I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 24



"Ikut saja denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu sebagai bentuk permintaan maafku padamu," ujar Tuba berbohong untuk menculik Ara.


 


"Ba… Baiklah," sahut Ara ragu.


 


Awalnya Ara sudah menaruh rasa curiga karena tiba-tiba Tuba dan anak cucunya bersikap baik padanya, bahkan mengajak ia pergi jalan-jalan. Burcu dan Erce tiba-tiba saja menarik tubuhnya dan memasukkan ke dalam mobil mereka. Ara berusaha melawan tapi dia kalah jumlah dengan mereka.


 


Ara seketika terkejut  saat Tuba dan Erce tiba-tiba membawa dirinya menggunakan mobil menuju ke sebuah kawasan industri yang terbengkalai. Ara sama sekali tidak mengenali wilayah ini. Semua terlihat asing di matanya.


 


"Kau ingin membawa aku kemana, Bibi?" teriak Ara yang mulai panik.


 


"Diam kau!" sahut Tuba.


 


Ara terkejut dengan apa yang terjadi, perasaan takut mulai menghantui diri Ara. Ia berusaha melawan Tuba dan Burcu, namun Erce justru memacu mobilnya semakin kencang. Membuat tubuh Ara terdorong ke belakang dan kehilangan keseimbangan.


 


"Kalian berusaha untuk menculikku? Tapi apa alasannya?" tanya Ara sambil berteriak.


 


"Kau sama sekali tidak menyadari kesalahan yang telah kau perbuat? Dasar tak tahu diri!" tutur Erce.


 


"Seharusnya semua aset dan harta kekayaan milik Ekrem menjadi milikku, bukan milik Al! Dia terlalu serakah mengambil semuanya, jadi dia harus kuberi pelajaran!" sahut Tuba meluapkan semua kekesalannya.


 


"Apa maksudnya? Aku benar-benar tak mengerti!" teriak Ara.


 


Ara berteriak berusaha mencari jawaban karena tak mengerti maksud ucapan Tuba. Ara memang belum tahu terkait masalah pembagian warisan tersebut karena Al belum menceritakan semua padanya. Ara berusaha memberontak dan memaksa membuka pintu mobil untuk lompat keluar tapi tak bisa.


 


"Jangan coba-coba untuk melarikan diri wanita ******!" sergah Burcu sambil memegang erat lengan Ara.


 


"Cepat Erce! Kita harus segera membawa dia ke tempat yang tersembunyi," ucap Tuba.


 


"Tenang Nek, aku sudah menyiapkan tempat yang cocok untuk dia," sahut Erce.


 


Mobil Erce berhenti di depan sebuah gudang pabrik yang sudah terbengkalai. Udara di tempat ini terasa lembab dan dipenuhi aroma besi berkarat. Erce dan Burcu menarik tubuh Ara secara paksa untuk turun dari mobil. Bulu kuduk Ara seketika merinding melihat kondisi di sekitar tempat ini.


 


"Sudah lama kami bersabar menerima perlakuan semena-mena Al pada kami, kini saatnya ia menerima balasan atas apa yang telah dia perbuat," ucap Tuba mengungkapkan semua kebenciannya begitu juga Burcu dan anak-anaknya.


 


"Jika kalian begitu marah pada Al lantas kenapa harus aku yang kalian manfaatkan untuk membalaskan dendam kalian? Apa salahku!" timpal Ara.


 


"Tentu saja kau bersalah Ara! Kau juga sudah berani mengambil Al dariku!" sahut Erce.


 


"Kami memanfaatkan dirimu karena kami tahu kau sangat berarti untuk Al. Mengambil orang-orang yang berarti dalam hidup Al akan membuat dia tersiksa dan itulah yang kami inginkan," ujar Tuba.


 


Tanpa basa-basi lagi mereka menyeret tubuh Ara masuk ke dalam gudang itu. Erce mengikat tangan dan kakinya menggunakan tali yang membuat Ara tak bisa lagi memberontak. Ara mulai kehilangan keberanian dalam dirinya. Matanya nanar dan perlahan air mata membasahi pipinya.


 


"Kalian begitu jahat, pantas saja Kakek Ekram tidak memberikan asetnya kepada kalian!" ucap Ara.


 


Plakk!


 


"Jaga ucapanmu wanita ******!" ucap Tuba sambil menampar pipi Ara.


 


 


"Aku tak takut pada kalian, aku percaya cepat atau lambat Al akan menemukan kalian semua!" ucap Ara berusaha melawan rasa takutnya.


