How Can I Not Love You?

How Can I Not Love You?
6-Alicia Yang Salah



Alicia memandangi wajah cantiknya di depan cermin besar di kamarnya. Malam ini ia akan pergi jalan bersama Arka.


Alicia sudah memilih beberapa baju yang akan ia kenakan untuk nanti malam. Tapi ia masih terlalu bingung harus memakai yang mana. Maklum, terlalu kebanyakan baju di lemarinya, membuat ia sulit memilih pakaian.


Setelah lama memilih, akhirnya pilihannya jatuh pada baju potongan lengan pendek berwarna merah yang akan di padukan dengan celana jeans hitam.


"Oke.. Gue udah siap nih"


Kata Alicia saat ia menuruni tangga datang menghampiri Arka yang sedang duduk di ruang tamunya.


Arka berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah Alicia. Wah! Alicia sangat cantik malam ini.


"Waw..!" Arka terlihat begitu terkesima dengan penampilan Alicia yang terlihat cantik malam ini.


Arka terus memperhatikan Alicia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sempurna. Alicia tak ada sedikit kecacatan sama sekali.


"Kenapa?" Tanya Alicia bingung saat Arka terus melihatnya dengan tatapan terpesona.


"Gak papa" Jawab Arka saat tersadar.


"Lo cantik banget malam ini"


Alicia kaget mendengar pujian itu keluar dari mulut Arka. Alicia langsung menatap Arka dengan wajah malu-malu.


"Lo tadi bilang gue cantik?" Tanya Alicia.


"Iya.. eum.. Maksud gue lo cantik kaya biasanya" Tugas Arka gugup.


"Ternyata lo gak beda dari anak-anak yang lain ya.. Suka gombal juga"


"Eh.. Enak aja, gue gak sama kaya anak-anak yang lain kali, gue itu spesial"


Ujar Arka dengan pede nya.


Setelah percakapan singkat itu mereka pun akhirnya pergi bersama ke suatu tempat yang belum di ketahui Alicia sebelumnya.


***


Tok..! Tok..! Tok..!


Erlan mendengar suara ketukkan pintu. Ia pun langsung membukakan pintu bagi tamu yang bertandang itu.


Ternyata mereka adalah Rahcel dan Saga, sahabat terdekat Erlan.


Ya, mereka memang sering datang ke rumah Erlan, biasanya mereka datang untuk belajar bersama atau hanya sekedar main-main saja.


"Kalo gue perhatiin, sekarang lo jadi lebih dekat ya sama si Alicia itu.."  Kata Saga membuka pembicaraan.


Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu rumah Erlan. Rachel duduk di sebelah Erlan, sedangkan Saya duduk berhadapan dengan Rachel dan Erlan.


"Apaan sih! Perasaan lo aja kali" Timpal Erlan yang terkesan cuek.


"Tapi kayaknya Saga bener deh, lo pasti ngerasain itu kan? Lo jadi lebih deket sama Alicia,"  Kata Rahcel pula.


Ada sekelumit rasa tak suka dalam nada bicara Rachel. Rachel melirik Saga yang juga melirik nya. mereka seperti sedang bicara hanya dengan tatapan mata. seperti menggunakan kode.


"Kalian kenapa sih?! Gue gak deket kok sama Alicia, kalian tenang aja gue gak akan deket sama dia"  Bantah Erlan.


Erlan meraih ponselnya yang berada di atas meja dengan kesal. Kedua temannya itu bicara seolah-olah Erlan dan Alicia pacaran saja. Padahal mereka sama sekali tidak sedekat itu.


"Ya.. Kita cuma takut aja kalo lo sampe nge langgar janji lo sendiri" Kata Saga sambil menikmati camilan yang ada di atas meja.


"Kalian tenang aja lah.. Gue gak akan ngelakuin itu, itu kan udah jadi prinsip gue dari dulu" Erlan mulai kesal.


Dengan lembut Rahuel menepuk pundak Erlan dan duduk lebih dekat dengan Erlan.


"Iya, gue percaya kok sama lu dan gue yakin lo gak akan nge langgar janji itu, oh ya, Om Adi mana ya? Kok dari tadi gak keliatan" Tanya Rachel sambil tersenyum hangat.


