HAIKYUU X READER~ ONESHOTS

HAIKYUU X READER~ ONESHOTS
[SUNA RINTAROU]




Ini requestnya aku buatin.


Selamat membaca🤗


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆...


Kamu berlari, menyesat di tengah jalan raya yang sudah sepi. Waktu menunjukkan pukul sembilan. Kamu terlambat!


Sial! Batinmu merutuki kebodohanmu yang salah naik kereta. Padahal sudah enam belas tahun kamu tinggal di kota itu. Kamu tak hentinya mengumpat dalam hati, sambil terus berlari hingga tak terasa sampai di depan SMA Inarizaki-sekolahmu.


Seperti yang sudah kamu duga, pintu gerbang tinggi itu sudah digembok rapat. Kamu jadi tidak bisa masuk. Padahal kamu ada ujian jam sepuluh nanti.


"Aduh...bagaimana ini..." Kamu mulai merengek seperti anak kecil. Duduk berjongkok di depan pintu gerbang.


Ini lah kelemahanmu, ketika tersandung masalah bukannya mencari ide tapi kamu malah menangis. Walau pun setelahnya kamu pasti akan mencari jalan keluar jika kesedihanmu sudah menguap.


"Apa yang kau lakukan disitu?"


Suara berat itu mengalihkan atensimu, kamu mendongak. Tampak seorang pria berambut hitam dengan potongan belah tengah berdiri dengan wajah yang tertutupi masker. Walau pun mukanya tak terlihat tapi kamu sudah tahu siapa pria bermata sipit itu.


"Suna-san?" seucap kalimat itu keluar saat menyadari teman sekelasmu itu ikut berdiri di luar gerbang.


Dia lah Suna Rintarou, sang middle blocker kebanggaan tim voli SMA Inarizaki. Kamu mengenalnya sebagai sosok yang pendiam dan cenderung datar. Bicara dengannya saja bisa dihitung jari sekali pun kalian sekelas.


"Kau terlambat juga?" tanyamu polos.


"Jelas lah, kau pikir aku sedang bermain-main di sini?"


"Habis, tidak biasanya kau terlambat 'kan?"


"Yah, sebenarnya aku juga tidak niat sekolah," jawab Suna, sedetik kemudian ia sudah memanjat pintu gerbang. Matamu membelalak seketika.


"O-oy! Apa yang kau lakukan?!" tanyamu saat Suna sudah sampai di atas, "kau tidak boleh memanjat begitu saja, kalau ketahuan gimana?"


"Lalu?"


"Eh?"


Suna mengulurkan tangannya, "Kau tidak mau ikut juga?" tanya Suna menawarkan.


"T-tentu saja tidak! Nanti kalau ketahuan bakal dihukum."


"Jadi kau lebih memilih dihukum Nino-sensei karena tidak masuk tanpa keterangan saat ujiannya?"


Kamu merengut tak bisa berkata-kata. Hati kecilmu mengatakan bahwa mengikuti Suna tidak ada salahnya. Lagi pula, kamu tak sanggup jika disuruh lari keliling lapangan baseball tiga puluh kali.


Kamu mendengus pasrah, "Baiklah," ujarmu sambil meraih tangan Suna yang terulur itu.


Suna membantumu naik ke atas pagar, setelahnya ia turun duluan. Sementara kamu masih diam di tempat, sedikit takut untuk melompat karena gerbang itu cukup tinggi.


"Sini..."


"Eh?" Kamu terperangah saat Suna tiba-tiba mengulurkan tangannya sekali lagi.


"Aku bantu," lanjutnya, mengisyaratkan agar kamu mengizinkannya untuk membantumu.


"Uh-um..." Kamu bergumam, dengan gerakan kaku meraih tangan Suna, permukaan telapak tangannya terasa sedikit kasar karena sering memukul bola.


Aduh.kenapa jantungku berdebar?


"Pegangan," ucap Suna membuyarkan lamunan singkatmu.


"I-iya."


Suna meletakkan tangan kanannya di tungkai kakimu sementara tangan kirinya di pinggangmu. Seketika kamu melompat pelan, tanganmu berpegangan pada bahunya. Suna langsung menangkapmu, lalu menggendongmu layaknya tuan putri di negeri dongeng.


Manik matamu terpana saat melihat wajah Suna dari dekat kali ini dia sudah melepas maskernya. Kilatan mata sipit itu terlihat jelas kala terpantul sinar matahari. Kalian bertatapan selama beberapa detik, kemudian Suna menurunkanmu.


