
~Kalau emang takdirku harus mencintai dengan cara seperti ini, Aku akan lakukan. Walau hatiku sakit~
_Rachel Alanasari_
Sementara itu, Saga sedang mengobati luka kecil di bibir Rahcel di ruang UKS. Saga mengobati Rahcel dengan lembut dan perlahan.
"Aauuu! Pelan-pelan dong!" Kata Rahcel sambil meringis kesakitan.
"Iya iya, ''
Saga kembali mengobati luka Rahcel. Luka itu memang tidak parah, namun darahnya selalu keluar. Dan yang membuat Rahcel tak tahan adalah rasa perih yang membuatnya meringis.
"Aauu! Saga gue bilang pelan-pelan! Perih tau gak?!"
"Iya.. "
Rasa perih terus dirasakan Rahcel akibat alkohol yang di teteskan Saga.
"Saga! Pelan-pelan! Perih ini! Ah! Kalo gak bisa ngobatin gak usah deh..!" Protes Rahcel sambil memukul pelan Saga.
"Iya iya.. Ini juga udah pelan-pelan kali. Pelan banget malahan. Lagian lo bilangnya lo cewek kuat... Gak lemah.. Tapi apa? Baru segini aja lu udah merengek kesakitan"
Kata saga sambil menyindir Rahcel.
"Gue emang bukan cewek lemah kok. Ini gak seberapa sakit, cuma perih aja kena alkohol tau! "
Setelah selesai membersihkan luka Rahcel, Saga membereskan kotak P3K dan mengembalikannya ke tempat semula. Saga duduk di samping Rahcel. Saga menatap ke arah Rahcel dengan tatapan penuh arti.
Tangan Saga perlahan merayap di paha Rahcel dan menggenggam tangan Rahcel dengan erat. Rahcel juga menatap Saga lekat.
"Lu kenapa sih ngelakuin semua ini?" Tanya Saga sambil terus menatap Rahcel.
"Gue cuma ngelakuin apa yang seharusnya gue lakuin Sag, " Jawab Rahcel lirih.
Suara lembut keluar dari bibir Rahcel. Tak seperti biasanya, Rahcel yang selalu terlihat garang dan pemarah di depan banyak orang kini terlihat sangat anggun di depan Saga.
"Lu masih mencintai Erlan?"
"Saga, Sampai kapanpun, gue akan tetap cinta sama Erlan. Gue gak bisa ngelupain dia"
"Tapi cinta lu ini bertepuk sebelah tangan Hcel, Apa lu bakal kuat? Sedangkan Erlan sendiri gak tau apa-apa tentang perasaan lu"
"Gue akan terus begini Sag. Gue akan tetap begini. Sampai kapanpun gue akan seperti ini. Lu tau kan gue udah lama suka sama Erlan? Dan gue gak akan pernah berpaling dari dia, lu tau itu kan? Jadi gue harap lu mau dukung gue ya..."
"Tapi gimana kalo seandainya Erlan gak peka sama perasaan lu dan nganggap lu cuma sebagai sahabat doang? Apa lu masih mau memperjuangkan dia?"
Rahcel tertunduk. Air mata perlahan mengalir membasahi pipinya. Ia kembali mengenang saat-saat bersama Erlan dulu. Erlan sangat perduli dan sayang padanya, Erlan selalu ada untuknya. Hingga rasa cinta tumbuh perlahan di hatinya. Ia tau Erlan hanya menganggap dirinya sekedar teman, tapi ia tak bisa mengendalikan perasaannya pada Erlan. Hingga rasa cinta itu tumbuh dengan subur di hati Rahcel dan terpupuk hingga sekarang.
Saga menarik Rahcel ke pelukannya. dengan lembut saga mengelus rambut Rahcel dan sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Rahcel, Lu pasti akan dapat laki-laki yang mencintai lu dengan tulus. Walaupun itu bukan Erlan, tapi laki-laki itu pasti lebih baik" Gumam saga dalam hati.
***
Di lain tempat tampak Erlan dan Alicia duduk di bangku di pinggir lapangan basket sekolah itu. Teriknya matahari menyinari mereka yang sedang menenangkan diri setelah menghadapi kejadian yang begitu menguras emosi.
