I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 8



Di ruang tamu, Tuba dapat melihat apa yang dilakukan Arabella kepada Ekrem. Burcu dan Erce juga melihat Arabella yang menyambut kedatangan Ekrem.


 


“Dasar pencari perhatian. Aku tahu dia hanya ingin terlihat baik di depan Kakek,” ucap Erce menahan kekesalannya ketika melihat Ekrem membalas sambutan Arabella.


 


“Kita tidak boleh bertindak gegabah. Aku tahu dia tidak selemah itu, melihat bagaimana tadi dia membalas perkataanku tadi.” Tuba memang terlihat dia namun ia menahan amarahnya di dalam hati.


 


Apa yang dikatakannya benar. Ia tahu bahwa tidak mudah untuk membuat Arabella pergi dari keluarganya itu. Arabella bahkan tidak gentar ketika menjawab semua perkataannya tadi.


 


“Jadi apa yang harus kita lakukan, Ibu? Aku sangat tidak suka melihat wajahnya yang tersenyum seperti itu.” Sama seperti anaknya, Burcu juga kesal dengan tingkah laku Arabella di rumah itu.


 


“Kita harus menyusun rencana agar ia bisa terlepas dari keluarga kita.” Sorot mata Tuba tersirat kebencian pada Arabella.


 


Mereka melihat Arabella dan Ekrem yang berjalan menghampiri tempat mereka. Burcu langsung memasang wajah santai tapi masih melirik tajam pada Arabella.


 


“Jangan mencari perhatian seperti itu. Aku tahu kau hanya ingin terlihat baik di hadapan Kakek,” ucap Burcu menyindir Arabella.


 


Arabella hanya tersenyum miring mendengar sindirin padanya itu. “Aku hanya melakukan apa yang memang benar menjadi tugasku sebagai menantu di rumah ini. Bukannya tadi kalian yang mengingatkanku akan tugasku sebagai menantu di rumah ini?”


 


Tuba dan Burcu terdiam mendengar perkataan Arabella yang kembali melontarkan sindiran pada mereka. Erce juga mengepal erat karena perkataan ibunya dibalas oleh Arabella.


 


Ekrem menahan senyuman puasnya ketika melihat raut wajah Tuba dan Burcu yang mulai menggelap. Ia melihat Arabella yang membalas sindiran itu dengan tenang, bahkan Arabella membalasnya dengan sindiran yang lebih keras. Sekian lama, akhirnya ada yang berani menentang perkataan Tuba dan Burcu, terlebih lagi bisa membuat Tuba dan Burcu terdiam seperti itu.


 


Ekrem yang merasa suasana semakin buruk lalu berdehem keras. “Kakek merasa lelah jadi sebaiknya kalian tidak membuat keributan di sini.”


 


Arabella tersenyum hangat pada Ekrem. “Kalau begitu lebih biak Kakek istirahat di kamar ya. Aku akan membuatkan wedang jahe untuk Kakek.”


 


“Baiklah. Nanti antarkan ke kamar Kakek saja ya.” Ekrem melangkahkan kakinya meninggalkan Arabella bersama ketika keluarga tirinya itu.


 


Ia sekarang bisa merasa tenang meninggalkan Arabella bersama mereka karena ia tahu Arabella mampu menentang ketiganya dengan baik tanpa bantuan darinya.


 


“Jangan bersikap baik seperti itu. Aku tahu kau hanya bertingkah menjadi menantu yang baik walaupun sebenarnya kau adalah orang yang licik.”


 


Erce melontarkan kekesalannya kepada Arabella. Rasa iri karena melihat Ekrem yang seakan-akan membela Arabella tadi membuatnya semakin marah dengan Arabella.


 


Arabella menyeringai menatap Erce. “Kau tahu? Orang licik berarti ia mampu berpikir cerdik dibandingkan orang biasanya. Karena itulah aku mengucapkan terima kasih karena sudah memujiku sebagai orang yang cerdik.”


 


Erce melebarkan matanya mendengar perkataan Arabella. “Kau!” telunjuknya mengarah pada Arabella.


 


“Apakah aku salah?” tanya Arabella memasang wajah polosnya.


 


Tuba menghela napas berat melihat tingkah cucunya yang tidak mampu melawan Arabella. “Sudahlah, Erce. Jangan membuat keributan lagi. Kau tidak ingin Kakek mendengarnya, kan? Jadi lebih baik kau duduk diam di sini.”


