I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 21



Sinar mentari pagi menembus kaca jendela di setiap ruangan rumah mewah ini. Para pelayan sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ekram, Tuba dan anggota keluarga yang lain sedang berkumpul di ruang makan untuk bersiap sarapan pagi. Tiba-tiba semua orang di rumah ini dikejutkan oleh suara gaduh yang berasal dari lantai atas.


 


"Suara apa itu?" ucap Ekram penasaran.


 


"Sepertinya ada keributan di lantai atas," timpal Gohan.


 


Ekram, Tuba dan Burcu menghampiri sumber suara itu. Rupanya pertengkaran hebat terjadi di kamar Ara pagi itu. Al berteriak seolah sedang meluapkan kekesalan yang sudah ia pendam lama. Ia menunjuk-nunjuk wajah Ara dengan jari telunjuknya. Sandiwara baru telah dimulai.


 


"Kau hanya bisa membuat semuanya menjadi semakin runyam! Aku sudah muak dengan ini semua!" teriak Al.


 


"Kau yang egois Al! Kau tak pernah mau mendengarkan penjelasanku, selama ini kau terus diam dan menjauh dariku lantas bagaimana aku bisa menjelaskan semua padamu?" ujar Ara.


 


"Akh sudah! Aku tak butuh penjelasanmu kau dari awal memang mengincar sesuatu dariku dan keluargaku, bukan?" sahut Al.


 


"Apa maksudmu? Jadi sekarang kau menuduh aku menginginkan harta keluargamu?" ucap Ara sambil menahan tangis.


 


Ekram menengahi mereka berdua, namun Al dan Ara masih terus berusaha membela dirinya masing-masing. Erce yang penasaran akhirnya menyusul yang lainnya ke lantai atas. Tuba dan Burcu juga masih bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha mencari jawaban. Tapi disatu sisi mereka senang melihat Al dan Ara bertengkar.


 


"Sudah hentikan! Jangan membuat kegaduhan di pagi buta seperti ini!" ujar Ekram menengahi mereka.


 


"Tidak Kek, biarkan saja agar dia tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat!" sahut Al sambil menatap sinis ke arah Ara.


 


"Ara, kenapa akhir-akhir ini kau selalu membuat masalah di rumah ini? Bisakah sehari saja kau membuat rumah ini terasa tenang tanpa memancing amarah Al dan membuat suasana menjadi semakin runyam?" tanya Ekram pura-pura menyudutkan Ara.


 


Ara terdiam, air mata membasahi pelupuk matanya. Mendadak lidahnya terasa kelu, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Al mendekatkan tubuhnya ke arah Ara dan mengatakan sesuatu yang membuat Tuba dan Burcu semakin senang mendengarnya.


 


"Dengar, semakin kesini aku mulai bisa membaca sikap dan perangaimu yang sebenarnya dan aku menyesal telah menikahimu," ujar Al sambil menatap mata Ara dalam-dalam.


 


"Apa? Kenapa kau tega bicara seperti itu padaku, Al?" sahut Ara sambil menangis.


 


Mereka semakin senang saat mendengar Al berkata menyesal menikahi Ara. Dalam benak mereka berharap Al agar segera menceraikan Ara dan mengusirnya dari rumah ini. Ara menatap wajah mereka dengan tatapan memelas. Ara sengaja berusaha untuk membuat mereka semakin termakan dengan sandiwara yang sedang ia mainkan.


 


"Ah… Jadi semalam itu mungkin aku salah lihat," tutur Erce berbisik pada ibunya.


 


"Sudah kuduga kau pasti salah lihat, tapi setidaknya aku puas sekarang melihat Al dan Kakek Ekram yang menyudutkan Ara," bisik Burcu terlihat senang.


 


"Kita tidak perlu menyusun rencana ulang untuk memisahkan mereka," timpal Tuba.


 


Mereka benar-benar tidak sadar jika Al dan Ara hanya pura-pura bertengkar. Semalam ketika ia sedang berada di kamar Ara, Al menyadari jika ada yang mengintip mereka. Maka untuk mengelabui rasa curiga Tuba dan sekutunya, Al dan Ara membuat kegaduhan seolah mereka berdua sedang bertengkar hebat.


