
Untungnya, hari ini seluruh siswa di pulangkan lebih awal karena guru rapat. Jadi Alicia tidak terlalu merepotkan Arka lebih lama lagi.
"Al, Besok gue jemput ya" Kata Arka sesaat setelah ia mengantar Alicia ke rumahnya.
"Hm... Gak perlu Ar, gue bisa nyewa taksi kok, atau kalo nggak naik angkot juga bisa" Tolak Alicia.
"Eh.. Jangan lah. Tangan lo kan masih sakit, jadi gak papa ya kalo gue jemput? Kan biar lebih aman, "
" Ya udah deh boleh. Tapi jangan telat ya, lo kan berangkat sekolahnya sering telat tuh, "
"Iya, ya udah kalo gitu gue balik ya"
"Iya, Hati-hati di jalan ya"
***
Alicia kembali termenung di kamarnya sambil menatap keluar jendela. Hari masih siang, Alicia merasa bosan di rumah.
Tak lama dalam renungan nya, Alicia teringat akan nomor HP yang di berikan Erlan padanya kemarin.
Hah! Tebakan Erlan benar, ia kangen pada Erlan. Untuk menghilangkan rasa kangennya itu, Alicia berniat untuk menelpon Erlan, tapi dengan kondisi tangannya yang sedang terluka membuat Alicia kesulitan untuk menekan nomor pada telpon genggamnya.
"Ah.. Dari pada susah-susah nelpon Erlan, mendingan gue samperin aja dia ke rumahnya"
Gumam Alicia.
Alicia pun bergegas mencari taksi untuk mengantarkannya ke rumah Erlan, maklum kan pak Budi belum pulang, dia ikut bersama papi nya Alicia ke Semarang.
***
Setelah lama di perjalanan, akhirnya Alicia tiba juga di tempat yang di tuju, rumah Erlan.
Butuh waktu sekitar 15 sampai 20 menit untuk sampai di alamat rumah Erlan.
Alicia turun dari mobil dan bergegas menghampiri gerbang rumah Erlan. Alicia tak menyangka, ternyata Erlan anak orang berada. Gerbang rumahnya saja megah dan begitu tinggi dengan warna Emas yang begitu mencolok membuat nya semakin tampak mewah.
"Permisi! "
Kata Alicia sedikit berteriak karena tak sanggup mengetuk Gerbang, tangannya masih sangat lemah karena terjepit tutup piano.
"Ya? Cari siapa ya?"
Tanya seorang laki-laki paruh baya lewat lubang kecil di Gerbang rumah Erlan. Sepertinya dia satpam atau semacamnya yang bertugas menjaga rumah Erlan.
"Apa benar ini rumah Erlan Wirapratama?"
Tanya Alicia dengan wajah polosnya.
"Iya benar. Ada apa ya?"
"eum... Saya teman sekolahnya Erlan, saya mau ketemu sama dia. Erlan nya ada gak?" Tanya Alicia ragu-ragu.
"Oh.. Mas Erlan. Ada kok, mari masuk"
Pak satpam itu lalu membukakan gerbang untuk Alicia masuk. Dengan malu-malu Alicia melangkahkan kakinya dan masuk ke area pekarangan rumah Erlan.
Pak satpam membawanya menuju pintu utama rumah Erlan. Setelah sampai tugas mengantar Alicia di alihkan pada asisten rumah tangga yang berpakaian serba putih.
Sembari berjalan di dampingi sang ART, Alicia melirik sudut rumah Erlan dengan seksama. Rumah itu sangat megah dan mewah, di saat Alicia baru memasuki ruang tamu saja, ia sudah melihat patung kayu berbentuk singa yang sangat indah, ketika Alicia melirik ke arah kanan, ia melihat sebuah perpustakaan mini dan terdapat banyak buku, tak hanya itu sofa yang terpampang di ruang tamu pun terbuat dari kulit asli, Alicia tak tau itu terbuat dari kulit apa, yang jelas ia tau benar itu kulit asli, sebab dulu ia pernah punya sofa seperti itu saat ibunya masih hidup.
"Non langsung aja ke sana, mas Erlan nya lagi latihan Taekwondo di dekat kolam renang"
Kata si ART itu sambil menunjukkan jalan bagi Alicia menemukan Erlan.
