
Ini versi Sakusa moga suka, Happy Read.
...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆...
Langit pagi yang berwarna monokrom ini membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa tidak nyaman.
Pagi hari itu seharusnya disambut dengan cahaya lembut sang mentari dengan langit yang berwarna biru cerah dengan gelombang awan seperti permen kapas. Namun beberapa hari ini sepertinya langit telah kehilangan kilaunya, dan menangis tiap pagi.
(Name) mengadahkan tangannya menjulur kedepan merasakan butiran air yang perlahan turun dari langit membasahi telapak tangannya. Payung berwarna biru legam miliknya pun terbuka, perlahan ia mulai memasuki naungan payung tersebut dan mulai berjalan menerjang hujan.
Langit monokrom ini sangat mencerminkan kehidupan yang monoton kegiatan yang dilakukan (Name) setiap harinya adalah sekolah, makan, tiduran, menonton film, bermain ponsel, dan seterusnya. Tetapi (Name) tidak pernah merasa sedih ataupun bosan, yahhh.... Jujur mungkin (Name) pernah sedikit merasa kesepian, tetapi disaat itu terjadi, beberapa sahabatnya akan selalu datang untuk menghibur dirinya. Walapun tidak banyak teman yang (Name) punya tetapi, ia selalu mensyukuri kehidupan kecilnya ini. Karna hidup itu adalah sebuah anugerah.
(Name) memasuki kelas sembari membenahi jaket berwarna cream yang tengah ia gunakan.
"Ohayou."
"Ohayou, (Name)-chan."
"Pagi (Name)... hari ini dingin ya!"
Bisa (Name) lihat didalam kelasnya hanya terdapat 2 orang sahabatnya, (Name) mulai mengalihkan atensinya untuk menatap sekitar. ia merasa sangat heran dengan kondisi kelasnya yang begitu sepi "Dimana teman - teman yang lain?"
"Entahlah sepertinya mereka terlambat."
(Name) hanya ber oh ria sembari mendudukan dirinya di bangku, sembari melepas jaket miliknya.
"Oh!! Bukannya itu klub sepakbola?!"
"Serius?! Mana? Manaa?" kedua sahabat (Name) mulai berteriak heboh kegirangan menatap keluar jendela, mereka tengah nge fangirl sembari berteriak meneriaki nama idola mereka. (Name) yang merasa penasaran mulai ikut melangkah mendekati jendela kelas dan menatap intens keluar.
(Name) sedikit salut kepada anak - anak klub sepakbola tersebut, bagaimana bisa mereka masih bersemangat di bawah hujan yang dingin itu.
"Tunggu, mereka bermain bola di saat hujan begini? Apa mereka tidak dimarahi?"tanya (Name).
"Tidakk... justru pelatih mereka yang menyuruh untuk tetap latihan meskipun disaat hujan."
"Kan sebentar lagi ada kejuaraan inter high!" seru salah satu sahabat (Name).
Sedangkan (Name) kembali menatap keluar jendela dan tiba tiba saja ia melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
"??!"
"(Name) ada apa??. oh itu, seperti nya klub voli juga sedang sibuk mempersiapkan kejuaraan."
"bagaimana kalau kita bertiga menontonnya besok? Bagaimana?"
"SETUJU!!! (Name) bagaimana dengan mu?? (Name)?"
(Name) menghiraukan panggilan tersebut dan masih menatap intens gerumbulan orang - orang dari klub voli tersebut. Atensinya terfokus kepada Seorang pria dengan surai gelap dan selalu mengenakan masker di wajahnya, pria itu adalah pria yang telah berhasil mencuri hati (Name).
Cinta pertamanya ini di mulai saat ia duduk dibangku 2 SMA, saat itu (Name) terjatuh dan terluka saat jam pelajaran olahraga. Karena saat itu sedang dilakukan pengambilan nilai, jadi sahabatnya (Name) tidak bisa terus menemaninya di UKS. Saat itu penjaga UKS sedang pergi, sehingga (Name) memutuskan untuk mengobati lukanya sendiri. Disaat ia ingin mengobati lukanya tiba-tiba saja sebelah tangannya yang tengah memegang sebuah alcohol ditahan oleh sebuah tangan kekar.
"Jangan lakukan itu!!"
(Name) hanya terdiam dengan wajah sedikit memerah, namun pikiran nya terus bertanya - tanyan ada apa dengan pria ini, kenapa ia tiba-tiba menahan tangannya.
"Seharusnya kau membasuh lututmu dengan air bukan dengan alcohol" Sakusa mulai berjalan mendekati washtafel sembari membasahi sebuah handuk.
