkeringat. Cewek-cewek lain nggak kalah heboh dan seperti kesurupan. Kalau saja aku tidak sedang patah hati, mungkin aku akan histeris juga. Belum ada yang bisa mengalahkan Javier untuk urusan perut kotak-kotak.


“Na, bahkan Javier udah topless begitu lo masih datar-datar aja? Astaga, Jevan memang bangsat, 100% bangsat!” sekarang Yasmin ngomel-ngomel sendiri dan menyebut Jevan dengan kata-kata sumpah serapah.


“Lo bisa tenang bentar nggak sih? Mereka udah mau main lagi itu,” kataku seraya menyuruh Yasmin duduk tenang.


Aku belum mampu menghilangkan bayangan wajahnya yang sedang menari-nari di kepalaku. Biarlah aku saja yang menyumpahinya dalam hati. Harusnya Yasmin mengajakku nonton pertandingan tinju saja. Rasanya menonton orang berkelahi di ring akan membuat suasana hatiku lebih baik.


Penonton kembali riuh setelah pertandingan dilanjutkan. Aku mendengar nama Javier dielu-elukan. Javier tahu cara memanjakan penggemarnya. Dia balas melambai ke arah penonton yang membuat suasana semakin ramai.


“JAVIER I LOVE YOUUU!!!” Yasmin sudah berteriak seperti orang gila.


Jevan, I love you. Aku menggeleng keras. Kenapa jadi terlintas kata-kata itu? Jevan, I hate you! Itu yang benar! Astaga, otakku pasti sudah eror. Mana mungkin aku masih bisa memikirkan kata-kata ‘I love you’ untuk Jevan setelah diselingkuhi dua kali?


Kirana, I’m sorry, I love you… Aku mengetuk kepalaku. Sekarang kata-kata Jevan saat ketahuan selingkuh yang terlintas di kepalaku. Kirana, aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi… Ah, stop! Ini kenapa jadi makin terngiang-ngiang lagi sih? Menyebalkan!


Kirana, maafin aku ya… Kirana, aku tuh nggak serius sama dia… Kirana, aku seriusnya cuma sama kamu… Please, jangan putus ya… Kamu mau maafin aku kan? Kirana…


BUG!!!


Aku merasa sesuatu yang keras menghantam kepalaku. Namun aku tak bergeming sedikit pun. Aku tetap memandang ke depan dengan tatapan kosong. Kata-kata Jevan yang tadi menari-nari di kepalaku seolah hancur berserakan karena hantaman itu. Apa pun itu yang menghantam kepalaku, terima kasih.


“Kirana! Lo nggak apa-apa?!” aku mendengar suara panik Yasmin. Tangannya mengibas-ngibas di depan wajahku dan membuatku akhirnya bergeming. “Are you okay? Kepala lo kena bola! Astaga, sakit nggak?”


Dengan panik Yasmin memeriksa dahi dan kepalaku. Sementara itu, orang-orang di sekitar mulai memperhatikanku dengan tatapan cemas, penasaran dan ingin tahu. Kenapa orang yang habis dihantam bola basket terlihat datar-datar saja? Guys, hanya orang patah hati yang bisa begitu.


“I’m okay,” kataku pelan karena Yasmin sudah mengacak-acak kepalaku. Itu hanya hantaman kecil dibanding hantaman besar yang menyerang hatiku sampai porak-poranda.


Tak lama kemudian seseorang mendekatiku dengan ekspresi cemas. Ah, ini dia orang yang tak sengaja melempar bola basket ke arahku.


Ternyata di Javier. Cewek-cewek di sekitarku menahan napas saat Javier berjongkok di hadapanku.


“Lo nggak apa-apa?” tanya Javier. “Maaf banget, gue nggak sengaja.”


“Thank you,” kataku.


“Hah?” Javier tampak tidak mengerti. Yasmin mencubit lenganku seolah ingin menyadarkanku, ‘hei, di depan lo ini Javier, jangan bego, please!’


“Thank you,” ulangku.


Usai mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya, aku berdiri dan beranjak dari situ. Yasmin yang masih tidak mengerti dengan sikapku akhirnya mengikutiku dengan wajah bingung.


Aku tersenyum tipis. Aku akan selalu mengingat momen ini. Ternyata hanya butuh hantaman bola basket untuk mengaburkan bayangan Jevan. Aku tertawa kecil. Sungguh lucu patah hati kali ini.


“Kirana! Lo nggak tiba-tiba jadi gila kan?” tanya Yasmin.


Aku tertawa makin keras. Tidak. Aku tidak gila. Aku hanya merasa senang. Akhirnya aku bisa menertawakan rasa patah hati ini.