I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 23



Hari demi hari berlalu, situasi di dalam rumah Ekrem masih sama. Tuba dan anak cucunya tak pernah berhenti menyudutkan Ara dan selalu berusaha mencari-cari kesalahan agar Al memarahi Ara. Begitu pula sebaliknya, Al dan Ara masih mempertahankan sandiwara mereka. Sesekali mereka menyempatkan untuk pergi bersenang-senang berdua keluar secara diam diam.


 


Hari ini Al sangat sibuk di kantor, bahkan ponselnya yang berulang kali berdering tak digubris. Matanya hanya terfokus pada layar komputer di depannya dan berkas-berkas yang menggunung di atas meja kerjanya.


 


"Aish! Kenapa berisik sekali, lagi pula siapa yang menelponku disaat jam kerja seperti ini!" gumam Al kesal sambil mematikan ponselnya tanpa melihat siapa yang dari tadi menelepon dirinya


 


Sementara itu di sebuah kantor pengacara yang cukup terkenal di kota ini, Ekrem tengah berjalan mondar-mandir. Sesekali ia melihat ke layar ponselnya, berharap Al mengangkat teleponnya atau paling tidak menelpon balik. Namun nihil, sama sekali tak ada jawaban bahkan sekarang Al justru mematikan ponselnya.


 


"Akh! Cucuku sepertinya sedang sibuk, ia sama sekali tak mengangkat telepon dariku," ucap Ekrem.


 


"Kalau begitu bagaimana jika datang langsung saja ke kantor cucumu?" tanya pengacara itu.


 


"Kurasa itu keputusan yang tepat. Aku tak bisa menunggu terlalu lama," sahut Ekrem.


 


Al yang sedang sibuk bekerja terkejut melihat Ekrem tiba-tiba datang ke kantor dengan pengacara keluarga mereka. Wajah Ekrem terlihat serius membuat Al bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Ia kemudian mempersilahkan Ekrem dan pengacara itu duduk.


 


"Benar dugaanku ternyata kau sedang sibuk, pantas saja tak mengangkat telepon dariku," ucap Ekrem.


 


"Jadi yang dari tadi meneleponku itu Kakek? Ah, maafkan aku Kek, banyak sekali berkas yang harus aku selesaikan," sahut Al.


 


"Tak apa, Kakek paham. Hari ini aku datang kemari bersama pengacara keluarga kita karena ada hal penting yang harus aku sampaikan padaku," tutur Ekrem.


 


Rupanya kedatangan Ekrem ke kantor Al adalah untuk mengalihkan sebagian besar dari semua aset yang ia miliki kepada Al. Mendengar hal itu, Al sontak terkejut karena keputusan yang dibuat oleh Ekrem terkesan mendadak sekali. Terlebih lagi tak pernah ada pembicaraan bersama keluarga besar terkait masalah pembagian aset.


 


"Semua aset yang aku miliki telah aku alihkan menjadi atas namamu Al. Dan aku hanya menyisakan 10 persen dari asetku untuk diberikan pada Tuba dan anak cucunya," ucap Ekrem.


 


"Ap…Apa? Kakek, apa yang kau bicarakan itu serius?" tanya Al masih tak percaya.


 


"Tentu saja aku serius dan aku datang kemari supaya kau segera menandatangani surat-surat penting terkait pengalihan aset ini, sebelum Tuba dan anak cucunya tahu tentang hal ini dan mengacaukan semuanya," sahut Ekrem.


 


Al masih diam terpaku membaca surat-surat yang disodorkan oleh pengacara keluarganya. Al kemudian memandang ke arah Al, ia menyadari jika secara tidak langsung Ekrem sedang membicarakan soal harta warisan. Baginya, terlalu cepat untuk membahas perkara ini.


 


"Kenapa Kakek tiba-tiba membahas  tentang warisan?" tanya Al penasaran.


 


"Kau tahu Al jika aku sudah semakin tua, aku bahkan tidak tahu apakah besok pagi aku masih bisa bangun dan menghirup udara seperti hari ini. Aku ingin semua harta kekayaanku jatuh ke tangan orang yang tepat dan aku tidak ingin menyesal di kemudian hari," sahut Ekrem.


