I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 11



Arabella melepas pelukan mereka lalu tersenyum pada Al. “Lebih baik kau mandi sekarang lalu kita turun makan.”


 


Al menuruti perkataan Arabella lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam bak mandi sudah tersedia air hangat yang telah dipersiapkan Arabella untuk Al. Selagi menunggu Al mandi, Arabella mempersiapkan piyama yang akan digunakan Al nanti.


 


Tidak membutuhkan waktu lama hingga Al keluar dari kamar mandi dan memakai piyama yang telah dipersiapkan Arabella untuknya.


 


Arabella mengambil handuk kecil yang akan digunakannya untuk mengeringkan rambut Al. “Duduklah di sini. Aku akan mengeringkan rambutnya untukmu.” Arabella menunjuk lantai di bawahnya dan ia duduk di pinggir kasur.


 


Al tersenyum lalu duduk di tempat yang dikatakan Arabella. Ia dapat merasakan tangan kecil Arabella yang berada di atas kepalanya.


 


“Aku jadi mengantuk,” ucap Al sambil menutup matanya.


 


Arabella memukul pelan bahu Al. “Jangan seperti itu. Kau harus makan dulu sebelum tidur. Kau tidak ingin Kakek memarahimu, kan?’


 


Al terkekeh pelan lalu membuka matanya kembali. “Apa salahnya? Aku hanya ingin menikmati malam ini denganmu. Aku bahkan bisa menahan rasa laparku dengan tidur bersamamu.”


 


Wajah Arabella mulai memerah. “Jangan menggodaku seperti itu.”


 


Al semakin tergelak mendengar suara pelan Arabella. Ia yakin sekali bahwa wajah Arabella sekarang sudah memerah karena perkataannya.


 


“Ayo kita turun sekarang. Yang lain pasti sudah menunggu kita,” ucap Arabella setelah selesai mengeringkan rambut Al.


 


Al dan Arabella berjalan keluar dari kamar menuju meja makan. Terlihat semuanya telah berkumpul di sana. Bahkan mata Arabella dapat menangkap kehadiran Sezen di antara keluarga yang lain. ada sedikit rasa tidak suka melihat Sezen di sana namun segera ditepis oleh Arabella.


 


Mereka duduk di dua kursi kosong yang memang disediakan untuk mereka berdua. Arabella dengan telaten mengambilkan piring kosong Al dan mengisinya dengan makanan yang telah dihidangkan di atas meja.


 


Arabella hanya mengambilkan makanan yang memang disukai oleh Al saja. Ia tahu apa yang disukai Al maupun yang tidak disukai oleh Al.


 


Ekrem diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan Arabella itu. Ia tersenyum tipis melihat makanan kesukaan Al saja yang dipilih oleh Arabella.


 


Ekrem semakin yakin bahwa Arabella memang pasangan yang sempurna untuk Al. Ia semakin menyukai Arabella.


 


Ekrem tidak meragukan keberadaan Arabella lagi. Ia tahu hanya Arabella yang tepat untuk Al, cucunya. Beban hatinya mulai menghilang melihat kepedulian dan perhatian Arabella kepada Al.


 


Arabella melihat ada satu makanan yang tidak ia ketahui namanya. Arabella menoleh pada Al. “Al, apa kau ingin ini juga? Maaf, aku tidak tahu namanya.“


 


Sezen yang mendengar hal itu langsung menyeringai. Ia menatap Arabella yang tepat duduk di hadapannya itu. “Namanya Hummus. Aku rasa kau memang tidak mengetahuinya ya.”


 


Arabella mengernyitkan keningnya. “Hummus?”


 


Sezen tersenyum miring sambil memperlihatkan tampang angkuhnya pada Arabella. “Iya, Hummus. Apakah kau tidak tahu bahwa Al tidak suka makanan apapun yang ada campuran kacang di dalamnya? Sepertinya kau tidak sebaik yang aku kira ya.”


 


Arabella terdiam mendengar perkataan Sezen. Ia tahu Al tidak menyukai makanan yang bercampur kacang namun ia tidak mengetahui kalau makanan yang ditawarkannya itu memiliki campuran kacang di dalamnya.


 


Al menyaksikan hal itu dalam diam. Ia melihat raut wajah Arabella yang mulai terlihat sedih.