"A-arigatou..." ucapmu malu-malu.


"Hm," sahutnya singkat.


Ekor mata Suna menangkap sesuatu yang janggal di rokmu. Ia langsung melepaskan almamaternya, lalu mengingatkannya di pinggangmu. Kamu berjengit kaget saat wajah Suna berada sepuluh senti dari wajahmu.


"A-a-apa yang kau lakukan?!" suaramu terdengar tinggi karena saking gugupnya.


"Membantumu terhindar dari masalah," jawab Suna santai, membalikkan badannya kembali.


Kamu segera memeriksa rokmu. Ah! Kamu baru sadar ternyata rokmu robek karena melompat gerbang tadi.


"A-arigatou."


Suna menoleh ke arahmu, semburat senyuman tipis itu terlihat sekilas. Sekali lagi kamu dibuat terpana.


"Sama-sama," ujarnya sebelum melangkah pergi mendahului.


Detik itu juga kamu menyadari, ternyata wajah datar itu bisa juga terlihat kakkoi.


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆...


Bel istirahat berbunyi, kamu yang baru saja menyelesaikan soal ujian bahasa inggris itu akhirnya menarik napas lega. Di bangku paling belakang, Suna sudah menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengan, tidur.


Hari ini aku selamat, batinmu. Berkat Suna, kamu masih bisa mengikuti ujian bahasa inggris hari ini, walau pun kamu tak begitu berharap hasilnya akan bagus, setidaknya Nino-sensei adalah guru yang mengutamakan kehadiran. Beruntungnya kamu karena tidak ketahuan kalau sudah lompat pagar. Kamu senyum-senyum sendiri sambil bergumam.


"Siapa bilang tidak ketahuan?" Sebaris kalimat itu terdengar, mengagetkanmu.


Kamu menoleh dengan kaku ke arah suara, "Ku...Kudou-sensei?" suaramu bergetar kala melihat wajah sangar pria berkepala botak itu.


"Hai,(Surename). Kamu belum pernah masuk ke ruang BK 'kan? Soalnya kamu itu cukup teladan walau pun tidak pintar-pintar amat."


Dia memuji sekaligus mengejekku...


"Tapi sayang sekali, nasibmu sedang sial hari ini," sambung Kudou-sensei.


"Kamu dan Suna Rintarou yang disana, segera ikut ke ruangan saya sekarang.!!"


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆...


"Maaf, Suna-san."


"Untuk apa?"


"Kalau saja aku tidak menjatuhkan buku catatanku, mungkin kita tidak akan ketahuan. Dan kita tidak akan disuruh membersihkan kolam renang begini."


Suna menatapmu sejenak lalu memalingkan muka, "Itu bukan salahmu. Tapi salahku yang sudah mengajakmu melanggar aturan. Kamu jadi ikutan kena."


"Walau pun dihukum, setidaknya lebih baik daripada disuruh lari yang tidak ada faedahnya itu." belamu, "Lagi pula aku tidak menyesalinya, kok. Ternyata melanggar aturan sekolah sekali kali asyik juga."


"Jadi kau berniat untuk melanggar lagi?"


"Bu-bukan begitu-maksudku." kamu menunduk, mencengkeram kuat tongkat jaring di tanganmu, "aku senang karena berkat kesalahan kecil itu aku bisa berbicara denganmu," tuturmu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.


Suna tak merespon, masih sibuk dengan kegiatannya mengambil dedaunan kering yang berjatuhan di atas air. Mungkin dia tidak mendengar perkataanmu barusan.


Kamu menghela napas, entah kenapa dadamu terasa sesak. Hening, hanya terdengar semilir angin yang berhembus di sekitar kolam renang outdoor di atap gedung itu.


Tiba-tiba...


"Oy! Kalian berdua..." teriak Kudou-sensei dari ambang pintu, "cepat sedikit kerjanya. Kalau tidak, nanti kalian masuk angin."


"Baik!" sahut kalian berdua serempak.


Setelah itu, Kudou-sensei pergi, sementara kamu dan Suna masih menatap kosong ke arah pintu masuk.


"Cih!" suara Suna berusan mengalihkan perhatianmu, "Harusnya kalau mau kasih hukuman yang masuk akal, lah. Udah tahu bulan november udara semakin dingin malah disuruh bersihin kolam renang di luar. Benar-benar merepotkan," oceh Suna ngedumel sendiri.


