
Keesokan harinya, Arka kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun ada yang berbeda, karena hari ini Arka pergi ke sekolah bersama sahabat lamanya, yaitu Celina.
Arka memarkir motor sport berwarna birunya di parkiran sekolah. Celina melepaskan helm yang ia pakai, tapi katena tidak terbiasa memakai helm, Celina jadi kesusahan melepaskan helmnya. Untuk itu Arka membantunya.
"Makasih" Celina tersenyum manis pada Arka.
Arka merapihkan rambut Celina yang agak berantakan karena memakai helm dan tertiup angin. Celina hanya diam sambil memandang Arka dengan tatapan kagumnya.
Celina begitu merindukan belaian lembut dari Arka. Dulu ia selalu di belai seperti ini, tapi semenjak ia pindah ke Bandung ia tak lagi mendapatkan belaian ini. Rindu rasanya dengan momen-momen keberadaan seperti ini. Ia berharap setelah ia menetap di Jakarta, ia bisa selalu seperti ini sampai kapanpun.
Merasakan kebersamaan bersama orang terkasih merupakan hal yang paling membahagiakan bagi Celina.
Hati Alicia merasa panas kala melihat itu semua, tadinya ia ingin menemui Arka untuk mengembalikan buku catatan bahasa Indonesia nya yang semalam ia pinjam. Akan tetapi, ia malah di suguhkan kejadian yang membuatnya kesal. Tapi Alicia tetap menghampiri Arka yang masih bersama Celina.
"Nih buku lu. Makasih ya" Ujar Alicia sambil memberikan buku catatan Arka.
"Iya, sama-sama" Balas Arka manis seraya menerima buku itu.
"Kalo gitu gue duluan ya"
"Iya" Jawab Arka singkat.
Alicia berjalan menuju gedung sekolah. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat Arka dan Celina yang masih berada di parkiran.
"Ih! Kok gue gak di kejar sih?! Malah di diemin aja"
Gerutu Alicia kesal dengan sikap Arka.
Alicia kembali berjalan. Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di bahunya, semula Alicia mengira kalau tangan itu adalah tangan Arka, tapi ternyata ....
"Rudi?! Apa-apaan sih?! Main rangkul-rangkul aja, " Ketus Alicia sembari menepis rangkulan Rudi.
"Udah lah, dari pada lu jalan sendirian, mendingan gue temenin aja. Pasti hati lu panas kan gara-gara ngeliat Arka sama celina berduaan?"
Alicia menoleh ke belakang, melihat Arka dan Celina yang juga memperhatikan nya. Memang benar jika ia masih kesal dengan Arka, tapi bukan berarti ia harus menerima perlakuan Rudi kan? Ini sangat tidak nyaman untuknya.
Sementara itu, Arka dan Celina masih terus memperhatikan interaksi antara Alicia dan Rudi yang terlihat aneh.
"Ya tapi gak usah pake rangkulan bisa gak sih? Gue risih" Keluh Alicia dengan wajah cemberut.
"Udah gak usah risih segala. Gue tau kok lu mau bikin Arka cemburu kan?"
"Cih..! Sok tau lu, ” Balas Alicia sambil memutar bola mata dengan malas.
"Lah, emang gue tau. Makanya gue rangkul lu. Ya udah yuk kita masuk, ntar makin panas lagi"
Walaupun kesal, Alicia akhirnya membiarkan Rudi merangkulnya. Setelah sampai di Koridor dekat kelasnya baru lah Alicia melepaskan rangkulan Rudi padanya.
"Udah ah! Gak usah rangkulan mulu. Arka nya juga udah gak ada. Mendingan sekarang lu pergi sana" Ketus Alicia.
"Kenapa kita gak ke kelas bareng aja? Biar bisa lebih lama rangkulan nya" Goda Rudi sambil kembali merangkul Alicia.