"Ada di atas"  Jawab Erlan singkat.


Sejujurnya, Erlan tak ingin memberikan janji palsu pada sahabatnya itu, mungkin ia akan melanggar janji itu.


Alicia, Satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hatinya, setelah sekian lama tak ada senyum yang menghiasi wajahnya, kini ia bisa kembali tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Alicia. Entah mengapa Erlan merasa kalau ia perlu menjaga Alicia dari Rahuel dan Saga. Ia tak bisa menjauhi Alicia begitu saja, sepertinya ia sudah mendapatkan kenyamanan di diri Alicia.


***


"Kenapa kita ke sini?"


Tanya Alicia sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan Arka, yaitu Air Terjun.


"Lagi pengen aja ke sini"


Mata Alicia melirik ke sana kemari memperhatikan setiap bagian di sekitar air terjun tersebut. Suasana air terjun tampak sangat berbeda saat malam hari, ada banyak lampu kerlap-kerlip yang menghiasi pepohonan di sekitar air terjun.


Bahkan tepat di samping salah satu pohon yang sangat rimbun terdapat ayunan yang di hiasi lampu kerlap-kerlip yang sangat indah.


Wah. Ini sungguh suasana yang sangat romantis, apa maksud Arka dengan semua ini? Hm.. Pikiran Alicia mencoba menerka-nerka apa yang akan di lakukan Arka selanjutnya? Apa jangan-jangan Arka mau menembaknya? Ah tidak! Alicia tidak siap untuk ini semua.


"Al, Kita ke sana yuk"


Ajak Arka pada Alicia sambil menunjuk ke arah ayunan di pinggir air terjun.


Suasana di dekat air terjun begitu sejuk dengan di temani gemercik air membuat suasana semakin sejuk dengan ketenangan yang menyerbak.


"Al.. Gue sering banget kesini"


"Ngapain?" Tanya Alicia heran.


"Ya, kalo gue lagi ada masalah pasti gue kesini, gue aduin semua masalah yang gue alami di tempat ini"


"Emangnya kalo lo ngadu di tempat ini, masalah lo bakal hilang?"


Arka terkekeh mendengar itu. Alicia ini selain cantik tapi juga punya sisi humoris juga. Tak salah kalau di sekolah banyak cowok yang mengincarnya, Dia gadis yang sempurna bukan?


"Ya nggak lah! Tapi kan se enggaknya gue jadi lega"


"Oh.. Tempat ini jadi kaya guru BP gitu ya?"


"Ya gitu deh.."


***


"Lan.. Kita balik ya, besok kita ke sini lagi"  Pamit Saga pada Erlan saat mereka hendak kembali pulang.


"Iya, sering-sering ke sini ya"


"Pasti dong! Lo juga harus inget sama janji yang udah lo buat itu ya, jangan di langgar!" Kata Rahuel mengingatkan.


"Iya, kalian hati-hati di jalan ya.. Terutama elu Rahcel, lu kan cewek"


"Hm.. Iya makasih udah perhatian sama gue, kalo gitu gue balik ya" Jawab Rachel sambil mengangguk pelan.


Erlan menatap Rachel dengan tatapan teduh. Rachel sangat menyukai tatapan itu. Itu membuat Rachel tenang dan nyaman. Erlan begitu menyayanginya, Rachel tau itu. Rachel juga menyayangi Erlan, Bahkan lebih dari sekedar sahabat.


Perlahan tangan Erlan merayap di pundak Rachel kemudian pindah ke pipi. Rachel bisa merasakan hangatnya belaian lembut seorang Erlan. Tangan besarnya mampu menutupi pipi Rachel yang tirus. Rachel sangat menyukai saat-saat seperti ini. Erlan Akan selalu jadi yang terbaik untuknya.


"Rahcel!! Ayo buruan, kalo nggak gue tinggal nih" 


Teriak Saga yang dari tadi sudang siap di atas motornya.


"Iya! Dah.. Gue balik" Pamit Rachel pada Erlan.


Tiba-tiba, Erlan menarik tangan Rahcel sebelum ia pergi dari hadapannya dan mencium kening nya.