 


Tangan Al terulur dan mengambil hummus yang ditawarkan Arabella tadi. ia mulai memakannya dengan pitta bread yang dicocolkan dengan hummus itu.


 


 


Bukan hanya Arabella saja, semua anggota keluarga bahkan sezen yang menatap hal itu terkejut dengan tindakan Al.


 


AL menaikkan salah satu alisnya melihat semuanya menatap ke arahnya. “Kenapa kalian melihatku?” tanya Al santai sambil memakan pitta bread itu dan sesekali mencocolkannya dengan hummus.


 


Arabella yang duduk di samping Al mulai khawatir bahwa Al memaksakan dirinya untuk memakan itu. “Kau tidak perlu memakannya jika kau tidak menyukainya, Al.”


 


Al menoleh pada Arabella lalu tersenyum lembut. “Apapun yang kau berikan aku akan menyukainya. Kau juga makanlah.” Al menyuapi Arabella dengan pitta bread yang sudah teroleskan hummus.


 


Arabella membuka bibirnya dan memakan pitta bread yang disuapi Al padanya. roan merah tipis terlihat di wajah cantik Arabella.


 


Arabella tentu tahu bahwa Al melakukan hal itu untuk membantunya. Sekalipun Al tidak menyukai hummus itu, Al akan melakukannya untuk Arabella.


 


“Terima kasih,” gumam Arabella pelan yang hanya bisa didengar oleh Al.


 


Al tersenyum lalu mengelus sayang atas kepala Arabella. “Kau tidak perlu meminta maaf. Apapun yang aku lakukan tulus untukmu.”


 


Rona merah semakin menjalari wajah Arabella. Ia mengalihkan pandangan pada makanan yang ada di piringnya dan mulai melahapnya tanpa menoleh pada Al.


 


Arabella terlalu malu hanya untuk menatap Al saja. Apalagi Al mengatakan hal itu di depan keluarganya yang lain hingga membuat Arabella semakin malu.


 


Sezen yang melihat kejadian itu mulai merasa kesal. Ia menoleh pada Burcu dan tersenyum. “Tante, bolehkan aku menginap di sini? Sudah terlalu malam jadi aku tidak bisa pulang sendirian.”


 


Burcu tentu saja mengizinkan Sezen menginap di rumah itu. Sezen senang mendengar permintaannya terkabul. Ia tidak ingin kalah dari Arabella begitu saja.


 


Acara makan malam itu berakhir dengan tenang. Arabella dan Al sudah kembali ke dalam kamar tidur mereka.


 


Arabella mencuci wajahnya sebentar lalu menghampiri Al yang sedang bersandar di sandaran kasur mereka. Ia naik ke atas kasur lalu bersandar pada pundak Al.


 


“Al, kenapa tadi kau melakukan itu? Aku tahu kau tidak menyukai kacang tapi aku tidak tahu bahwa hummus itu mengandung kacang di dalamnya. Jadi kenapa kau memakannya?” tanya Arabella pada Al yang terlihat fokus pada layar ponselnya.


 


Al menghentikan aktivitasnya membaca beberapa laporan yang dikirim karyawannya. Ia menatap Arabella lalu mengecup pelan kening Arabella.


 


“Memangnya kenapa? Aku tidak suka melihat istriku ditindas oleh orang lain di hadapanku maupun tanpa sepengetahuanku,” jawab Al seadanya.


 


Arabella terkikik geli mendengar perkataan Al. “Kau selalu bisa membuatku jatuh hati terus-menerus padamu ya. Kau terlihat keren tadi.”


 


Al tersenyum bangga mendengar pujian istrinya itu. “Tentu saja. Bukannya karena hal itu kau menyukaiku?”


 


Arabella menutup matanya lalu tersenyum. “Aku menyukai segalanya darimu.”


 


Al merangkul Arabella dan menariknya ke dalam pelukannya. “Kau ingat, bukan? Aku sudah berjanji padamu untuk selalu melindungimu dan juga membahagiakanmu, Ara.”


 


Arabella membuka matanya dan melihat wajah Al yang dekat dengannya. Ia merasa terharu dengan perkataan Al padanya. rasa gelisah yang ada di hatinya sebelumnya telah menghilang entah ke mana.