"Gak perlu! Lagian kan kita beda kelas. Udah deh lu sana pergi ke kelas lu!" Pinta Alicia yang sudah mulai kesal dengan tingkah laku Rudi. Jujur saja, dari awal sebenarnya Alicia sudah tak nyaman dengan Rudi, anak itu terlalu kegatelan baginya.
"Kalo gue gak mau gimana?" Goda Rudi sambil nyengir sinis.
"Pergi sana!" Alicia mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh darinya.
Seketika raut wajah laki-laki itu berubah, seperti orang ketakutan. Wajahnya terlihat gugup serta datar.
"O—oke oke! Gue p—pergi" Katanya gugup.
Alicia jadi heran ketika Rudi tiba-tiba gugup dan ketakutan. Alicia menoleh ke belakangnya yang sudah menjadi arah tujuannya menuju ke kelasnya.
Erlan.
"Hm, Pantesan Rudi langsung kabur. Ada pawangnya ternyata" Desis Alicia.
Erlan tetap berdiri di depannya tanpa berkata apapun. Sungguh, Erlan tampak seperti es, dingin sekali sikapnya. Ditambah lagi dengan posisi kedua tangannya yang di masukkan ke dalam saku celana dengan tatapan tajam menatap Alicia membuat Alicia gugup seketika.
Dengan berat ia menelan salivanya.
"G—gue duluan yah, " Ucap Alicia. Erlan hanya mengangguk.
***
Jam istirahat telah tiba. Alicia memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk di kursi yang terletak di pinggir lapangan basket. Entah kenapa sejak Erlan mengajaknya duduk di pinggir lapangan itu tempo hari, membuat Alicia ingin duduk di situ terus. Sambil terus menyedot pop ice yang ia beli di kantin, Alicia terus menatap lurus ke arah lapangan basket. Di sana ada Erlan dan Saga yang tengah bermain basket bersama anak basket lainnya.
Arka terus memperhatikan gadis yang sedang duduk di lapangan basket itu.
'Ngapain Alicia di situ?' batin Arka heran. Arka pun menghampiri Alicia dan duduk di samping nya.
"Ngapain lu di sini?" Tanya Arka begitu ia sampai.
Alicia menoleh sedikit.
"Lu sendiri ngapain di sini? Biasanya lu sama Celina" Ujar Alicia ketus.
"Celina lagi ada urusan di ruang OSIS" Jawab Arka tanpa memandang Alicia.
"Kenapa malah nyamperin gue? Kenapa lu gak nyamperin Celina aja? Ntar dia marah lagi" Ujar Alicia dingin.
"Gue lagi pengen sama lu aja. Urusan Celina masih lama selesainya"
Alicia memalingkan pandang ke arah Arka yang duduk di sampingnya.
"Ya lu samperin lah! Tungguin tuh kalo perlu, Biasanya juga lu mau nungguin dia tanpa peduli sama gue" Kesal Alicia melihat sikap Arka yang akhir-akhir ini sering melupakannya.
Wajah Arka berubah heran. Jelas heran, pasalnya Alicia bicara dengan nada ketus dan tidak memandang wajahnya. Selain itu dia juga jadi sering cemberut, sepertinya Alicia kesal karena ia terlalu dekat dengan Celina. Itu yang ada di pikiran Arka.
Alicia yang masih kesal hanya melirik Arka dengan ujung matanya lalu kembali fokus menatap bola oren yang di pantulkan ke lantai oleh salah satu anak basket.
"Lu kenapa sih? Kok keliatan kesel gitu" Tanya Arka penasaran.
"Gak papa"
"Yakin? Atau jangan-jangan lu cemburu ya sama Celina?" Goda Arka sambil menyenggol bahu Alicia.
"Nggak kok. Ngapain juga gue cemburu sama Celina?" Ucap Alicia menutupi rasa kesalnya.
"Ah, Udah deh, ngaku aja! Lu cemburu kan? Iya kan?" Goda Arka sambil nyengir kegirangan.
