How Can I Not Love You?

How Can I Not Love You?
10-Ada Apa Dengan Alicia?



Seperti kata Erlan yang memintanya untuk datang kerumahnya, Alicia pun memenuhi permintaan Erlan. Pada minggu pagi Alicia datang ke rumah Erlan.


Seperti biasa, Pak Security selalu mengantarkannya sampai ke pintu utama, dan di lanjutkan oleh asisten rumah Erlan.


"Pagi om. Erlan nya ada om?" Tanya Alicia pada pak Adi, papa Erlan.


Ya, sejak mengetahui kalau kedua orang tua mereka adalah partner bisnis, Alicia jadi lebih dekat dengan pak Adi.


"Eh, Alicia. Erlan ada kok. Itu dia lagi berenang di kolam. Kamu samperin aja langsung ya" Jawab pak Adi dengan ramah.


Alicia mengangguk dan berjalan menuju ke kolam renang. Ia melewati ruang keluarga. Dan seperti biasa, Alicia selalu di buat takjub dengan rumah Erlan yang mewah.


Alicia membuka pintu kaca menuju ruang outdoor. Dari dalam ia melihat Erlan sedang berenang dengan lincah nya.


"Erlan!" Panggil Alicia.


Membuat Erlan yang sedang membelakangi nya langsung berbalik badan.


"Alicia? Ngapain lu kesini?"  Tanya Erlan heran.


"Yee.. Kan kemarin elu yang nyuruh gue datang ke rumah lu. Ih gimana sih?!" Alicia memonyongkan bibirnya sambil menghentakkan kaki.


Erlan berusaha mengingat kalau memang ia menyuruh Alicia datang ke rumahnya. Ia berpikir sambil meletakkan jari telunjuk di dagu nya.


"Oh, Iya gue inget kok. Ya udah tunggu bentar ya Gue mau berenang dulu"


"Cepetan!"


Alicia duduk di kursi rotan yang ada di pinggir kolam renang.


Cukup lama juga Alicia menunggu. Ia main hp, berjalan mondar-mandir, main air sampai siram-siraman dengan Erlan dan sampai bosan menunggu.


"Erlan! Udah dong berenang nya, Gue mau sampe kapan nungguin lu" Rengek Alicia sambil mengacak rambutnya.


"Iya iya, "


Erlan akhirnya keluar dari kolam renang. Alicia langsung berdiri dari duduknya.


Perlahan Erlan keluar dari air. Saat itu Erlan tidak pakai baju, kan dia habis berenang, jadi ia hanya pakai celana pendek.


Lagi-lagi Alicia terpukau kala ia melihat otot-otot kekar Erlan yang tak tertutup pakaian itu. Dadanya yang bidang, lengan nya yang berotot, serta perutnya yang tampak kotak-kotak membuat Alicia terpesona. Perlahan Erlan berjalan ke arahnya.


'Ya ampun..!!! Itu badannya kekar banget! Gila!!' batin Alicia.


Badan Erlan yang sixpack membuat Alicia benar-benar terpesona. Erlan mengusap kepalanya dan mengibas-ngibaskan rambutnya hingga menciprati Alicia yang berdiri di depannya. Alicia tak bergeming.


"Ayo masuk!"  Ajak Erlan.


Alicia masih tak bergeming. Ia masih terpesona dengan Erlan yang berdiri tepat di depannya.


"Hei! Ayo masuk! Jangan bengong.. Ntar kesambet lho" Erlan menjentikkan jarinya di depan Alicia.


"Hah? Iya ayo masuk"


***


Erlan naik ke lantai dua rumahnya untuk ganti baju. Sedangkan Alicia menunggu di ruang keluarga bersama papa Erlan yang masih berada di sana.


"Alicia, Tumben kamu main ke sini. Ada keperluan apa?" Tanya pak Adi.


Pria yang memakai baju kaos berwarna kuning itu duduk berhadapan dengan Alicia. Sambil meletakkan teh hangatnya, ia melihat Alicia yang tampak canggung dengan situasi sekarang.


Alicia yang canggung, lantas segera menjawab.


"eum... Lagi pengen main aja Om, Alicia bosen di rumah terus" Jawab Alicia sambil tersenyum canggung.


