
Hari demi hari pun berlalu. Perlahan tapi pasti, Alicia mulai terbiasa dengan sekolah itu.
Tanpa terasa ia sudah 1 bulan bersekolah di BATAVIA HIGH SCHOOL. Alicia jadi semakin akrab dengan Arka dan orang-orang di sekolah itu, termasuk Erlan.
Pagi itu Alicia datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Ini hari senin, jadi sudah pasti ia datang pagi. Selain ia mau apel pagi, ia juga harus melaksanakan jadwal piket kelas.
Alicia heran dengan kerumunan orang yang berkumpul di depan gedung sekolah. Alicia turun dari mobilnya dan berjalan pelan sambil terus melihat kerumunan orang-orang itu.
"Ada apaan sih? Kok rame banget?"
Tanya Alicia pada salah satu siswa di sampingnya.
"Itu bu Dona gandeng siswa cantik. Kayaknya dia bakalan jadi siswa baru deh" Katanya. Lalu pergi.
Alicia makin penasaran. Ia berjalan lebih dekat.
"Wah, Gila ya! Itu cewek cantik banget!"
"Iya! Wah... Bisa-bisa Alicia kalah cantik bro"
"Ah! Nggak lah. Alicia tetap jadi yang tercantik kok"
"Eh.. Tapi bener lho. Itu anak baru cantik banget, badannya modis pula. Pokoknya Alicia kalah deh!"
Alicia mendengar percakapan rombongan siswa laki-laki yang baru saja ia lewati. Mereka terus membicarakan tentang siswi baru yang akan masuk ke sekolah mereka.
Tapi Alicia tak terlalu peduli soal itu. Terserah kalau siswi itu cantik atau akan lebih famous darinya, Alicia tak peduli. Hanya saja yang membuat Alicia penasaran adalah, Siapa dia?
"Siapa sih anak baru itu? Kok mereka semua pada kagum gitu?!"
Kata Alicia di kantin sekolah.
Tiba-tiba Arka datang menepuk pundaknya pelan.
"Hei! Lagi ngapain sih? Kok sendirian aja." Kata Arka membangunkan Alicia dari lamunannya.
"Arka.. Lo denger berita tentang anak baru itu gak?" Tanya Alicia tanpa basa-basi.
"Anak baru? Emangnya ada anak baru di sekolah kita?"
"He'em. Kata orang-orang sih dia cantik. Gue juga belum liat dia"
"Cie... Lo takut kesaing ya sama dia?"
Goda Arka sambil menyenggol bahu Alicia. Alicia tertunduk malu.
"Ya nggak lah!" Jawab Alicia ketus.
***
Alicia tertunduk lesu di meja belajarnya. Setelah upacara pagi ini, ia jadi agak lelah, matahari pagi ini begitu terang tak seperti biasanya. Mungkin karena baru selesai musim hujan.
Bu Dona masuk dengan menggandeng seorang siswa perempuan.
"Itu pasti anak baru yang Alicia maksud"
Kata Arka.
Arka menepuk pundak Alicia yang duduk tepat di depan tempat duduknya. Di Samping jendela yang mengarah ke lapangan basket.
Alicia mengangkat kepalanya perlahan.
"Apaan sih?"
Tanya Alicia sambil menoleh kebelakang.
Arka memberi kode agar Alicia melihat ke depan. Alicia melihat anak baru itu.
Setelah memperkenalkan diri, anak baru itu duduk di samping Alicia yang kebetulan bangku itu kosong. Memang selama ini Alicia hanya duduk sendiri, karena jumlah siswa di kelasnya ganjil.
"Hai.. Kenalin nama gue Celina Zaranawati panggil aja Celina"
Kata anak baru itu sambil menjulurkan tangannya.
Alicia menyambut jabatan tangan Celina dan memperkenalkan dirinya.
"Nama gue Alicia Naura Taleetha. Panggil aja Alicia."
Mereka berdua tersenyum satu sama lain.
