I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 22



Berdasarkan hasil pemeriksaan Dokter, rupanya Ekrem harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Awalnya Al ragu membiarkan Ekrem sendiri di rumah sakit karena khawatir ada orang suruhan Tuba atau sekutunya yang akan kembali mencelakai Ekram. Tapi terpaksa Al meninggalkan Ekrem di rumah sakit karena ia harus segera pergi ke kantor untuk menghadiri rapat penting.


 


"Tuan Ekram, Anda perlu mendapatkan perawatan khusus di sini karena dari hasil pemeriksaan tekanan darah Anda sangat tinggi dan jika dibiarkan akan berisiko untuk keselamatan nyawa Anda," ujar Dokter yang menangani.


 


"Sudah, kau tak perlu memikirkan aku. Lebih baik kau berangkat ke kantor sekarang," ucap Ekram pada Al.


 


"Nanti aku akan menelpon Ara supaya ia datang kemari," sahut Al kemudian keluar dari ruang perawatan.


 


Saat perjalanan menuju ke kantor, Al menelpon Ara yang kebetulan sedang berada di sebuah kedai kopi. Ara terkejut mendengar jika Kakek Ekram harus dirawat di rumah sakit. Ia mengira jika Kakek sudah sembuh dan baik-baik saja.


 


"Tapi apakah Kakek baik-baik saja?" tanya Ara khawatir.


 


"Tenang saja, Kakek sudah mendapat perawatan. Nanti setelah makan siang mari kita temui Kakek di rumah sakit. Tapi ingat kau harus berhati-hati, jangan sampai ada orang suruhan dari keluarga tiri Kakek Ekram yang mengikuti kita," ucap Al.


 


"Baiklah, aku mengerti," sahut Ara kemudian mematikan ponselnya.


 


Ara menyeruput kopinya sambil menatap kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan ibukota Turki. Ia teringat dengan ucapan Al jika harus berhati-hati dengan sekitarnya karena kemungkinan ada yang mengikuti dirinya.


 


Mata Al menatap tajam ke arah layar monitor dan dengan mendengarkan presentasi klien dengan seksama. Tapi beberapa kali konsentrasinya buyar karena dipenuhi oleh pikiran tentang kakeknya dan Ara. Al berharap kegiatan rapat ini segera selesai dan ia dapat mengunjungi kakeknya di rumah sakit.


 


"Catat semua hasil rapat hari ini dan kirim notulensi nya padaku lewat email sore ini, karena setelah ini aku harus pergi," perintah Al pada asisten pribadinya.


 


"Baik Pak," sahut asisten pribadinya.


 


Tiga jam berlalu, rapat dengan klien akhirnya selesai. Begitu kegiatan rapat di tutup, Al segera menuju ke basement untuk mengambil mobilnya dan pergi ke rumah sakit.


 


"Aku menuju ke rumah sakit sekarang," ucap Al pada Ara melalui pesan singkat.


 


Saat ini Al di jalan menuju rumah sakit, begitu pula dengan Ara. Setelah ia membaca pesan dari Al, ia juga menuju ke rumah sakit yang sama menggunakan taksi. Ara kini lebih berhati hati dan waspada dengan sekitarnya.


 


Beberapa saat kemudian mereka berdua bertemu di rumah sakit. Sebelumnya Al telah memastikan jika tidak ada yang mengikuti mereka. Ara menghela nafas lega ketika melihat keadaan Ekram yang sudah lebih baik.


 


"Baik, di luar aman tak ada yang mencurigakan," tutur Al.


 


"Astaga Kakek, aku sangat mencemaskan keadaanmu," ucap Ara sambil memegang tangan Ekram.


 


Al berjalan mendekat ke arah Ara dan menggenggam tangannya. Dari tatapan matanya tersirat sebuah penyesalan. Ara yang tak mengerti ada apa, sontak memandang kedua mata Al sambil membelai wajahnya.


 


"Ada apa denganmu?" tanya Ara.


 


"Sayang, aku minta maaf padamu karena terpaksa membentakmu dan membuat sandiwara pertengkaran pagi ini," sahut Al menyesal.


 


"Jadi karena itu? Sudahlah, kau tak perlu minta maaf kita semua melakukan ini untuk mencari sebuah kebenaran yang tersembunyi," jawab Ara.