Mereka berdua Sama-sama terdiam. Tak ada yang mau bicara sampai akhirnya Alicia membuka suara.
"Lu gak papa kan? Ada yang luka gak?" Tanya Alicia.
Erlan hanya menggeleng tanpa menoleh ke arah Alicia.
"Maafin Arka ya... Gak seharusnya di berbuat kaya tadi"
Erlan mengangguk pelan, juga tanpa menoleh.
"Lu laper gak? Kita makan yuk! Mumpung jam istirahat masih ada nih, "
Erlan menggeleng.
"Lu pasti khawatir banget ya sama Rahcel? Dia kan bestfriend lu"
Lagi-lagi Erlan hanya mengangguk pelan.
Dari tadi Erlan hanya mengangguk atau menggeleng saja. Alicia jadi merasa di abaikan jadi ia memutuskan untuk pergi dan membiarkan Erlan dengan kebisuannya.
"Erlan.. Gue pergi dulu ya"
Alicia melangkah perlahan pergi. Belum jauh ia berjalan tiba-tiba ada bola basket yang melayang ke arahnya dan hampir saja mengenai kepalanya.
Untungnya Erlan dengan sigap berlari ke arah Alicia dan menangkis bola basket itu sambil memeluk Alicia ke pangkuannya.
Tatapan tajam kembali di perlihatkan Erlan. Sambil memandang Erlan yang tepat ada di depannya, menutupi wajahnya dari sinar matahari yang begitu terik dan membuat wajahnya teduh Alicia melihat mata tajam Erlan.
Cukup lama mereka saling melempar tatap seperti itu. Sebuah getaran aneh merayapi hati Erlan, keringat mulai keluar dari dahinya akibat panas yang begitu menyengat. Keringatnya menetes tepat di atas hidung mancung Alicia.
Jantung Alicia berdegup kencang melihat tatapan tajam Erlan. Apa lagi saat keringat itu menetes di hidungnya membuat detak jantungnya makin tak terkontrol.
"Aduh! Kenap nih? Kok gue deg-degan gini yah? Erlan denger detak jantung gue gak ya?" Batin Alicia takut.
"Lu kenapa?" Tanya Erlan heran melihat raut wajah Alicia yang mulai gugup.
Alicia menggeleng.
"Itu suara apa? Lu denger gak?" Tanya Erlan lagi.
Alicia kembali menggeleng. Erlan melepaskan pelukannya saat salah satu anak basket mengambil bola yang ada di dekat mereka.
"Eh, sorry ya. Gue gak sengaja" Kata anak basket itu. Lalu pergi.
"Ya udah. G—gue balik ke kelas ya. Arka pasti udah nungguin gue"
Kata Alicia, kemudian ia berlari meninggalkan lapangan. Sedangkan Erlan tetap berdiri di tempatnya sambil memasang raut wajah heran.
Saga mengusap pelan pundak Rahcel. Sungguh! Hati Rahcel benar-benar panas melihat adegan itu. Melihat Alicia di peluk oleh Erlan membuat ia sangat marah. Mukanya berubah menjadi merah padam.
Namun mereka tak bisa apa-apa. Mereka hanya bisa melihat Erlan dan Alicia dari balkon di lantai dua. Saat itu Rahcel baru saja keluar dari ruang UKS dan menunju ke kelasnya, tapi ia malah terhenti di jalan saat ia melihat itu semua.
Merasa kesal, Rahcel lalu berjalan dengan cepat ke kelasnya dan di ikuti oleh saga di belakangnya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Alicia terus membayangkan kejadian tadi. Kejadian saat ia di selamatkan oleh Erlan dari bola basket, terutama saat Erlan menatap nya dengan tatapan tajam dan membuat Alicia deg-degan.
Senyum manis mulai merekah di wajahnya. Tanpa ia sadari ternyata pak Budi memperhatikannya dari kaca spion.
"Kenapa sih non? Kok senyum-senyum sendiri. Lagi jatuh cinta ya?" Goda pak Budi.
"Ih, Apaan sih pak Budi. Emangnya salah kalo saya senyum?"
"Nggak salah sih non, cuma aneh aja keliatannya"
Alicia terdiam. Ia membuka jendela mobil nya sedikit dan memandang keluar sembari menikmati udara sore itu.