Pipi Alicia memerah, menyadari kalau ia cemburu Arka dekat dengan Celina. Tapi mau bagaimana lagi, ia bukan siapa-siapa bagi Arka, jadi ia tak berhak melarang Arka dekat dengan siapapun. Sebisa mungkin ia menutupi rasa cemburunya itu.
Ia mendehem pelan untuk sedikit mengurangi tampang cemburunya. Bisa gawat jika Arka tau kalau dirinya memang cemburu.
"Apaan sih?! Gue gak cemburu kali. Ngapain gue cemburu" Bantah Alicia.
"Alah! Ngaku aja kenapa sih?! Gue tau lu itu cemburu, ”
"Idih! Sok tau banget, sih, '
"Ya iyalah gue tau. Secara kan, Ehem ehem.. Gue ini ganteng, pinter, rajin dan .... Baik hati pula. Pasti lu cemburu kan karena gue deket sama Celina? Iya kan? Iya kan?" Kata Arka sambil mengusap-usap bajunya yang tak kotor, pertanda kalau ia menyombongkan diri.
"Cih..! Pede banget sih? Lagian nih ya, kalo bicara soal ganteng, masih banyak cowo yang lebih ganteng dan lebih keren dari lu! Tuh! Lu liat kan, Erlan itu jauh lebih ganteng dan jauh lebih keren dari pada elu. Jadi lu gak usah kepedean deh kalo gue cemburu liat lu sama Celina" Ucap Alicia tak kalah sombongnya.
"Hehe, biarpun Erlan itu jauh lebih ganteng dari gue, tapi lu gak bisa kan macarin dia? Jangankan macarin, deket aja kagak, " Kata Arka sambil senyum sinis meremehkan Alicia lalu di akhiri dengan kekehan menyebalkan khasnya.
"Eh, siapa bilang gue gak bisa macarin Erlan?! Gue bisa kok macarin dia. Buat gue mah, itu hal kecil, " Sanggah Alicia.
Meskipun Ia tak yakin jika ia bisa memacari Erlan karena sifat mereka yang bertolak belakang, tapi tetap saja Alicia masih mengedepankan rasa ego nya di bandingkan akalnya. logika saja, mana mungkin ia bisa berpacaran dengan seorang 'Pangeran Sekolah' yang notabene nya mempunyai teman super posesif seperti Rachel.
Anggapan 'Pacaran' itu jadi seperti mustahil untuk di dapatkan.
"Masa?" Tanya Arka.
"Iya"
"Oke kalo gitu buktiin dong, lu harus bisa macarin Erlan dalam kurun waktu dua bulan" Tantang Arka.
Alicia tercengang kala mendengar ucapan Arka yang menantangnya seperti itu. Dua bulan? Hanya dua bulan waktu yang Arka berikan untuk menaklukan seorang Erlan? Alicia sendiri tak yakin akan hal itu. Memacari orang berhati batu seperti Erlan akan memakan waktu lama untuk meluluhkan hatinya, liat kan sikap Erlan itu sedingin apa pada Alicia. Bahkan bukan hanya pada Alicia, tapi pada semua orang Erlan bersikap dingin. Ya kecuali pada sahabatnya Rahcel dan Saga. Erlan sangat hangat pada mereka.
Tapi Alicia tak mau di remehkan oleh Arka, kalau tantangan itu tidak di penuhi, maka Arka akan menganggap kalau dirinya memang cemburu pada Celina, ya walaupun itu memang kenyataannya begitu, tapi Alicia tak terima begitu saja. Maka dari itu, Alicia memutuskan untuk menerima tantangan dari Arka.
"Oke! Gue bakal buktiin sama lu kalo gue bisa macari Erlan. Lu liat aja, suatu saat lu bakalan denger kabar kalo gue sama Erlan si pangeran Sekolah udah jadian" Kata Alicia bangga.