Rahcel memejamkan matanya dan merasakan kehangatan dari kecupan yang di berikan Erlan padanya, walaupun hal itu sudah biasa di lakukan Erlan pada Rahuel, tapi tetap saja setiap kali Erlan melakukan itu, jantung Rahuel pasti selalu berdebar hebat hingga tak terkontrol.


"Lo pulang gih!! Saga udah nungguin tuh"


Rahcel mengangguk pelan.


***


"Alicia.." Kata Arka lembut.


"Ya?" Alicia menoleh.


"Gue boleh minta sesuatu gak?"Tanya Arka.


Saat ini mereka sedang duduk bersandar di sebuah pohon berukuran besar dan saling membelakangi satu sama lain. Sambil melihat ribuan bintang dan indahnya bulan, Arka tersenyum.


Alicia pun tersenyum sambil menjawab.


"Minta apa?" Kata Alicia lembut.


"Ceritain dong tentang diri lo"


"Bukannya lo udah tau ya semua tentang gue?"


"Siapa bilang? Gue belum tau banyak kali"


Alicia tersenyum, ia kemudian menceritakan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, mulai dari makanan kesukaannya, warna favorit nya, sampai hal-hal yang ia sukai.


Yang jelas malam itu mereka begitu sibuk menceritakan tentang diri mereka masing-masing. Hingga tidak ada satu hal kecil pun yang tidak mereka ketahui satu sama lain.


***


Hari itu Erlan di panggil ke ruang BP saat ia sedang ada di kantin bersama dengan Rahcel dan Saga.


Alicia yang melihat kejadian itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti Erlan.


"Ini surat SP buat kamu Erlan"


Kata pak guru BP sambil menyodorkan sepucuk surat. Erlan langsung membuka surat itu tanpa basa-basi.


Wajah Erlan perlahan menegang saat mengetahui isi surat itu.


"Apa? Saya di skors pak?" Tanya Erlan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dapati.


"Ya, karena kelakuan kamu kemarin, Rudi jadi masuk rumah sakit, dan dia tidak bisa masuk sekolah. Orang tuanya marah besar pada pihak sekolah, maka dari itu saya memutuskan untuk memberikan hukuman buat kamu berupa skors selama 2 hari"


Dengan tangan hampa Erlan keluar  dari ruang BP.


langkah gontai membawa Erlan berjalan keluar dan duduk di sebuah kursi di salah satu koridor tak jauh dari ruang BP itu.


Melihat Erlan tertunduk lesu, hati Alicia pun tergugah untuk menghampiri Erlan.


"Lo kenapa?"  Tanya Alicia.


Erlan tak menjawab. Ia hanya memberikan surat SP-nya kepada Alicia.


"Apa? Lo di skors?" Tanya Alicia kaget sesaat setelah membaca isi surat tersebut.


Ia menoleh ke arah Erlan yang duduk di sebelah kanannya dan melihat wajah lesu Erlan. Tidak. Ini bukan hal yang baik.


Erlan mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Alicia tadi. Erlan benar-benar tak mengira perbuatannya tempo hari akan berakibat seperti ini. Ia bahkan tak sanggup bicara karenanya.


"Ya ampun.. Ini pasti gara-gara gue ya? Karena lo berusaha buat ngebelain gue kemarin, makanya lo sekarang di skors" Sesal Alicia.


" Nggak Al, Ini bukan salah lo kok" Ucap Erlan sambil menoleh sedikit ke arah Alicia.


Setelah itu ia kembali tertunduk.


"Erlan, ini salah gue. Lo tenang aja, gue bakal bilang sama guru BP kalo lo gak salah, dan gue yakin lo gak jadi di skors"


Alicia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang BP. Namun belum jauh Alicia berjalan, Tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Erlan. Erlan bermaksud untuk melarang Alicia bicara pada guru BP. walhasil Alicia pun kembali duduk di samping Erlan.


"Jangan Al., lo gak perlu ngelakuin itu, ini emang salah gue. Gue gak papa kalo harus di skors" Kata Erlan memberi pengertian.


"Tapi—"


"Udah ya, gue mau ke kelas dulu"


Erlan pergi. Padahal pembicaraan mereka belum selesai, tepatnya bagi Alicia.


