I Love You, Bule 2

I Love You, Bule 2
Ara & Al Bab 10



Arabella berusaha menahan rasa gelisah dan penasarannya itu dengan senyumannya. Saat ini ia harus bersikap tenang dan lebih dewasa menghadapi masalah seperti ini. Terlebih ia dapat melihat Al yang masih bersikap biasanya padanya.


 


“Aku pulang, Ara. aku sangat merindukanmu.” Al memeluk Arabella dan mengecup bibirnya.


 


Arabella tersipu malu karena Al melakukan hal itu di depan orang lain. namun ia bisa mengontrol perasaannya dan menyambut pelukan suaminya. “Aku juga merindukanmu,” bisiknya pelan di telinga Al.


 


Setidaknya Arabella bisa merasa sedikit lega karena Al masih seperti biasa padanya.


 


Al melepas pelukannya itu lalu merangkul Arabella menghadap Sezen yang sejak tadi berdiri di belakangnya. “Kenalkan ini adalah istriku, Arabella. Dan Ara, ini adalah Sezen.”


 


Deg!


 


‘Sezen?’ batinnya mengulang nama yang telah dipikirkannya sejak tadi.


 


Arabella kembali teringat akan perkataan Erce mengenai perempuan bernama Sezen itu. Ia tahu Sezen adalah perempuan yang ada di masa lalu Al. Perempuan yang telah membuatnya merasa gelisah tadi sekarang berdiri di hadapannya dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya itu.


 


Arabella berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum ramah pada Sezen. “Arabella,” ucapnya mengulurkannya tangannya kepada Sezen.


 


Sezen menyambut uluran tangannya dan tersenyum. “Sezen. Senang berkenalan denganmu.”


 


Arabela mengangguk pelan lalu melepaskan tautan tangan itu. “Silahkan masuk.”


 


Arabella mempersilahkan Sezen masuk dan membiarkan Sezen berjalan menuju ruang tamu. Ia harus bersikap senormal mungkin agar tidak terlihat kegelisahannya di mata perempuan cantik itu.


 


“Kami akan ke kamar dulu,” ucap Al berjalan menuju kamarnya yang diikuti oleh Arabella di belakang punggungnya.


 


Arabella masih memikirkan mengenai perempuan cantik yang datang bersama dengan Al itu. Namun ia tetap mengikuti langkah Al menuju kamar mereka.


 


‘Kenapa mereka bisa datang bersama? Apakah mereka bertemu di luar sana?’ batinnya mulai mengira-ngira apa yang telah terjadi hingga Al bisa datang bersama Sezen.


 


Al membuka pintu kamar mereka lalu berjalan masuk. Ia masih belum menyadari wajah Arabella yang terlihat memikirkan sesuatu itu.


 


“Maaf ya, Ara. pekerjaanku ternyata jauh lebih banyak daripada yang aku kira sehingga aku harus pulang selarut ini,” ucap Al menoleh pada Arabella.


 


Namun ia tidak mendapatkan balasan dari Arabella yang terlihat melamun.


 


Al mengernyitkan keningnya lalu berjalan mendekati Arabella. “Ara? Kau tidak apa-apa? Apa telah terjadi sesuatu tadi?”


 


Al mulai merasa khawatir akan terjadi sesuatu kepada Arabella selama ia berada di perusahaan tadi. Melihat raut wajah Arabella yang lebih murung dibandingkan pagi tadi.


 


Arabella tersentak dari lamunannya ketika merasakan sentuhan tangan Al di kedua bahunya. Ia dapat melihat wajah Al yang cukup dekat dengannya itu.


 


Arabella tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Al. Hanya sedang memikirkan sesuatu.”


 


Al menghela nafas lega. “Memangnya apa yang kau pikirkan, hm?”


 


Arabella terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk menanyakan hal yang telah mengganggunya itu. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Al.”


 


Sorot mata Arabella memancarkan keseriusan sehingga membuat Al semakin merasa heran. “Kau boleh menanyakan apapun padaku.”


 


Arabella terdiam sejenak. Ia sebenarnya takut mendengar jawaban apa yang akan dikatakan Al padanya nanti. Namun ia harus menyiapkan hatinya menerima apapun yang akan dikatakan Al padanya mengenai perempuan bernama Sezen itu.


 


 


Al tersenyum mendengar pertanyaan Arabella. Ternyata Arabella terganggu dengan kehadiran Sezen.