Alicia merasa sangat beruntung karena bisa mempunyai orang-orang yang perhatian dan peduli padanya. Arka selalu membelanya dari segala ancaman yang ia dapatkan dari Rahcel. Sedangkan Erlan selalu mampu melindunginya dan selalu ada di saat Alicia membutuhkan perlindungan.
Sekarang ia punya teman baru yang juga peduli padanya, Celina namanya. Dia tak hanya cantik tapi dia juga baik. Bahkan Alicia merasa nyaman dengan Celina.
***
Arka perlahan melangkah masuk ke rumahnya. Memperhatikan sekeliling, ia harap saat itu mama nya tak melihatnya, tapi sayang. Mama malah memergokinya saat hendak melangkah ke tangga menuju lantai dua.
"Arka... Kenapa ngendap-ngendap gitu jalannya?" Tanya mama.
"Eh, Mama. Arka cuma gak mau ganggu mama aja kok" Jawab Arka sambil cengengesan.
"Itu pipi kamu kenapa? Kok lebam gitu?"
"Gak papa kok ma. Biasa lah! Namanya juga anak cowok"
"Kamu berantem ya di sekolah?" Tanya Irma—Mama Arka dengan penuh selidik.
"Nggak kok ma. Ini tadi Arka jatuh dari motor" Jawab Arka dusta.
"Ya udah. Sekarang kamu mandi sana. Mama mau masak buat kamu"
"Iya ma"
Arka melangkah menaiki tangga. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Fiuh.. Untung aja mama gak introgasi gue. Kalo itu terjadi gue harus jawab apa? Jawab kalo gue berantem sama Erlan gitu? Yang ada gue yang kena marah sama mama" Gerutu Arka.
Ia meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar. Lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
***
Begitu juga saat perayaan perusahaan yang berhasil atas bisnis mereka. Pasti selalu di adakan pesta perayaan. Dan saat pesta biasanya para direktur perusahaan dari berbagai perusahaan membawa keluarga mereka, terutama anak mereka yang di anggap akan meneruskan usaha orang tua mereka.
Seperti saat perusahaan papa Erlan memenangkan sebuah tender, papanya merayakannya dengan mengadakan pesta mewah di sebuah hotel mewah. Tak lupa pula ia mengundang para rekan bisnisnya termasuk papi Alicia yang sudah menjadi rekan bisnis papa Erlan sejak dulu dan termasuk menjadi rekan terlamanya.
Alicia dan papinya menuruti undangan itu dan datang ke pesta yang di adakan papa Erlan.
Dengan mengenakan gaun putih selutut dan di padukan dengan high heels berwarna hitam, Alicia berjalan sambil menggandeng lengan papinya.
Suasana pesta sangat ramai. Pesta yang di adakan pada malam minggu itu terlihat sangat megah. Dengan dekorasi serba putih itu membuat pesta tampak semakin mewah apalagi lampu utama yang ada di ruangan itu sangat besar. Wah! Itu benar-benar pest yang sangat meriah.
"Alicia" Sapa Erlan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Erlan"
Erla memperhatikan Alicia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alicia tampak sangat cantik.
"Lu cantik Al," Puji Erlan.
Alicia tampak malu-malu. Senyum tipis mulai tampak di wajahnya.
"Makasih" Jawab Alicia singkat.
"Erlan... Selamat ya. Bokap lu hebat! Dia bisa menangin tender ini" Kata Alicia sambil menjulurkan tangannya.
"Iya. Makasih" Jawab Erlan sambil menyambut uluran tangan Alicia.
Tak lama kemudian pesta pun di mulai. Sang pembawa acara sudah membuka suara dan meminta para tamu yang hadir untuk duduk di kursi yang telah di sediakan. Kata sambutan demi kata sambutan pun terucap dari para tamu terhormat yanga menghadiri pesta itu, termasuk papi Alicia.
"Maaf saya terlambat..!"
Kata seorang wanita dengan berpakaian rapi saat papi Alicia baru saja selesai dengan kata sambutannya. Wanita itu tampak tergesa-gesa berjalan dari pintu menuju ke tengah tempat acara di ikuti oleh seorang pemuda di belakangnya. Sepertinya dia adalah salah satu tamu dalam acara itu.