"Oh iya, hari ini weekend ya. Pasti kamu mau jalan sama Erlan ya?"


"Ah.. Nggak tau juga. Gimana Erlan nya aja"


Suasana kian mencair. Alicia sudah mulai terbiasa dengan papa Erlan. Mereka mengobrol banyak saat Erlan masih di kamarnya. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari cerita Erlan yang suka makan telor ceplok pakai kecap sampai kebiasaan Erlan yang suka mengompol di celana saat ia masih kecil.


Alicia tertawa saat mendengar itu, bahkan tawanya sampai terdengar ke kamar Erlan.


"Papah, Alicia. Lagi ngetawain apa sih? Kok suaranya keras banget sampe kedengeran ke kamar, "


Tanya Erlan heran saat ia menuruni tangga. Alicia langsung diam, takut Erlan marah.


"Erlan, Kamu ngapain aja kok lama banget? Kasihan nih Alicia nungguin kamu kelamaan disini"  Kata papa Erlan mengalihkan pembicaraan.


Erlan duduk di samping papa nya, berhadapan dengan Alicia. Seperti biasa, Erlan selalu menatap Alicia dengan tatapan maut yang membuat Alicia salah tingkah. Tak lama setelah itu pak Adi pergi ke kamarnya meninggalkan dua sejoli itu berdua di ruang keluarga.


"Papah tinggal dulu yah. Kalian ngobrol aja berdua" Kata papa Erlan sambil menepuk pundak Erlan.


Alicia mengangguk, Erlan juga mengngguk.


Alicia kembali memandang Erlan. Ia kembali teringat cerita papa Erlan tentang kebiasaan Erlan yang suka mengompol.


'Hehe, Ternyata seorang Erlan suka mengompol juga. Melihat badannya yang super kekar tadi, sangat berbanding terbalik dengan kebiasaannya' batin Alicia terkekeh geli.


Seketika ia terlihat cengengesan menahan tawa di depan Erlan yang terus menatapnya.


"Kenapa lu ketawa? Ada yang lucu?"  Tanya Erlan keheranan.


Alicia menggeleng. Sebisa mungkin Alicia tak meledakkan tawanya di depan sang empu. Jika itu sampai terjadi, Alicia tak bisa membayangkan nasibnya setelah pulang dari rumah mewah itu akan jadi rempeyek.


"Lu kemarin nyuruh gue ke sini ada apa?" Tanya Alicia.


"Oh iya. Tunggu sebentar!"


Erlan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Alicia hanya mengernyitkan dahi melihat itu. Tak lama kemudian Erlan kembali sambil membawa beberapa buku di tangannya.


Bbrrukk.!!


Alicia terperanjat saat Erlan menaruh buku di depannya sambil agak di banting.


"Nih!" Kata Erlan.


Alicia memperhatikan buku itu. Ia membulak-balikkan buku itu satu persatu. Buku matematika.


"Apaan nih?" Tanya Alicia menatap Erlan.


"Itu buku" Jawab Erlan singkat sambil kembali duduk di kursi sofa.


"Iya gue tau ini buku. Maksud gue kenapa lu ngasih buku ini ke gue?"


"Ya biar lu belajar lah. Biar lu gak bolos lagi gitu"


Alicia menghela nafas sambil memutar bola matanya.


'Tau gini gue gak akan dateng' batin Alicia kesal.


"Kenapa? Lu masih males belajar matematika?"  Tanya Erlan dengan wajah datar.


"Ya. Lu kan tau gue gak bisa. Kenapa masih nanya?"


Erlan pindah posisi duduk ke samping Alicia. Erlan merangkul pundak Alicia dan menatap mata nya.


"Lu tenang aja, gue ajarin"


Alicia hanya melongo melihat Erlan duduk di sampingnya. Ia tak bereaksi apa-apa. Jujur, Alicia bingung harus bereaksi bagaimana. Jika ia salah bicara, habislah riwayatnya.


Erlan mengambil salah satu buku dan memberikan sebuah soal pada Alicia.


"Nih! Kerjain" Suruh Erlan.


Alicia menggeleng sambil melipat tangannya di dada. Erlan meraih tangan Alicia dan meletakkannya di tangan Alicia.