"Oh iya. Makasih ya mbak"
Ucap Alicia lembut.
Dengan perlahan Alicia berjalan ke arah kolam renang yang tak jauh dari ruang keluarga untuk menemui Erlan. Alicia membuka pintu kaca yang membatasi antara ruang keluarga dan Ruang outdoor kolam renang.
Benar saja, Erlan memang sedang latihan Taekwondo di sana. Sambil memakai celana pendek dan baju kaos, Erlan tampak sibuk melayangkan pukulan ke sasak tinju yang tergantung.
"Hm.. Pantesan aja sekali tonjok Rudi langsung KO, Erlan jago Taekwondo rupanya"
Gumam Alicia pelan saat ia berdiri tepat di belakang Erlan tanpa sepengetahuan nya.
Erlan kelihatan sedang sangat serius berlatih. Sampai Alicia tak berani mengganggunya. Beberapa menit berlalu hanya ia lewati sambil memandangi tubuh bugar Erlan yang penuh keringat yang membasahi tubuhnya.
Alicia terus memperhatikan Erlan tanpa berkedip. Mungkin bisa di bilang kalau Alicia terpesona melihat otot-otot Erlan yang terlihat kekar.
Pada saat yang bersamaan, Erlan berhenti memukul sasak tinju, mungkin ia kelelahan. Nafasnya terengah-engah, dadanya naik turun, terlihat sekali kalau Erlan lelah.
Alicia berjalan mendekati Erlan. Ia menepuk pelan pundak Erlan yang penuh keringat itu.
Tapi, mungkin karena terlalu fokus berlatih Taekwondo, Erlan jadi mengira kalau Alicia adalah musuh. Hingga dengan cepat Erlan menggenggam tangan Alicia yang ada di pundaknya dan hendak membanting Alicia seperti ingin di Smakedown.
Alicia yang kaget dengan perlakuan Erlan pun langsung memeluk leher Erlan dengan tangannya yang lain, ya walaupun terasa sakit, tapi Alicia berusaha memeluk leher Erlan, dari pada ia jatuh? Pikir Alicia.
Hah? Erlan terkejut ternyata orang yang hendak ia banting adalah Alicia. Erlan mengetahuinya setelah ia berbalik badan dan melihat wajah Alicia yang ketakutan sambil memeluknya.
"Alicia?" Kata Erlan kaget.
Alicia tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menahan sakit pada jari-jemarinya yang masih di perban.
"Tangan lo kenapa? Kok di perban gini?"
Tanya Erlan ketika melihat tangan Alicia yang penuh perban.
Alicia melepaskan pelukannya. Erlan kembali memperhatikan tangan Alicia, Erlan menggenggam tangan Alicia sambil memandang wajah Alicia dengan penuh tanda tanya.
"Ini kenapa?! Kok bisa gini sih?"
Kembali Erlan menayangkan hal yang sama pada Alicia karena belum mendapatkan jawaban.
"eum.. Gak papa kok. Ini cuma kejepit pintu aja" Jawab Alicia dusta.
Mata Erlan menyipit tak percaya dengan apa yang Alicia katakan. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan gadis itu.
"Kejepit pintu? Masa sih?" Tanya Erlan tak percaya. Matanya menatap Alicia dengan penuh selidik hingga membuat Alicia gugup dan salah tingkah.
"I—iya, Tadi gue kejepit pintu di sekolah" Jawab Alicia gugup.
Jelas saja Alicia gugup. Erlan terus menatapnya intens dengan tatapan tak biasa. Mata Erlan kembali melirik tangan Alicia yang masih di perban. Tangan itu terlihat tak baik. perbannya juga melihatkan ada sedikit bercak darah. Pasti ada yang tidak beres.
"Gak. Gue gak percaya. Ini pasti bukan karena kejepit pintu kan? Ini pasti karena hal lain"
"Beneran kok. Ini kejepit pintu"
"Hah? Masa kejepit pintu sampe sepuluh jari gini. Lo ngapain mainin pintu? Lagian Arka mana? Kenapa di gak jagain elu? Seharusnya Arka jagain elu dong. Kalo udah kaya gini siapa coba yang rugi? Elu sendiri kan?"