"Oke, tapi kalo lu gak berhasil buat macarin Erlan, lu harus siap-siap nerima hukuman dari gue"
"Hukuman? Hukuman apaa?!" Tanya Alicia penasaran.
"Kalo lu gak berhasil macarin Erlan, lu akan gue hukum makan cabe satu kilo, eh jangan satu kilo deh. Setengah kilo aja. Gue kasihan sama lu, kalo lu gak berhasil gimana? Ntar kalo pingsan karena makan cabe, yang ada gue yang di salahin lagi"
Alicia menelan ludahnya, ngeri dengan hukuman Arka. Makan cabe? Alicia merasa takut, dia menyadari kalau dia tak suka makan pedas dan sekarang malah di tantang makan cabe pula.
'Oh my god! Cobaan apa ini tuhan?' keluh Alicia saat mendengar hukuman itu.
Tapi yang namanya Alicia tidak akan menyerah secepat itu, ia tetap menyanggupinya dan berusaha untuk memenangkan tantangan itu.
"Hukuman apaan? Jangan sok ngasih hukuman deh, palingan juga nanti elu yang kalah" Kata Arka meremehkan Alicia sambil menampakkan cengirannya.
"Heh! Sombong banget sih lu. Pokoknya nih ya, kalo gue menang lu harus ngejalanin hukuman lari keliling lapangan basket ini sebanyak 50 kali"
"Heh, lari?"
"Iya" Jawab Alicia sambil mengangguk dengan tatapan mata lurus ke depan.
"Keliling lapangan ini? Heh itu mah kecil buat gue. Nih ya, jangan kan 50 kali, 100 kali pun gue terima!" Arka lagi-lagi menyombongkan diri.
Alicia jadi sedikit kesal melihat tingkah Arka yang semakin lama semakin menyebalkan. Jujur, Ia memang senang dengan sikap Arka yang menyebalkan tapi selalu ia rindukan. Tapi tetap saja, Pertaruhan yang baru saja mereka lakukan tadi membuat Alicia sedikit ciut.
Dengan wajah santai, Alicia berkata,
"Hei! Gak usah songong deh lu. Ntar giliran kalah baru tau rasa lu" Alicia kesal.
"Kalah? GAK AKAN!" Jawab Arka pasti.
Alicia hanya memutar bila Matanya malas.
'Sombong amat sih ni anak. Awas aja lu ya, kalo gue menang nanti. Gue bakalan bikin lu nyesel udah nantang gue. Alicia kok di lawan' batin Alicia kesal.
"Ya udah. Kalo gitu gue balik ke kelas dulu yah. Selamat berjuang Alicia, ” Kata Arka sembari beranjak dari duduknya dan juga menepuk pelan pundak Alicia.
Alicia jadi merasa makin di remehkan. Arka memberi tantangan yang sulit. Sungguh sulit.
“Siap-siap lari keliling lapangan lu!!" Teriak Alicia saat Arka mulai masuk ke dalam gedung sekolah.
Arka tak merespon, ia hanya mengangkat tangan kanannya dan menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya sambil terus berjalan membelakangi Alicia.
Alicia kembali melempar pandang ke lapangan. Melihat Erlan yang sedang sibuk bermain basket. Dan dari sebrang lapangan sana, ada Rahcel yang meneriaki nama kapten tim basket, yaitu Erlan. Erlan tersenyum saat memandang ke arah Rahcel, begitu juga Rahuel yang membalas senyuman Erlan.
Gadis yang mengikat rambutnya menjadi satu itu juga sempat melirik Alicia, mendapat lirikan itu, cepat-cepat Alicia memalingkan pandang ke arah lain.
"Gimana mau macarin Erlan coba? Dia kan punya bodyguard macam Rahcel. Jangankan macarin, deket aja gak boleh. Rahcel pasti gak bakalan ngebiarin gue deket sama Erlan" Alicia sibuk bicara sendiri.