Celina memandang Arka dengan tatapan sayup. Celina tersenyum, dan Arka membalas senyuman Celina.
Arka tampak gugup dan salah tingkah. Ia kembali menulis untuk menghilangkan rasa gugupnya itu. Sementara Celina terus memandang Arka.
"Cel, gue mau ke toilet dulu ya.."
Ijin Alicia pada Celina. Celina mengangguk. Kebetulan saat itu jamkos, jadi banyak siswa yang sibuk bercerita dan main HP.
Celina memutar tempat duduknya dan menghadap Arka di belakangnya. Arka langsung kaget dan memandang celina dengan tatapan dingin.
Mereka saling terdiam, tak ada satu pun yang berani buka suara. Sampai akhirnya Alicia kembali dari toilet.
"Kalian ngapain tatap-tatapan gitu?"
Tanya Alicia heran.
"Eh.. Al. Nggak papa kok. Celina ngajak kenalan aja. Tapi dia malu-malu" Jawab Arka sambil memandang wajah Celina.
Alicia merangkul pundak Celina dan berkata.
"Cel, lo gak usah malu-malu gitu kali. Arka ini baik kok orangnya. Baik banget malahan..."
Kat Alicia.
Celina manggut-manggut sembari tersenyum.
"Iya. Gue tau kok. Arka orangnya baik"
Celina mengiyakan kata Alicia sambil menatap Arka lekat. Tatapan Celina begitu dalam. Ada arti lain dari tatapan nya, tapi Alicia tak tau itu apa.
Arka yang di tatap terus menerus pun jadi gelisah. Ia izin ke luar kelas.
***
Jam istirahat tiba. Seperti biasa, kantin selalu ramai. Meja makan penuh dengan geng-geng yang bergerombol. Ada yang duduk makan, minum, dan ada pula yang hanya sekedar nongkrong.
"Erlan.. Celina balik! "
Kata Saga mengagetkan Rahcel dan Erlan yang sedang makan berdua di kantin.
"Celina? Dia ada di sekolah ini?" Tanya Rahcel.
"Iya. Dia jadi anak baru di sekolah kita. Dia masuk kelasnya Arka" Jelas Saga.
Rachel melirik Erlan yang juga melirik nya dengan tatapan aneh. Erlan yang menerima tatapan itu hanya mendehem pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Lo tau dari mana?" Tanya Erlan.
"Ah! Kudet banget sih lu, Beritanya udah nyebar ke seluruh sekolah. Masa lu gak tau sih?!" Kata Saga sambil ikut duduk mengelilingi meja yang penuh dengan makanan pesanan Erlan dan Rachel.
Erlan manggut-manggut dan lanjut menyantap makan siangnya.
"Lan, lu gak papa kan? " Tanya Rachel seraya menepuk bahu Erlan pelan.
Erlan yang kaget hanya menoleh sebentar lalu menggeleng. Meskipun sebenarnya pikiran Erlan kembali kacau. Mengingat Celina yang jadi anak baru di sekolahnya. Rasanya ia seperti menemukan buku lama yang sudah berdebu dan hampir robek dan kembali tersampul rapi.
Celina kembali! Celina kembali! Kenapa dia kembali? Entahlah. Tak ada yang tau soal itu. Apa Celina masih mengingatnya? Erlan juga tak tau.
***
"Arka. Lu apa kabar?" Tanya Celina lembut sambil duduk di kursi samping Arka.
Saat itu Arka sedang duduk di salah satu kursi di Koridor yang cukup sepi sambil membaca buku.
"Baik" Jawab Arka singkat.
"Erlan, Rahuel sama Saga gimana? Mereka sekolah disini kan?"
"Iya. Mereka sekolah di sini. Mereka juga baik kok."
"Gue kangen sama lu" Celina mendekatkan wajahnya ke wajah Arka.
Arka sedikit gugup menerima perlakuan tiba-tiba itu. Suasana canggung dalam hatinya kembali hadir. Untuk menetralkan suasana, Arka pun bertanya.