 


Erce mengepalkan tangannya erat hingga buku jaringan memutih. Ia tidak bisa menentang perkataan Tuba sehingga ia memilih duduk di atas sofa kembali namun tetap melirik sinis pada Arabella.


 


“Jika kalian tidak ada perlu denganku lagi, maka aku pamit pergi.” Arabella tersenyum pada mereka lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu itu dan menuju ke arah dapur.


 


“Lihatlah tingkahnya itu. Ia bahkan berani menentang kita di depan Kakek! Aku tahu dia sengaja melakukan hal itu untuk mempermalukan kita di depan Kakek! Dasar wanita licik!” Burcu mengeluarkan makiannya terhadap Arabella.


 


 


“Tenanglah, Burcu. Kita tidak perlu terburu-buru seperti ini. lebih baik kita lihat sampai kapan dia akan sanggup menentang kita nantinya.” Tuba mengambil cangkir yang berisi teh itu lalu menyeruputnya perlahan.


 


 


Arabella sedang menyeduh wedang jahe yang dibuatkannya untuk Ekrem. Membuat wedang jahe itu tidak membutuhkan waktu lama untuk Arabella.


 


Setelah selesai, Arabella melangkahkan kakinya menuju kamar Ekrem.


 


Tok! Tok! Tok!


 


Arabella memilih mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia membuka pintu kamar Ekrem.


 


“Kakek, aku membawakan wedang jahe untuk Kakek.” Arabella melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Ekrem lalu berjalan menuju Ekrem yang sedang duduk di atas sofanya.


 


Ekrem menyambut kedatangan Arabella dengan senyuman tipis. “Duduklah di sini,” ucapnya mempersilahkan Arabella duduk di sampingnya.


 


Arabella menuruti perkataan Ekrem dan duduk di samping Ekrem. Ia meletakkan secangkir wedang jahe yang telah dibuatnya di atas meja. “Cobalah, Kek. Aku harap sesuai dengan selera Kakek.”


 


Ekrem memandang secangkir air yang disebut Arabella sebagai wedang jahe itu dengan tatapan ragu. Ia mengangkat cangkir itu lalu menghirup aromanya sebentar.


 


‘Tidak buruk,’ batinnya.


 


Perlahan Ekrem menyeruput wedang jahe itu hingga sensasi hangat mengaliri tenggorokannya. Diluar dugaan, Ekrem menyukai wedang jahe yang dibuat oleh Arabella padanya.


 


“Bagaimana, Kek? Apakah Kakek menyukainya?” tanya Arabella melihat Ekrem yang telah meminum sedikit wedang jahe buatannya itu.


 


Ekrem tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Ini enak. Kakek menyukainya. Terima kasih, Ara.”


 


Arabella tersenyum lega mendengar jawaban Ekrem. “Syukurlah Kakek menyukainya. Ini adalah salah satu minuman yang akan aku buat jika aku merasa lelah. Karena itulah aku membuatkan Kakek ini.”


 


Ekrem mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau sangat ahli membuat banyak hal ya. Tidak heran Al jatuh hati padamu.”


 


Rona merah tipis terlihat di wajah Arabella ketika mendengar perkataan Ekrem. “Aku lebih bersyukur bisa menyukai laki-laki seperti Al.”


 


Ekrem dapat melihat ketulusan dalam ucapan Arabella itu. ia tahu bahwa Arabella benar-benar menyukai cucunya itu.


 


Arabella bangkit dari duduknya lalu tersenyum pada Ekrem. “Kalau begitu aku pamit keluar dulu, Kek.”


 


“Baiklah. Kau beristirahatlah.”


 


Arabella menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamar Ekrem. Ia berniat untuk masuk ke dalam kamarnya sebelum ia mendengar nama Al yang sepertinya sedang dibicarakan oleh Tuba, Burcu, dan Erce di ruang tamu.


 


Arabella melangkah mendekati ruang tamu namun ia mencoba bersembunyi untuk mendengar apa yang mereka bicarakan lebih jelas.


 


“Aku lebih memilih Sezen dibandingkan wanita itu.” Terdengar suara Erce.


 


“Sezen? Maksudmu wanita yang ada di masa lalu Al itu?” tanya Burcu kepada Erce.


 


Deg!


 


Arabella membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Sezen?”