"Aduh!!! **** banget sih gue! Ngapain lagi pake nerima tantangan dari Arka segala?! Udah tau susah, masih aja gue terima. Uhhh!!! Dasar ****! ”Gerutu Alicia kesal dengan tindakannya sendiri.
Alicia mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Wajahnya tampak kusut, sama seperti rambutnya yang kusut.
Erlan yang sudah selesai dengan olahraga basketnya berjalan menuju pinggir lapangan untuk beristirahat.
Alicia terus memperhatikan Erlan sampai ia tiba di pinggir lapangan, tepat di samping kirinya yang hanya berjarak dua bangku panjang, ya sekitar 4 meteran saja.
"Issh..! Gimana mau deketin Erlan coba? Fansnya banyak banget!" Dengus Alicia kesal saat melihat Erlan yang baru tiba langsung di kerumuni banyak siswa perempuan.
Fans Erlan tampak sangat perhatian, mereka begitu memperhatikan idolanya itu. Ada yang bawa minuman untuk Erlan, makanan, cemilan, kipas, bahkan ada pula yang membawa sapu tangan untuk mengelap keringat lelaki idola yang mendapat julukan pangeran sekolah itu.
Tak tahan melihat semua itu, Alicia memilih pergi dengan hatinya yang dongkol.
"Aish...!! Dasar fans fanatik! Bikin gue makin bad mood aja!" Desis Alicia sambil melangkah pergi.
Erlan hanya memperhatikan Alicia tanpa ada niat untuk mengejarnya. Fans nya terlalu sibuk mengurusi dirinya, sampai-sampai Erlan sendiri tak bisa bergerak kemanapun untung nya ada Rahcel yang selalu bisa di andalkan. Disaat yang tepat Rahcel buka suara dan fans Erlan langsung menyingkir.
***
Tantangan dari Arka untuk memacari Erlan sukses membuat Alicia gundah. Ia terus berguling-guling di atas tempat tidurnya. Berguling ke kanan, ke kiri dan tak jarang ia sampai jatuh dari atas tempat tidur.
Alicia benar-benar resah, bingung, gundah gulana serta khawatir memikirkan tantangan dari Arka. Alicia terus mondar-mandir di kamarnya, sesekali ia mengacak rambutnya karena frustasi memikirkan tantangan konyol itu.
"Aduh! Gimana nih? Gue harus gimana?! Macarin Erlan? Mana bisa! Gue kan gak suka sama dia. Apa lagi Erlan, dia juga pasti gak suka sama gue. Gimana bisa gue jalin hubungan sama orang yang sama sekali gak gue suka?!" Keluhnya pada diri sendiri.
"Apalagi ada Rahcel, sahabatnya Erlan yang selalu deket sama dia. Dia pasti bakalan mempersulit gue! Huuuaaaa.!"
Alicia merasa putus asa, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
***
Matahari mulai bersinar. Dengan semangat baru Alicia bangkit dari tidurnya dan lekas bersiap ke sekolah.
Dengan senyuman yang terukir di wajahnya Alicia berjalan melewati koridor sekolah. Tak lupa pula ia menyapa orang-orang yang ia jumpai, termasuk Rudi.
"Tumben lu nyapa gue. Ada angin apaan?" Tanya Rudi yang heran dengan sikap Alicia.
"Gak kenapa-napa. Emang lu gak seneng di sap sama gue?"
"Ya seneng lah! Siapa sih yang gak seneng di sapa sama bidadari sekolah kaya elu?" Ujar Rudi cengengesan.
"Ada kok yang gak seneng di sapa sama gue" Jawab Alicia ketus.
"Siapa?"
"Tuh" Alicia mengangkat dagu nya ke arah orang yang ada di belakang Rudi, Erlan.
"Eh, Erlan, " Rudi melihat arah yang du tunjukkan Alicia. Rudi kaget, ingat waktu itu ia pernah di tonjok oleh Erlan dan berakhir di rumah sakit? Ya! Rudi masih trauma. Rudi langsung pergi tanpa basa-basi.