"Kerjain dulu! Ini soal gampang kok"


Dengan berat hati Alicia mengerjakan soal dari Erlan. Setelah selesai ia berikan hasil jawabannya pada Erlan.


"Salah!" Kata Erlan datar.


"Hah?! Apa yang salah? Itu udah bener kok" Protes Alicia.


"Salah! Ulangi lagi"


Alicia kembali mengulangi jawabannya.


"Salah!" Kata Erlan setelah melihat jawaban Alicia.


Alicia mengulangi lagi sampai 4 kali dan tetap, hasilnya salah.


"Ini masih salah Alicia, Lu gimana sih? Sebenarnya lu belajar apa nggak?! Masa soal ginian aja lu gak bisa ngerjain sih?!"  Tanya Erlan kesal.


"Gak tau ah! Gue pusing, " Jawab Alicia santai.


Alicia menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Al, ayo dong belajar! Jangan males-malesan gini ah! Gimana kalo ujian nanti coba? Lu bisa apa?"


"Erlan. Gue emang payah dalam matematika. Gue gak bisa"


"Lu bisa. Pasti bisa. Makanya lu harus belajar dengan serius"


Alicia menarik nafas panjang. Ia pun mulai belajar dengan serius. Erlan juga mengajarnya dengan serius.


"Ini saya bawakan cemilan dan minuman dingin supaya belajarnya lebih semangat" Kata salah satu asisten rumah Erlan.


Alicia mengangguk. Kemudian kembali belajar. Alicia memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia mengangguk tanda mengerti.


Erlan senang dengan semangat Alicia dalam belajar. Alicia pun dapat menyelesaikan soal yang tadi tak mampu ia kerjakan. Erlan tersenyum simpul padanya. Dan membuat Alicia makin semangat.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Alicia gelagapan dan pamit pulang, rupanya ia sudah cukup lama di rumah Erlan.


"Lan, gue balik ya.. Makasih udah ngajarin gue" Pamit Alicia.


"Iya. Mau gue anterin gak?"


"Gak usah. Gue bisa naik taksi kok"


"Oke"


***


Arka berjalan di koridor sekolah saat jam istirahat, tentunya ia tak sendiri. Ada Celina di sampingnya.


"Woy! Tumben lu mau baca buku matematika. Biasanya kan lu males banget sama buku ini" Kata Arka mengejutkan Alicia yang sedang belajar di kursi koridor.


"Bukannya bagus ya, Kalo gue belajar, kan gue gak akan nyusahin lu lagi" Jawab Alicia santai.


Ya memang selama ini, Alicia selalu nyontek Arka kalau ada PR matematika. Tapi hanya PR matematika saja kok. Yang lainnya ia bisa kerjakan sendiri.


"Bagus kok. Gue seneng kalo lu mau belajar"  Ujar Celina sambil duduk di samping Alicia.


"Ya udah. Gue mau fokus belajar dengan tenang. Gue mau ke perpus dulu yah"


Alicia melangkah pergi menuju ke perpustakaan.


Arka hanya melongo.


"Kok tumben-tumbenan dia mau belajar?" Gumamnya.


"Lagi kesambet kali" Jawab Celina.


Arka menatap ke arah Celina. Kemudian merek tertawa bersama. Padahal tak ada yang lucu. Tapi hal itu lucu bagi mereka. Mereka terus tertawa lepas sambil sesekali menepuk bahu Arka atau Celina.


Alicia duduk di kursi yang ada di perpustakaan. Alicia sengaja memilih kursi yang berada di pojok perpustakaan, agar lebih konsentrasi.


Alicia membolak-balikan buku yang ada di tangannya, sesekali ia mengangguk karena paham, dan sesekali ia menggaruk kepalanya karena frustasi dengan materi yang tak Alicia pahami.


"Lu kenapa sih ngelakuin ini?"


Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depannya. Rahcel.


"Ngelakuin apa? Gue gak ngerti" Jawab Alicia polos.


"Heh! Gue tanya sekali lagi kenapa lu ngelakuin ini?! Kenapa lu pura-pura gak ngerti sama pelajaran matematika ini? Buat apa?! Buat caper sama Erlan? Hah?!!! Buat nyari muka sama dia? Supaya di kasihan sama lu dan mau ngajarin lu gitu?"  Tanya Rahcel sambil melotot ke arah Alicia.


