I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 25



 


Al tengah sibuk menatap layar komputernya ketika ponselnya bergetar. Ia melirik ke layar ponselnya dan melihat sebuah notifikasi pesan masuk. Entah kenapa Al merasa penasaran dan membuka pesan tersebut. Betapa terkejutnya Al saat tengah bekerja, mendapat kiriman pesan dari seseorang yang memperlihatkan jika istri dan kakeknya sedang di sandera.


 


"Apa-apaan ini?" ucap Al panik.


 


Ia segera menghubungi nomor yang mengirim pesan berisi gambar tersebut padanya. Terdengar dari balik telepon suara yang tidak asing di telinga Al. Ternyata itu suara Gohan yang membuat Al tak percaya.


 


"Apa maksudnya kau mengirim foto-foto itu padaku?" tanya Al melalui sambungan telepon.


 


"Tentu saja untuk memperingatkan dirimu," sahut Gohan.


 


"Apa maumu? Kenapa kau menyandera Ara dan Kakek?" tanya Al.


 


"Jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan ingin melihat dua orang kesayanganmu itu selamat, datanglah dengan membawa semua berkas peralihan aset dan harta kekayaan yang diberikan oleh Kakek kemarin," sahut Gohan.


 


"Jadi karena masalah aset itu kau melakukan ini semua!" bentak Al yang mulai kehilangan kesabaran.


 


"Sudahlah aku tak ingin basa-basi denganmu. Jika kau ingin melihat mereka selamat, maka ikuti saja perintahku!" ucap Gohan kemudian mematikan ponselnya.


 


Al tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia berjalan mondar-mandir hingga akhirnya ponselnya kembali bergetar. Gohan mengirimkan pesan berisi alamat pabrik terbengkalai itu. Tanpa berpikir panjang ia segera bergegas turun ke basement dan memacu mobilnya menuju lokasi tersebut.


 


"Keparat kau Gohan! Lihat saja kalau sampai kau melukai mereka, akan kubunuh kau! " teriak Al memaki untuk meluapkan kekesalannya.


 


Beberapa saat kemudian Al tiba di kawasan industri terbengkalai itu. Ia menatap sekitar dari dalam mobilnya. Ia benar-benar tak menyangka Gohan melakukan ini semua demi harta warisan itu. Al sempat berputar-putar berusaha menemukan gudang yang dimaksud Gohan. Ia menepati janjinya datang ke tempat yang ini tanpa membawa polisi atau siapapun seperti yang diminta Gohan.


 


"Ah… Kau benar-benar datang rupanya," ucap Gohan yang sudah berdiri di depan gudang bersama para anak buahnya.


 


"Keparat kau!" teriak Al berusaha memukul Gohan tapi segera ditahan oleh anak buah Gohan.


 


"Wow, tenang dulu Sobat, kau harus belajar untuk bicara sopan pada Pamanmu," tutur Gohan yang semakin membuat Al marah.


 


"Lepaskan aku! Di mana kau menyembunyikan mereka?" ucap Al.


 


"Rupanya kau sudah tidak sabar bertemu mereka," ujar Gohan terkekeh.


 


Gohan memberikan kode pada anak buahnya untuk melepaskan Al. Ia kemudian menyuruh Al untuk mengikutinya masuk ke dalam gudang tersebut. Di sana Al merasa begitu miris melihat keadaan kakeknya yang disandera dengan kondisi terluka. Namun satu hal yang membuat ia semakin marah adalah keberadaan Ara yang tidak ada di sana.


 


"Kakek, apa kau tidak apa-apa?" tanya Al berlari menghampiri Ekrem.


 


"Aku tidak apa-apa, tapi Ara…" sahut Ekrem.


 


"Di mana Ara?" bentak Al yang baru menyadari jika Ara tak ada di sana.


 


Al kembali murka saat Gohan memberikan ponsel padanya yang menunjukkan sedang video call dengan Tuba. Video call itu memperlihatkan Ara yang duduk dalam kondisi terikat di ruangan yang gelap. Al dapat melihat sudut bibir Ara terdapat bercak darah akibat tamparan dari Burcu, Tuba dan Erce sebelum Al tiba.


 


"Di mana kau membawa Ara?" teriak Al pada Gohan.


