
Ini requestnya aku buatin mumpung aku ada waktu.
...----------------...
Orang-orang di dunia ini pasti sudah terikat dengan sesuatu yang bernama takdir.
Saat seseorang menginjak usia 10 tahun. Sebuah benang merah akan muncul di jari kelingking mereka.
Dengan begitu benang tersebut akan mempertemukan mereka dengan belahan jiwa nya, dengan kata lain mereka di takdirkan untuk bersama.
...***...
(Name) melangkah menelusuri koridor sekolah, dengan setumpuk buku berada dalam dekapannya.
Dibuka nya pintu perpustakaan sesaat setelah (Name) tiba. Bisa ia lihat kedua temannya tengah menunggu kedatangannya saat ini.
"(Name) kau lama sekali sih" omel Akane saat (Name) mulai menarik bangku kosong yang ada di sebelahnya.
"Maaf, tadi ada guru yang memanggilku. Bagaimana apa kalian sudah menentukan tema nya?"
"Belum.. makanya kami butuh bantuanmu."
Minggu depan sekolah akan mengadakan festival budaya. Dan (Name) termasuk salah satu anggota ekskul manga, saat ini mereka sedang mendiskusikan tentang apa yang akan klub manga tampilkan saat festival nanti.
"Mengenai penjualan fanart kupikir."
"Oh! kalian sedang mengadakan rapat kecil ya? Klub manga kan?"
Tiba-tiba seorang pria dengan surai gelap mendatangi meja mereka.
(Name) mengadahkan kepalanya untuk memastikan siapa sosok yang berdiri di belakang nya saat ini. dan ternyata ia adalah Kuroo Tetsurou, salah satu guru kimia di SMA Nekoma.
"Ahh Kuroo-sensei... iya kami sedang mendiskusikan apa yang akan kita tampilkan saat bunkasai nanti" tutur salah satu teman (Name)
"Kalau begitu semangat dalam rapat nya, dan jangan pulang terlalu sore" ucapnya sambil melambaikan sebelah tangannya.
Sedangkan (Name) hanya bisa melihat pungung Kuroo yang mulai berjalan menjauhi perpustakaan. Saat itu juga (Name) menggulirkan atensinya untuk memandang jari kelingking di tangan kiri Kuroo.
Bisa (Name) lihat tepat di jari kelingking kuroo terdapat simpul benang merah, yang tidak terikat dengan siapapun.
Sama sepertiku
"Ngomong-ngomong aku sempat heran, kenapa Kuroo-sensei belum menemukan pasangan hidupnya? Padahal dia orang yang sangat keren" ucap Akane.
"Entahlah.. barangkali pasangan hidupnya tidak tinggal di dekat sini. Mungkin saja Kuroo-sensei ditakdirkan dengan artis Hollywood di luar sana. Atau mungkin pasangan hidupnya belum genap 10 tahun, sehingga benangnya tidak tersambung"
"Eh seriuss!!! Ahhh aku tidak bisa menyaingi seorang artis"
"Apa kau secara tidak langsung mengatakan jika kau ingin berpasangan dengan Kuroo-sensei?"
"Kenapa tidak! dia tinggi, tampan, dan keren."
"Ngomong-ngomong (Name) kau juga belum menemukan pasanganmu kan?"
(Name) yang tadinya melamun mulai kembali ke alam bawah sadarnya.
"Ah! i- iya belum" ucapnya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal
Tiba-tiba sebelah tangan Akane terangkat dan merangkul bahu (Name).
"Tenang saja (Name), kesempatanmu itu masih banyak lagian kamu itu masih muda. Aku yakin kau akan segera menemukan pasangan hidupmu." ucap Akane mencoba untuk menghibur (Name).
(Name) hanya tersenyum simpul sembari terkekeh kecil.
"Terimakasih.. Akane-chan."
"Bukan masalah..... Oh! Lev-kun!"
Tidak lama kemudian seorang pria setinggi tiang rusia berdiri menghalangi pintu, sepertinya dia kemari untuk menjemput Akane.
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Akane sembali berlari kecil mendekati Lev.
(Name) memandangi pasangan itu dengan intens, bisa (Name) lihat benang merah mereka saling terikat satu sama lain.
"(Name)-senpai aku juga permisi dulu" ucap salah satu anggota ekskul.
Mereka mulai melangkah meninggalkan perpustakaan. sementara (Name) masih menetap di posisinya. Sendirian di perpustakaan.
Sabar dulu ya mbak (Name),///Plak
Oks lanjut.
Di lihat nya pemandangan luar jendela yang mulai menampilkan langit senja yang berwarna oranye.
Karena tidak ingin pulang terlalu malam, (Name) memutuskan untuk segera mengemasi barang barangnya dan melangkah untuk pulang ke rumah.
...***...
"Tadaima Okaa-san"
"Oh! (Name) okaeri! Bagaimana dengan sekolahnya hari ini?"
"Umm.. yah begitulah, tidak ada yang spesial."
(Name) mulai mendudukan diri di meja makan dan langsung melahap makan malamnya.