"Gue juga. Bay the way, Kenapa lu balik ke jakarta?"
"Bokap gue meninggal seminggu yang lalu. Jadi gue pindah lagi ke Jakarta. Gue tinggal dirumah yang lama" Jelas Celina.
"Lu tinggal sendiri?"
Celina hanya mengangguk.
Arka merasa iba melihat kesedihan yang tergambar di wajah sahabat lamanya itu.
Ya. Celina sahabat terlama yang Arka punya. Sejak kecil mereka sudah bermain bersama dan sekolah bersama. Mereka berdua bagai sepasang merpati yang tak bisa di pisahkan. Setelah mereka masuk SD, mereka bertemu dengan Erlan, Saga dan Rahcel.
Sejak saat itu mereka jadi bersahabat. Mereka selalu melakukan kegiatan weekend bersama. Tak ada satu weekend pun yang mereka lewatkan.
Sampai pada akhirnya, ada suatu tragedi yang membuat Celina pergi ke Bandung. Dan sejak kepergiannya, Arka jarang bermain dengan Sahabat lainnya, sebab ada masalah yang tak bisa ia lupakan yang mengakibatkan ia dan Erlan sampai saat ini tak bisa akur.
Arka merangkul gadis cantik di sebelahnya itu. Ia mengelus lembut kepala Celina.
"Ah! Si Arka selalu menang banyak ya. Setiap ada anak baru yang cantik. Dia selalu bisa ngambil hatinya"
"Tau nih! Bagi-bagi kek! Jangan di embat semua dong!!"
Ledek beberapa anak yang melihat Arka dan Celina dikelas saat itu.
"Apaan sih?! Jangan ngaco deh kalian"
Ujar Arka sebal.
Celina melepaskan rangkulan Arka. Ia menyeka air matanya yang keluar setetes membasahi pelupuk matanya.
***
Alicia berjalan seorang diri di Koridor yang sepi. Koridor itu memang selalu sepi, itu koridor dekat perpustakaan, kebanyakan anak-anak di sana jarang yang suka membaca sehingga koridor itu cukup sepi, tapi bagus karena tidak mengganggu anak-anak yang membaca di perpustakaan.
Sswwwoosshhh.....
Suara angin semilir masuk ke telinga Alicia. Koridor yang sepi membuat Alicia takut kala berjalan sendirian. Bulu kuduk Alicia merinding dan membuat Alicia makin was-was.
Ia memandang ke belakang untuk memastikan ada orang atau tidak.
Nihil. Tidak ada orang di belakangnya. Alicia mengelus-elus tangannya yang tak dingin.
Gubrakk!
Tong sampah tiba-tiba jatuh sendiri.
"Hah? Siapa yang jatuhin tong sampah? Kan disini gak ada orang. Jangan-jangan...."
Alicia mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Aaa.!"
Alicia lari terbirit-birit meninggalkan koridor yang sepi itu.
Saat di tikungan, Alicia tak sengaja menabrak Erlan yang kala itu sedang berjalan santai.
Alicia hilang keseimbangan, supaya tidak jatuh, Alicia langsung memeluk Erlan dengan erat.
Erlan tak melawan. Bahkan ia diam tak berkutik, di peluk Alicia seperti itu cukup lama dan Erlan tak keberatan.
"Ada apa sih? Kok lari-larian di koridor?!"
Tanya Erlan heran saat Alicia sudah melepaskan pelukannya.
"Gue takut. Tadi tong sampah di sana jatuh sendiri. Padahal gak ada orang"
"Dasar penakut!" Cibir Erlan.
"Ih! Kan gue sendirian. Lagian koridornya sepi. Ya wajar lah kalo gue takut" Alicia memonyongkan bibirnya.
Erlan mendorong Alicia hingga ia terpojok di dinding. Erlan mengurung Alicia dengan kedua tangannya yang menempel di dinding.