 


Al menggenggam tangan Arabella lembut. “Ayo kita duduk dulu. Aku akan menjelaskannya padamu.” Al menarik tangan Arabella dan mengajaknya duduk di atas kasur mereka.


 


Setelah mereka duduk di atas kasur, Al menoleh pada Arabella. Ia mengusap lembut pipi putih milik Arabella sebelum ia menjawab pertanyaan tersebut.


 


“Sezen anak dari kerabat Erce. Dia juga merupakan sahabat Erce,” ujar Al menjelaskan siapa Sezen pada Arabella.


 


“Lalu apa hubungan dia denganmu?”


 


“Kami tidak ada hubungan apa-apa, Ara. memangnya apa yang mengganggu pikiranmu?”


 


Arabella menghela nafas pelan. “Tadi aku tidak sengaja mendengar perkataan Erce. Dia mengatakan bahwa Sezen adalah perempuan di masa lalumu.”


 


Al menganggukkan kepalanya, ia mulai memahami alasan Arabella terlihat gelisah. “Dulunya Sezen memang menyukaiku dan dia pernah menolongku ketika aku kecelakaan.”


 


Arabella hanya diam mendengar perkataan Al. Hatinya terasa panas akan rasa cemburu karena mendengar bahwa perempuan itu pernah menyukai Al bahkan ia pernah menolong Al.


 


Al dapat melihat raut wajah Arabella yang menjadi murung. Ia tahu apa yang menjadi kegelisahan Arabella saat ini.


 


Tangannya terangkat dan mengelus lembut kepala Arabella. “Ara, aku hanya mencintaimu seorang. Bukannya aku pernah mengatakannya padamu? Kau adalah wanita yang ada di hatiku saat ini. bahkan seterusnya akan seperti itu.”


 


Perasaan hangat menjalari hati Arabella. Ia merasa tersentuh akan perkataan Al. Namun ia masih tetap diam tanpa melihat Al.


 


Al mengangkat dagu Arabella lalu mengecup bibir Arabella lembut. Hanya kecupan biasa namun terasa lembut.


 


“Kau pasti kembali memikirkan hal tidak-tidak, kan? Kau tidak perlu memikirkan hal itu, Ara. aku tidak akan mengkhianatimu, bahkan memikirkan hal itu saja tidak akan pernah. Kau jangan terhasut dengan omongan orang lain, Ara. Percayalah pada perkataanku ini. aku hanya menyukaimu, bahkan mencintaimu seorang.”


 


Rona merah memenuhi wajah Arabella karena mendapati ucapan romantis dari mulut Al. Ia memang tidak pernah meragukan perkataan Al itu. hanya saja perasaan gelisah itu sedikit mengganggu dirinya.


 


Namun Arabella dapat melihat sorot mata serius dari tatapan Al padanya. ia dapat melihat ketulusan dan kesungguhan ketika Al mengatakan hal itu padanya sehingga hatinya sekarang menjadi tenang.


 


Arabella menganggukkan kepalanya kepada Al. “Maafkan aku, Al. Aku hanya merasa sedikit gelisah saja,” ucapnya sembari tersenyum tulus pada Al.


 


Al mencubit hidung Arabella pelan lalu melepaskannya. “Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Salahku karena tidak menjelaskannya lebih awal padamu. Maafkan aku.”


 


Arabella terkikik geli karena mereka pada akhirnya menjadi saling meminta maaf seperti ini. “Sudahlah jangan membahas hal ini lagi lebih baik kau segera istirahat.”


 


Al terkekeh pelan lalu memeluk tubuh kecil Arabella dengan erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arabella yang selalu menenangkan dirinya.


 


Arabella membalas pelukan erat Al lalu menyembunyikan kepalanya di dalam dada bidang Al.


 


Meskipun masalahnya telah terselesaikan, namun ia tidak boleh merasa lengah. Ia tidak akan tahu apa yang akan direncanakan Tuba, Burcu, dan Erce nantinya untuk mengganggu hubungan rumah tangganya dengan Al.


 


Apalagi sekarang ia memiliki orang baru yang menjadi ancaman dalam hubungannya dengan Al nanti.


 


‘Aku tidak akan pernah kalah dengan permainan kalian,’ batinnya mengacu pada Tuba, Burcu, Erce, serta Sezen.