
Alicia membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur bermotif Rose warna merah sesuai warna favorit nya.
"Hm... Konyol. Kenapa gue bisa ngelakuin itu? Aduh! Pasti besok gosipnya bakal panas nih, "
Gerutu Alicia sesaat setelah ia mengingat kejadian Erlan yang ketumpahan kuah bakso panas.
Tapi, Alicia juga senang dengan kejadian itu, mungkin ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk bisa mengenal Erlan lebih jauh. Tapi Alicia kembali berfikir, buat apa dekat-dekat dengan Erlan? Baru kenal saja dia sudah kasar?
"Tapi, Kok gue penasaran ya?"
Ah! Alicia tidak mau ambil pusing dengan kejadian tak mengenakkan itu, ia langsung keluar kamar dan bergabung di meja makan bersama papih nya.
"Alicia, Besok pagi papih mau ke semarang, ada bisnis yang harus diurus. Mungkin papih akan lama disana, kamu gak papa ya dirumah sama bi Minah dulu, "
Kata papih membuka pembicaraan pada saat itu.
"Gak papa kok pih. Alicia kan udah gede, gak perlu di jagain sama papih terus, "
Adam—Papi Alicia tersenyum mendengar itu. Anaknya yang sudah remaja itu memiliki pikiran yang cukup dewasa. Adan merasa bangga dengan hal itu. Meskipun Alicia hanya di besarkan olehnya seorang diri tanpa sosok Ibu, Adam mampu mendidik anak semata wayang nya itu dengan baik.
"anak papih memang mandiri ya. Papih senang kamu bisa mengerti dengan keadaan papih, " Ucap Adam bangga.
"Iya. papih tenang aja, Alicia ngerti kok"
Ya, itulah Alicia, gadis berusia 17 tahun yang sangat mandiri, sejak SD Alicia sudah di tinggal ibu nya, hingga ia harus berusaha mandiri dan tak terus-terusan mengandalkan papihnya.
Untungnya ada Bi Minah yang selalu merawat Alicia, bi Minah sudah seperti ibunya sendiri, bahkan mungkin Alicia akan lebih kecewa jika ditinggal bi Minah pergi ketimbang di tinggal papihnya.
"Tapi pak Budi akan ikut sama papih lho, "Sambung papih Alicia pula.
"Yah, Terus Alicia pergi sekolahnya pake apa dong pih?" Tanya Alicia kecewa.
"Kan ada taksi on line"
"Ya udah deh.. Gak papa"
***
Di lain tempat di waktu yang sama.
"Arka, makan dulu yuk.! Mama udah msakin kamu syur sop kesukan kamu, "
Ucap mama Arka sambil menepuk pelan bahu Arka. Arka masih sibuk dengan buku-buku tebal dan pulpen ditangannya.
"Bentar lagi mah. Ini dikit lagi" Balas Arka sambil menulis beberapa rumus di buku matematika nya.
Mama menarik buku yang sedang ditulis oleh Arka, mama tak ingin Arka telat makan hanya karena mengerjaka tugas sekolahnya.
"Kan bisa nanti. Sekarang makan dulu ya" Ucap mama memberi pengertian pada anaknya.
"Iya mah"
***
Erlan berdiri di depan cermin besar di kamarnya, ia memandangi pantulan bayangannya di cermin itu sembari menikmati ketampanan wajahnya.
Sesekali ia memperhatikan dada bidangnya yang belum ditutuli balutan pakaian itu.
Dadanya terlihat agak kurang baik, ya mungkin gara-gara kesiram kuah bakso panas tadi, fikirnya.
Lalu pikirannya melayang jauh pada gadis mengompres dadanya tadi, kenapa wanita itu bisa selalu muncul dihadapannya? Ada apa dengan gadia itu? Erlan tak kunjung mendapatkan jawabannya.
"Aaggrhh..! Ngapain sih gue mikirin cewek itu? Cewek pembawa masalah!"
Ujarnya pula.
***
Karena pak Budi pergi ke Semarang ikut dengan papinya. Terpaksalah pagi ini Alicia harus menyewa taksi untuk mengantarnya ke sekolah.