Alicia tak berkutik. Erlan terus mendekat, makin dekat, terus mendekat, sangat dekat hingga dua hidung mancung mereka menempel.
"Aduh.. Erlan mau ngapain nih? Jangan-jangan Erlan mau nyium gue. Aduh! Gue belum siap nih" Gelisah Alicia dalam hatinya.
Erlan terus menatap mata Alicia dengan hidung mereka yang masih menempel sempurna. Saking dekatnya jarak antara mereka, Alicia sampai bisa merasakan desahan nafas Erlan yang berbau mint.
Disisi lain, Erlan juga dapat mencium aroma liptint yang berbau stroberi manis. Mata mereka berada pandang, hingga tak ada yang berkedip.
"Dasar penakut! Cemen!"
Kata Erlan pelan sambil agak berbisik di telinga Alicia.
Setelah itu Erlan pergi.
Alicia masih mematung sambil memandangi punggung Erlan yang perlahan menghilang di kejauhan.
"Dasar penakut! Cemen!"
Alicia meniru gaya bicara Erlan dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan suara aslinya.
"Ih..!!! Nyebelin banget sih! Bukannya nenangin gue, malah ngeledek kaya gitu. Dasar cowok gak pengertian!"
Gerutu Alicia sambil menghentakkan kakinya.
***
"Celina, gue duluan yah.. Udah di jemput supir tuh"
Alicia pamit.
"Iya. Hati-hati di jalan ya"
Alicia mengangguk pelan. Lalu ia pergi dengan mobilnya.
"Lu pulang sama siapa Cel?" Tanya Arka.
"Supir. Bentar lagi datang kok."
"Oh.. Ya udah kalo gitu gue duluan ya"
"Iya..."
Di saat Celina asik menunggu sambil mendengar kan musik di handphone nya, Erlan berjalan melewatinya.
Erlan sedikit melirik Celina dengan tatapan dinginnya. gurat senyum hampir saja terbit dari bibirnya. Namun sayang, Belum sempat senyum itu keluar, Rachel sudah lebih dulu menarik tangan Erlan dengan kasar hingga perhatian Erlan pun akhirnya teralihkan.
Hatinya merasa sedikit teriris saat itu. Ada yang ia rindukan.
Senyum kaku pun di keluarkan Celina sambil memandang punggung Erlan yang perlahan menjauhinya. Padahal, Tadi Celina sudah senang melihat Erlan akan senyum padanya. Tapi Rachel melarangnya.
"Celina" Tegur Saga.
"Saga? Lu disini?" Tanya Celina ramah.
"He'em. Kabar lu gimana?"
"Kabar gue baik kok. Lu gimana?" Tanya Celina lembut.
"Saga!! Ayo pulang!! Ntar gue tinggal lho..." Teriak Rahcel.
Tanpa basa-basi lagi, Saya segera pergi menghampiri Erlan dan Rachel meninggalkan Celina yang tertegun diam.
***
Malam hari ini begitu indah. Banyak taburan bintang yang menghiasi langit malam ini. Alicia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, sudah beberapa hari ini hujan selalu turun mengguyur kota jakarta, udara dingin juga selalu ada.
Malam ini, papi Alicia ada meeting di sebuah mall, Alicia memutuskan untuk ikut bersama papi nya. Katanya rekan bisnis papinya itu juga mengajak anaknya yang ingin di kenalkan pada Alicia.
Awalnya Alicia ragu, tapi ini jadi kesempatannya untuk berjalan-jalan di mall, karena setelah sebulan lebih ia tinggal di jakarta, ia belum pernah ke mall yang ada di sana.
" Mana sih rekan kerja papi itu. Kok lama banget. Kalo kelamaan Alicia mau jalan-jalan dulu deh"
"Eh, Jangan! Sebentar lagi mereka datang kok. Udah di depan."
Tak perlu menunggu lama, akhirnya rekan kerja yang di tunggu pun datang. Alicia sibuk dengan Handphone nya, hingga tak menyadari kedatangan mereka.