"Lu tau dari mana soal ini?" Tanya Alicia sambil menahan sakit di lengannya akibat cengkraman Rahcel.


"Gak penting gue tau dari mana. Yang jelas lu udah keterlaluan! Lu caper kan sama Erlan?! Iya kan? Ngaku aja deh lu!!" Bentak Rachel.


Rachel benar-benar sudah marah pada Alicia. Gadis itu selalu saja mencari masalah dengannya. Hal ini membuat Rachel makin membenci nya. Rachel terus melotot menatap Alicia hingga gadis itu tampak ketakutan.


Ya, Rachel memang sangat galak. Terlebih lagi pada perempuan yang sudah dengan berani mendekati Erlan. Kegalakannya akan bertambah dua kali lipat. Bahkan Alicia sampai tak berani menatap Rachel saking takutnya.


"Ng—nggak Hel, lu salah paham. Gue gak caper sama Erlan. Gue emang gak paham aja sama pelajaran matematika ini" Balas Alicia dengan suara bergetar menahan rasa takut.


"Alah! Gak usah bo'ong lu sama gue! Gue tau lu ganjen sama Erlan. Dasar perempuan murahan! "


Alicia berusaha melepaskan cengkraman Rahcel yang sudah membuat nya sangat kesakitan.


"Rahcel, Lepasin gue"


"Oke! Gue akan lepasin lu, tapi lu juga harus lepas dari Erlan! Jangan pernah lu deketin Erlan lagi. Paham??!!!"


Rahcel mendorong Alicia hingga ia terduduk kembali di kursinya, tapi karena posisi yang tidak pas, Alicia malah jatuh ke lantai.


Rahcel hanya tertawa sinis melihat Alicia jatuh lalu pergi dari perpustakaan itu.


Kenapa Rachel begitu membencinya? Apa salahnya? Alicia yang sudah tak tahan hanya bisa terdiam di posisinya.


Bulir-bulir air perlahan jatuh dan membasahi pipi chubby nya. Dengan kekesalan akibat peristiwa tadi, Alicia mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia bangkit dan membereskan buku-bukunya yang berserakan dan langsung pergi meninggalkan perpustakaan.


***


Selama proses belajar berlangsung Alicia hanya terdiam sambil sesekali memandang ke luar jendela yang mengarah ke lapangan basket.


Disana ia melihat Erlan sedang berolahraga. Mungkin ini jadwal kelas XI.MIPA.1 olahraga, kelasnya Erlan, saga dan Rahcel.


Sambil menahan rasa sesak di dadanya karena perkataan Rahcel tadi yang menyebutkan kalau dirinya caper pada Erlan dan juga perempuan ganjen. Alicia memandang ke arah Erlan yang sedang main basket.


Tampak sesekali Rahcel melotot ke arahnya, dan Alicia langsung melempar pandang ke arah lain.


"Alicia, Lu kenapa?" Tanya Celina yang heran melihat tingkah laku teman sebangkunya itu.


Alicia hanya menggeleng pelan.


"Al, ke kantin yuk" Ajak Arka saat jam istirahat tiba.


"Nggak ah! Gue gak laper. Kalian duluan aja"


"Lu yakin?" Tanya Celina pula


Alicia mengangguk. Sepertinya kejadian di perpustakaan tadi membuat Alicia jadi irit bicara.


Arka dan Celina keluar kelas. Tak lupa pula Celina menggandeng tangan Arka sambil jalan beriringan menuju keluar kelas.


Alicia yang melihat itu hanya bisa mendengus kesal.


"Ih! Arka gimana sih?! Kok Malah ikutan keluar? Biasanya dia selalu nungguin gue. Celina juga pake acara gandeng tangan Arka segala lagi! Ih..! Bikin kesel aja"


Alicia menggerutu melihat Celina kian dekat dengan Arka. Entah mengapa Alicia merasa kesal bila mereka jalan berdua. Cemburu? Entah lah, Alicia tak tau.


***


Erlan membuka loker nya dan meletakkan baju olahraganya disana.