Erlan mulai menceramahi Alicia dan membuatnya tak nyaman dengan hal itu.
"Aduh.. Udah deh, jangan lebay! Gue gak papa kok. Ini cuma luka kecil aja" Bantah Alicia pada ceramah Erlan.
Kenapa malah Alicia yang di marahi? Tangannya ini sedang terluka. Bukannya di perhatikan, malah di ceramahi seperti itu. Alicia hanya merengut kesal.
Erlan memegang kedua belah bahu Alicia sambil menatapnya. Mata Alicia seperti hendak menangis. Mungkin tangannya sakit hingga ia terlihat menahan tangis. Erlan menghela nafas dan kemudian bertanya.
"udah di periksa ke dokter?"
Alicia menunduk. sambil menggelengkan kepalanya,Ia menjawab "Belum" ucapnya lirih.
"Ayok kita periksa tangan lo ke dokter"
"Gak perlu"
Meski sudah menolak, Erlan tetap menarik tangan Alicia untuk pergi ke rumah sakit agar dapat memeriksakan tangannya ke dokter.
"Aduh! Sakit..! Pelan-pelan dong!"
Rengek Alicia saat Erlan menarik tangannya yang sakit. Mungkin kena luka Alicia, jadi agak sakit.
***
"Tangan Alicia gak papa kok, cuma luka kecil, tapi untuk beberapa hari ini jangan di pakai buat kegiatan yang berat dulu ya, supaya cepat sembuh"
Kata dokter setelah memeriksa keadaan tangan Alicia. Alicia dan Erlan mengangguk pelan pertanda mengerti.
Sambil menunggu Erlan membeli obat untuk Alicia, ia duduk di kursi panjang di salah satu koridor rumah sakit. Hari itu rumah sakit tampak sangat ramai, banyak orang yang lalu-lalang ke sana-kemari.
Untungnya tak lama kemudian Erlan datang sambil membawa plastik berisi obat Alicia.
"Nih obatnya, jangan lupa di minum." Kata Erlan sambil menyerahkan kantung plastik berwarna merah berisi obat.
"Iya, makasih ya"
"Ya udah ayo pulang. Biar gue anter"
'Niatnya sih mau main ke rumah Erlan, eh malah di antar ke rumah sakit sama Erlan. Pake acara di anterin pulang segala lagi, ini sih namanya bukan main, tapi minta di anter berobat'.
Pikir Alicia.
Erlan berjalan mendahului Alicia. Ada sedikit gurat senyum di bibir tebalnya. Erlan merasa Alicia menutupi sesuatu darinya. Logika saja, Mana mungkin hanya karena terjepit pintu, lukanya sampai seperti itu. Rasanya tidak masuk akal.
Erlan melirik ke samping kanannya dimana ada Alicia yang berjalan di sampingnya itu. Ada secuil rasa iba di batin Erlan kepada Alicia. Gadis itu tak tau apa-apa, Tidak pantas kalau dia menerima perlakuan kasar dari Rachel. Jika memang benar dugaannya, kalau Rachel yang telah melukai tangan Alicia.Erlan tak kan tinggal diam. Alicia hanya gadis polos yang tak tau apa-apa.
Alicia ikut melirik Erlan, karena malu Erlan akhirnya menarik pandangannya ke arah depan.
"kenapa Lan?" Tanya Alicia.
"gak papa" jawab Erlan santai.
***
Akhirnya mama Arka menyuruh Arka untuk berangkat sekolah dengan mobilnya.
Awalnya Arka menolak, tapi kalau tidak pakai mobil Alicia pasti kehujanan dan akhirnya Arka setuju dengan usul mama nya itu.
"Arka... Ini mobil siapa?"
Tanya Alicia ketika melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil nyokap gue Al. Sekarang kan lagi ujan, jadi nyokap nyuruh gue buat bawa mobil ke sekolah, buar gak kehujanan katanya."
"Oh.. Gitu"
***
Setelah sampai di sekolah dan memarkirkan mobilnya, dengan sigap Arka memayungi Alicia begitu keluar dari mobil sampai mereka masuk ke gedung sekolah.
Alicia merasa di perlakukan istimewa oleh Arka, pandangannya tak berpaling dari wajah Arka. Alicia baru sadar, ternyata kalau di lihat dari dekat Arka lumayan ganteng juga ya. Pikirnya.
