HAIKYUU X READER~ ONESHOTS

HAIKYUU X READER~ ONESHOTS
[KAGEYAMA TOBIO]




Nih versi Kageyama nya, Happy Read.


...---------------------------------------------------------------...


"Kageyama-kun, ayo makan bento bersama."


"Maaf, aku ada latihan toss di luar."


....


"Kageyama-kun, ayo pulang bersama."


"Maaf, aku ada kegiatan klub sepulang sekolah."


....


"Kageyama-kun, besok ayo berangkat sekolah bersama."


"Maaf, aku harus datang pagi sekali, karena tidak mau kalah dengan Hinata."


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆ ...


Begitulah....


Kamu adalah kekasihnya, namun di nomor duakan setelah bola voli. Sayang sekali.


Yah, sebenarnya kamu tak protes akan hal itu. Sebab dari awal kamu sudah siap menerima konsekuensinya setelah menyatakan cinta pada sang setter jenius, Kageyama Tobio.


Kurang lebih sudah enam bulan kalian menjalin hubungan. Meski begitu, tak ada bedanya dengan sebelumnya. Momen yang kalian habiskan bersama hanya bisa dihitung jari.


Entah karena Kageyama yang terlalu sibuk dengan klub voli, atau kamu yang egois tak mau mengajaknya pergi.


Kalau pun aku ajak, dia pasti menolak.


Kamu mendesah pelan, menatap keluar jendela di sisi kirimu. Membayangkan betapa indahnya kehidupan SMA penuh romansa. Namun sayangnya itu semua hanya lah mimpi belaka.


Apa aku akhiri saja, ya....


Dan pada akhirnya, kamu sendiri yang merasa sesak.


Bukannya sombong. Kenyataannya dirimu yang cantik itu bahkan diidamkan banyak pria. Namun kamu menolak semuanya dan memilih Kageyama yang tak berperasaan. Sungguh, kamu pasti sudah kehilangan akal sehat.


"Apa hanya sebatas ini saja, kau ingin berjuang?"


Kamu tiba-tiba teringat perkataan Aihara Nee-chan kakak sepupumu, beberapa hari yang lalu.


"Jika kau ditolak hari ini, bisa jadi diterima besok. Jika kau ditolak besok, bisa jadi diterima esoknya lagi. Dan begitu seterusnya. Kau mengerti maksudku, kan?"


Apakah ini adalah keputusan yang tepat? Batinmu berfikir berkali kali.


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆ ...


Esoknya...


"Kageyama-kun, aku tunggu kamu selesai latihan hari ini, ya. Biar bisa pulang bersama."


"Tidak usah, nanti lama."


"Tidak apa-apa, kok."


"Tidak perlu."


"Tapi—"


"Aku bilang tidak perlu!!!"


Kamu terdiam membatu, sementara anak-anak voli yang ada di dalam gym menatap iba ke arahmu kala itu.


"Oy, Kageyama! Kau terlalu keras pada (Name)-chan." ujar Daichi namun diacuhkan oleh pria bersurai blueberry itu.


"Kau seharusnya berhenti membuang waktu untuk hal hal yang tidak berguna! Dasar bodoh!" teriak Kageyama, dengan muka masamnya.


Mendengar perkataannya barusan, hatimu serasa hancur berkeping-keping. Kamu tertunduk sambil meremas rok seragam. Merenung sejenak, apakah iya hal yang kamu lakukan selama ini tidak ada gunanya?


Di sisi lain, Kageyama yang tak berperasaan itu hanya mengendus kesal lalu beranjak dari hadapanmu.


"Oy, Kageyama..." Daichi berusaha menegurnya, namun pria itu malah berlalu mengacuhkannya.


"Aku baik-baik saja kok, senpai. Maaf mengganggu waktu kalian," ucapmu sambil tersenyum, sementara para senpai di sana menatapmu iba.


"Permisi..." pamitmu kemudian melangkah pergi.


Dan tentu saja tanpa mereka sadari, kamu terisak hingga membuatmu sulit bernafas.


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆ ...


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Setelah selesai membersihkan gedung olahraga, anak-anak voli satu persatu pulang ke rumah masing-masing.


Kageyama tampak berjalan seorang diri di belakang, menjaga jarak dengan teman-temannya di depan. Entah kenapa, suasana hatinya sedang tidak baik kala itu.


"Kageyama."


Pria itu mendongak setelah mendengar namanya dipanggil, "Ada apa Suga-san?"


Suga langsung menyamakan langkahnya di samping Kageyama. Sebagai seorang senpai, ia tentu tidak mau tinggal diam melihat adik kelasnya kebingungan.


"Nee, Kageyama. Aku ingin bertanya sedikit."


"Tentang apa, Suga-san?"


"Menurutmu, meluangkan waktu demi orang yang kau suka, apakah hal yang salah?"


"Kalau begitu kenapa kau masih membentak (Name) tadi?"


"Ah!"