"Pagi Lan, " Sapa Alicia pada Erlan.
Dan ya, seperti dugaannya. Erlan tak mau menjawab sapaan dari Alicia dan terlihat tidak suka.
Erlan hanya diam dan kemudian berlalu meninggalkan Alicia di Koridor itu tanpa berkata apa-apa sama sekali.
Lagi dan lagi, Alicia menghela nafas kesal. Erlan benar-benar sulit untuk di taklukan. Bagaimana mungkin mereka bisa berpacaran? Alicia terjebak dalam tantangan konyol.
"Tuh kan, Erlan gak seneng kalo di sapa sama gue" Gumam Alicia pelan.
"Lu ngomong apa barusan?" Tanya Erlan. Dia dengar apa yang di katakan Alicia, walaupun Alicia sudah bicara dengan volume suara yang halus.
Erlan yang baru saja melangkah kembali pada posisi semula dan berhadapan dengan Alicia.
"Ng—nggak, bukan apa-apa kok" Elak Alicia.
"Soal matematika dari gue udah di kerjain belum?"
"Belum" Jawab Alicia santai diiringi gelengan kepalanya.
"Kenapa?"
"Karena gue gak bisa. Makanya ajarin lagi" Alicia memasang wajah memelasnya.
"Nanti siang pas jam istirahat pertama gue tunggu lu di perpustakaan. Jangan sampe telat" Suruh Erlan.
"Mau ngapain?" Alicia heran.
"Datang aja" Jawab Erlan dingin.
Lalu Erlan pergi dari hadapan Alicia menuju kelasnya yang arahnya ada di belakang Alicia.
Alicia mengangkat bahunya, tanda tak mengerti dengan maksud Erlan.
"Terserah lah" Ujarnya pelan.
Lalu Alicia kembali berjalan menuju kelasnya.
***
Ketika jam istirahat tiba Alicia bergegas menuju ke perpustakaan untuk menemui Erlan.
"Mau ngapain sih?" Tanya Alicia saat sudah sampai di hadapan Erlan.
"Duduk" Pinta Erlan.
"Buat apa?"
"Gak usah banyak tanya bisa gak sih?" Erlan mulai kesal.
Alicia duduk disamping Erlan.
Rupanya Erlan meminta Alicia ke perpustakaan untuk mengajari Alicia matematika.
Erlan mengajari Alicia materi matematika yang tidak ia mengerti. Dengan sabar Erlan mengajari Alicia.
Mata Alicia tak henti-hentinya menatap angka-angka yang betebaran di buku yang ada di depannya. Sesekali ia melirik mata Erlan. Memperhatikan bentuk wajah lelaki yang di juluki pangeran sekolah itu. Bentuk wajah Erlan memang rupawan, dengan dagu lancip, rahang yang kuat, bibir tebal dan merah, hidung mancung, mata indah sempurna serta alis yang tebal membuat lelaki itu sangat tampan.
Tak heran kalau sekolah menjulukinya pangeran, bahkan setelah Alicia men stalking instagram Erlan, Alicia tau jumlah followers Erlan lumayan banyak.
Erlan, sungguh pria populer dengan segala kepintarannya membuat siapapun menaruh hati padanya. Bahkan di saat ia sedang belajar dengan Alicia pun, banyak Fans Erlan yang memperhatikan mereka dari luar perpustakaan. Alicia tau itu karena memang pintu perpustakaan terbuat dari kaca yang tembus pandang, jadi Alicia tau.
"Aduh!! Mereka pada ganggu aja deh" Gusar Erlan yang merasa risih dengan Fans nya itu.
"Mereka fans lu ya?" Tanya Alicia.
"Ya gitu deh, udah nih lu kerjain! Gue mau ke toilet dulu"
Begitu Erlan keluar perpustakaan, semua fans nya mengikuti hingga perpustakaan kembali sepi. Alicia hanya geleng-geleng kepala melihat semua ini.