Tak jauh beda dengan Alicia, Arka juga sesekali melempar pandang pada Alicia, bibir Alicia tampak merah alami, apalagi di tengah guyuran hujan pagi membuat Alicia semakin cantik.
"Cie..cie... Arka udah bisa jalan bareng bidadari sekolah nih..."
Ejek salah satu siswa yang juga teman Arka.
Arka hanya tersenyum malu sambil terus memayungi Alicia.
***
"Gimana tangan lo? Udah mendingan belum?"
Tanya Arka saat perjalanan menuju kelas mereka.
"Udah kok. Kebetulan kemaren tangan gue udah di periksa ke dokter"
"Lo ke dokter sama siapa?"
"Sama Er—" Alicia tak melanjutkan kalimatnya.
"Sama Erlan?"
Tanya Arka yakin.
"I–iya Ar, gue di anter sama Erlan" Ujar Alicia sambil tertunduk.
Alicia takut Arka marah padanya karena masih mau berhubungan dengan Erlan.
"Kok lu masih mau sih deket sama Erlan?! Al, Lu harus tau kalau Erlan itu gak baik buat lu. Dia cuma bisa bikin lu kena masalah doang! Lagian semua yang terjadi sama elu itu kan gara-gara Erlan, ngapain sih lu masih mau ketemu sama Erlan?!!"
Komentar Arka ketus sambil memasang raut wajah tak senang.
Alicia tertunduk takut melihat Arka yang kian marah padanya. Ini pertama kali nya ia di marahi habis-habisan oleh Arka. Selama ini Arka belum pernah melakukan hal ini padanya, hingga ia kaget dan ketakutan.
Melihat Alicia ketakutan, Arka langsung memeluk erat tubuh Alicia dan di tarik ke pelukannya.
Alicia tak menolak pelukan itu, ia menikmatinya. Alicia juga membalas pelukan Arka sambil memeluk Arka dengan erat.
***
Siangnya, hujan kembali turun dengan derasnya. Membuat halaman sekolah basah terkena hujan. Biasanya di jam istirahat begini, selalu saja ada siswa yang bermain di lapangan itu.
Terutama Erlan. Alicia sering melihat Erlan dari jendela kelasnya yang ada di lantai dua, Erlan sering memainkan bola basket, dan Alicia selalu memperhatikan nya.
Tapi sudah dua hari ini, Erlan tak masuk sekolah karena di skors, jadi pandangan Alicia kosong. Tak ada Erlan yang biasa ia lihat di lapangan.
JEEEDDDEEERRR!!!!!
Suara gemuruh kuat mengagetkan Alicia dan langsung menutup telinganya dengan tangan yang masih di perban itu.
Suasana kelas jadi sunyi, hanya terdengar bunyi tetesan air hujan dan gemuruh.
Arka duduk di bangku kosong di samping Alicia. Arka tau Alicia ketakutan, makanya Arka merangkul tubuh Alicia sambil mengusapnya pelan.
"Arka" Gumam Alicia pelan yang hanya dapat di dengar oleh Arka.
"Lo gak perlu takut ya, ada gue kok"
Alicia menyandarkan kepalanya di bahu Alicia. Begitu nyaman dan tenang. Alicia tak merasakan ketakutan apapun, bahkan saat ada suara gemuruh besar pun, ia tak takut lagi.
Ya sepertinya Arka memang sudah benar-benar memberi kenyamanan pada Alicia.
***
Erlan menatap ke luar jendela kamarnya. Malam ini hujan masih terus terus deras mengguyur kota jakarta. Pikirannya kembali melayang mengingat Alicia.
Entah mengapa, gadis itu selalu ada di bayangan Erlan. Erlan sendiri bingung dengan apa yang ada di pikirannya, tapi ia tak bisa mengendalikan pikiran itu, Erlan malah menikmatinya.
"Gue kenapa sih? kok mikirin Alicia mulu?" Gumam Erlan pelan.
***
Minggu pagi yang indah di sambut ceria oleh Alicia. Untungnya hujan sudah berhenti, jadi ia memutuskan untuk lari pagi di taman dekat komplek rumahnya. Taman itu tak terlalu jauh, hanya butuh waktu 25 menit saat berjalan kaki.