"Haduh, Mana nih taksinya? Kok gak nyampek-nyampek sih?? Kalo kaya gini caranya, gue bisa telat ke sekolah nih, "
Alicia mulai menggerutu mendapati taksi on line yang di pesannya tak kunjung datang. Alicia masih berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menyandang tas merah dan beberapa buku di tangannya.
Tak lama kemudian akhirnya taksi yang di tunggu pun datang juga. Alicia buru-buru masuk ke mobil dan meminta pak supir segera tancap gas.
Untungnya hari ini Alicia tidak terlambat karena sudah ngebut.
Alicia berjalan menelusuri koridor sekolah yang sudah dipenuhi banyak orang.
Seperti dugaannya, berita kemaren sudah menyebar hingga banyak orang yang melihat nya dengan sinis.
"Ih.. Gak nyangka ya, Alicia ternyata modus juga sama Erlan"
Alicia mendengar kalimat itu dari salah satu dari pasang mata yang meliriknya.
Langkah Alicia seketika terhenti ketika ia melihat seorang siswa wanita dengan tatapan tajam menghampirinya bersama dengan seorang pria di sebelahnya.
"Jadi ini yang namanya Alicia?!"
Tanya siswa perempuan itu.
"Iya, gue Alicia" Jawabnya polos.
Siswi wanita itu malah mempertajam tatapannya dan membuat Alicia ngeri melihatnya, siapa sih dia? Ngapain liatin gue kaya gitu? Pikir Alicia.
"Ngapain lo deket-deket sama Erlan?!"
Ucap siswi wanita itu sambil menjambak rambut Alicia yang terurai. Matanya menyorot tajam menatap Alicia. Kelima jarinya menarik rambut Alicia dengan kuat.
Jambakan itu sukses membuat Alicia kesakitan dan memasang mimik wajah meringis.
"Aduh, Sakit!" Teriak Alicia.
Ia berusaha melepaskan jambakan itu, namun sudah di lepas lebih dulu oleh siswi wanita itu.
"Sakit? Enak?! Masih mau di tambah?!" Ucap Siswi itu dengan angkuhnya sambil melepaskan jambakkannya dengan kasar.
dari nada bicaranya, siswi tiu terlihat marah sekali. Tatapannya yang tajam memperlihatkan kalau ia tak menyukai Alicia. Entah apa masalahnya, Yang jelas Alicia sangat takut melihat tatapan tajam itu.
"Ng–gak, udah cukup" Ucap Alicia lirih.
"Cukup?! Kalo gitu lo juga cukup deketin Erlan! Jangan deket-deket lagi sama Erlan!! "
Kata siswa wanita itu sambil memasang wajah sangarnya.
"Dan kalo lo masih deket-deket sama Erlan, kita gak bakal segan-segan buat bikin lo gak betah sekolah di sini"
Kata siswa laki-laki yang ikut melabrak Alicia. Siswa laki-laki itu datang bersamaan dengan siswi yang baru saja melabrak Alicia. Sama seperti siswi di sebelahnya, siswa itu tampak tak suka pada Alicia.
Dilihat dari penampilannya, siswa laki-laki itu sepertinya anak badboy yang terkenal nakal. Tapi pakaiannya sangat rapi dan ada jam tangan branded melingkar di tangan kirinya. Siswa itu sepertinya bukan siswa sembarangan. Mungkin ia anak yang cukup berada.
Dengan takut-takut Alicia memberanikan diri untuk bertanya pada mereka sebenarnya mereka siapa? Apa ini yang di maksud Arka kalu kedekatannya dengan Erlan akan membawa petaka? Apa ini perempuan yang namanya Rachel?
"Elu siapa? Kenapa lo ngelarang gue buat deket sama Erlan?" Tanya Alicia dengan segumpal rasa takutnya.
"Lo gak tau gue siapa? Gue Rahcel! Gue orang terdekat nya Erlan, gue gak suka kalo lu deket sama Erlan, jadi gue minta sama lo, jauhin Erlan!"
Ucap Rahcel dengan nada agoran nya.