 


Erce yang kesal dan muak pada Ara seketika meraih pisau lipat dari dalam sakunya. Ia ingin menggores wajah Ara dengan pisau. Ara berteriak histeris dan itu semakin membuat Erce senang.


 


" Akh! Tidak! Jauhkan pisau itu dari wajahku!" teriak Ara.


 


Namun seketika itu terhenti saat mereka mendengar suara derit pintu yang dibuka. Terdengar suara Gohan yang datang bersama beberapa anak buahnya. Seketika Ara terkejut saat melihat apa yang dibawa oleh Gohan dan anak buahnya. Mereka menyeret tubuh Ekrem yang tak berdaya.


 


"Kakek!" teriak Ara histeris.


 


Ara berteriak panik melihat kondisi kakek mertuanya yang terlihat lemah. Pelipisnya berdarah karena ketika perjalanan ia sempat memberontak dan anak buah Gohan memukul kepalanya dengan benda tumpul. Ara memberontak berusaha melepaskan ikatan tali dari tubuhnya untuk menghampiri Ekrem tapi tak bisa.


 


"Oh, kau ingin berusaha melepaskan diri? Coba saja kalau bisa," ujar Gohan sambil mengelus pipi Ara.


 


"Jangan coba-coba untuk menyentuhku!" ucap Ara.


 


Ekrem hanya biasa menatap nanar ke arah Ara. Tubuhnya yang sudah tak berdaya membuat dirinya tak mampu berbuat banyak.  Ekrem yang iba melihat wajah pucat Ara hanya mampu menyuruh Ara tenang mengikuti kata mereka karena tak ingin melihat Ara disakiti oleh mereka.


 


Gohan menyeret tubuh Ekrem dan mengikatnya tangan dan kakinya. Ara dan Ekrem didudukan di atas kursi dengan jarak lima meter.


 


"Apa kau yakin jika Al tak akan dapat menemukan mereka di sini?" tanya Gohan memastikan.


 


"Tenang saja, tempat ini cukup tersembunyi dan kita akan menaruh beberapa penjaga di tempat ini," sahut Tuba meyakinkan.


 


Gohan, Tuba dan diikuti oleh anak cucunya pergi meninggalkan gudang ini. Pintu gudang dikunci rapat-rapat dari luar. Sementara itu beberapa penjaga mereka kerahkan untuk menjaga di depan pintu masuk.


 


Ara tersenyum dan menatap nanar ke arah Ara. Ia berusaha menyemangati Ekrem di tengah kondisinya yang sudah melemah. Ara berusaha meyakinkan jika Al akan datang membantu mereka.


 


"Kakek bertahanlah, aku yakin cepat atau lambat Al akan mengetahui keberadaan kita dan segera menolong kita," ucap Ara.


 


"Sungguh aku tak menyangka jika Tuba dan anak cucunya tega melakukan ini padaku. Aku benar-benar kecewa dengan mereka," sahut Ekrem.


 


"Aku paham dengan apa yang kau rasakan, Kek. Aku yakin jika Al mengetahui ini semua maka ia tak akan tinggal diam," ujar Ara.


 


"Aku harap juga begitu. Memang dari awal adalah keputusan yang tepat tidak memberikan aset yang kumiliki pada mereka. Mereka benar-benar tidak tahu terima kasih!" tutur Ekrem dengan penuh amarah.


 


Ara terdiam sejenak, lidahnya mendadak kelu dan tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dilakukan oleh Tuba dan anak cucunya memang sudah keterlaluan. Seketika Ekrem mengucapkan sesuatu yang menyadarkan Ara dari lamunannya.


 


"Ara, aku minta maaf padamu atas apa yang kau hadapi selama berada di Turki sampai detik ini. Aku dan Al tidak bisa menjaga dirimu baik-baik hingga kau harus mengalami ini semua," tutur Ekrem.


 


"Kakek kenapa bicara seperti itu? Kalian berdua sama sekali tak bersalah. Ini semua terjadi karena salah Bibi Tuba dan anak-anaknya," sahut Ara.


 


"Aku sangat menyukai dan menyayangimu, Ara. Aku merasa senang Al mendapatkan istri seperti dirimu. Betapa beruntungnya kami kedatangan wanita baik sepertimu," ujar Ekrem.


Ekrem mengucapkan kalimat yang sama berulang kali jika dia menyayangi Ara dan Al. Dia seakan sudah pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya.