I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 19



Setelah aktivitas bercinta yang dilakukan oleh Al dan Ara di kantor, Ara segera


membersihkan dirinya. Mendadak suasana hatinya senang, namun ia harus ingat dengan rencana awal yang sudah ia sepakati dengan Al. Ara menatap dirinya melalui cermin di kamar mandi ruangan Al, matanya masih terlihat sembab karena tadi menangis.


 


Sementara itu, Al kembali berjibaku dengan pekerjaannya. Matanya fokus menatap layar komputer di depannya. Sambil sesekali merapikan tumpukan berkas di atas mejanya. Hingga tiba-tiba teleponnya berbunyi.


 


Kring… Kring…Kring….


 


"Halo," ucap Al melalui sambungan telepon.


 


"Selamat siang Tuan Al, saya ingin mengingatkan bahwa hari ini ada rapat bersama klien pukul 11.00," ucap suara dari dalam telepon yang ternyata adalah asisten pribadinya.


 


"Baiklah, siapkan saja semua keperluan untuk rapat sebentar lagi aku akan menuju ke ruang rapat," sahut Al kemudian menutup teleponnya.


 


Disaat yang bersamaan Ara keluar dari kamar mandi. Dia menyadari jika Al sedang sibuk, sehingga ia memutuskan untung pulang. Al berjanji setelah selesai rapat agar segera pulang untuk menemani dirinya.


 


"Kalau begitu aku pulang sekarang ya, kulihat kau sangat sibuk hari ini," ucap Ara.


 


"Baiklah, hati-hati di jalan sayang," sahut Al sambil mencium kening Ara.


 


Beberapa saat kemudian, Ara keluar dari ruangan Al tanpa diantar oleh Al. Tanpa Ara ketahui, dari kejauhan ada orang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Setiap pergerakan Ara tak pernah luput dari pandangannya. Orang itu menyadari ada yang berbeda dari wajah Ara. Wajahnya terlihat sembab.


 


"Sepertinya ia baru saja menangis," gumam orang itu.


 


Orang itu segera merogoh ponselnya dari dalam saku dan memotret Ara, sebelum Ara pergi jauh. Ia kemudian mengirimkan foto tersebut pada Tuba dan menelponnya.


 


"Halo," ucap Tuba melalui sambungan telepon.


 


"Kau sudah melihat foto yang aku kirim barusan?" tanya orang itu.


 


"Ya, apakah Ara datang ke kantor Al hari ini?" tanya Tuba.


 


"Benar, ia baru saja keluar dari ruangan Al tapi wajahnya terlihat sembab seperti orang yang baru saja menangis," ucap orang itu.


 


"Bagus! Laporkan padaku jika Ara datang lagi ke kantor Al," ucap Tuba.


 


Tuba menutup teleponnya dan tertawa yang membuat Burcu dan Erce jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Tuba kemudian menceritakan semua yang dikatakan oleh orang suruhannya barusan. Mendengar hal itu, sontak Burcu dan Erce ikut tertawa senang.


 


"Bagus! Itu artinya rencana kita berhasil," ujar Burcu.


 


"Tunggu dulu Burcu, aku masih punya rencana selanjutnya untuk menyingkirkan Ara," sahut Tuba.


 


"Apa itu?" tanya Burcu penasaran.


 


"Lihat saja nanti, kau pasti akan terkejut karena mengetahui Ara akan segera didepak dari rumah ini," ujar Tuba sambil tersenyum sinis.


 


"Ekram dan Al sudah kehilangan kepercayaan pada Ara, kita bisa lebih mudah mempengaruhi mereka berdua bukan?" tutur Burcu.


 


"Hahaha… Tentu saja," sahut Tuba sambil tertawa terbahak-bahak.


 


 


Sementara itu di tengah perjalanan pulang, Ara hanya terdiam menatap jalanan kota Turki yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Ia sedang memikirkan cara untuk mendukung rencana Al dan Kakek Ekram dalam mencari siapa dalang di balik semua ini.