Semua orang yang melihat kejadian itu sontak ketakutan dan tak berani berkata apa-apa.
Tak ada yang bisa melawan seorang Rahcel. Semua orang tau Rahcel memang siswa perempuan yang paling dekat dengan Erlan. Ia selalu posesif pada Erlan yang padahal bukan pacarnya.
Sementara siswa laki-laki yang di sampingnya adalah Saga. Saga juga termasuk sahabat Erlan. Tak jauh berbeda dari Rachel, Saga juga tak menyukai Alicia. Saga tipe orang yang sangat selektif memilih teman. Ia tak mau ada orang yangyang berniat buruk masuk dalam kehidupan nya ataupun sahabatnya.
Setelah berkata demikian, mereka berdua pun pergi meninggalkan Alicia sendiri yang saat itu sudah tersudut sambil menyandar di dinding.
Semua orang melihat ke arahnya sambil masih memasang raut wajah ketakutan mereka. Mereka yang melihat saja ketakutan, apalagi Alicia yang baru saja di labrak oleh mereka.
"Alicia.!! Ya ampun, lu kenapa?"
Tanya Arka begitu ia melihat Alicia ketakutan sambil memegangi pundaknya.
Alicia tak menjawab, sepertinya ia masih trauma dengan apa yang baru saja ia alami pagi ini.
"Kita ke kelas yuk!"
Ajak Arka. Alicia menurut. Sambil diiringi Arka, Alicia berjalan menuju kelas XI. MIPA. 2.
***
Saat jam istirahat tiba, Arka kembali menanyakan apa yang terjadi pada Alicia tadi lagi hingga membuatnya ketakutan seperti baru saja melihat hantu.
Rasa penasaran benar-benar menghantui Arka. Sebelum ia mengetahui alasannya, Arka tak akan tinggal diam.
"Al, Sebenernya apa sih yang terjadi sama lu tadi pagi? Kok lo ketakutan gitu??" Tanya Arka dengan suara pelan
"Rahcel.." Jawab Alicia lirih.
Arka kaget mendengar nama itu. Ternyata labrakan Rahcel lebih cepat dari pada dugaannya. Rahcel memang benar-benar tidak memberi Alicia kesempatan untuk mendekati Erlan. Dengan cepat Rahcel langsung memasang tameng untuk menjauhkan Alicia dari Erlan.
"Ternyata dugaan lo bener Ar, Rahcel emang marah sama gue, Karna gue deket sama Erlan" Tambahnya.
"Hm.. Gue udah nebak soal ini, karena bukan cuma lu aja yang pernah jadi korban keganasan Rahcel, udah banyak siswa yang ngalamin hal yang sama kaya lu" Ucap Arka.
Mata Arka melirik Alicia yang menatapnya dengan sendu. Ada ketakutan di tatapan itu. Arka bisa merasakannya. Arka tau betul bagaimana perasaan Alicia saat ini. Pasti ini pertama kalinya ia di labrak orang, ketara dari reaksinya yang begitu syok.
"Hm.. Pantes sampe sekarang Erlan masih jomblo, " Alicia tertawa kecil dan membuat Arka ikut tertawa.
"Lu tau dari mana kalo Erlan jomblo?" Tanya Arka iseng.
"Ya.. Gue asal nebak aja, kan Rahcel gak ngebolehin Erlan deket sama cewek, otomatis dia jomblo dong" Simpul Alicia. Senyum manis gadis itu sudah kembali.
"Iya.. Lo bener! Biarin aja Erlan jomblo selamanya, toh palingan dia nikah sama Rahuel, "
Alicia meledakkan tawanya.
"Hahaha..! mungkin" Ucapnya lagi.
Alicia dan Arka malah asyik menertawakan apa yang baru saja mereka perbincangkan. Tanpa terasa langkah kaki mereka pun sudah membawa mereka ke tempat tujuan mereka, yaitu perpustakaan. Mereka hendak meminjam buku untuk keperluan belajar di rumah, sebab ada tugas yang harus mereka selesaikan dengan cepat.
"Gue cari di sebelah sana ya, " Kata Arka sambil menujukkan arah ia akan pergi.
