
“Ara!” Al mulai panik karena Ara kembali pingsan setelah mendengar kabar mengenai Ekrem.
“Dika, panggilkan dokter sekarang!”
Dika segera keluar dari kamar rawat Ara dan memanggilkan dokter.
Al kembali meneteskan air matanya. Ia takut terjadi sesuatu kepada Ara apalagi saat ini di tubuh Ara ada benih cinta mereka berdua.
“Tolong minggir sebentar, saya akan memeriksa kondisinya,” ucap dokter yang datang bersama Dika.
Al menuruti perkataan dokter itu dan menggeser tubuhnya agar dokter dapat memeriksa kondisi Ara.
Al menunggu dengan perasaan gelisah. Ia berharap tidak terjadi hal buruk kepada Ara.
Dokter menghela nafas pelan lalu menatap Al. “Tidak terjadi hal buruk. Hanya saja karena terlalu shock membuatnya pingsan.”
Al menghembuskan nafas lega. “Syukurlah ….”
Al melangkahkan kakinya mendekat pada Ara dan mengecup beberapa kali punggung tangan Ara. “Jangan membuatku takut, Ara.”
Dika dan dokter tersebut keluar dari kamar rawat itu dan meninggalkan Al yang menemani Ara.
Hari pun berlalu hingga kondisi Ara mulai membaik. Al dan Ara diperbolehkan keluar dari rumah sakit namun harus tetap melakukan check up di waktu yang telah ditentukan dokter kepada Ara.
Dika memasukkan barang-barang Ara selama di rumah sakit ke dalam bagasi mobil. Setelah itu ia duduk di kursi pengemudi.
“Aku ingin ke makam Kakek, Al,” ucap Ara pelan sambil menatap Al yang duduk di sampingnya.
Al tersenyum tipis dan mengelus lembut puncak kepala Ara. “Baiklah, kita langsung ke makam Kakek.”
Dika langsung melajukan mobilnya menuju tempat Ekrem dimakamkan. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama hingga mereka tiba di sana.
Ara dan Al melangkahkan kakinya menuju sebuah makam yang masih terlihat baru. Mereka mendekati makam itu dan berhenti di sana.
Nama Ekrem tertera di sana membuat Ara tidak bisa menahan air matanya. “Kakek ….”
Al merangkul Ara dan menguatkan Ara agar tidak kembali terpuruk karena terlalu tertekan.
“Maafkan aku, Kakek. Semuanya terjadi karena aku ….” Ara menyalahkan dirinya atas kematian Ekrem.
“Bukan salahmu, Ara. Semuanya telah terjadi jadi kita tidak boleh merasa seperti itu. Kakek juga tidak ingin melihat kau bersedih seperti itu, Ara.”
Meskipun Al berusaha menguatkan Ara, namun Al tidak bisa menahan air matanya yang sedikit menetes membasahi wajahnya.
Ara menangis keras sambil memeluk Al. Apa yang dikatakan Al benar. Ara sudah mendengar sendiri perkataan Ekrem yang mengatakan bahwa ia menyayangi Ara. Karena itu Ara tidak boleh bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.
“Kakek, aku menyayangimu juga … kami semua menyayangi Kakek.” Ara memaksakan senyumannya agar ia dapat mengantarkan kepergian Ekrem dengan senyumannya.
Cukup lama mereka di sana, Al dan Ara akhirnya pulang ke rumah mereka.
Ara melangkah masuk ke dalam rumah dengan dirangkul oleh Al yang masih mencemaskan keadaan Ara.
“Kau duduk di sini dulu ya. Aku ambilkan minum.” Al mendudukkan Ara di atas sofa ruang tengah lalu berjalan menuju dapur untuk mengambilkan segelas air.
Ara menghela nafas menatap rumah mereka yang mulai sepi. Ia masih sedih dengan kepergian Ekrem. Namun di saat bersamaan, ia merasa senang karena di dalam perutnya saat ini terdapat kehadiran dari calon anaknya.
Ara mengelus lembut perutnya yang masih rata itu. Senyuman tipis terbit di wajahnya. “Aku harap kedepannya kita selalu bahagia dalam keluarga kecil ini.”
Al yang tidak jauh di sana mendengar jelas perkataan Ara. Ia tersenyum melihat Ara sedikit demi sedikit membaik.
“Ini minumlah.” Al menyodorkan segelas air kepada Ara.
Ara mengambil segelas air itu dan meneguknya hingga habis. Setelah menangis hampir seharian, tenggorokannya terasa kering.
“Apa kau memberitahukan keluargaku yang ada di Indonesia?” tanya Ara kepada Al. Sejak tadi hal itu memang mengganggunya.
Al menggeleng pelan. “Aku tidak mengatakan mengenai apa yang terjadi padamu kepada keluargamu. Aku yakin kau tidak ingin mereka tahu mengenai hal itu, bukan?”
Ara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Aku tidak ingin mereka khawatir, Al. Lebih baik mereka mendengar kabar baik dari kehamilanku saja.”
“Kau benar. Ayo istirahat sekarang.” Al dan Ara beranjak dari ruang tengah menuju kamar tidur mereka.