"Alicia, kenalin ini rekan kerja papi. Dan ini anaknya." Kata papih.
Alicia langsung berdiri dari duduknya. Alicia kaget, ternyata rekan kerja yang papi nya maksud adalah papa nya Erlan.
"Erlan?" Kata Alicia heran.
"Alicia?" Kata Erlan tak kalah heran.
"Lho.. Kalian sudah saling kenal rupanya?" Tanya papa Erlan.
"Iya. Alicia teman sekolah Erlan pa.." Jawab Erlan tenang.
Tak lama kemudian datang pula rekan kerja yang lain, sekitar 5 orang yang datang.
Erlan merasa risih dengan situasi itu. Banyak bapak-bapak di sekelilingnya, dan membuat ia tak nyaman.
Erlan memutuskan untuk pergi dan berkeliling di mall itu, Alicia pun turut mengikuti di belakangnya.
"Kanapa lu pergi?" Tanya Alicia.
"Gue males ada di sana. Banyak bapak-bapak" Ketus Erlan.
Erlan berjalan selangkah lebih cepat dari Alicia sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Iya sih. Kalo gitu kita jalan-jalan aja gimana?"
"Jalan kemana?"
"Keliling mall ini aja"
"Gak ah! Bosen. Gue mau ke cafetaria itu." Kata Erlan sambil menunjuk ke arah sebuah cafe.
" Ya udah, gue ikut lu aja"
Malam itu benar-benar malam yang tak terduga. Alicia dan Erlan makan bersama di sebuah cafetaria di mall. Mereka berdua sangat menikmati malam itu.
Walaupun pada akhirnya mereka harus berpisah karena malam mulai larut.
***
Rahcel berjalan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Napasnya memburu, terlihat kemarahan diwajahnya. Rahcel tampak sangat emosi.
"Woy! Hati-hati dong kalo jalan! " Kata seorang siswa laki-laki yang tak sengaja tersenggol oleh Rahcel.
Rahcel tak memperdulikan laki-laki itu. Ia terus berjalan dengan wajah ditekuk nya itu.
Rahcel berjalan lebih cepat saat ia sudah menemukan apa yang di carinya. Alicia.
Rahcel menampar Alicia dengan keras hingga wanita itu terjatuh menghantam meja. Saat itu Alicia sedang ada di kantin.
"Apaan sih? Kenapa lu nampar gue??" Tanya Alicia sambil memegangi pipinya yang sakit.
"Kenapa! Lo masih nanya kenapa?"
Alicia menggeleng masih tak mengerti dengan maksud Rahcel.
Rahuel menarik kerah baju Alicia lalu menjambak rambut Alicia.
"Udah berapa kali gue bilang sama lu! Jangan deketin Erlan!! Tapi lu tetep aja ngeyel! Masih aja lu deket-deket Erlan. Apa lu masih belum kapok juga ha??! Beberapa kali gue liat lu berduaan sama Erlan. Dan gue masih biarin lu. Tapi saat kemaren gue liat lu meluk Erlan, gue udah gak bisa lagi nahan emosi gue!! Dasar cewek kegatelan lu!"
Rahuel menghempaskan tubuh Alicia ke lantai. Perhatian semua orang langsung mengarah kepada Rahuel dan Alicia.
Alicia meringis menahan sakit di lututnya. Rambutnya sudah tak teratur lagi. Alicia tak mengerti mengapa Rachel tega berbuat seperti ini padanya.
Sambil menahan isak tangis, Alicia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Rachel sambil berkata.
"Rahuel, gue gak kegantelan sama Erlan. Waktu itu gue cuma—"
"Cuma apa?! Cuma modus!!"
"Nggak Rahcel. Lu salah paham"
Alicia terus membela diri membuat Rahcel semakin muak dengan nya. Ia kembali ingin melayangkan tamparan ke pipi Alicia, namun Celina mencegahnya.