Alicia mengawali olahraga nya dengan pemanasan, setelah itu baru ia lari keliling taman.
Setelah lelah berlari selama tiga putaran taman, Alicia berhenti dan duduk di salah satu kursi taman.
"Erlan, Entah kenapa, selama lo gak sekolah kemaren .... Gue ngerasa kesepian. Kayaknya gue kangen deh sama lo, ya tepatnya kangen sama pertengkaran kecil kita"
Kata Alicia sambil memandang lurus ke depan.
"Serius lo kangen sama gue?"
Kata Erlan. Rupanya Erlan ada di belakang Alicia, dia sedang duduk di kursi yang membelakangi kursi Alicia menghadap ke arah yang berlawanan dengan Alicia.
"Erlan? Ngapain lo di sini?" Tanya Alicia heran.
"Heh! Ini kan tempat umum, jadi siapa aja boleh datang ke sini. Lagian lo ngapain coba di sini? Sendirian lagi" Tanya Erlan.
Cowok yang memakai baju biru dengan trening senada itu menatap Alicia dengan mata menyipit karena sinar matahari yang tembus langsung menerpa wajahnya.
Alicia memutar sedikit tubuhnya agar bisa menatap Erlan dengan jelas kemudian berkata.
"Ya gue habis lari lah..!"
"Apa? lari? Serius lo lari di sini?"
"Lho.. Emangnya kenapa? Gak boleh kalo gue lari disini?"
"Hm.. Boleh sih, tapi gue kok gak yakin ya kalo lo bisa lari"
Merasa di remehkan, Alicia pun menantang Erlan untuk lomba lari bersamanya. Mereka mengelilingi taman itu sampai salah satu di antara mereka ada yang menyerah.
"Udah lah, Lo nyerah aja"
Kata Erlan dengan pedenya.
"Gak! Gue gak akan nyerah"
Alicia mempercepat langkahnya dan berlari lebih jauh meninggalkan Erlan.
Mereka terus berlari tanpa henti. Raut wajah kelelahan sudah tampak di wajah Alicia. Keringat juga sudah mengalir banyak.
Tak jauh berbeda, Erlan juga mengeluarkan keringat yang cukup banyak. Akhirnya Erlan memutuskan untuk menyerah dan memberikan kemenangan pada Alicia.
"Tuh kan, apa gue bilang? Lo gue pasti menang" Kata Alicia puas.
"Iya deh, gue ngaku kalah"
Kata Erlan sambil mengelap keringat yang membasahi keningnya.
Alicia duduk di samping Erlan. Ia memperhatikan laki-laki itu dengan seksama. Luar biasa! Erlan terlihat semakin gagah saat keringatan. Alicia jadi makin kagum padanya.
"Gimana tangan lo? Udah membaik kan?"
Tanya Erlan.
"Udah kok. Perbannya juga udah bisa di buka"
Jawab Alicia sambil menunjukkan tangannya pada Erlan.
Erlan menggenggam tangan Alicia sambil memperhatikan luka yang baru sembuh itu. Genggaman tangan Erlan membuat jantung Alicia berdegup kencang. Hingga keringat dingin mulai membasahi pipinya.
"Aduh.! Jantung gue kenapa nih? Kok deg-degan gini sih? Aduh! Kalo kedengeran sama Erlan, bisa ****** nih"
Kata Alicia dalam hati.
"Al.. Kita pulang yuk! Mendung nih.. Kayaknya mau turun hujan lagi"
Ajak Erlan.
"Hm... Iya."
Alicia manggut-manggut. Erlan mengantarnya pulang dengan mengendarai motor sport nya.
Dari kejauhan Rahcel memandang ke arah Alicia dengan sorot mata tajam. Terlihat amarah yang membara di wajahnya, tentu saja amarah itu tertuju pada Alicia. Tangannya mengepal, tatapan matanya semakin tajam. Sepertinya ia memang sudah benar-benar benci pada Alicia.
"Dasar cewek kegatelan!! Masih belum kapok juga lo deketin Erlan?! Liat aja apa yang bakalan gue lakukan sama lo, dan bikin lo gak betah sekolah"
Ucap Rahcel dengan angkuhnya.