Melihat wajah Erlan yang tampak lesu membuat Alicia merasa sangat bersalah padanya. Hal ini tak sepatutnya di alami oleh Erlan, semua ini salahnya. Erlan tidak berhak di skors, yang seharusnya di skors itu dirinya, bukan Erlan.


Alicia melihat Pak guru BP keluar dari ruangannya dan langsung di hampiri oleh Alicia.


"Pak, saya mau bicara"  Kata Alicia to the point.


"Ya? Kamu mau bicara apa?"


"Ini soal Erlan pak"


"Kenapa dengan Erlan?"


"Pak, Erlan gak salah pak, Erlan gak seharusnya di skors, ini semua salah saya pak, bukan salah Erlan" Ucap Alicia yang memohon pada Guru BP.


Sang Guru BP menatapnya dengan tatapan kasihan. Mungkin ia kasihan karena Alicia memasang wajah memelasnya untuk menggaet hati Sang Guru.


"Maaf, tapi keputusan sudah di ambil langsung oleh pak kepala sekolah, jadi sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi"


"Tapi pak—"


"Maaf, saya sibuk. Saya permisi dulu ya"


Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, pak guru langsung pergi begitu saja meninggalkan Alicia.


***


"Arka..."  Kata Alicia lirih.


"Lo kenapa? Kok kusut banget muka lu? "


"Erlan di skors sama guru BP"


"Oh.. Lo sedih karena Erlan di skors?"


"Ya iya lah! Erlan di skors kan gara-gara gue, kan kemarin Erlan nonjok Rudi karena belain gue, jadi otomatis itu salah gue"


"Udah lah... Lo jangan nyalahin diri sendiri kaya gitu, Gak baik tau. Lagian Erlan kan gak masalah di skors. Dia gak nuntut elo kan?"


"Ya tapi tetap aja, gue merasa bersalah sama Erlan. Duh! Gue harus gimana nih.."


***


"Ini semua gara-gara Alicia!!"


Ucap Rahcel sambil menggebrak meja dan membuat Saga terkejut.


Rachel begitu emosi dan kesal saat mengetahui kalau Erlan akhirnya harus di skors karena masalah Rudi dan Alicia.


"Weh..! Santai dong! Jangan marah-marah gitu, kalo gue jantungan gimana?"  Protes Saga.


"Alicia udah bener-bener kelewatan Sag, gara-gara dia Erlan jadi di skors sama Guru BP!"


"Rahcel.. Lo gak perlu nyalahin Alicia, dia gak salah. Yang salah itu Rudi, lo jangan marah-marah kaya gini ah! Nanti kalo guru tiba-tiba datang dan marahin lo gimana?"  Kata Erlan yang berusaha menenangkan Rahcel.


"Erlan, lo kenapa sih masih bersikap baik sama Alicia? Selama ini lo gak pernah ngelakuin ini sama orang lain selain sama gue. Gue mulai curiga deh sama lo" 


Kata Rahuel sambil menatap Erlan dengan tajam.


"Curiga apaan?!" Tanya Erlan penasaran.


"Lo ada rasa ya sama Alicia?"


Tanya Saga tiba-tiba menyimbrung di percakapan Rahcel dan Erlan.


"Ya nggak lah! Kenapa lo mikir kaya gitu?"  Tanya Erlan masih dengan rasa penasaran nya.


"Ya karena sikap lo beda ke dia. Lo gak pernah kaya gini sebelumnya"  Protes Rahcel.


"Ah! Udah lah, kalian gak usah mikir yang aneh-aneh kaya gitu. Gue laper mau ke kantin"


Erlan pergi ke kantin sambil di ikuti Rahuel dan Saga di belakangnya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore hari. Itu berarti saatnya bagi para siswa untuk pulang.


Alicia dan Arka berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Arka di sana karena Alicia akan pulang di antar oleh Arka.


"Arka, gue nunggu di sini aja ya. Lo ambil motor lo sendiri aja sana"  Pinta Alicia dengan wajah kelelahan sehabis belajar penuh.