"Iya, gue cari di sini ya, " Balas Alicia ramah.
Arka sangat sibuk mencari buku rumus kimia yang dapat membantunya menyelesaikan tugasnya.
Begitupun dengan Alicia, yang juga sibuk dengan rak buku yang dari tadi ia telusuri.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya Alicia menemukan buku yang ia cari.
Alicia berusaha mengambil buku itu dengan tangannya, Ah, Sial! letak buku itu terlalu tinggi hingga sulit untuk di capai oleh Alicia. Ia berusaha dengan keras namun tetap saja tak bisa.
Untuk itu ia berniat meminta bantuan pada Arka untuk mengambilkan buku nya di rak tinggi itu.
"Tapi, Kayaknya Arka lagi serius belajar deh. Gak usah di ganggu lah, kasian"
Ujarnya kala ia melihat Arka sedang sibuk dengan buku-buku di tangannya.
Tiba-tiba Erlan muncul di hadapan Alicia dan membuat nya terkejut saat ia membalikkan tubuh.
"Erlan? Lo ngapain di sini?" Tanya Alicia penasaran.
"Ini tempat umum, siapa aja boleh ada di sini" Jawab Erlan singkat.
"Ih..! Gue kan cuma nanya doang, gak usah sewot kali" protes Alicia.
Alicia kembali menjinjitkan kakinya untuk membuatnya tambah tinggi agar bisa meraih buku yang ia inginkan.
"Dasar tibong! Makanya jadi orang itu jangan pendek.!" Gurau Erlan.
"Ih! Bukannya di ambilin, malah ngeledek!! "
"Yang mana bukunya?" Tanya Erlan.
"Yang itu lho" Ucap Alicia seraua menunjuk salah satu buku berwarna biru di rak yang cukup tinggi.
"Mana?"
"Itu.." Alicia menunjukkan buku yang hendak ia ambil pada Erlan.
Erlan pura-pura tak melihat buku mana yang Alicia maksud, ia celingak-celinguk seperti orang bodoh.
"Ini??" Tanya Erlan saat ia memegang buku yang Alicia inginkan.
"Iya!"
Bukannya di ambil dan diberikan pada Alicia, Erlan malah menaruh buku itu satu rak lebih tinggi dari posisi awalnya, hingga membuat Alicia kembali kesulitan mengambilnya.
"Ih!! Nyebelin banget sih! Malah di tinggiin lagi!"
Alicia menggerutu tak tentu arah.
Kemudian Alicia melempar punggung Erlan yang sudah membelakangi nya dengan bolpoin yang ada di saku bajunya.
Erlan berbalik badan dan mengambil bolpoin itu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Thanks" Ucapnya pula tanpa merasa bersalah.
"Yah.. Kok malah di ambil sih? Itu kan bolpoin gue satu-satunya, terus nanti gue nulis pake apa?"
Alicia hanya bisa Menggerutu sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Harap-harap kekesalannya bisa hilang.
Alicia melihat jam tangan mungil yang melingkari tangannya, waktu istirahat sebentar lagi usai, Alicia sudah tak punya banyak waktu lagi. Ia harus segera mengambil buku itu.
Alicia menarik kursi yang ada di perpustakaan itu, ia menaikinya agar bisa mencapai ketinggian buku itu.
Namun rupanya kursi itu rusak, kursinya goyang-goyang saat Alicia berdiri di atasnya.
"Eh.. Kenapa ni?" Raut wajah panik sudah terpasang di wajah Alicia.
Tiba-tiba kaki kursi itu patah dan membuat Alicia hilang keseimbangan hingga ia jatuh dari kursi itu.
Untung saja Arka dengan sigap langsung berlari dan menyambut Alicia di pelukannya hingga Alicia tak terluka sama sekali.
"Lu gak papa kan?" Tanya Arka untuk memastikan keadaan Alicia baik-baik saja.
"Gue gak pala kok, kan ada elu" Cengir Alicia terlihat.
Arka menurnkan Alicia dari gendongannya. Sejujurnya Arka benar-benar khawatir akan keselamatan Alicia.
