
Sezen duduk di ruang tamu bersama Erce, Burcu, dan juga Tuba. Ia menatap pada Erce. “Aku sangat tidak menyukai wanita itu,” ungkap Sezen sambil mengepal erat ketika mengingat kejadian di meja makan tadi.
Erce menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan Sezen. “Kami juga tidak menyukai dia. Dia bahkan berani melawan perkataan Nenek dan Ibu.”
“Kalian tenanglah. Kita harus menyusun rencana bagus agar hubungan mereka retak,” ujar Tuba dengan wajah dinginnya.
Sezen tersenyum licik mendengar perkataan Tuba. “Aku ingin Al dan Arabella itu bertengkar hingga ada jarak di hubungan mereka itu. Aku bisa memanfaatkan jarak itu untuk mendekati Al.”
Tuba mengangguk pelan. “Kita harus buat rencananya sekarang.”
Sinar matahari menerobos masuk melalui cela jendela kamar Al dan Arabella.
Al mengernyitkan keningnya merasa terganggu akan sinar tersebut. ia membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Arabella yang terlelap di sampingnya.
Al tersenyum lalu mengecup pelan pundak Arabella yang terbuka tanpa tertutupi sehelai kain pun.
Semalaman mereka berdua habiskan dengan malam panas yang cukup panjang. Untungnya hari ini adalah hari libur perusahaannya sehingga Al tidak mempermasalahkan jika mereka bangun kesiangan nantinya.
Al membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu perlahan turun dari kasur. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian ia sudah siap dengan pakaian santainya itu. Al berniat untuk berolahraga di taman belakang rumah, tepatnya di tepi kolam.
Arabella membuka matanya perlahan karena mendengar suara pintu yang tertutup. Ia tahu itu adalah Al yang bersiap untuk berolahraga, seperti kebiasaannya di hari libur pagi.
Arabella turun dari kasur lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. ia ingin membersihkan dirinya sebentar karena tubuhnya terasa lengket setelah permainan panas mereka kemarin malam.
Setelah selesai, Arabella memakai pakaiannya dan keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman yang akan diberikannya kepada Al.
Tidak butuh waktu lama hingga minuman buatanny jadi. Arabella melangkah menuju tepi kolam untuk menghampiri Al.
Namun belum sampai tepi kolam, langkah Arabella terhenti. Ia menatap Sezen yang ternyata juga berada di sana.
Sezen yang telah menyusun rencananya kemarin malam memutuskan untuk berdiri di tepi kolam itu.
“Hey, Al. Kau ingin berolahraga?” sapa Sezen ketika melihat sosok Al yang berjalan menuju tempatnya.
Al hanya berdehem lalu menjauh dari Sezen. Sedikit ada rasa kesal karena AL tidak memperhatikan dirinya.
Namun Sezen langsung tersenyum miring. Ia berpura-pura terjatuh ke dalam kolam itu. sesuai dengan rencananya bersama Erce, maka Al akan menolong dirinya.
Tidak jauh dari sana Arabella melihat semua itu. Arabella tentu saja tahu bahwa Sezen sengaja menjatuhkan dirinya itu dan menginginkan Al datang menolong dirinya di dalam kolam.
Arabella mengalihkan pandangannya pada Al yang menatap Sezen jatuh ke dalam kolam. “Apa yang akan kau lakukan, Al?” gumamnya pelan memastikan keputusan apa yang akan dipilih Al.
Al memandang dari posisinya itu lalu ia melambaikan tangannya pada pelayan pria yang tidak jauh darinya. “Kau yang di sana. Tolonglah dia!” teriak AL kepada pelayan tersebut.
Pelayan pria itu menuruti perkataan Al lalu menolong Sezen yang berada di dalam kolam itu. Sezen terkejut karena yang menolongnya bukan Al melainkan pelayan pria yang tidak dikenalnya.
Rencana yang telah disusunnya seketika gagal karena AL sama sekali tidak berniat menolong dirinya.