"Oke, lo tunggu sebentar ya"


Alicia menunggu Arka tepat didepan gedung sekolah. Ya seperti biasa, selalu saja ada siswa laki-laki yang melewatinya sambil menggoda Alicia. Mungkin awalnya Alicia merasa risih dengan semua itu, tapi lama-kelamaan ia pun mulai terbiasa.


Di tengah penantian nya menunggu Arka, datanglah Erlan dari belakang dengan menepuk pundak Alicia.


Alicia yang kaget langsung berpaling melihat Erlan.


"Erlan?"  Kata Alicia.


"Nih.."


Kata Erlan sambil memberikan secarik kertas yang di dalam ya tertulis nomor HP Erlan.


Alicia mengambil kertas itu.


"Maksud lu apa ngasih nomor ini ke gue?"  Tanya Alicia seakan tak mengerti.


Erlan sudah berjalan dan membelakangi Alicia pun kembali menoleh dan berkata.


"Selama dua hari ke depan kan gue gak masuk sekolah nih, jadi gue ngasih nomor gue ke elu supaya lu bisa hubungin gue. Ya siapa tau aja lu tiba-tiba kangen sama gue kan?"


Ucap Erlan dengan di sertai senyum kecutnya. Namun senyum itu bukan membuat Erlan tampak buruk, melainkan semakin terlihat tampan. Entah apa yang ada dalam diri Erlan, setiap tindakannya selalu tak mengurangi ketampananya.


"Ih! Kepedean banget sih. Emangnya lo tau dari mana kalo gue bakalan kangen? Sama lo?"


"Kita liat aja nanti. Pasti lo bakalan nelpon gue"


Setelah berkata demikian Erlan pun pergi bersama rombongannya, Rahcel dan Saga ke parkiran.


Sementara itu Alicia terus menatap punggung Erlan dari kejauhan sampai hilang tak terlihat matanya lagi.


Tak lama setelah itu Arka pun datang menghampiri Alicia dengan motornya.


"Yuk pulang"


"Ayuk!"


***


Alicia duduk termenung di ranjang tempat tidurnya sambil melihat-lihat nomor yang di berikan Erlan.


Setelah di perhatikan lebih teliti, ternyata ada alamat rumah Erlan yang ia tulis dengan huruf yang berukuran sangat kecil.


Alicia masih bingung kenapa Erlan memberikan alamatnya pada Alicia, dan apa maksudnya?


Seketika senyum manis merekah dibibir Alicia kala ia mengingat Erlan. Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu membayangkan wajah Erlan. Rasa yang berbeda ia dapati saat Erlan menepuk pelan pundaknya, sebuah desiran aneh Menghampiri hatinya.


"Non, makan malam dulu yuk! Bibi udah nyiapin makan malamnya"  Tiba-tiba Bi Minah memecah lamunannya.


"Iya bik"


***


Erlan berdiri di balkon kamarnya sambil memandang bulan purnama yang bersinar sangat terang malam itu. Wajahnya tampak kalut. Sambil memandang bulan Erlan bicara padanya.


"Bulan... Gue sayang sama dia"


Ucap Erlan singkat sambil terus memandang bulan.


Tanpa ia sadari, di sampingnya sudah berdiri seorang lelaki paru baya. Sambil menepuk pundak Erlan, ia berkata dengan lembut.


"Ngapain sih, malam-malam begini masih berdiri di balkon? Kamu lagi mikirin Rahcel ya?" Tanya Adi—Papa Erlan yang datang sambil menepuk pundak Erlan.


Erlan yang kaget langsung menoleh dan menampakkan raut wajah cengo. Adi tersenyum melihatnya.


"Hm.. Iya Pah. Erlan di skors 2 hari, jadi besok Erlan gak ketemu sama Rahuel." Jawab Erlan asal.


"Kamu gak perlu sedih gitu. Besok kan Rahcel akan makan malam disini, jadi kalian bisa ketemu" Kata Adi.


Perlu kamu ketahui kalau Rachel dan Erlan sudah berteman sejak kecil. Bahkan sejak mereka masih duduk di bangku SD. Jadi tak heran kalau Adi sering mengundang Rachel untuk makan malam di rumahnya atau menginap di sana.


"Iya Pah" Jawab Erlan singkat.