Tanpa sengaja ia melihat Alicia berjalan seorang diri sambil menekuk wajahnya.


Erlan menarik tangan Alicia dan bertanya.


"Heh! Kenapa muka lu kusut gitu?"


"Gak papa" Jawab Alicia singkat.


"Soal matematika dari gue udah di kerjain belum?"


"Belum"


"Kenapa?"


"Udah ah! Gue mau nyeri Arka dulu, ada urusan."


Kata Alicia sambil menepis tangan Erlan yang masih memegang pergelangan tangannya.


"Tu anak kenapa? Gak biasanya dia menghindar dari gue?" Erlan heran melihat tingkah laku Alicia sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


***


"Arka!" Panggil Celina saat di koridor saat jam pulang sekolah.


Arka pun menoleh kebelakang untuk melihat Celina. Alicia ada di belakang Celina.


"Gue boleh pulang bareng lu gak?" Tanya Celina ragu-ragu.


"Emang supir lu kemana?" Tanya Arka pula. Biasanya Celina pulang di jemput supirnya.


"Supir gue ada kok. Gue cuma lagi pengen pulang sama lu aja, tapi kalo lu gak mau juga gak papa kok"


Celina tersenyum pada Arka yang hanya memasang raut wajah datar. Gadis yang menyandang tas hitam itu tampak ragu untuk mengajak Arka pulang bersama.


Arka berpikir sejenak lalu kemudian ia menjawab.


"Ya mau lah. Masa sahabat sendiri mau nebeng gak boleh sih. Ya udah ayo pulang"


Hati Celina agak sedikit meringis mendengar kata 'sahabat' yang terlontar dari mulut Arka. Ternyata Arka masih sama. Masih belum menganggapnya ada. Walaupun begitu, Celina tetap senang dan menampakkan senyum manisnya.


Sebelum mereka kembali berjalan meninggalkan Alicia, ia cepat-cepat memanggil Arka, hingga mereka kembali berhenti dan menoleh ke arah Alicia.


"Arka!"


Mendengar namanya di sebut, Arka pun berbalik.


"kenapa Al? " tanya Arka.


"Gue boleh minjem buku catatan Bahasa Indonesia lu gak? Catatan gue gak lengkap soalnya"


"Oh.. Kalo gitu minjem catatan gue aja, catatan gue lengkap kok" Sambar Celina.


"Nah bener tu, mendingan lu minjem catatan Celina aja. Tulisan dia kan bagus" Kata Arka menyetujui usul Celina.


"Gak papa catatan Arka aja"


Alicia bersikeras meminjam catatan Arka dan menepis buku Celina yang di sodor kan padanya.


"Gak papa buku gue aja" Kekeh Celina.


"Gue maunya buku Arka! Sini buku lu"


Alicia mengambil paksa buku Arka dari tanganya.


'Ni anak kenapa sih? Kok hari ini dia aneh banget' batin Arka bertanya-tanya.


"Ya udah. Kalo gitu kita duluan ya" Pamit Arka.


Celina kembali menggandeng tangan Arka sambil berjalan ke luar gedung sekolah.


"Ih! Kok gue malah di tinggal sih?! Biasanya Arka nungguin gue. Sekarang malah main tinggal gitu aja" Alicia kesal.


Ia memonyongkan mulutnya sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai.


"Udah gak usah sedih. Lu pulang bareng gue aja"


Tiba-tiba saja seseorang merangkulnya dari belakang. Rudi.


"Gak usah. Gue bisa pulang sendiri kok" Alicia menepis rangkulan Rudi.


Alicia berjalan cepat meninggalkan Rudi. Tapi Rudi mengejarnya dan mensejajarkan diri berjalan di samping Alicia.


"Ayo lah! Gak usah malu-malu" Pujuk Rudi agar Alicia mau pulang bersamanya.


Alicia tetap menolak dan Rudi tetap membujuk Alicia. Sampai pada akhirnya Alicia melihat Arka sedang ada di dekat motornya di parkiran sedang memakaikan helm pada Celina.


Rasa panas langsung meraba di hati Alicia. Tanpa berfikir panjang Alicia langsung mau di antar pulang oleh Rudi.