"Lo ngapain sih? Pake acara naik-naik ke kursi segala?" Tanya Arka khawatir.
"Gue mau ngambil buku itu Ar" Jawab Alicia sambil menunjuk buku yang tadi hendak ia ambil.
"Ya tuhan. Kenapa gak minta tolong sama gue?"
"Hm..gue cuma gak mau ganggu lu tadi. Lu sibuk banget kayaknya"
Arka menghela nafas panjang. Ia mengambil buku yang Alicia maksud dan memberikan buku itu pada Alicia.
"Nih bukunya! Lain kali jangan kaya gitu lagi! Kalo lu jatoh, kan gue juga yang repot"
"Iya. Makasih ya"
Sebenarnya Arka tidak benar-benar melarang Alicia berbuat demikian. Ya tentulah! Kalau peristiwa seperti tadi mampu membuatnya bisa leluasa menyentuh Alicia, Mengapa tidak?
Toh, hal ini tidak buruk. Pikirnya.
Arka senang hari ini ia bisa menjadi malaikat penolong bagi Alicia. Senyum manis pun merekah menghiasi wajahnya dan membuat Arka semakin manis.
"Hei! Lo kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Alicia saat melihat senyum di wajah Arka yang terlihat aneh.
"Ha? Nggak kenapa-napa kok, ya udah kita balik ke kelas yuk!"
"Ayuk!!"
***
Rahcel berjalan perlahan mendekati Erlan yang sedang duduk manis di bangkunya.
"Erlan, Lu kenapa?" Tanya Rahcel.
"Gak papa" Singkat.
hanya itu jawaban singkat yang mampu terlontar dari mulutnya. Irit bicara namun tetap mempesona, itulah Erlan.
"Lu yakin lo gak papa? Lu udah makan belum?" Tanya Rahuel dengan suara lembut.
"Gue gak laper. Lu sendiri udah makan?"
"Udah, "
Keheningan seketika tercipta saat keduanya sama-sama diam. Tak ada satu pun yang membuka pembicaraan, sampai akhirnya Saga datang dan memecah keheningan.
"Kalian kenapa? Kok diem-dieman gitu?"
"Apa yang udah kalian lakuin sama Alicia tadi pagi?" Erlan malah balik bertanya.
Suara Erlan terdengar datar, Namun ada kemarahan di sana.
Rahuel dan Saga kaget mendengarnya, tumben Erlan bertanya soal itu. Biasanya Erlan tidak peduli dengan cewek-cewek yang di labrak oleh Rahcel dan Saga, tapi mengapa sekarang Erlan jadi terlihat begitu peduli pada Alicia?
"Jawab!!"
Erlan meminta jawaban dari pertanyaannya sambil menggebrak meja dan membuat Rahcel dan Saga makin kaget.
"Weitts... Santai bro! Kita cuma ngelakuin apa yang seharusnya kita lakuin kok" Jawab Saga.
"Iya, lagian lu kenapa sih? Biasanya juga lu gak peduli sama cewek-cewek yang kita labrak? Kenapa sekarang lo jadi peduli gini?" Tanya Rahcel pula dengan tatapan mata gak biasa.
"Kalian gak perlu ngelabrak Alicia! Dia gak tau apa-apa, dia anak baru di sekolah ini, kalian keterlaluan!"
"Tapi Erlan—"
"Cukup! Gue gak mau denger lagi kabar soal ini, jadi gue minta sama kalian jangan ngelakuin apa-apa lagi" Erlan memotong ucapan Rachel yang belum terselesaikan membuat Saga menatap Erlan dengan wajah heran.
Rahuel dan Saga hanya terdiam mendengar omelan Erlan.
***
Bel pertanda waktu pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi, namun Alicia masih belum selesai mengerjakan tugas bahasa Inggris yang di berikan gurunya.
Seisi kelas sudah hampir kosong, bahkan Arka sudah pamitan pulang duluan pada Alicia, karena ia ada urusan sepulang sekolah.
Alicia segera mengerjakan tugasnya secepat kilat. Dengan mengandalkan contekan dari Arka, ia menulis dengan cepat.