"Papah harap kamu gak terpaku sama janji kamu itu. Kalau kamu gak suka sama Rahcel, jangan kamu paksain hati kamu untuk cinta sama Rahcel. Ingat! Itu semua cuma masa lalu, papah harap kamu bisa ngelupain semua itu." Pesan Adi.


"Papah tenang aja. Aku gak akan kaya gitu kok"


Papah pergi meninggalkan Erlan dengan bulan yang masih di pandangi nya.


Sejujurnya, Erlan tak mau terkepung dengan masa lalu itu, masa lalu yang sangat menghancurkan hati dan dunianya. Namun, mengingat pedihnya semua yang terjadi, membuat Erlan terus berpegang teguh pada janjinya.


***


Hari ini Erlan tidak masuk sekolah karena sedang menjalani hukuman skors dari guru BP.


Entah mengapa, jika Erlan tak ada, Alicia merasa kesepian.


Hm... Setelah di ingat-ingat, awal perkenalan Alicia dan Erlan cukup lucu dan membuat Alicia tersenyum malu kala mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami bersama Erlan.


Alicia masih sangat ingat pada saat pertama kali ia melihat Erlan sedang bermain basket di lapangan basket bersama teman-temannya. Bahkan Alicia sampai terpesona melihatnya, apa lagi pada saat Alicia melihat wajah Erlan dari dekat, terutama pada saat Alicia mengompres dada Erlan yang terkena kuah bakso yang panas. Uh! Kejadian yang tak kan terlupakan.


Alicia berjalan di koridor sekolah seorang diri tanpa Arka. Arka memang belum datang ke sekolah, karena saat itu masih sangat pagi.


Alicia melewati salah satu ruangan. Itu ruang musik. Selama ini ia belum pernah masuk ke ruangan itu. Karena penasaran, Alicia pun memberanikan diri masuk ke ruangan itu.


Pagi itu ruang musik memang masih sangat sepi, biasanya anak band latihan saat jam ekskul.


Alicia melihat sebuah piano di sudut ruang musik itu.


Alicia sangat suka main piano, dulu saat ia masih kecil ibunya sering mengajarkannya main piano.


Alicia pun mendekati piano itu dan memainkan beberapa lagu yang masih ia ingat not nya.


Dengan perlahan Alicia membuka tutup piano itu dan mengalunkan lagu dengan sangat lembut.


BRRRAKKK!!!


Tiba-tiba pintu ruang musik terbuka dengan gebrakan yang sangat keras hingga Alicia terkejut.


Rahcel dan Saga rupanya. Mereka berjalan mendekati Alicia dan pianonya.


Rasa takut meraba di batin Alicia, melihat tatapan Rahuel dan Saga membuat Alicia makin gugup.


Tiba-tiba tutup piano di tutup dengan keras oleh Rahcel dan menjepit tangan Alicia yang masih berada di atas not piano itu.


Kerasnya Rahcel menutup tutup piano itu, membuat Alicia kesakitan kala ia merasakan tangannya seperti retak.


"Ahhhhh..!!!!!" 


Alicia berteriak sekuat mungkin. Rasa sakit yang meraba di jari-jamarinya membuat Alicia tak kuasa mengontrol volume suaranya. Bahkan saking sakitnya, air mata Alicia perlahan keluar membasahi pipi nya.


Dengan tatapan mata tajam, Rahcel menggenggam dagu Alicia sampai bibir Alicia monyong sambil berkata:


"Ini hukuman buat lo karena lo udah bikin Erlan di skors!!" 


Kata Rahuel dengan kasarnya.


"Gimana? Sakit? Enak? Makanya, jangan main-main sama kita. Kalo kita minta lo jauhin Erlan, lo harus nurut! Ini akibatnya kalo lo gak nurut sama kita"


Ucap Saga tak kalah menakutkan dari Rahcel.


Rahcel melepaskan genggamannya dengan kasar dan pergi bersama Saga meninggalkan Alicia yang menangis tersedu-sedu.


Setelah mereka pergi, dengan perlahan Alicia membuka penutup piano itu dan mengeluarkan tangannya.


Tak di sangka, ternyata jari-jamarinya mengeluarkan darah karena terjepit tutup piano itu.


