I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 27



Al dan Dika mulai menyerang sisa anak buah Gohan yang masih berkeliaran di sekitar gudang. Setelah itu Al menyelamatkan Ekrem yang sudah tidak sadarkan diri. Gohan dan semua anak buahnya berhasil dilumpuhkan.


 


Sementara itu, Dika menyusul sisa pasukan  yang lain bergerak menyusuri kawasan sekitar untuk mencari di mana Tuba menyandera Ara. Tak jauh dari kawasan industri terbengkalai ini terdapat hutan pinus yang luas. Entah kenapa insting Dika mengarah ke hutan tersebut.


 


"Kurasa kita harus menyisir kawasan hutan itu, aku mencurigai mereka bersembunyi di sana," ujar Dika.


 


Dugaan Dika benar rupanya Tuba, Burcu serta Erce bersembunyi di gubuk kecil tak jauh dari tempat Gohan menyandera Ekrem. Mereka bertiga seketika terkejut karena tempat persembunyiannya diketahui oleh mereka. Pasukan Dika segera mengamankan mereka bertiga. Dika berlari menghampiri ke arah tubuh Ara yang tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


 


"Lepaskan aku!" teriak Erce.


 


"Jangan berani menyentuh!" ujar Tuba memberontak.


 


"Panggil ambulance, ada yang terluka di sini!" teriak Dika sambil mengecek denyut nadi Ara.


 


Tak lama kemudian, suara sirine ambulance menggaung memenuhi seluruh area kawasan industri terbengkalai ini. Ekrem dan Ara segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Saat perjalanan kondisi keduanya sudah sangat kritis, jantung Ekrem sudah melemah dan Ara kehilangan banyak darah akibat luka tikaman benda tumpul yang dilakukan Burcu.


 


"Kumohon bertahanlah kalian berdua," gumam Al dengan suara lirih yang tak mampu membendung air matanya.


 


Tubuh Al mendadak panas dingin, rasa takut dan khawatir mulai menghantui dirinya. Ia tak bisa membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk terjadi karena ia belum siap kehilangan orang-orang yang dia cintai. Air matanya tumpah saat melihat keadaan Ara yang sebelumnya masih tertancap pisau di bahu kiri Ara. Timbul sebuah rasa bersalah dan penyesalan dalam diri Al karena tak bisa menjaga istrinya dengan baik.


 


"Maafkan aku Ara, ini semua karena salahku. Aku tak bisa menjaga dirimu dengan baik. Kau harus ikut menanggung ini semua karena keserakahan Bibi Tuba dan keluarganya," ucap Al sambil memegang tangan Ara.


 


Setelah tiba di rumah sakit, keduanya segera  dilarikan ke UGD. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Ekrem perlahan sadar meski sangat lemah. Berbeda dengan Ara, karena luka tusukan benda tumpul yang cukup dalam, sehingga membuatnya harus mendapatkan pertolongan lebih. Dokter menjahit luka di dada sebelah kiri Ara.


 


"Tuan Al, pasien kehabisan cukup banyak darah jadi kami harus melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Ara," ucap Dokter.


 


"Astaga, tapi apakah dia akan baik-baik saja, Dok?" tanya Al cemas.


 


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien," sahut Dokter.


 


Setelah melakukan transfusi darah, akhirnya Ara dibawa ke ruang rawat inap. Begitu juga dengan Ekrem ia meminta supaya dirawat di satu ruangan yang sama dengan Ara agar bisa melihat kondisi cucu menantu kesayangannya.


 


" Apakah Ara baik-baik saja?" tanya Ekrem.


 


"Dokter bilang ia sudah mendapatkan penanganan, kita tunggu saja hingga Ara siluman," sahut Al.


 


"Syukurlah kalau begitu," ujar Ekrem menghela nafas lega.


 


Al menghabiskan waktunya untuk menjaga Ekrem dan Ara di rumah sakit. Setiap beberapa jam sekali dokter dan perawat datang ke kamar mereka untuk mengecek kondisinya. Hingga tiba-tiba ucapan dokter kala itu membuat Ekrem dan Al terkejut.


 


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Al.