Kamu melongo, tak menyangka Suna bisa secerewet itu. Yang kamu tahu, Suna tidak pernah bicara lebih dari enam kata. Setidaknya, dengan dirimu saja. Mungkin dengan orang lain akan berbeda.


"Uh? Ada apa?" tanya Suna.


Kamu menggeleng cepat, "Ti-tidak apa-apa. Hanya sedikit kagum."


"Simpan rasa kagum mu untuk sementara, dan ayo cepat selesaikan ini!"


"Ba-baik!"


Kamu mempercepat gerakmu, menjaring dedaunan kering yang jatuh di atas permukaan air. Selama beberapa menit kalian sibuk dengan kegiatan masing masing. Karena Suna terlihat serius, kamu juga tak berani untuk mengajaknya bicara.


Sedikit lagi selesai!


Kamu berusaha menjaring satu daun yang letaknya lebih jauh. Tanganmu yang pendek tak bisa menjangkaunya.


Saat kamu memiringkan tubuh, kakimu tiba-tiba tergelincir pinggiran lantai yang licin, hingga hilang keseimbangan. "Ah!!!"


Greb!


Kamu kira akan jatuh terlentang ke dalam kolam. Tapi ternyata tidak. Sebab Suna yang dikenal memiliki sense yang tajam itu sudah menangkap tubuhmu. Lengannya diletakkan di punggungmu sementara tangan yang satu lagi memegangi pinggangmu. Mata kalian bertatapan satu sama lain selama beberapa detik.


Seperti adegan klise di drama drama romantis. Tapi kini justru menjadi salah satu momen dalam kehidupanmu, yang-tak kamu sangka bisa membuat pipimu memerah seketika.


"E-etoo..." Kamu tergagap, pipimu sudah semerah tomat. Kamu tinggal berharap semoga detak jantungmu tak terdengar.


Suna yang dari tadi juga sibuk dengan pikirannya sendiri itu mulai sadar. "Uh! Maaf." Ya langsung membantumu berdiri tegak kemudian melepaskan tangannya dari tubuhmu.


"A-arigatou."


"Um." Suna berpaling ke arah lain, berusaha menutupi wajahnya yang sedikit memerah.


Beberapa saat, suasana hening menyelimuti. Tak ada satu pun dari kalian bergeming. Hingga akhirnya Suna mulai bergerak meraih jaring pembersih kolam yang sedari tadi menganggur itu.


"Ayo segera selesa," kalimat Suna terpotong, lantaran ia sudah tergelincir di lantai lalu hilang keseimbangan.


"Ah, Suna-san!!!" Kamu menyadari itu langsung mengulurkan tangan, dan...


BYUUURRR!!!


"Aree?" kamu baru sadar, ternyata tanganmu hanya menggapai udara kosong, gagal meraih Suna. Pada akhirnya pria itu terjun ke dalam air juga. "Suna-san? Kau baik-baik saja?"


Aku tidak baik-baik saja, batin Suna, sambil menyelam di dalam air, hanya ada ujung rambutnya yang muncul di permukaan.


"Suna-san?"


Ah, malu sekali... padahal tadi aku sudah terlihat keren di depan (Name).sekarang malah nyebur sendiri.


Suna tak kunjung keluar dari dalam air. Kamu mulai panik, takut terjadi apa-apa dengan pria itu. Tapi di sisi lain kamu tidak bisa berenang, mustahil untuk menolongnya di dalam sana. Cemas, takut, alhasil yang kamu lakukan pertama kali adalah menangis.


"SUNA-SAAAAN???!!!" rengekmu sambil terduduk di pinggiran kolam, memanggil nama Suna terus-terusan. "Suna-san, jangan dulu mati...aku belum sempat balas budi..."


Kamu menangis kekanakan, membuat Suna yang sudah muncul ke permukaan itu terkikik geli. Kamu langsung menghentikan tangismu mendengar suaranya tertawa.


"Suna-san?" ucapmu sambil terisak, matamu tampak sembab habis menangis.


Kini Suna sudah berada didepanmu, pria itu tersenyum. Senyuman yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Tangannya terulur menyubit pipimu, gemas. Lalu menyeka air matamu dengan telapak tangannya yang dingin.


"Wah... Gawat..." tutur Suna sambil menggenggam tanganmu.


"Eh?"


"Sejak kapan kau jadi semanis ini ketika lagi menangis? Kau membuatku jantungan, tahu...."


...END...


...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆ ...


Menurut kalian chapter ini gantung gak?? Kalo gantung ntar aku bikin lanjutannya.