"Chotto (Name).. pergilah mandi terlebih dahulu! Lihat wajahmu! kusam sekali."
"Aku akan segera mandi setelah aku menghabiskan makananku."
"Permisi... (Lastname)-san. Apa ada orang di rumah."
"Ha'i"
Ibu (Name) sedikit berlari kecil menuju pintu utama. Bisa (Name) dengar dari ruang makan sepertinya mereka sedang mengobrolkan sesuatu.
Karena (Name) sudah selesai dengan urusan makan malamnya akhirnya ia memutuskan untuk segera mandi. Di raih nya handuk terdekat dan ia mulai melangkah memasuki kamar mandi.
Di saat (Name) selesai mandi ia melihat sebuah box styrofoam berukuran besar di atas meja makannya.
"Okaa-san.. ini apa?" ucap (Name) sambil menunjuk ke arah box tersebut.
"Oh itu! teman lama ibu tadi datang berkunjung, dia memberikan banyak seafood yang segar. (Name) cepat ganti bajumu dan tolong belikan ibu bumbu dapur di supermarket."
"Tapi ini sudah malam bu... besok saja ya."
"Kalau begitu besok kau tidak akan bisa membawa bekal onigiri dengan isian tuna kesukaanmu."
...***...
(Name) mulai berjalan menelusuri lorong bumbu dapur. Dengan secarik kertas di genggamannya ia mulai mencari barang-barang yang tertera di daftar belanjaan tersebut.
"Okaa-san jahat.. mengancamku dengan makanan seperti itu adalah sebuah kejahatan." *Hiks
Netra (Name) mulai fokus mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Ia sudah terbiasa pergi belanja sendirian seperti ini.
"Etto... kecap, saus tiram, daun bawang, jamur shiitake, camilan untukku"ucap (Name) sambil mengabsen barang-barang belanjaannya.
"Sekarang tinggal mayonnaise.."
(Name) mencoba meraih mayonnaise yang terletak di atas lemari, ia sedikit mengumpat dalam hati dan menyumpah kepada pegawai yang meletakan di tempat yang sulit dijangkau seperti ini.
Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar terangkat dan meraih botol mayonnaise tersebut. (Name) sedikit terkejut karena pria tersebut memberikan mayonnaise itu kepada (Name).
"Ah.. te-terimakasih banyak" ucap (Name) sambil membungkuk.
(Name) segera mengadahkan kepalanya untuk menatap sosok pria dihadapannya saat ini.
"Ah! Kuroo-sensei?!"
"Yo! (Lastname)-chan."
...***...
...--------------------------------...
"Ah begitu. jadi kau pergi belanja karena ancaman dari ibumu. Bukannya itu kejahatan??"
"Benarkan!! Aku juga berpikir seperti itu, kau tidak boleh memaksa seseorang dengan cara mengancam nya dengan makanan."
Akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk pulang bersama. Sebenarnya Kuroo yang memaksa (Name) untuk ikut pulang bersama.
"Sensei kau tidak perlu mengantarku pulang, lagian rumahku juga tidak terlalu jauh dari sini."
"Tidak, tidak, tidak! Seorang guru harus bertanggung jawab atas keselamatan muridnya."
(Name) sedikit tersenyum simpul melihat tingkah laku gurunya.
Dan saat itu juga (Name) tidak sengaja melihat kembali simpul benang merah milik Kuroo.
(Name) segera mengalihkan atensinya. Ia tidak ingin jika Kuroo mengetahui jika ia diam diam memperhatikan benang merah miliknya.
Namun sayangnya Kuroo sudah terlanjur mengetahui itu. Karena diam-diam Kuroo juga memperhatikan benang merah milik (Name).
"Apa kau mau es krim?" tanya Kuroo.
"Ah.. ti- tidak usah."
"Tidak apa-apa. Aku tadi membeli banyak es krim, kau mau satu?" ucap Kuroo sambil mengeluarkan sebuah es krim dari kantung belanjaan miliknya.
Meskipun awalnya ragu-ragu, namun pada akhirnya (Name) mulai meraih dan menerima pemberian Kuroo tersebut.
"Terimakasih Kuroo-sensei" ucap (Name) sambil tersenyum simpul.
Melihat hal itu tentu saja membuat Kuroo terkena dampak yang besar. Semburat merah dengan cepat memenuhi kedua pipinya. Kuroo segera mengalihkan atensinya, sedangkan (Name) tertunduk malu karena semburat merah juga menghiasi kedua pipinya.
Saat di lampu merah, mereka berdua melihat sebuah pasangan yang juga mengantri untuk menyebrang jalan. Bisa mereka lihat benang merah pasangan tersebut saling terikat satu sama lain. melihat hal itu tentu saja membuat (Name) sedikit sedih.
Karena pada umumnya, saat seorang anak menginjak usia 10 tahun, benang merah tersebut akan muncul di jemari tangan kirinya.
Dan sesaat setelah benang merah itu muncul benang tersebut akan langsung memunculkan ikatan yang mengikat mereka dengan belahan jiwanya.