 


"Kondisinya semakin membaik, tapi kami sepertinya harus melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap janin di perut Nyonya Ara. Di sini kami menemukan luka lebam di bagian perut, kami khawatir jika itu berpengaruh pada keselamatan janin yang dikandungnya," sahut Dokter.


 


"Apa? Janin?" ujar Al bingung.


 


"Ya, istri Anda sedang hamil, Tuan," jawab Dokter.


 


 


"Al, kau bahkan sekali tak tahu jika Ara sedang mengandung?" tanya Ekrem.


 


Mendadak Ekrem merasakan dadanya kembali sakit karena mendengar ucapan dokter barusan tentang kondisi Ara. Tubuh Ekrem mengejang dan membuat Al jadi panik. Dokter segera mengambil tindakan, tapi alat pendeteksi detak jantung tiba-tiba berhenti.


 


"Dok, apa yang terjadi?" tanya Al dengan mata nanar.


 


"Suster, ambil alat pemacu jantung sekarang!" perintah Dokter.


 


"Baik Dok," sahut Suster kemudian berlari keluar.


 


Hati dan pikiran Al mendadak campur aduk tidak karuan. Istrinya yang sedang hamil tengah kritis dan kini kakeknya juga mengalami hal yang sama. Ingin rasanya Al mengakhiri hidupnya daripada harus melihat orang-orang yang dia sayangi menderita.


 


Dokter berulang kali berusaha memacu jantung Ekrem, tapi gagal. Ekrem kembali drop dan meninggal karena penyakit jantungnya.


 


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi semesta berkehendak lain," ujar Dokter dengan menyesal.


 


Seketika tangis Al pecah, dunianya serasa hancur berkeping-keping. Ia melewati pemakaman Ekrem tanpa ada satu orang pun yang bisa menguatkan hatinya. Setelah pemakaman selesai, disaat semua orang telah pergi, Al masih terdiam di samping pusara Ekrem sambil menatap kosong ke arah batu nisan.


 


"Aku berjanji akan membayarkan dendam keluarga kita pada Tuba dan anak cucunya," gumam Al sambil mengepalkan kedua tangannya.


 


Tiga hari berlalu setelah pemakaman Ekrem, Al kembali ke rumah sakit untuk menjaga Ara yang saat ini tengah berada di ruang UGD. Ia menemani Ara yang belum sadar meski sudah melewati masa kritis. Dika asisten pribadinya selalu setia menemani dimanapun Al berada.


 


"Apakah kau ingin segelas kopi, Tuan?" tanya Dika menawarkan.


 


"Tidak Ka, semua hal masih terasa pahit di lidahku dan aku tak bisa menikmatinya," sahut Al sambil menatap kosong ke arah Ara yang terbaring lemah di atas ranjang.


 


"Baiklah, aku mengerti Tuan," ujar Dika.


 


Tiba-tiba Al melihat tangan Ara yang perlahan mulai bergerak. Al bersyukur karena Ara akhirnya sadar dan janinnya masih bisa diselamatkan.  Al segera berlari ke arah Ara dan menangis sambil memeluk perutnya.


 


"Al apa yang terjadi?" tanya Ara dengan suara lirih.


 


"Syukurlah akhirnya kau bisa melewati masa kritismu," sahut Al terharu.


 


Ara langsung bertanya tentang keadaan kakeknya. Seketika Al hanya terdiam membisu dan air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia kemudian menoleh ke arah Dika seolah memberi kode pada Dika untuk mengatakan yang sesungguhnya karena Al sudah tidak sanggup lagi untuk bicara.


 


"Al, kenapa kau hanya diam saja? Bagaimana keadaan kakek, apakah dia baik-baik saja? Aku ingin melihatnya," ujar Ara.


 


"Eh Nyonya…." ujar Dika yang kemudian dipotong oleh Ara.


 


"Dika, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ara.


 


"Tuan Ekrem sudah meninggal tiga hari yang lalu karena penyakit jantung yang ia derita," sahut Dika dengan nada suara yang bergetar.


 


"Ti… Tidak mungkin, itu bohong kan, Al?" teriak Ara histeris kemudian ia jatuh pingsan.