Ara merebahkan dirinya di kasur dengan Al yang menemani dirinya di sampingnya.
Pandangan Al mengarah pada nakas ketika mendengar deringan dari ponsel Ara. “Sepertinya ada yang menghubungimu.”
Al memberikan ponsel tersebut kepada Ara.
Ara menatap nama yang tertera di layar ponselnya itu. “Mama meneleponku,” ucapnya pada Al.
Ara mengangkat panggilan itu dan mendekatkannya pada telinga. “Halo, Ma.”
“Ara, Mama sudah dengar kabar tentang Kakek Al di sana. Mama turut berduka cita ya. Mungkin sebaiknya akmi ke Turki menemui kalian.” Nada sedih dan panik dari seberang sana terdengar jelas di telinga Ara.
“Ma, tenang dulu. Kakek meninggal karena jantungan kami sudah melakukan pemakaman untuk Kakek juga,” ucap Ara berusaha menenangkan keluarganya di seberang sana.
“Selain itu, aku ada kabar untuk kalian, Ma,” lanjut Ara.
“Kabar apa, Ara?”
Ara tersenyum hangat lalu menatap mata Al. Al menganggukkan kepalanya sembari mengelus lembut perut Ara. “Aku hamil, Ma.”
Terdengar suara heboh dari seberang sana yang mengucapkan selamat kepada Ara dan Al. “Kami akan datang menjelang kelahiranmu, Ara.”
Ara dan Al tersenyum senang mendengarnya. Akhirnya mereka sekarang bisa hidup dengan tenang sembari menunggu kehadiran malaikat kecil mereka.
Beberapa bulan pun berlalu setelah kejadian yang menimpa keluarga Ara dan Al. Sekarang kandungan Ara sudah membesar yang menandakan bahwa tidak lama lagi ia akan melahirkan.
Meskipun kepergian Ekrem membuat mereka merasa sedih dan kesepian, namun mereka tetap menjalani hidup mereka dengan bahagia.
Maya dan kedua adik kembar Ara sudah berada di Turki. Mereka selalu menemani Ara ketika AL pergi bekerja.
AL juga lebih sering menghabiskan waktunya bersama Ara meskipun ia tetap mengerjakan pekerjaannya.
Apalagi karena Ara tiga hari lagi akan melahirkan, Al dan keluarga Ara lebih banyak menemani Ara dan meminta agar Ara tidak banyak beraktivitas, mereka bahkan memberikan perhatian lebih kepada Ara.
Seperti sekarang ini, Ara sedang makan siang bersama yang lain, namun daripada menghabiskan makanan mereka masing-masing, mereka lebih memperhatikan Ara dan meletakkan makanan di piring Ara terus-menerus.
“Sudahlah, Al. Aku sudah kenyang.” Ara menghela nafas melihat Al ingin menyuapinya makanan lagi.
“Sedikit lagi ya,” bujuk Al agar Ara memakan makanan yang disuapinya itu.
Namun sebelum Ara menerima suapan Al, perut Ara terasa sakit. “A-Al … sakit ….”
Al mulai panik dan memanggil Dika untuk menyiapkan mobil. “Bertahanlah, Ara.”
Seluruh keluarga Ara dan AL berangkat ke rumah sakit. Ara dilarikan ke ruang bersalin karena memang sudah saatnya Ara melahirkan.
Al menemani Ara sembari menggenggam erat tangan Ara. “Tarik nafasmu dan hembuskan. Aku ada di sini menemanimu jadi kau tidak perlu takut, Ara.”
Al tidak tega melihat Ara selama kelahiran anak mereka berlangsung. Al mengecup dahi Ara terus menerus sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan Ara.
Al mengelus lembut rambut Ara dan mengeratkan genggaman tangannya. “Aku yakin kau bisa, Ara. Sedikit lagi.”
Hingga suara bayi memenuhi ruangan itu, Al tersenyum senang dengan air mata yang mengaliri wajahnya.
Al mengecup bibir Ara dan dahi Ara untuk menyampaikan perasaan bahagianya. “Terima kasih, Ara. Terima kasih.”
“Ini bayi kalian. Selamat atas kelahirannya.” Dokter memberikan bayi mereka kepada Al.
Al menggendongnya dan mendekatkannya kepada Ara. Ara melihat wajah anaknya dengan perasaan haru. Air mata bahagianya semakin mengalir.
“Sayang, kita beri nama dia, Ekrem Deaglan Zeeshan. Dia akan menjadi seperti Kakek buyutnya, menjadi seorang laki-laki yang berakhlak baik, murah hati, bermartabat dan akan selalu dihormati," ucap Ara ditengah rasa lela, haru, dan bahagianya menyebutkan nama yang sudah dia siapkan sejak lama.
"Hai Ekrem, ayah mencintaimu. Ayah sangat menyayangi kalian," ucap Al mengecup sayang dahi Ara dan bayinya.
"Kami juga sangat menyayangimu, Ayah," balas Ara dengan air mata bahagia menyelimutinya.
~TAMAT~
Hai kak, bantu ramaikan buku ini juga ya. Judul Penghangat Ranjang Casanova