"Arka?" Alicia tampak kaget saat melihat Arka lah pemuda yang berjalan di belakangnya. Berarti wanita yang berjalan di depannya itu mama nya Arka dong.
"Maaf saya terlambat. Saya benar-benar minta maaf. Bisakah kita lanjutkan acaranya?" Kata mama Arka sambil duduk di kursi yang sudah tersedia untuknya.
Acara pun berlanjut. Semua orang tampak tak menghiraukan keterlambatan mama Arka.
"Hai Al, " Sapa Arka pada Alicia saat acara sedang lenggang.
Waktu itu para pesohor perusahaan sedang berbincang-bincang. Jadi mereka ada waktu untuk bicara santai.
"Arka, Lu di sini juga" Kata Alicia sopan.
"Iya, Nyokap gue jadi salah satu pemimpin perusahaan yang ngisi kata sambutan di sini" Balas Arka.
"Oh.. Gitu. Tadi kenapa telat?"
"Ah.. Biasa. Gue ketiduran" Jawab Arka sambil cengengesan.
Erlan yang kala itu sedang bersama Alicia tak memperdulikan kehadiran Arka. Ia sibuk memainkan handphone nya.
Arka memandang ke arah Erlan yang sedang sibuk itu. Tampak dari tatapannya, Arka seperti merindukan sosok Erlan. Sudah lama sejak Celina pergi ke Bandung ia tak pernah berkomunikasi dengan Erlan. Erlan sahabat lamanya sekarang sudah benar-benar berubah. Ia yang dulunya baik, perhatian, Humble, friendly, dan begitu ramah telah berubah.
Sekarang Erlan berubah menjadi sosok yang tak lagi Arka kenal sosok yang jauh dari kata sahabat baginya. Sekarang Erlan lebih sering bersama Rahcel dan Saga. Ia jadi pribadi yang dingin dan cuek. Arka benar-benar tidak lagi mengenal sifat Erlan yang sekarang.
Arka sangat ingin sekali mereka kembali akur seperti dulu, tapi itu hal yang mustahil. Sebab ada luka yang telah di goreskan Arka di hati Erlan dan membuatnya akan selalu benci dengan Arka. Tragis memang, tapi itu lah kenyataannya. Arka akan selalu jadi orang yang di benci sepanjang hidup Erlan.
***
Sementara itu, Mama Arka dan para pemimpin perusahaan lainnya sibuk berbincang-bincang masalah bisnis dengan rekan-rekan lain hingga tak memperhatikan anak-anak mereka yang juga sibuk dengan diri mereka masing-masing.
Mama Arka mendekati salah satu pemimpin perusahaan yang kala itu sedang merayakan keberhasilannya memenangkan tender. Papa Erlan.
"Pak Adi. Bisa kita bicara sebentar?" Katanya ramah.
Pak Adi hanya menurut. Ia meninggalkan perbincangannya dan pergi ke tempat yang lebih sepi.
"Ada apa?" Tanya pak Adi.
"Bagaimana kabar Erlan? Dia baik-baik aja kan?" Tanya wanita paruh baya itu.
Ada kerinduan yang jelas dari nada bicaranya.
"Ya. Dia baik. Bahkan jauh lebih baik di banding dulu saat ibunya masih ada"
Mama Arka tertunduk lesu. Penyesalan atas kesalahan yang pernah ia lakukan kembali teringat dalam pikirannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa Erlan pernah merindukan ibunya?" Tanya nya lagi.
"Tidak. Sejak ibunya pergi, saya yang jadi orang tua Erlan sepenuhnya, saya jadi papa sekaligus mama nya. Dia tidak pernah menanyakan ibunya"
Air mata yang tadi terkumpul di pelupuk mata seketika tumpah saat mendengar ucapan Pak Adi. Bu Irma tak kuasa menahan tangis. Ia benar-benar sedih.
"Pak Adi. Bisa saya bertemu dengan Erlan?"
"Erlan sedang sibuk dengan teman-temannya. Sebaiknya dia jangan di ganggu."
"Saya mohon pak. Saya ingin sekali bertemu dengan Erlan."