"Jangan Rahcel! Jangan pukul Alicia!" Kata Celina sambil memegangi tangan Rahcel.
"Celina? Ngapain lu belain dia?" Geram Rachel sambil menghentakkan tangannya hingga tangan Celina terlepas.
"Gue gak belain dia. Gue cuma gak mau lu ngotorin tangan lu buat nampar dia" Jelas Celina.
Rachel beralih menatap Alicia horror, Ia menghela nafas guna menstabilkan emosinya yang sudah menggebu. Sebenarnya, Rachel masih belum puas menyiksa gadis cantik yang masih duduk di lantai itu. Namun karena kedatangan Celina, Rachel pun mengurungkan niatnya untuk berlaku lebih kasar.
Dengan kesal, Rachel berkata.
"Alicia, Hari ini lu selamat. Tali besok, gue gak akan biarin lu lolos lagi"
Kata Rahcel sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Alicia. Setelah itu Rahcel pergi.
Celina membantu Alicia berdiri dan membawanya keluar dari kantin. Mereka duduk di kursi salah satu koridor.
"Maafin Rahcel ya, Dia udah keterlaluan. Padahal dulu Rahcel gak pernah kaya gini sama orang" Ujar Celina.
Alicia menatap Celina dengan tatapan nanar.
"Lu kenal sama Rahcel? "
Celina mengangguk pelan.
"Berarti lu juga kenal sama Erlan dan Saga?"
"Iya Al, maaf ya gue gak cerita sama lu dari awal"
"Emangnya kalian kenal dari mana?"
Celina menghela nafas panjang. Kemudian dengan sabar ia menceritakan tentang dirinya, tentang bagaimana ia mengenal Erlan dan Rahcel.
Alicia mendengarkannya dengan seksama. Sesekali ia mengangguk, sesekali ia menggeleng.
"Jadi gini. Gue, Arka, Rahcel, Erlan dan Saga udah kenal sejak SD. Kami udah sahabatan dari kecil. Tapi pas kelulusan, gue harus pindah ke bandung, karena bokap gue di pindah tugaskan ke sana. Makanya pas SMP, kita gak barengan lagi. Tapi komunikasi tetap terjaga. Dan seminggu yang lalu bokap gue meninggal, makanya gue balik ke jakarta dan memutuskan untuk sekolah di sini, biar bisa ketemu sama sahabat-sahabat lama gue" Tutur Celina panjang lebar.
"Oh.. Jadi kalian sahabatan" Kata Alicia setelah ia mendengar penjelasan Celina.
"Iya.. Tapi persahabatan kami gak kaya dulu lagi Al, semua udah berubah sejak .... "
"Sejak apa?" Tanya Alicia antusias. Ia sangat ingin tau tentang masa lalu Celina. Terutama tentang kisah persahabatannya.
"Widih... Lagi ngomongin apaan nih? Kayaknya serius banget?"
Tanya Arka yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Gak ngomongin apa-apa kok" Jawab Celina tenang.
Celina masih canggung bila membahas soal persahabatan itu di depan Arka. Sebab, Masalah itu juga menyangkut tentang dirinya.
"Al, pipi lu kenapa? Kok merah gitu?" Tanya Arka saat melihat pipi Alicia yang sedikit merah seperti bekas tamparan.
"Pipi gue? Em.. Cuma di gigit nyamuk aja kok." Jawab Alicia yang sudah pasti berdusta.
"Lu yakin? Gak bohong kan?"
Arka bertanya sembari berjongkok di hadapan Alicia, tangannya berada di paha Alicia.
Mereka berdua jadi seperti sedang lamaran.
Alicia mengangguk pelan. Sambil tersenyum ia berusaha meyakinkan Arka dan mengelus pipinya.
Celina yang melihat kejadian itu merasakan kepedihan di hatinya. Desiran aneh merambat dalam tubuhnya. Matanya memerah, jantungnya berdegup kencang. Sesaknya dada membuat Celina tak tahan dan memilih pergi.