Kageyama terkesiap dan menghentikan langkahnya. Matanya menatap nanar pada aspal di depan, batinnya meracau saat sadar bahwa perkataannya tadi siang terlampau kasar.


Suga tersenyum simpul lalu menepuk bahu Kageyama, membuat pria itu tersentak seketika.


"Selesaikan masalahmu secara baik-baik." tutur Suga, ia menunjuk seseorang di depan sana dengan dagunya.


Kageyama pun mengikuti arah mata Suga, dimana seorang gadis sedang berdiri di samping tiang bus stop di persimpangan jalan. Gadis itu tidak lain adalah dirimu.


Di-dia, benar-benar menungguku, batin Kageyama.


"Selesaikanlah masalahmu layaknya pria sejati. Kami tidak ingin ikut campur." ujar Daichi menyemangati.


"Semangat! Bucin Kageyama!" ejek Hinata, lalu kabur menaiki sepeda.


"Kalau begitu, kami duluan ya." Suga melangkah pergi bersama anak-anak yang lain.


Sekarang yang tersisa hanya Kageyama dan kamu yang berdiri 10 meter darinya.


Kageyama berjalan menghampirimu dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sementara kamu langsung berkeringat dingin, mungkin kah Kageyama akan memarahimu lagi karena kamu membantah perkataannya?


"K-k-k-kageyama...kun," ucapmu terbata-bata, "m-maaf...aku malah menunggumu. Padahal, kau sudah melarangku... Sungguh ma...."


Kalimatmu terpotong, saat Kageyama tiba-tiba mendekapmu tanpa alasan. Kamu kebingungan, namun pipimu justru merah merona.


"Aku yang minta maaf." tutur Kageyama di samping telingamu.


"Eh?"


"Maaf sudah membuatmu menangis. Aku benar-benar menyesal."


Dia tahu kalau aku habis menangis?


Kamu tertegun mendengar perkataannya, "Aku baik-baik saja, kok."


"Maaf, sudah berkata kasar padamu. Aku tidak bermaksud untuk menyia-nyiakan perhatianmu. Maafkan aku (Name)..."


Kamu membulatkan mata tidak percaya. Barusan Kageyama memanggil namamu untuk yang pertama kalinya. Kamu tampak senang sekali mendengarnya.


"Kageyama-kun, kau tidak salah. Aku lah yang harusnya memahami mu, kalian sedang sibuk latihan karena turnamen sudah dekat, tapi aku terus saja mengganggu. Maaf ya, Kageyama kun..."


Kageyama masih terdiam. Ia semakin mengeratkan dekapannya, menyembunyikan wajahnya dalam bahumu. Tak lama kemudian terdengar isakan pelan.


"(Name), di mata mu aku memang orang yang cuek. Tapi percayalah, bahwa itu bukan berarti aku membencimu. Hanya saja, aku terlalu bingung bagaimana harus bersikap di hadapan orang yang aku suka."


"Kageyama-"


"Terimakasih," lirih Kageyama dengan suara bergetar, "ini adalah kata yang dari dulu ingin aku katakan padamu. Tapi aku terlalu gengsi."


Kamu masih melongo tidak percaya dengan perkataan Kageyama.


"Terimakasih (Name), terimakasih sudah mau memilihku di antara sekian banyak pria baik di sekitarmu."


Kamu tersenyum simpul, matamu terasa panas seketika.


"Sama-sama," tuturmu sebelum akhirnya menangis, sementara Kageyama mengelus rambut panjangmu.


Dadamu terasa hangat, berada dalam dekapan yang selama enam bulan ini kamu nantikan.


Beberapa saat kemudian,


Kageyama melepaskan pelukannya. Jari-jarinya yang kasar karena sering memukul bola itu menyeka air matamu.


"Kageyama-kun.."


"Tobio."


"Eh?"


"To-bi-o." tuturnya, memintamu untuk memanggil nama depannya.


Pipimu semakin memerah. Kamu sedikit menunduk berusaha untuk bersuara, "T-to-tobio," ucapmu gemetaran, namun berhasil membuat pria kasar seperti Kageyama tersenyum lebar.


Kageyama mencubit pipimu gemas, lalu meletakkan tangannya di tengkukmu. Kamu semakin gugup, jantungmu berdebar tidak karuan, untuk pertama kalinya kamu merasakan jarak yang begitu dekat dengannya.


"Lima detik saja."


"Eh?"


Cup!


Kageyama langsung mencium bibirmu tanpa aba-aba. Kamu membulatkan mata, wajahmu sudah semerah tomat, jantungmu berdetak cepat. Dan untuk pertama kalinya, kamu merasakan bibirnya yang lembut dan hangat.


Sesuai dengan janjinya, Kageyama langsung melepaskan bibirnya setelah lima detik. Wajahnya tak kalah merah. Ia jadi canggung setelah menciummu.


"M-m-mau pulang bersamaku?" ajak Kageyama, tampak malu malu mengulurkan tangannya.


Kamu pun tersenyum manis dan meraih tangannya.


Hangat....


"Umm... Dengan senang hati."


...END...


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆ ...