How Can I Not Love You?

How Can I Not Love You?
5-Arka kenapa?



Keesokan harinya, Erlan datang menjemput Alicia di rumahnya untuk menepati janji nya.


"Erlan? Lo beneran ke sini?"


Tanya Alicia saat ia melihat Erlan ada di ruang tamu rumahnya.


"Kan gue mau jemput lo, ayo berangkat, ntar kesiangan lho"


"Iya, bentar gue ambil tas dulu"


Alicia benar-benar tak menduga kalau Erlan menepati janjinya untuk menjemputnya ke sekolah. Mulanya Alicia berfikir kalau Erlan tidak akan menepati , tapi ternyata....


"Al.." Kata Erlan tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


"Ya?"


"Sorry ya.." ucap Erlan dengan nada lemah.


"Sorry buat apa?" Tanya Alicia tak mengerti.


"Karna Rahcel udah ngelabrak elo kemarin.."


"Iya, gak masalah kok, gue gak kenapa-napa juga"


***


Rasa kesal meraba di dada Arka, melihat Alicia turun dari motor Erlan membuat dada Arka sesak hingga emosi memuncak sampai ke ubun-ubun.


"Alicia! Lo ngapain sih di anterin sama Erlan?!"


"Lho, emang kenapa?" Tanya Alicia sepolos mungkin.


"Lo lupa ya? Kemaren Rahcel ngelabrak lo karena apa? Karna lo deket sama Erlan! Dan sekarang lo masih mau deket sama Erlan?! Lo mau di labrak lagi sama Rahuel?!" Ujar Arka agak emosi.


Ia bukan marah atau kesal. Hanya saja ia khawatir kalau Alicia sampai kenapa-napa. Lantaran Rachel sudah pernah melabrak Alicia. Bagaimana jika kejadian itu terulang kembali?


"Arka, lo tenang aja, gue gak akan di apa-apa in kok sama Rahcel. Erlan udah ngasih penjelasan sama Rahcel dan dia gak akan labrak gue lagi"


Melihat pertengkaran yang terjadi antara Arka dan Alicia, membuat Erlan bosan dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan raut wajah datar dan dingin bak kulkas.


"Erlan! Lo mau kemana?"


Alicia hendak mengejar Erlan yang tiba-tiba saja pergi tanpa pamit padanya, namun ia tak sempat melakukan itu karena Arka segera menahannya dan memegang erat tangan Alicia.


"Lo mau kemana sih?" Tanya Arka.


"Ya mau ngejar Erlan lah, "


"Ngapain di kejar?! Gak usah! Biarin aja Erlan pergi"


"Arka, Tapi—"


"Udah gak usah! Mendingan sekarang kita masuk yuk"


Tanpa perlawanan Alicia menuruti perkataan Arka dan segera masuk ke gedung sekolah.


***


Jam pelajaran pun di mulai.


Seluruh siswa tampak sibuk dengan mata pelajaran mereka masing-masing. Tak terkecuali Alicia. Ia di minta pak Anton untuk mengambil Alat Torso Anatomi di Lab IPA yang berada di lantai 3. Dengan sigap, Alicia segera menuju lantai 3 untuk mengambil alat yang di maksud.


Saat ini kelas XI.MIPA.2 memang sedang sedang belajar mengenai anggota tubuh yang tak lain adalah kelas Alicia dan Arka.


Alicia mengambil beberapa alat Torso Anatomi, namun alat yang di butuhkan masih kurang.


"Kamu ambil 3 Torso lagi ya, ini masih kurang" Ujar pak Anton.


"Iya pak" Jawab Alicia sigap.


Karena malas untuk Bolak-balik, Alicia berfikir untuk membawa Alat Torso Anatomi-nya sekaligus.


Di saat menuruni anak tangga, salah satu Torso Anatomi yang ia bawa terjatuh dan mengenai kaki seseorang yang sedang lewat di bawah tangga.


"Erlan?"


Kata Alicia ketika melihat seseorang yang terkena Torso anatomi tersebut.


Erlan mengambil alat Torso anatomi itu sambil menatap mata Alicia ia berkata,


"Lagi praktek ya?"


"I–iya"


"Arka mana? Kok dia gak bantuin lo bawa Torso sih?" Tanya Erlan ramah. Tumben.


"Arka lagi ada tugas lain di kelas"


"Oh.. Gue bantu bawa Torso anatomi nya ya" Erlan menawarkan bantuan.


"Eh, gak usah! Gue bisa kok" Tolak Alicia.


"Bisa apa? Bisa jatuh ini alat kalo lo yang bawa"


Kata Erlan dengan nada mengejek.


"Nggak Erlan, gue bisa kok"


"Udah sini gue bantuin, ntar yang ada jatoh lagi, trus rusak, dan lo harus ganti alat ini.. Huh! Malah jadi ribet urusannya"


Ucapnya kemudian sambil menarik salah satu Torso anatomi di tangan Alicia.


Dengan keadaan yang demikian, Alicia tidak bisa menolak lagi tawaran dari Erlan, karena memang sebenarnya ia kesusahan membawa alat Torso itu.


Mereka menuruni tangga menuju ke lantai 2. Mereka berdua sama-sama terdiam. Tak ada satu suara pun yang terdengar dari mulut mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan mereka hanya bisa membisu sambil sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


'Hm..ternyata Erlan baik juga ya'


Gumam Alicia dalam hatinya.


'Alicia kalo di liat-liat lumayan cantik juga'


Gumam Erlan pula.


'Erlan udah punya pacar apa belum ya? Kira-kira apa ya.. Yang ada di pikirannya tentang gue? Apa dia juga kaya anak-anak yang lain, bilang kalo gue cantik? Atau, dia suka sama gue? Ah! Mikir apa sih gue? Pasti Erlan udah punya pacar kali, dia kan ganteng, tinggi, berkulit putih, punya dada bidang, pemain basket handal pula, masa belum ada yang mau sih'


Tanpa ia sadari ternyata lamunannya sudah ngelantur jauh hingga ia tak menyadari kalau kelasnya sudah kelewatan.


Alicia berjalan dengan lamunan tentang Erlan di kepalanya melewati kelasnya. Ada sedikit gurat senyum di bibirnya. Erlan yang melihat itu hanya mengerutkan dahi karena heran. Alicia itu kesambet atau bagaimana?


"Alicia! Lo mau kemana? Kelas lo disini kan?"


Kata Erlan memecah lamunannya.


Alicia tersadar dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Erlan yang menatapnya heran. Wajahnya juga sudah memerah sepeti kepiting rebus karena malu.


"Oh iya, maaf.. Gue ngelamun"


Kata Alicia dengan raut wajah malu-malu.


"Lo ngelamunin apa sih?"


"Ehm..."


"Alicia! Ayo bawa masuk Torso anatomi nya, pelajaran akan segera di mulai" Ucapan pak Anton membuyarkan pembicaraan Alicia dan Erlan.


"Iya pak"


Erlan pun turut masuk ke kelas Alicia untuk menaruh Torso anatomi yang ia bawa.


Setelah itu ia langsung kembali pamit ke kelasnya.


Arka yang melihat kejadian itu hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung Erlan saat keluar kelasnya dengan tatapan mata tajam.


***


Kantin sekolah terlihat begitu ramai saat jam istirahat tiba. Hampir seluruh siswa berkumpul di sana untuk mengistirahatkan otak mereka selepas jam pembelajaran. Di salah satu meja, tampak Arka sedang duduk dengan wajahnya yang di tekuk. Melihat hal ini, Alicia pun segera menghampiri Arka dengan membawa semangkuk mie ayam di tangannya.


"Hei! Lo kenapa sendirian di sini?"


Tegur Alicia.


"Lo sendiri ngapain di sini?" Arka malah balik bertanya.


"Gue? Gue mau makan lah. Nih gue punya mie ayam, lo mau gak?"


"Gak" Dengan ketus Arka memalingkan wajahnya dari Alicia.


"Ayo lah! Cobain dulu, pasti lo suka deh.. Ini mie nya enak banget lho"


"Gue udah kenyang" Lagi, Arka menjawabnya dengan ketus. Tak seperti biasanya.


"Masa sih? Perasaan lo belum makan dari tadi"


"Iya gue udah kenyang kok"


Hm.. Sepertinya Arka sedang ngambek padanya, maka dari itu Alicia berusaha membujuk Arka agar ia tidak ngambek lagi.


Alicia mengambil sesendok mie dan di berikan saus sambal penuh di atasnya. Lalu ia menyuapi Arka dengan mie itu.


"Nih.. Cobain deh, gue suapin nih!"


"Gak mau Alicia" Ucap Arka tanpa menoleh ke arah Alicia.


"Ih.. Cobain dulu, enak tau"


"Gak"


"Ayo.. Buka mulutnya.. aaaa..."


Mula-mula Arka menolaknya, tapi ia tak mau kehilangan kesempatan, hei! Siapa sih yang nolak di suapin kalo yang nyuapin cewek cantik seperti Alicia?


Aummm..! Arka memakan sesendok mie yang ada di tangan Alicia.


Dan tiba-tiba raut wajah arka memerah karena kepedasan, ia mencari-cari air minum di meja, tapi tidak ada.


"Ah...!!! Pedes banget sih!!"


Melihat Arka kepedasan seperti itu mengundang gelak tawa bagi Alicia. Ia begitu lepas tertawa terbahak-bahak hingga air matanya menetes.


Setelah mendapatkan segelas air minum barulah rasa pedas yang ada di mulutnya berkurang.


"Alicia! Lo mau nge racunin gue ya?" Kesal Arka.


"Hah? Siapa yang mau nge racunin elo? Itu sambel bukan racun!"


"Hah! Pedes banget gila!" Arka mengibas-ngubaskan tangannya untuk mengipasi mulutnya yang kepedesan seperti terbakar.


Meski Arka suka pedas, tapi bukan berarti ia suka makan Sambal sebanyak itu. Itu bukan makan mie ayam pakai Sambal, Tapi makan sambal pakai mie ayam.


"Heheh... Sorry, tapi lo gak papa kan?" Tanya Alicia di sertai cengiran konyolnya.


"Gak papa gimana? Mulut gue kebakar ini"


"Kan gak hangus..!"


"Hm..."


Arka hanya bisa terdiam sambil memandangi Alicia di sampingnya yang masih menahan tawa karena melihat ia kepedasan tadi.


Entah kenapa rasa pedas yang ia rasakan tak begitu berarti baginya setelah ia melihat senyuman lebar menghiasi wajah cantik Alicia. Dalam sekejap rasa pedas itu berubah menjadi rasa bahagia dan terlupakan begitu saja.


"Arka.. Lo kenapa liatin gue kaya gitu?"


Tanya Alicia saat ia sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Arka.


"Hah?? Gak papa kok, gue mau ke toilet dulu ya..."


"Oke"


Alicia menatap punggung Arka yang pergi ke toilet sampai hilang di kejauhan. Entah mengapa Alicia merasa ada yang aneh dalam hatinya, ia merasa tawanya begitu lepas dan bahagia. Ia merasa ada desiran halus yang merambah di hatinya, perasaan apa ini? Kenapa ia merasakan ini? Padahal Alicia sudah sering tertawa seperti ini, tapi mengapa ada yang berbeda kali ini? Apa ini sebenarnya?


Alicia tak kunjung menemukan jawabannya, yang ia tau adalah Arka lelaki yang baik, ia orang yang pertama kali Alicia kenal di sekolah ini, tentu Alicia tidak ingin kehilangan Arka, tidak! Alicia tidak ingin Arka pergi.


"Hei cantik. Sendirian aja nih, mau gue temenin gak?"


Kata seorang siswa laki-laki yang tiba-tiba duduk di sampingannya sambil merangkul pundaknya.


Dengan segera Alicia menepis tangan siswa Laki-laki itu. "apaan sih! Jangan kurang ajar ya!"


"Eiittss.. Jangan galak gitu dong, santai... Gue cuma mau nemenin elo aja kok"


"Gue gak mau di temenin sama lo! Mendingan lo pergi sana!"


Siswa laki-laki itu semakin berani mendekati Alicia, sambil membelai halus rambut Alicia, ia berkata


"Kalo gue gak mau gimana?"


Bbbukkkkk!!!


Sebuah bogem mentah mengenai pipi laki-laki itu yang tak lain adalah tonjokan dari Erlan yang emosi melihat tingkah laku laki-laki itu, ia begitu geram hingga menonjok pipi laki-laki itu hingga membiru.


laki-laki itu tersungkur ke lantai. Ia tampak kesakitan hingga meringis.


"Erlan...!" Kata Alicia.


"Pergi lo dari sini sebelum gue makin marah sama lo!!"


Pinta Erlan pada laki-laki itu.


Namun bukannya nurut dan pergi, laki-laki itu malah melayangkan pukulan ke wajah Erlan hingga membuat mulutnya mengeluarkan darah.


Tak mau kalah dengan nya, Erlan kembali membalas dengan menendang perut laki-laki itu hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


Tapi sebelum itu terjadi, Alicia segera menarik tubuh Erlan dan menghentikan perbuatannya itu.


"Erlan.. Jangan! Udah Erlan, udah cukup!" Kata Alicia berusaha menghentikan perbuatan Erlan yang kalap dan emosi.


"Dia udah kurang ajar sama lo Al.. Dia harus di kasih pelajaran" Sergah Erlan.


"Nggak Erlan, udah cukup! Lo liat kan dia udah pingsan gak berdaya? Udah ya.. Jangan di pukul lagi"


"Tapi–"


"Udah Erlan.. Pliss.."


Melihat wajah Alicia yang begitu ketakutan dan histeris karena kejadian ini, Erlan pun akhirnya luluh dan tidak jadi memukul laki-laki itu.


Alicia lega.


Ia meminta beberapa orang yang berkerumun di sana untuk membantu laki-laki itu agar di bawa ke UKS.


"Ada apaan nih?"


Tanya Arka yang batu saja kembali dari toilet.


"Wah... Bro! Lo gak liat sih kejadian tadi, wah.. Parah! Seru banget man gila!" Kata salah seorang teman Arka yang melihat kejadian itu.


"Kejadian apaan sih? Gue gak ngerti" Arka menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil memasang raut wajah heran.


ia baru saja kembali dari toilet dan sudah melihat banyak orang ber kerumunan di dekat meja makannya bersama Alicia. Sebenarnya ada apa ini?


"Mendingan lo tanya sendiri deh sama Alicia, karena dia yang tau persis kejadiannya kaya apa"


"Alicia?" Arka kaget saat nama teman barunya itu di sebut-sebut.


apa kejadian ribut ini ada hubungannya dengan Alicia?


Temannya mengangguk, meng-iya kan perkataan nya.


Arka pun segera menghampiri Alicia yang berdiri tak jauh dari posisi awalnya. Ada Erlan juga di sana. Meski enggan, namun Arka tetap menghampiri Alicia untuk menanyakan hal ini.


Tanpa melirik Erlan yang ada di sebelahnya, Arka bertanya pada Alicia.


"Al.. Ini ada apa? Kok kantin berantakan gini?"


Tanya Arka sambil melihat beberapa kursi yang sudah tak lagi di tempatnya.


"Mm.. Nanti aja ya gue jelasinnya, sekarang gue mau ngobatin Erlan dulu"


Alicia pun segera mambawa Erlan pergi dari kantin meninggalkan Arka sendiri.


Arka hanya mengepal tangan sambil melihat punggung Alicia dan punggung Erlan berjalan keluar kantin. Arka berusaha meredam emosinya dengan menutup mata agar tidak meluapkannya di kantin.


Arka tak suka Alicia dan Erlan akrab.


"Kita ke UKS ya.. Biar gue obatin luka lo"


Erlan mengangguk lemah. Memang luka yang ada di dekat mulutnya itu sangat perih, hingga ia malas bicara.


Alicia membuka kotak P3K, dan mengeluarkan kain kasa dan alkohol di dalamnya untuk membersihkan luka Erlan.


Dengan perlahan Alicia membersihkan luka Erlan yang masih mengeluarkan darah.


Erlan menatap Alicia lekat-lekat sambil menikmati wajah cantik Alicia.


Sama halnya dengan Erlan, Alicia juga melakukan hal yang sama dengan memperhatikan pipi mulus Erlan.


'Duh! Mulus banget sih pipinya, gue yakin kalo ada lalat yang jalan di situ pasti kepeleset deh'


Ujar Alicia dalam hati.


"Ngapain lo nge-liatin gue kaya gitu?"


Tanya Erlan seketika membuat Alicia berhenti melamun.