Bisanya paling lama butuh waktu 5 tahun untuk menunggu benang tersebut saling terikat satu sama lain, sampai pemilik benang tersebut menemukan pasangan hidupnya.
Namun terkecuali (Name), ia sudah menunggu 9 tahun lamanya, namun tidak ada tanda akan munculnya ikatan benang merah yang mempertemukannya dengan belahan jiwanya.
Apa aku memang tidak di takdirkan dengan siapapun?
Tentu saja Kuroo menyadari terhadap perubahan raut wajah pada (Name). melihat hal itu entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.
Sesaat mereka sampai di sebrang jalan, Kuroo segera menggapai sebelah tangan (Name) dan menariknya.
"Kuroo-sensei? Kita mau kemana?"
"Di sebelah sini ada sebuah taman kecil. Bagaimana kalau kita menghabiskan sisa es krim di sana?"
Sesampai di taman tersebut (Name) bisa melihat lampu kecil yang berwarna-warni menerangi taman tersebut. Awalnya (Name) mengira jika ini taman ini hanyalah sebuah taman kecil biasa, namun ia tidak mengira jika pada saat malam hari taman ini terlihat sangat begitu indah.
"Seperti ladang kunang-kunang," seru (Name).
"Oooh! Itu perumpaman yang bagus (Lastname)-chan."
Mereka mulai mendudukan diri di salah satu bangku yang ada di sana. Sunyi yang ada, karena mereka berdua terlalu sibuk menghabiskan es krim mereka masing-masing.
Kesunyian itu mulai buyar ketika akhirnya (Name) memutuskan untuk buka suara.
"Sensei... apa kau tidak kesepian?"
Kuroo segera mengalihkan atensinya untuk menatap gadis yang tengah duduk di sebelahnya saat ini. ia melihat (Name) yang mulai menunduk sembari menggenggam ujung pakaiannya.
"Maksudku... selama ini sensei belum menemukan belahan jiwamu, apa kau tidak merasa kesepian?"
Tiba-tiba saja sebuah tangan mendarat di pucuk kepala (Name). Akibatnya ia sedikit tertegun karena tekejut.
"Yah.. memang awalnya terasa sedikit kesepian, apa lagi di saat melihat teman-temanku yang lain satu persatu mulai menemukan belahan jiwanya.
Jujur itu sedikit membuatku frustasi, aku selalu memikirkan bagaimana jika nantinya aku meninggal sendirian dan tanpa mengetahui siapa belahan jiwaku."
(Name) memandang Kuroo dengan tatapan yang dalam, sementara Kuroo yang awalnya menatap langit mulai menggulirkan netranya untuk menatap langsung netra milik (Name).
"Tapi kau tidak boleh merasa seperti itu. meskipun kau belum menemukan pasangan hidupmu, kau tidak boleh depresi. Aku yakin mereka akan datang di saat yang tepat, meskipun kau harus menunggu 15 tahun lamanya, aku yakin mereka akan datang.
Kau hanya perlu menggunakan waktu menunggumu dengan hal baik karena Tuhan itu tahu kapan waktu yang tepat untuk dia menyentuh hatimu."
Seketika kilau cahaya terpancar di tatapan (Name). Memang keputusannya untuk bertanya kepada Kuroo adalah hal yang tepat.
(Name) kembali menunduk dan menyembunyikan bulir air matanya.
"Arigato.. Kuroo-sensei." lirih (Name).
Mendengar hal itu tentu saja membuat Kuroo merasa senang. Ia sedikit menarik kepala (Name) agar bersanda di dada bidang miliknya.
"Doitashimashite."
....
...--------------------------------...
Karena hari sudah semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing.
"Oh iya sensei... Terimakasih juga atas es krimnya."
"Sama-sama, jika ada hal yang kau ingin ceritakan... kau bisa curhat padaku" Kuroo menganggkat jari kelingkingnya yang terdapat sebuah simpul benang merah.
"Sebagai sesama 'simpul benang merah' kau bisa mencurahkan semua isi hatimu padaku" ujar nya.
(Name) terkekeh kecil, ia mulai berjalan mendekat sembari mengangkat jari kelingkingnya, yang mana juga terdapat sebuah simpul benang merah.
Dan mereka saling melingkarkan jari kelingking satu sama lain, membuat janji jika mereka akan membantu satu sama lain, sembari menemukan belahan jiwa mereka masing-masing.
"Kalau begitu sensei aku pulang dulu, rumah ku lewat arah sini."
"Ah sayang sekali, rumah kita tidak satu arah, padahal aku ingin mengantarmu pulang sampai depan rumah."
"Tidak perlu sensei, lagipula rumah ku juga sudah dekat. Sampai jumpa besok Kuroo-sensei."
"Iya sampai jumpa di sekolah (Lastname)-chan."
Mereka mulai berpisah di sebuah persimpangan, dan berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Namun, mereka tidak menyadari jika saat itu simpul benang mereka mulai terlepas...
...◕...
...◕...
...◕...
....dan terikat satu sama lain.
...END...