 


Gohan hanya tertawa, rupanya Ara dibawa ke tempat terpisah sebelum Al tiba kemari. Al dan Ekrem tidak tahu di mana tempat itu. Ia hanya dapat berkomunikasi dengan Ara melalui video call antara Tuba dan Gohan yang dapat menyambungkan mereka.


 


 


"Beritahu aku di mana Ara atau aku akan menghabisi kalian semua!" tegas Al.


 


Ekrem yang melihat hal tersebut tak hanya tinggal diam, dia meminta Al untuk segera menyelamatkan Ara. Tetapi dari balik video call itu Ara justru berkata sebaliknya. Ara meminta pada Al untuk menyelamatkan Ekrem daripada dirinya.


 


"Tidak Al! Jangan pedulikan aku, lebih baik kau bawa Kakek keluar dari tempat itu," ucap Ara sambil menahan tangis.


 


"Ara, kau baik-baik saja bukan? Apakah mereka menyakitimu?" tanya Al cemas.


 


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," sahut Ara.


 


Gohan dan para anak buahnya tertawa dengan drama yang mereka lihat. Mendengar itu amarah Al tak terbendung lagi. Gohan akhirnya menawarkan sebuah kesepakatan pada Al.


 


"Baiklah, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan saja? Jika kau ingin Ara selamat, maka kalian berdua harus setuju memberikan semua harta kekayaan keluarga ini kepada Tuba dan anak cucunya, termasuk memberikan aku jabatan di perusahaan milikmu," ujar Gohan.


 


"Ba… Baiklah, aku bersedia memberikan semua aset yang kumiliki pada kalian dan memberikan jabatan apapun yang kau mau, asalkan kalian melepaskan Ara," jawab Ekrem.


 


"Tidak! Aku tidak setuju dengan itu semua!" timpal Al yang menolak mentah-mentah tawaran Gohan.


 


"Kau lebih memilih melihat orang yang kau cintai meregang nyawa daripada memberikan aset itu pada kamu?" tanya Gohan mengancam.


 


"Kalian pikir aku takut dengan semua ancaman itu? Kalian telah melakukan sebuah kesalahan besar berani melakukan ini padaku," tutur Al memperingatkan.


 


Tuba yang mendengar itu kemudian mengancam Al akan menggores wajah Ara dengan pisau. Terlihat Erce sudah mulai mendekatkan sebilah pisau di wajah Ara. Terdengar suara teriakan Ara dari balik ponsel yang membuat Al dan Ekrem semakin khawatir.


 


"Akh!" teriak Ara.


 


"Tidak! Jangan lakukan itu!" ujar Al.


 


"Dia tidak berarti bagimu, bukan? Aset kekayaan kakekmu jauh lebih berharga untukmu, bukan?" ucap Tuba.


 


"Jangan berani menyentuh Ara sedikitpun!" ucap Al memperingatkan.


 


Suasana di antara mereka semakin memanas. Gohan dan Tuba tak main-main dengan ancaman yang mereka berikan pada Al dan Ekrem. Hal itu semakin membuat Ekrem khawatir dengan keselamatan cucu menantunya itu.


 


"Seharusnya jika memang kalian dari awal menginginkan aset dan harta kekayaan milikku katakan saja padaku! Tak perlu kalian melakukan ini semua hingga mengancam nyawa Ara," ucap Ekrem.


 


Al seketika mengalihkan pandangannya ke arah Ekrem. Ia tak menyangka jika kakeknya mengatakan hal itu pada Gohan. Namun, Ekrem lebih baik melepaskan semua harta kekayaannya demi menyelamatkan Ara.


 


"Kakek, kenapa kau bicara seperti itu?" ujar Al.


 


"Sudah Al, ini justru lebih baik daripada mereka menyakiti Ara," sahut Ekrem.


 


Ekrem kemudian menyuruh Al untuk menyerahkan berkas-berkas pengalihan aset harta kekayaan itu. Awalnya Al merasa keberatan, namun karena Ekrem terus mendesaknya akhirnya ia menuruti saja. Gohan mendengar itu kemudian meminta anak buahnya membebaskan Ekrem. Ia kemudian  membawa Ekrem mendekat untuk menandatangani semua berkas yang dibutuhkan.


 


"Seharusnya kau melakukan ini semua dari awal, jadi tak perlu ada drama penyanderaan seperti ini," tutur Gohan sambil tersenyum sinis.