Alicia dan Arka yang melihat Celina pergi hanya melongo sambil memandangi punggung nya yang perlahan hilang di kejauhan.
***
"Ih.. Parah banget ya si Rahcel, dia nampar Alicia sampek mukanya merah gitu"
"Iya. Kasihan banget sih Alicia, emang sih dia di deketin banyak orang, ganteng-ganteng pula. Tapi kalo nasibnya sampe di tamparin gitu, miris juga"
"Kalo gue jadi Alicia sih. Gue udah pindah sekolah kali"
"Kalo gue yang jadi Alicia, bakalan gue tampar balik tu si Rahcel. Habisnya dia keterlaluan banget sih"
Di sepanjang jalan menuju kantin, Arka mendengar banyak orang yang membicarakan Rahcel dan Alicia. Hal ini membuatnya penasaran dan menanyakannya pada salah satu siswa di sana.
Menurut penjelasan mereka, Rahcel menampar Alicia karena Alicia selalu dekat-dekat dengan Erlan.
Seketika telinga Arka panas dibuatnya. Tangannya mengepal seperti handak meninju sesuatu.
Ia berjalan dengan cepat menunju
kelas MIPA.1, kelas Erlan, Rahuel dan Saga.
Bbrraaakkk...!!!
Arka datang dan langsung menggebrak meja. Disana ada Rahcel, Erlan dan Saga yang sedang bercanda.
"Heh! Lu apa-apaan sih?! Gebrak-gebrak meja segala?! Mau nyari rusuh lu?" Kata Saga emosi.
"Rahcel yang nyari rusuh duluan! Di nampar pipi Alicia sampe merah. Apa maksud nya coba?!" Kata Arka dengan emosi yang memuncak.
"Apa bener lu udah nampar Alicia?" Tanya Erlan pada Rahcel.
Erlan berusaha tenang meski ia juga sedikit kaget mendengar hal itu.
"Kalo iya kenapa? Kalian mau marah sama gue?" Jawab Rahcel dengan nada menantang.
Arka yang tersulut emosi langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Rahcel hingga ia jatuh tersungkur. Arka tak peduli Rachel itu laki-laki atau perempuan. Toh, dia juga sering terlibat perkelahian dengan siswa lawan jenis nya. Ya, bisa dibilang kalau Rachel itu agak sedikit tomboy.
Saga jadi ikut emosi melihat Rahcel di perlakukan dengan kasar.
"Arka! Apa-apaan lu nonjok Rahcel kaya gitu? Jangan beraninya sama cewek dong! Lawan gue kalo berani" Kata Saga jengkel.
"Lu diem!! Gue gak ada urusan sama lu" Kata Arka sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Saga.
"Iya tapi lu harus tau juga dong. Rahcel ini perempuan! Masa lu mau main fisik sama perempuan sih?" Kata Erlan dengan tenangnya sambil membantu Rahcel berdiri.
Rachel menatap Arka dengan tatapan tak biasa. Sepertinya ia ingin menantang seorang Arka Rabu diaz untuk berkelahi.
"Biar aja. Walaupun gue perempuan, gue gak lemah kok" Rahcel membela diri.
"Oke. Kalo gitu kita tarung sekarang" Kata Arka dengan sombongnya.
Suasana kelas pun menjadi panas. Banyak orang yang melihat kejadian itu. Dan salah satu dari mereka melapor kan kejadian itu pada Alicia.
Alicia yang kala itu sedang
bersama Celina, langsung bergegas menuju kelas MIPA.1.
Perkelahian masih terus berlangsung. Bahkan hidung Arka sampai mengeluarkan darah. Dan Rahcel juga berdarah di bagian mulutnya.
"Stop!! Stop! Udah berhenti! Jangan pada berantem!!" Kata Alicia membuat suasana hening seketika.
"Al, ini cewek udah bener-bener keterlaluan Al, dia udah nampar lu kan? Dan gue gak bisa tinggal diam" Ujar Arka dengan penuh kemarahan.