Setelah selesai, Alicia segera mengumpulkan tugasnya pada guru yang masih menunggu nya di meja guru. Lalu gurunya keluar kelas lebih duku tanpa menunggu Alicia yang masih beres-beres buku.
Wwuuusshhh...
Suara angin mengehembus pelan di telinga Alicia.
Menyadari bahwa kelasnya kosong, Alicia jadi merasa takut, apa lagi waktu sudah hampir petang. Lampu yang menerangi kelasnya saat itu sedang mati, hingga membuat kelas semakin bersuasana seram.
Suasana mencekam serta bunyi deritan jendela terdengar memenuhi ruang kelas. Tak ada seorang pun di sana kecuali Alicia. Bulu kudunya berdiri minta diajak pergi.
"Ih...! Sekolah ini kalo sepi serem juga ya" Gumamnya.
Tiba-tiba saja jendela ruangan itu terbuka sendiri hingga membuat Alicia kaget dan langsung berlari meninggalkan ruang kelas itu.
Saking cepatnya Alicia berlari, ia sampai menabrak Erlan yang sedang berjalan yang waktu itu Erlan tepat berada di depan pintu kelasnya.
Brruukk!!
Alicia jatuh kelantai dengan buku-buku yang ada di tangannya ikut berserakan.
Cepat-cepat Alicia memunguti bukunya dan berdiri kembali.
"Lo kenapa sih? Kaya habis ngeliat setan aja" Tanya Erlan agak sedikit kesal.
"G–gue.. Di dalem ada–hm.." Jabawan Alicia terbata-bata saking takutnya dia. Bahkan buku di tangannya tak teratur serta tasnya yang tak di sandang dengan benar.
"Heh! Kalo ngomong yang jelas!" Kesal Erlan makin menjadi-jadi.
"Gue kaget, jendela kelas kebuka sendiri tadi, " Ucap Alicia.
Erlan terkekeh mendengar itu. Melihat Alicia yang gugup dan raut wajahnya yang seperti itu membuat Erlan yakin kalau gadis itu sedang ketakutan. Pasti.
"hahah.... Lo takut?" Ucap Erlan pula.
"Nggak! Gue cuma kaget aja" Alicia berbohong.
"Kok jam segini lu belum pulang?" Tanya Alicia pula mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue habis ekskul, lu sendiri kenapa belum pulang?"
"Gue... eum.. gue"
Alicia benar-benar tampak grogi di depan Erlan. Apalagi mereka hanya berdua di sekolah saat itu. Aduh! Gimana nih? Pikiran Alicia pusing setengah mati menjawab pertanyaan sepele Erlan.
"Mau pulang bareng gak?" Tawar Erlan.
Alicia membulatkan bola matanya. Dengan cepat ia pun menjawab.
"Gak usah! Gue bisa pulang sendiri kok" Jawab Alicia mantap.
"Oh.. Oke"
Erlan berjalan kearah keluar gedung sekolah meninggalkan Alicia di depan kelasnya.
Waduh gue di tinggal! Gimana nih?
Tampak raut wajah ketakutan kembali menghampiri Alicia. Bulu kudunya kembali meremang saat merasakan hawa sejuk merambat lambat di tangannya. Sebelum Erlan hilang di kejauhan, Alicia cepat-cepat mengejar Erlan dan ingin pulang bareng dengannya, itu pun kalau dia mau.
"Erlan!! Tunggu!" Teriak Alicia.
"Gue pulang bareng lu aja deh, " Katanya kemudian.
"Katanya gak mau! Katanya bisa pulang sendiri. Kenapa sekarang minta pulang bareng?" Ucap Erlan mengingatkan Alicia pada ucapan awalnya yang menolak ajakan Erlan mentah-mentah.
"Lu gak mau nganterin gue? Ya udah kalo gak mau gak papa"
Alicia melengos pergi. Tapi tangannya keburu di tahan oleh Erlan sambil berkata.
"Eh, pulang bareng gue aja. sekarang udah hampir maghrib, nanti kalo lo kenapa-napa di jalan gimana?"