Arabella yang melihat hal itu langsung tersenyum puas. Ia sedikit tidak menyangka Al akan memanggil pelayan pria untuk menolong Sezen. Sepertinya Al memang benar-benar tidak tertipu dengan sandiwara Sezen itu.
Al menoleh pada Arabella yang berjalan ke arahnya. Senyum lebar terukir di wajahnya. “Kau sudah bangun, hm?”
Al melangkah menghampiri Arabella terlebih dahulu lalu memberikan kecupan selamat pagi pada Arabella.
Arabella tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Cukup sulit untuk berjalan namun aku mulai terbiasa.”
Al terkekeh pelan lalu merangkul pinggang Arabella. “Sepertinya aku sedikit kasar kemarin. Tapi jika kau belum terbiasa maka aku bisa membuatmu terbiasa,” bisiknya tepat di telinga Arabella.
Arabella memukul dada bidang Al pelan. “Jangan menggodaku.”
Al hanya tersenyum lembut membalas ucapan Arabella. tatapannya beralih pada pelayan pria tersebut yang sedang menolong Sezen.
Sezen menahan kekesalannya ketika melihat adegan romantis Al dan Arabella di depannya itu. belum selesai ia dipermalukan seperti ini, sekarang ia harus melihat keromantisan mereka berdua.
‘Rencanaku gagal lalu aku harus melihat mereka bermesraan seperti ini?!” batinnya berteriak kesal.
Erce yang ternyata berada jauh dari sana telah melihat semua kejadian itu. “Hahaha … sangat memalukan.”
Erce menertawakan kegagalan rencana yang telah dibuat olehnya dan Sezen itu. Meskipun ia juga ikut membantu Sezen dalam rencana itu, namun ia tetap tidak akan senang dengan siapapun yang bersama Al nantinya.
Erce menyukai Al sehingga ia hanya ingin dirinya yang nantinya akan berada di posisi Arabella saat ini. bagaimanapun caranya Erce harus merebut posisi itu dari Arabella.
Setelah berhasil menolong Sezen dari dalam kolam itu, pelayan pria itu lalu membantu Sezen menuju kamarnya. Saat melewati Al, Sezen menghentikan langkahnya sebentar. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada Al.
Sezen melirik kesal pada Al yang sedang merangkul pinggang Arabella dengan erat. “Kau jahat sekali, Al. Kenapa kau tidak menolongku tadi?”
Al hanya memasang wajah datar melihat Sezen. “Aku harus menjaga perasaan istriku. Aku tidak ingin dia salah padah dengan apa yang aku lakukan.”
Sezen mengepalkan tangannya erat mendengar jawaban Al padanya. ia semakin tidak suka Arabella yang berada di samping Al saat ini.
Sezen dapat melihat wajah bahagia Arabella ketika mendengar perkataan Al itu. Wajah itu membuat Sezen semakin muak untuk melihatnya.
Sezen memilih pergi dari sana sebelum ia semakin mempermalukan dirinya di depan Al dan Arabella.
Arabella dan Al hanya memandang kepergian Sezen dengan rasa puas.
“Ini minumlah dulu. Aku sudah membuatkannya untukmu.” Arabella menyodorkan segelas minuman yang telah dibuatnya tadi kepada Al.
Al mengambil gelas itu lalu meneguknya. Kebetulan tenggorokannya terasa kering karena ia belum meminum apa-apa pagi itu. “Terima kasih. Buatanmu selalu enak.”
Arabella hanya tersenyum dan ia membiarkan Al melanjutkan tujuannya untuk berolahraga di sana. Jika saja tidak diganggu oleh kehadiran Sezen tadi maka Al sudah berolahraga sejak tadi.
Dari jauh, Erce mendengar dan melihat semuanya. Ia mengepalkan tangannya karena kesal akan apa yang dikatakan Al tadi.
Erce menatap benci pada Arabella yang sesekali tertawa sambil berbincang dengan Al. Ia akan merebut posisi Arabella itu sesegera mungkin.
“Aku akan menyingkirkanmu secepatnya, Arabella.”