 


"Aku tak boleh kalah dari mereka. Aku akan mengikuti cara permainan mereka tapi jangan harap aku akan mengalah dan membiarkan mereka menghancurkan kebahagiaanku dengan Al," ucap Ara dalam hati.


 


Seketika Ara teringat oleh pesan ibunya bahwa ia tak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan. Hal itu yang membuat Ara dapat kembali bangkit, setelah ia merasa terpuruk beberapa waktu lalu. Ia percaya jika Al juga berada di pihaknya dan tak akan pernah meninggalkannya.


 


Suara deru mobil yang dikendarai Ara berhenti di halaman rumah Ekram. Tuba mengintip dari balik kaca jendela lantai 2 sambil tersenyum sinis. Orang yang sedari tadi sudah ia tunggu akhirnya tiba.


 


"Lihat, dia sudah pulang, saatnya kita memberi pelajaran lagi untuk Ara," ucap Tuba pada Burcu.


 


Ara membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Tuba sudah duduk manis bersama dengan anak dan cucunya, sengaja menunggu Ara. Untuk menjalankan aksinya, Ara berusaha bersikap seperti biasanya. Ara tersenyum ketika lewat di depan mereka.


 


"Oh lihatlah, dia sungguh tak punya tata krama dan sopan santun, seenaknya saja lewat di depan orang tua," ucap Tuba,


 


"Tentu saja ia tak memiliki sopan santun, ia lahir dari keluarga kasta bawah. Sebenarnya, ia pun tak layak untuk menginjakkan kaki di rumah ini," timpal Burcu.


 


Ara seketika menghentikan langkahnya dan diam mematung. Tuba bersama Burcu dan Erce berjalan mendekat ke arahnya. Rasanya, Ara seperti tawanan perang di sedang dikepung oleh pasukan musuh. Ara berusaha untuk tetap tenang dan menahan amarahnya. Ia tak ingin rencananya dengan Al untuk menjebak mereka gagal.


 


"Kau beruntung karena Ekram dan Al masih memberimu kesempatan tinggal di rumah ini. Padahal tindakanmu itu sudah keterlaluan, hampir menghabisi nyawa seseorang," ucap Tuba menyudutkan Ara.


 


"Apakah kami bisa memanggilmu dengan sebutan penjahat?" tutur Erce berusaha memancing emosi Ara.


 


"Jaga ucapanmu," ucap Ara sambil menatap Erce dengan tatapan tajam.


 


"Dengar Ara, kau bukan siapa-siapa di rumah ini jika Al tidak membelamu di depan Ekram Tapi, sekarang kau lihat sendiri bukan, Al dan Ekram sudah tak lagi mempercayaimu. Jadi jangan berani macam-macam di sini," ucap Burcu.


 


"Dan satu hal yang harus kau tahu, kami tak akan segan-segan menyingkirkan dirimu dari rumah ini," timpal Tuba berusaha mengancam.


 


Ara menundukkan kepalanya sejenak, kemudian menoleh ke arah Tuba dan Burcu sambil tersenyum. Mereka bertiga sontak terkejut dan heran melihat ekspresi Ara yang sama sekali tidak takut justru seperti menantang. Ara balik menyerang mereka dengan sebuah perkataan.


 


"Silahkan, coba saja jika kalian bisa menyingkirkan aku dari sini," ucap Ara sambil tersenyum sinis.


 


Ara segera bergegas naik ke kamarnya, pergi meninggalkan mereka bertiga yang menatap Ara dengan heran dan membuat Tuba serta anak cucunya menjadi semakin kesal.


 


" Kurang ajar! " bentak Tuba sambil mengepalkan tangannya.


 


"Apa maksudnya?" ucap Erce kesal.


 


"Apakah dia sedang berusaha mempermainkan kita," tutur Burcu.


 


Ara tak menggubris mereka dan masuk ke kamarnya sambil menahan tawa. Ia merasa geli melihat ekspresi wajah Tuba dan anak cucunya yang kesal dan heran. Keyakinan dalam diri Ara mulai tumbuh, tak ada lagi rasa takut yang menyelimuti dirinya.


 


"Akan aku ikuti permainan kalian," gumam Ara.