"Ya udah, ayo" Alicia tak mau berlama-lama di Koridor sepi gedung sekolah itu. Semakin lama akan semakin sore dan membuat gedung sekolah semakin terlihat saram.
Erlan berjalan duluan mendahului Alicia.
Dalam hati, Alicia sangat senang. Bagaimana tidak? Kemarin ia bisa melihat dada bidang Erlan, sekarang ia bisa pulang bareng Erlan, besok entah apa lagi yang bisa ia perbuat untuk Erlan.
"asyik! Gue bakal pulang bareng Erlan, "
Ucap alicia girang.
"Hei!! Cepetan jalannya..! Ntar keburu maghrib!"
Teriakan Erlan membangunkan renungan nya tentang hari esok. Cepat-cepat Alicia berlari mengikuti jejak Erlan menuju tempat motor Erlan terparkir
***
"Makasih ya, "Kata Alicia begitu mereka sampai di rumahnya.
"Iya.." Jawab Erlan singkat dan ketus.
"eum.. Lu gak mau mampir dulu?" Tanya Alicia basa-basi.
Erlan benar-benar terlihat cuek dan dingin. Ya namanya juga tuan sombong, begitulah sifatnya.
"Gak usah! Udah malem" Datar. Nada bicara Erlan benar-benar datar.
sepertinya anak itu tak pernah belajar paduan suara ya? Tak tau nada sama sekali.
Meskipun begitu, Alicia tetap memasang senyum di wajahnya. Ia harus terlihat ramah di depan Erlan. Walau sebenarnya Alicia meringis kesal melihat sifat Erlan.
"Besok mau di jemput nggak??" Tanya Erlan sebelum memasang hel full face nya. Mata Erlan melirik Alicia yang masih berdiri dengan buku di tangannya.
Alicia tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.
Ha? Di jemput Erlan? Aduh mimpi apaan gue bisa di jemput sama dia? Alicia terus sibuk dengan pikirannya.
Namun tanpa berpikir panjang lagi, Alicia langsung menjawab.
"Hm.. Boleh deh, lagian supir gue lagi gak ada"
"Oke"
Erlan menghidupkan mesin motornya. Selang beberapa detik, Erlan pun melaju dengan motor spornya itu dan menghilang di kejauhan.
Sekilas ada rasa kagum yang Alicia sematkan pada Erlan. Selain tampan dan rupawan, Ternyata Erlan juga baik. Tapi sikapnya yang judes dan ketus itu seharusnya di hilangkan saja. Agar ia semakin sempurna bak Romeo.
***
"Kok baru pulang non?" Tanya bik Minah.
Sesaat setelah Alicia memasuki rumahnya.
"Emm... Ada tugas tambahan di sekolah bik" Jawab Alicia dusta.
Alicia berlalu masuk ke kamarnya di lantai dua rumahnya.
Ia terus membayangkan momen-momen kebersamaannya dengan Erlan. Cowok itu sepertinya akan menjadi bagian dari kisah Alicia di sekolah untuk hari-hari selanjutnya.
Meskipun belum begitu mengenal sosok Erlan, Alicia sudah merasa cocok dengan Erlan. Andai saja tak ada Rachel, Mungkin ia sudah berteman dengan Erlan.
Tapi mengingat sifat Erlan yang judes, membuat Alicia berpikir dua kali untuk berteman dengannya.
Duh! Kenapa nih? Kok gue jadi kepikiran Erlan terus sih?? Gumamnya.
Tapi tiba-tiba wajah Arka melintasi pikirannya. Ia kembali membayang pada kejadian di perpus pagi ini.
Ia baru menyadari kalau ternyata Arka itu tampan juga, apa lagi saat ia melihatnya dari dekat, duh! Gantengnya!
Malam ini Alicia Benar-benar puas dengan kisah yang ia jalani di sekolah, banyak kenangan manis.
Ya walaupun tadi pagi di buka dengan insiden pelabrakan yang sempat membuat Alicia berfikir kalau riwayat nya akan tamat hari ini, tapi ternyata ia salah, hari ini indah sama seperti bulan malam ini, indah.