Erlan yang sudah tak tahan dengan kelakuan Arka, langsung melayangkan pukulan ke wajah Arka hingga ia terjatuh. Celina dengan cekatan langsung merangkul Arka. Sedangkan Alicia menahan Erlan agar tidak menonjok Arka lagi.
"Erlan udah cukup! Udah ya. Plisss gue mohon" Kata Alicia sambil memegangi tangan Erlan. Dadanya masih naik turun.
"Arka.. Lu gak papa kan? Ayo Kita pergi dari sini"
Celina akhirnya berhasil membawa Arka pergi dan perkelahian pun selesai.
Saga langsung membawa Rahcel yang terluka ke ruang UKS.
"Ngapain semuanya pada ngumpul sih? Udah sekarang kalian bubar!!!"
Bentak Erlan pada semua orang yang ada di kelas dan membuat mereka kaget dan langsung membubarkan diri.
"Erlan, Lu gak papa kan? Ada yang luka gak?"
Tanya Alicia cemas.
"Gue gak papa, " Jawab Erlan singkat.
Mereka terdiam. Suasana kelas jadi hening kembali.
Namun Erlan masih merasa panas dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memutuskan untuk keluar kelas dan mencari udara segar. Alicia yang merasa khawatir dengan Erlan pun, memutuskan untuk mengekori Erlan.
***
Dengan perlahan Celina membersihkan darah yang keluar dari hidung Arka. Ia begitu lembut hingga Arka terlena dengan perlakuan Celina.
"Arka..."
Kata Celina lirih. Matanya mulai merah dan perlahan air matanya jatuh menitik di rok nya.
Perasaan Celina kalut melihat Arka terluka karena membela Alicia. Hatinya sedih dan perih. Arka begitu mati-matian membela Alicia. Hal ini membuat Celina berpikir kalau Arka mencintai Alicia.
"Lu nangis?" Arka melihat Celina meneteskan air mata.
Arka mengusap pipi Celina dengan lembut. Pipi Celina begitu halus dan lembut. Pipi putih yang agak Chubby itu mengingatkan Arka pada masa kecilnya. Masa dimana ia dan sahabatnya masih bersama-sama.
Masa itu begitu indah, tapi sekarang begitu suram. Arka bahkan tak mau membayangkan nya.
"Gue... Gue gak pernah liat lu kaya gini sebelumnya. Lu keliatannya peduli banget sama Alicia" Kata Celina.
"Gue cuma gak mau aja Alicia digituin sama Rahcel"
Celina menatap mata Arka sangat dalam. Ada perasaan di balik tatapan itu. Tanpa ia sadari, wajah nya semakin mendekati wajah Arka.
Arka juga tak mengelak. Ia juga mendekati wajah Celina.
Dan....
Arka merasakan sebuah liptint menempel di bibirnya, saat bibirnya dan bibir Celina menyatu. Arka yang kaget hanya bisa menerima tanpa bisa menolak ciuman itu. Bahkan Arka terkesan menikmati nya hingga ia tak sadar kalau bibinya sudah bermain halus dengan bibir Celina.
Untung saja ruang UKS sedang sepi, jadi tak ada yang melihat mereka berciuman. Arka semakin tak terkendali saat ia ******* halus bibir seksi itu. Celina yang di perlakukan seperti itu merasa sedikit senang dan menikmati nya. Bibir Celina terasa manis, Arka menyukainya.
Celina memejamkan matanya, menikmati setiap ******* yang Arka lakukan padanya. Celina menepuk pundak Arka saat stok oksigennya mulai habis. Dengan segera, Arka melepaskan bibir itu. Celina pun menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna memenuhi paru-parunya yang kosong.
Arka memegang bibirnya yang masih menyisakan liptint Celina. Arka melirik Celina dan berkata.
"Sorry, gue khilaf" katanya.
"Gak papa" Balas Celina yang juga memegangi bibirnya yang masih panas.