"Ha? Nggak kok, gue gak nge-liatin elo, jangan Ge Er deh!" Elak Alicia dengan gugup. raut wajahnya memperlihatkan kegugupan itu.


"Ge Er? Jelas-jelas lo tadi nge-liatin gue, kok gue yang Ge Er.."


Alicia terdiam, ia tak mampu melawan perkataan Erlan karena memang ia memperhatikan Erlan, hanya saja Alicia terlalu gengsi untuk berkata jujur.


"Sebenernya lo gak perlu ngelakuin itu tadi" Kata Alicia mengalihkan pembicaraan.


"Terus? Gue mesti nge-biarin elo di godain sama cowok brengsek itu gitu?! Nge-biarin lo di lecehkan gitu?!" Dengus Erlan tambah kesal.


Erlan melakukan semua itu semata-mata hanya karena ia tak suka melihat laki-laki itu menggoda gadis di sekolahnya. menurut Erlan, itu perilaku yang tidak baik. Jangan kira Erlan melakukan itu karena ia suka dengan Alicia. Kau salah besar.


"Ya bukan gitu juga, tapi maksud gue–"


"Apa? Hah?" Potong Erlan.


"Yey... Santai aja dong ngomongnya.. Gak usah nge-gas!"


"Huh! Bukannya bilang terima kasih malah ngomongin hal gak penting kaya gini.. Lo tau gak, kalo gak ada gue, lo nasibnya bakalan kaya gimana? Bisa-bisa lo udah di–" Gerutu Erlan dengan kesal.


Tapi belum selesai Erlan menggerutu Alicia sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Iya.. Iya.. Makasih"


"Yang ikhlas dong ngomongnya"


Alicia menarik nafas panjang.


'Sabar Alicia' Batin Alicia berusaha menguatkan dirinya.


"hm... Iya, terima kasih ya Erlan.." ucap Alicia kemudian dengan di sertai senyum manisnya.


"Nah.. Gitu dong!"


Hm.. Terkadang melihat tingkah laku Erlan yang seperti ini membuat Alicia agak kesal, tapi harus ia akui bahwa Erlan memang laki-laki yang baik, ia selalu ada di saat Alicia membutuhkan pertolongan.


'Baik sih, tapi kadang ngeselin'


Gumam Alicia dalam hati.


***


Sepulang sekolah.


"Al.. Pulang bareng gue yuk!"


Ajak Arka sambil merangkul pundak Alicia.


Arka dan Alicia baru saja menyelesaikan mata pelajaran terakhir mereka hari ini. Alicia yang berjalan didepan Arka langsung menoleh kalau mendapatkan rangkulan di pundaknya.


"Gak! Alicia pulang bareng gue"


Ucap Erlan sambil menarik  tangan Alicia dan membuat Alicia terlepas dari rangkulan Arka.


"Apa-apaan sih! Kan gue duluan yang ngajak Alicia pulang bareng, kenapa lo ikut-ikutan?!" Protes Arka kesal.


Tatapan matanya menyorot tajam ke arah Erlan. sepertinya Arka benar-benar tak suka pada Erlan. Ada sesuatu di antara mereka yang membuat mereka seperti kerang dingin.


"Gue udah janji sama Alicia dari kemaren, jadi gue duluan yang ngajak dia pulang bareng" Bantah Erlan santai.


"Eh.. Gak bisa gitu dong!"


"Bisa, kalo gue mau"


Melihat kedua temannya bertengkar Alicia pun angkat bicara.


"Udah, udah! Kenapa kalian pada berantem sih?! Gue gak pulang sama Erlan, dan gue juga gak pulang sama Arka, gue pulang sendiri aja naik angkot"


Lalu Alicia pun pergi dan meninggalkan Erlan dan Arka di koridor.


Erlan dan Arka pun langsung mengejar Alicia sambil terus mengajaknya pulang bareng.


"Alicia.. Pulang bareng gue aja, jangan naik angkot.." Kata Arka.


"Nggak Al, lo pulang bareng gue aja" Ucap Erlan pula.


"Apaan sih? Alicia pulang bareng gue kok"


"Emang nya Alicia mau?" Tanya Erlan.


"Ya mau lah!"


Begitulah pertengkaran yang terus berlanjut sampai ke gerbang sekolah.