 


"Astaga, kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu? Bagiku itu terdengar mengerikan," sahut Al.


 


 


"Bagaimana jika keluarga Bibi Tuba tahu dan tidak terima dengan keputusan Kakek?" tanya Al.


 


"Aku tak peduli dengan hal itu, masih beruntung aku memberikan 10 persen pada mereka padahal status mereka hanyalah keluarga tiri," sahut Ekrem..


 


Dari arah lorong kantor, seseorang sedang berjalan menuju ke ruangan Al. Saat mereka yang ada di dalam ruangan Al sedang membahas tentang warisan itu, tanpa sadar Gohan mendengar dari luar. Ia seketika menghentikan langkah kakinya. Gohan mengurungkan niatnya ke ruangan Al untuk meminta tanda tangan.


 


"Dasar tua bangka keparat! Jadi dia ingin memberikan sebagian besar asetnya untuk Al," ucap Gohan dalam hati sambil mengepalkan tangannya karena kesal.


 


Gohan yang mendengar itu semua menjadi murka. Ia merasa keputusan Ekrem tidak adil.


Apalagi ketika ia tahu jika Tuba–ibunya hanya mendapat bagian 10 persen. Selama ini ia sudah cukup bersabar menjadi bawahan keponakannya di kantor.


 


"Kali ini aku tak bisa tinggal diam! Aku harus mencari cara untuk mendapatkan apa yang selama ini aku kejar, harta kekayaan keluarga ini!" gumam Gohan.


 


Gohan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Ia sedang mencari cara untuk menyelesaikan semua ini. Ternyata selama ini Ekrem dan Al bermain licik di belakang keluarganya. Dendam dan sakit hati membara di dalam hati Gohan.


 


"Jika mereka tidak bisa diperlakukan dengan cara halus, maka aku tidak segan-segan untuk menggunakan cara yang kasar demi mendapatkan apa yang menjadi hak keluargaku. Lihat saja kau Ekrem, aku akan membuat dirimu menderita!" ujar Gohan.


 


Ekrem sudah menyelesaikan urusannya dengan Al. Dia memutuskan untuk pulang, awalnya Al menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi ia datang kemari bersama sopir pribadinya. Sebenarnya Al merasa khawatir, entah kenapa setelah pembicaraan tentang warisan itu perasan was-was mulai menghantui dirinya. Dan kebetulan ada klien yang sudah menunggu Al di luar.


 


"Ya sudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik Kek. Aku harus menemui klienku yang lain setelah ini," ucap Al.


 


"Tentu, kau bisa mengandalkan aku," sahut Ekrem kemudian keluar dari ruangan Al.


 


Dari kejauhan, Gohan sedang memantau pergerakan Ekrem secara diam-diam. Ia sudah menyusun sebuah rencana. Saat Ekrem keluar dari kantor, Gohan segera menuju ke basement dan mengambil mobilnya untuk mengikuti Ekrem.


 


"Kali ini kau tak akan lolos dariku!" gumam Gohan.


 


Gohan berharap mendapatkan momen yang tepat untuk melancarkan aksinya. Rupanya Dewi Fortuna berpihak padanya. Saat Ekrem dijalan pulang bersama supir pribadinya, mendadak ban belakang mobilnya pecah. Terpaksa, Ekrem harus menunggu beberapa saat hingga ban mobil itu selesai di ganti.


 


Gohan yang gelap mata segera memanfaatkan momen itu untuk menculik Ekrem. Gohan segera mengenakan penutup wajah dan mendekat ke arah mobil itu. Ia memukul sopir pribadi Ekrem menggunakan tongkat baseball hingga pingsan. Ia kemudian menyemprotkan cairan obat bius ke wajah Ekrem hingga ia tak sadarkan diri. Gohan sebelumnya melapor pada Tuba. Ia meminta Tuba mencari cara menyandera Ara.


 


"Aku sudah mendapatkan Ekrem, sekarang bagaimana caranya kau mendapatkan Ara," ucap Gohan melalui sambungan telepon.


 


"Bagus! Baiklah aku akan berusaha mendapatkan Ara dan menyanderanya," sahut Tuba.