 


"Aku hanya takut jika perbuatanku akan menyakiti hatimu," ujar Al.


 


"Tidak, apa yang kau lakukan tidak menyakitiku karena aku tahu ini hanyalah sebuah sandiwara," sahut Ara.


 


 


"Ara maafkan aku juga jika membuatmu tersudutkan di mata Tuba dan anak cucunya," ujar Ekram dengan wajah memelas.


 


"Sudahlah Kek, tidak apa-apa jangan terlalu mengkhawatirkan perasaanku, selagi dengan sandiwara ini kita bisa mendapatkan bukti kejahatan Tuba serta anak cucunya, tidak masalah bagiku jika aku harus pura-pura disalahkan seperti ini," sahut Ara.


 


"Aku bersumpah jika sudah menemukan siapa pelaku yang sebenarnya tak akan kuberi ampun untuknya," ucap Ekram sambil mengepalkan kedua tangannya.


 


Dokter kembali melakukan pemeriksaan ulang pada tubuh Ekram. Mereka heran kenapa tekanan darah Ekram berubah menjadi sangat tinggi. Padahal pada pemeriksaan yang lalu, Dokter memberikan obat penurun darah.


 


"Dok, tolong lakukan pemeriksaan sebaik mungkin pada Kakek saya. Saya tidak ingin yang lebih buruk kembali terjadi," ujar Al.


 


"Baik Tuan, Anda tidak perlu khawatir kami sudah mengambil sampel darah milik Tuan Ekram dan sedang kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kemungkinan hasilnya akan keluar beberapa jam lagi," jawab Dokter.


 


Al berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit menunggu hasil laboratorium pemeriksaan Ekram. Ara berusaha untuk menenangkan dirinya, tapi nihil rasa cemas sudah terlanjur menyelimuti diri Al.


 


"Sayang, tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Ara sambil mengelus pundak Al.


 


"Aku sudah berusaha untuk tenang, tapi tak bisa," sahut Al.


 


Beberapa jam kemudian, hasil pemeriksaan laboratorium Ekrem keluar. Namun hasilnya justru mengejutkan. Mereka baru tahu jika obat yang dikonsumsi kakek Ekrem selama ini adalah obat untuk menaikkan tekanan darah. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata obat Ekrem telah ditukar dengan obat yang bertolak belakang dengan kesembuhan Ekrem.


 


"Apa? Jadi selama ini Kakek mengkonsumsi obat yang salah?" tanya Al terkejut.


 


"Ya, pantas saja ketika kami melakukan pemeriksaan tekanan darah pasien sangat tinggi," sahut Dokter.


 


Al murka, tetapi ia belum tahu pasti siapa yang melakukan semua itu di antara keluarga tiri kakeknya. Mereka tidak bisa asal ambil tindakan dan menghukum semuanya sebab mereka pikir tidak mungkin semuanya jahat.


 


"Ini benar-benar gila! Aku tak menyangka mereka berani melakukan semua itu setelah gagal meracuni Kakek!" ucap Al meluapkan amarahnya.


 


"Kita harus segera menemukan siapa orangnya, Al. Jika kita bergerak lambat aku khawatir mereka akan melakukan hal yang lebih berbahaya dari ini," tutur Ara.


 


"Ya kau benar, tapi masalahnya sampai detik ini kita belum mendapatkan petunjuk apapun," jawab Al.


 


Malam pun tiba, Al dan Ara harus segera kembali ke rumah sebelum orang-orang di rumahnya curiga. Sebenarnya, Ekram harus di rawat di rumah sakit lebih lama namun karena ia ingin menjalani rawat jalan saja akhirnya Dokter hanya memberikan ia resep obat dan membiarkan Ekram pulang malam ini.


 


"Kita harus pulang secara terpisah," ucap Ara.


 


"Apa kau tak apa-apa jika pulang naik taksi?" tanya Al khawatir.


 


"Tak apa, jangan khawatirkan diriku," sahut Ara sambil tersenyum.


 


Mereka pulang ke rumah secara terpisah dna  melanjutkan sandiwara di depan Tuba dan anggota keluarga yang lain. Hingga detik ini mereka masih belum juga menyadari jika Al dan Ara sedang mempermainkan mereka.