"Ya udah gue mau pulang sama lu" Pinta Alicia tiba-tiba.


"Nah gitu dong! Kalo gitu gue ambil motor dulu yah"


Alicia mengangguk.


Arka hanya memperhatikan Alicia dari jauh.


"Ayo naik" Kata Rudi saat ia tiba di hadapan Alicia.


Alicia naik ke motor. Matanya tak henti-henti memandang ke arah Arka dan Celina yang juga memperhatikan dia dan Rudi.


Alicia memeluk erat pinggang Rudi. Tak lupa tatapan tajam ia layangkan pada Arka.


'Tu anak kenapa dah?! Kok makin aneh' batin Arka bingung.


'Apa dia cemburu lihat gue sama Arka?' Batin Celina ikut bertanda tanya.


***


Makan malam baru saja usai. Alicia sudah kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidur bermotif Rose kesayangannya.


Dering ponsel kembali menyadarkan Alicia yang baru saja hendak terlelap. Dengan segera Alicia melihat ponsel yang sedari tadi terus berdering.


Mata Alicia menyipit saat mengetahui si penelepon adalah Arka. Mau apa anak itu menelpon malam-malam begini? Meski masih kecewa dengan sikap Arka hari ini, Tapi Alicia masih senang karena Arka mau menelponnya. setidaknya Alicia merasa di butuhkan oleh laki-laki itu. Dengan malas Alicia menekan tombol hijau di layar ponselnya dan meletakkan ponsel itu ke telinga.


"Halo?" Ucap Arka di seberang telepon.


"Apaan?! " Balas Alicia ketus dan terkesan cuek. Sebenarnya ia sengaja melakukan itu, agar Arka lebih penasaran saja.


"Ih! Santai dong.. Jangan nge-gas" Balas Arka.


"Udah deh, jangan basa-basi, lu ada apaan nelpon gue malam-malam begini?" Tanya Alicia masih pura-pura cuek.


"Lu kenapa sih?!"


"Kenapa apanya?" Alicia tanya balik.


"Kenapa hari ini lu aneh banget? " Tanya Arka yang masih tak mengerti.


Arka benar-benar di buat bingung dengan sikap Alicia yang tiba-tiba cuek dan jutek ini. Tak biasanya gadis itu bersikap seperti ini. Apakah Arka ada salah? Atau gadis itu sedang PMS? Entahlah, pertanyaan itu hanya mutar-mutar di kepalanya saja.


Disisi lain, Alicia terkekeh kecil sambil berusaha menahan tawa agar tak di dengar oleh Arka yang masih menunggu di ujung telepon sana. Alicia senang bisa mengerjai Arka seperti ini. Rasanya menggelitik. Andai saja ia dapat melihat wajah Arka, pasti ia sudah tertawa lepas.


"gak kok. Gue biasa aja. Itu perasaan lu doang kali, " Balas Alicia pada akhirnya.


"Jangan bo'ong lu"


"Beneran. Udah ah! Kalo lu nelpon gue cuma mau nanyain itu mendingan gue matiin aja telponnya"


"Eh, jangan dong!"


"Kenapa? Aduh.. Gue itu sibuk mau nyelesain catatan bahasa Indonesia gue, "


Tanpa menunggu jawaban dari Arka, Alicia langsung menutup telponnya.


Setelah sambungan telpon terputus, barulah Alicia bisa meledakkan tawanya. Senang rasanya bisa membuat Arka gelisah dan khawatir seperti tadi. Alicia mendengar dengan jelas kebingungan Arka akan sikapnya hari ini.


Alicia menganggap, pembicaraan tadi adalah hal terkocak baginya.


"Busyet dah! Ni anak kenapa yak?! Gak biasanya dia cuek kaya gini. Biasanya seneng kalo gue telpon. Lah, ini malah cuek, pake nada kesel pula"


Gerutu Arka saat mendapati telponnya di tutup tiba-tiba oleh Alicia. Arka mengacak rambutnya dan merebahkan diri di tempat tidurnya.


Sementara bayang-bayang Alicia masih terlintas di pikiran Arka, dan ucapan cuek Alicia berhasil membuat Arka tak nyenyak tidur malam itu.