Tangis Alicia pun makin kuat. Rasa sakit yang ia rasakan di jari nya membuat Alicia semakin sedih.


Rasanya, Alicia seperti tidak dapat merasakan jari-jamarinya nya lagi. Banyak darah yang keluar dari jarinya mengahadirkan rasa histeris di dirinya.


Sambil menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya, Alicia perlahan membuka pintu dan keluar dari ruang musik itu dengan cucuran air mata.


Tanpa sengaja Alicia menyenggol Arka yang saat itu ada di depan ruang musik. Arka kebetulan hanya sedang lewat saja.


"Alicia, lo kenapa?" Tanya Arka.


"G—Gue gak papa kok"


Kata Alicia berusaha menahan sakit sambil memasang wajah datar.


"Lo yakin? Itu tangan lo kenapa?"


Tanya Arka heran melihat Alicia menangis sambil menyembunyikan tangannya ke belakang.


"Nggak! Nggak kenapa-napa kok"


"Ah! Coba sini gue liat"


Arka berusaha memaksa Alicia untuk menunjukkan tangannya pada Arka.


Dengan susah payah Alicia berusaha menyembunyikan tangannya dari Arka, namun Arka berhasil memaksa Alicia untuk menunjukan tangannya pada Arka.


Betapa terkejutnya Arka saat melihat jari Alicia yang berlumuran darah dan pada saat itu juga tangis Alicia kembali pecah.


"Alicia! Ya ampun kenapa tangan lo bisa jadi kaya gini?! Lo habis ngapain sih?!"


"Sakit Ar....!!"


Kata Alicia sesenggukan.


"Ya ampun... Kita ke UKS aja yuk! Biar gue obatin di sana"


***


Dengan perlahan Arka mengobati luka pada jari Alicia. Dengan sabar, Arka juga membalutkan perban di jari Alicia satu per satu.


"Al, Sebenernya lo itu kenapa sih? Kok tangan lo bisa kaya gini?"


Alicia menghela nafas. Dengan perlahan ia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Arka.


Arka tampak begitu marah setelah mendengar semua penjelasan Alicia. Tak di sangka Rahcel bisa berbuat demikian pada Alicia, sungguh! Sebagai seorang wanita Rahcel sangat tak berbudi di mata Arka.


"Arka... Tapi lo jangan ngelakuin apa-apa ya sama Rahcel. Gue gak mau kalian berantem gara-gara gue. Udah cukup Erlan aja yang jadi korban gue. Lo jangan jadi korban gue yang selanjutnya."


Kata Alicia dengan lembut. Air mata Alicia kembali tumpah saat ia mengenang kejadian yang baru saja ia alami.


"Lo tenang aja. Gue gak akan kaya gitu kok."


Arka memperlakukan Alicia dengan sangat lembut. Dengan perlahan Arka meniup jari Alicia yang terluka dan sudah di perban itu.


Arka tau, Alicia pasti merasakan perih di jarinya karena luka yang ia alami cukup parah.


Alicia sangat senang dengan perlakuan Arka. Arka sangat lembut padanya. Tak pernah sekali pun Arka menyakiti hatinya. Alicia tersenyum hangat pada Arka.


Arka merangkul Alicia dengan hangat. Alicia pun menyandarkan Kepalanya di bahu Arka. Arka mengelus-elus rambut Alicia yang tak kusut.


Alicia merasa nyaman saat di pelukan Arka, pelukan Arka sangat hangat hingga Alicia merasa aman dan tenang saat di pelukan Arka. Rasanya Alicia tak mau lepas dari pelukan itu.


***


Karena tangan Alicia sedang terluka, hingga ia tak bisa menulis pelajaran yang berlangsung hari itu. Tapi dengan sabar Arka mau menuliskan pelajaran untuk Alicia di bukunya.


Arka memang sangat care pada Alicia. Sungguh! Arka tipe laki-laki yang bertanggung jawab. Bahkan Arka selalu menolong kegiatan Alicia hari itu. Bahkan Arka mau menyuapi Alicia makan siang, ah! Arka memang sangat baik.


"Cuma cewek bodoh yang berani nolak Arka buat jadi pacarnya."


Gumam Alicia dalam hatinya.