 


Erce, Burcu dan Tuba memutuskan kembali ke ruang makan dan melanjutkan sarapan pagi mereka setelah mendapat jawaban dari rasa penasaran mereka. Gohan yang sedari tadi menunggu di ruang makan ikut tertawa senang mendengar cerita Tuba tentang perkelahian Ara dan Al.


 


 


"Kerja bagus!" ucap Al dalam hati.


 


Hari itu sebelum Al pergi ke kantor, ia mengantar Ekram untuk cek ke dokter. Ekram merasa sedang tidak enak badan karena kesehatannya yang sekarang semakin melemah. Tuba kembali berusaha mencari perhatian dengan menawarkan diri untuk menemani, tapi Ekram menolak.


 


"Sudah, tidak apa-apa biar Al saja yang mengantarkan aku. Kau cukup istirahat di rumah saja, Tuba," ucap Ekram.


 


"Aku khawatir padamu, Ekram," sahut Tuba pura-pura perhatian.


 


"Semua akan baik-baik saja, aku hanya perlu periksa ke dokter dan mendapatkan obat," tutur Ekram.


 


Tak lama kemudian, suara deru mobil Al terdengar menjauh meninggalkan halaman rumah. Mobil yang ia kendarai membelah jalanan pusat kota Turki yang tak pernah sepi. Ekram terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia sudah berhari-hari menjalankan sandiwara itu bersama Al dan Ara namun hingga saat ini belum menemukan siapa pelaku sebenarnya yang menaruh racun di makanannya.


 


"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Kek?" tanya Al menyadarkan Ekram dari lamunannya.


 


"Tidak, aku hanya masih penasaran dengan siapa pelaku sebenarnya," sahut Ekram.


 


"Tenanglah Kek, pelan tapi pasti, perlahan kita akan tahu siapa orangnya. Untuk saat ini kita nikmati saja sandiwara ini dan ikuti permainan mereka," tutur Al.


 


Beberapa jam setelah Al dan Ekrem pergi, Ara segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi keluar. Ia ingin mencari udara segar sambil berjalan-jalan, setidaknya ia ingin menjauh dari Tuba dan sekutunya yang membuat Ara muak.


 


"Sepertinya mereka mulai terbawa dalam sandiwara yang kubuat. Aku akan terus mengikuti pola permainan mereka. Hmm, Tapi sepertinya aku butuh hiburan untuk diriku sendiri," gumam Ara sambil menatap dirinya di depan cermin.


 


Tuba dan Burcu sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati secangkir teh saat melihat Ara turun melewati tangga. Mereka menatap sinis ke arah Ara. Lagi-lagi Ara berpura-pura memasang wajah sedih pasca bertengkar dengan Al pagi tadi.


 


"Ah, rupanya dia tidak punya malu, bahkan setelah pertengkaran pagi tadi ia masih berani menunjukkan wajahnya di rumah ini," ucap Tuba menyindir.


 


"Al sudah salah memilih pendamping hidup, bukan begitu, Ibu?" celetuk Burcu.


 


"Hahaha… Mungkin statusnya sebentar lagi akan berubah menjadi seorang janda," sahut Tuba sambil tertawa.


 


Ara hanya diam menatap mereka sejenak dengan mata nanar. Tak lama kemudian, Ara pergi dengan wajah sedih karena mendengar ucapan mereka berdua yang terus menyudutkan dirinya. Tuba membiarkan dia pergi sambil tersenyum puas.


 


"Biarkan saja dia pergi, tak akan lama lagi Al pasti juga akan mengusirnya dari sini," ucap Tuba.


 


Ara keluar sambil mengusap air matanya, perlahan senyum sinis terukir di bibirnya. Dalam hatinya ia berteriak kegirangan karena ia merasa menang dari Tuba. Ara sempat menoleh kebelakang, suara tawa Tuba dan Burcu masih terdengar dari tempat ia berdiri.


 


"Kalian boleh tertawa sepuasnya sekarang, tapi lihat saja nanti satu diantara kalian mungkin akan menangis paling kencang," ucap Ara dalam hati.