Dan tanpa mereka sadari Alicia sudah pergi menaiki angkot yang sudah menunggunya.


"Heh! Pokoknya Alicia pulang bareng gue! Titik!!!!" Kata arka.


Tanpa mereka sadari Alicia sudah naik angkot terlebih dahulu sebelum pertengkaran mereka berakhir.


sebelum benar-benar melangkahkan kaki ke dalam angkot, Alicia sempat berbalik badan dan melihat Erlan dan Arka masih sibuk bertengkar seperti anak kecil yang memperebutkan permen. Alicia hanya menarik nafas menanggapi hal itu.


Arka melihat sekitarnya dan menyadari Alicia sudah tidak ada.


"Lho.. Alicia mana?"


Tanya Arka yang kebingungan.


Erlan mengangkat sebelah bibirnya sambil menjawab pertanyaan Arka.


"Heh..! Makan tu Alicia!"


Erlan pergi setelah berkata demikian. Sedangkan Arka masih berdiri di dekat gerbang sambil menikmati ke kesalan yang menderu di dadanya.


"Ahhh!! Ini semua gara-gara Erlan! "


Teriak Arka kesal sambil menendang baru yang ada di dekat kakinya.


***


"Kenapa sih non, senyum-senyum sendiri?"


Tanya bi Minah saat memperhatikan senyum Alicia yang terus mengembang di wajah cantiknya.


"Nggak kenapa-napa kok bi"


"Ah! Masa? Kalo nggak ada apa-apa kok non senyum-senyum begitu? Hm.. Bibik tau ni, pasti non udah punya pacar ya?"


"Ah! Bibik.. Jangan ngaco deh, Alicia belum punya pacar kok"


Tok..! Tok..! Tok..!


Tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu. Alicia segera berdiri dari duduknya dan pergi menuju pintu depan arah ketukkan pintu.


"Arka? Lo kok bisa tau rumah gue? Tau dari mana?"


Tanya Alicia pada Arka saat mengetahui tamunya adalah teman sekelas nya.


"Lu lupa? gue kan pernah nganterin lu pulang waktu habis dari air terjun"


"Oh.. Iya, lupa. Ya udah ayo masuk"


Arka seketika di buat takjub dengan kemegahan rumah Alicia yang sangat mewah bak istana kerajaan. Di ruang utama terdapat lampu gantung yang begitu besar dan mewah, selain itu terdapat pula lukisan-lukisan karya seniman ternama dunia yang terpajang di ruang tamunya.


Saat mata Arka melempar pandang ke kanan, terdapat kebun TOGA yang tampak hijau dan asri. Wah! Ini rumah yang sangat megah.


"Al.. Rumah lo besar juga ya. Mewah lagi" Kata Arka sambil terus mengamati rumah itu.


"Hahah.. Ini bukan rumah gue, tapi rumah bokap" Jawab Alicia merendah.


"Ah elu, nantinya kan bakalan jadi rumah lu juga"


Mereka berjalan menuju ruang tamu. Alicia mempersilahkan Arka duduk sofa setelah mereka sampai.


"Silahkan duduk, oh ya.. Lo mau minum apa?" tanya Alicia.


"Apa aja yang penting dingin"


"Jus mau?"


"Boleh banget"


Sambil menunggu jus nya datang Arka pun mengobrol dengan Alicia.


"Al.. Malam ini lo ada acara gak?" Tanya Arka basa-basi.


"Hah?? Nggak tuh, emang kenapa?"


"Gue pengen ngajak lo jalan-jalan nih"


"Kemana??"


"Rahasia dong..."


"Hm.. Boleh aja sih, tapi jangan pulang malam -malam ya.."


"Oke"


Setelah memastikan kalau Alicia bisa di ajak jalan malam ini, Arka pun pulang untuk mempersiapkan dirinya.


Tak lupa pula Arka meminta nomor telepon Alicia agar mudah di kabari.


"Oke, gue balik ya, jangan lupa nanti malam dandan yang cantik" Kata Arka.


"Iya, sampai nanti ya"


Arka buru-buru pulang mengendarai motor sport nya itu, ia benar-benar sudah tidak sabar menanti malam tiba untuk kencan pertama nya.


Ya! Menurut Arka ini kencan pertama.