"Maaf tapi, saya harus pergi. Masih banyak tamu undangan yang ingin saya temui"
Pak Adi pun pergi meninggalkan mama Arka sendiri dengan kesedihannya. Seperti yang terlihat, Pak Adi tak ingin bu Irma bertemu dengan putranya, Erlan.
Ia tak ingin Erlan kembali melihat wanita itu dan kembali menghancurkan hatinya. Cukup! Erlan sudah cukup menderita. Selam tujuh tahun ini Erlan sudah sangat menderita, butuh waktu lama untuk mengembalikan hatinya yang hancur dan memahami keadaan yang sama sekali tidak ia inginkan. Pak Adi tak mau Erlan mengalami hal itu kembali di hidupnya. Erlan tidak boleh menderita lagi. Batin Pak Adi teguh.
***
Pelajaran matematika selalu sukses membuat Alicia pusing tujuh keliling. Semua rumus dan cara yang di ajarkan gurunya serasa bablas melewati kepalanya. Arka? Ya dia lumayan mengerti dan mampu mengerjakan tugasnya. Tapi dia sibuk mengajari Celina yang juga tak paham dengan pelajaran tentang teorema Pythagoras.
Biasanya untuk menghindari pelajaran yang susah untuk di cerna oleh otak nya, Alicia membolos ke ruang UKS. Supaya tak curiga, ia pura-pura sakit. Arka selalu paham dengan tak-tik Alicia. Hingga membiarkannya melakukan kebiasaannya itu.
Hari itu UKS sepi. Alicia hanya sendiri. Ia berbaring di ranjang sambil memainkan handphone nya. Tiba-tiba pintu UKS terbuka, ada yang datang.
Alicia langsung pura-pura tidur.
"Lu sakit apa?" Tanya orang yang baru saja masuk. Erlan.
"Gue agak sedikit pusing. Kayaknya gue demam" Jawab Alicia sambil bangkit dari tidurnya.
Erlan mendekat dan menyentuh kening Alicia.
"Gak panas kok" Katanya dengan datar.
"Sebenarnya .... gue gak kenapa-napa sih"
"Terus ngapain lu di UKS kalo gak kenapa-napa?"
"Ih..! Lu jangan liatin gue kaya gitu dong! Gue jadi risih" Ucap Alicia yang merasa risih dengan tatapan mata Erlan yang tajam menusuk ke arahnya. Padahal itu sudah biasa.
"Gue cuma pura-pura sakit supaya bisa ngehindarin pelajaran matematika hari ini" Jelas Alicia lirih.
"Lu bolos? Udah berapa kali?" Tanya Erlan dengan nada datar. Tak lupa tatapan nya menyorot tajam menatap Alicia.
"eeumm... 4 sampai 5 kali kayaknya" Jawab Alicia santai.
"Kenapa lu bolos?"
"Hm.. Gue gak ngerti sama pelajaran matematika yang di ajarin guru. Gue jadi pusing sendiri. Males gue. Makanya gue bolos ke UKS. Eh, tapi lu jangan bilang siapa-siapa ya kalo gue bolos"
Erlan menghela nafas panjang. Ia menatap mata Alicia lagi, dengan tatapan mautnya pasti.
"Dasar pemalas..!" Kata Erlan sambil mengacak rambut Alicia.
"Ih! Jangan di acak-acak dong rambut gue, "
"Kalo lu perhatiin pelajaran pun tapi lu gak ngerti juga. Apa lagi kalo lu bolos! Makin nggak ngerti ntar.. Trus ujian lu gimana? Mau nyontek gitu?"
"Ya tapi gue gak bisa ngerti sama sekali sama pelajaran matematika itu!"
"Ya udah. Mulai besok lu kerumah gue aja" Kata Erlan sambil beranjak dari duduknya untuk segera kembali ke kelasnya.
"Ngapain?" Tanya Alicia heran sambil menaikkan alisnya.
"Udah datang aja. Lu tau kan alamat rumah gue di mana?"
Alicia mengangguk pelan. Lalu Erlan pergi sambil kembali mengacak rambutnya. Alicia yang kesal hanya bisa melipat tangan di dadanya sambil memonyongkan bibirnya.