"Dan lebih baik membersihkan luka dengan menggunakan handuk dan air hangat" Sakusa berjalan mendekat. Meskipun ia mengoceh seperti itu tetapi ia tetap membersihkan luka (Name) dengan lembut, bahkan ia memberikannya plester.
Sejak saat itu lah kisah cinta pertama (Name) dimulai. Tetapi (Name) terlalu malu untuk mengetahui atau mengenal sosok lebih dalam dari pria itu. Hanya dengan mengetahui namanya saja itu sudah membuat (Name) senang. Bagi (Name) memandangnya dari jauh saja itu sudah cukup, tidak perlu lebih dari itu.
"Hoi! (Name) mau sampai kapan melamun?"
"Ah maaf.. kau tadi bilang apa?"
"Haaah... makanya kalo ada orang ngomong tu didengerin. Besok saat kejuaraan kau mau ikut menonton tida-"
"Permisi... apa ini kelas 3-B?" tiba - tiba seorang guru membuka pintu dikelas (Name), sontak atensi mereka pun tertuju kepintu kelas.
"Benar bu... um?? Ada perlu apa bu?"
"Owhh... apa kalian tidak berminat untuk mengikuti seminar pagi ini? hanya perwakilan kelas B saja yang belum hadir. Minimal satu orang yaa... ibu tunggu di ruang konferensi" guru tersebut mulai melangkah meninggalkan kelas seraya melambaikan sebelah tangannya.
"Kalian terserah memutuskan siapa yang akan pergi." tambahnya.
"A- aku juga harus datang di kelas pagi ini karena ingin mengumpulkan nilai hafalan."
masing-masing gadis itu menggaruk tekuk mereka yang tidak gatal seraya menatap (Name) dengan tatapan penuh makna tersirat.
"Jangan memandangku seperti itu... aku juga harus hadir di kelas pagi ini karena ingin mengumpul tugas."
"Yasudah sini, biar ku kumpulkan tugasmu. Kau saja yang menghadiri seminarnya."
"Haa?! Kenapa aku? Kenapa tidak kau saja dan aku akan mengumpulkan tugasmu."
"Haahh kalau sudah begini."
"Hanya ada satu cara..."
"Kalian siap!." ketiga gadis itu mulai membentuk formasi melingkar, dan mereka mulai bersiap-siap.
"Saisho gu... Jan! Ken! Pom!!"
...---------------------------------------------------------------...
...........
"Baiklah untuk memulai seminar kali ini kalian harus mengisi biodata ini dan mengambil selembar formulir, dan jangan lupa untuk membagikannya ke teman di sebelahmu"
(Name) sudah memasang raut wajah masam sejak seminar dimulai, ia sedikit merutuki dirinya karena mengeluarkan kertas. Pada akhirnya, dia jadi kalah suit tadi. Dan disinilah dia, di ruang konferensi ini ia akan duduk selama 2 jam penuh untuk memperhatikan sebuah pidato dan ceramah yang mungkin tidak akan (Name) dengar. Tapi ada sedikit untungnya lah, (Name) jadi bisa membolos pelajaran b.inggris yang sangat ia benci.
(Name) mulai mengisi biodata dan mengambil selembar formulir serta mengopernya kepada seorang siswa lain yang duduk disebelahnya.
"Terimakasih" ucapnya sambil menerima kertas tersebut dari tangan (Name).
(Name) yang merasa sedikit tidak asing dengan suara tersebut mulai menggulirkan kepala untuk melihat sosok sumber suara tersebut.
"OH GOD!!! DI- DIA DISINII!!!'
Pria bersurai gelap itu hanya memiringkan kepalanya begitu melihat gadis disebelah nya ini tidak menunjukan respon gerak selama beberapa menit.
'Astagaa... dia keren sekali!! Kalau begini terus aku bisa duduk disini selamanyaaa!!'
"Anoo.. kau ingin menyerahkan formulirnya atau tidak??"
(Name) yang kembali ke alam bawah sadarnya segera melepaskan pegangannya di kertas tersebut "Su- sumimasen"
(Name) masih merasa kikuk dan grogi begitu mengetahui bahwa saat ini ia sedang duduk bersebelahan dengan sang ace dari klub voli Itachiyama tersebut. Ia tidak mengira bisa duduk sedekat ini dengan sang pujaan hati.
daaan....
2 jam telah berlalu, dan tidak ada kejadian special di antara mereka, yang ada hanya diam dan sunyi. (Name) menjatuhkan kepalanya yang terasa berat
'Apa yang telah ku lakukan... aku telah menyia-nyiakan kesempatan emasku yang mungkin tidak akan ku dapatkan lagi.'
Sementara (Name) merutuk tidak jelas Sakusa mulai mendekati (Name) dan menepuk pundaknya.
"Oi kita harus mengumpulkan formulirnya.. berikan punyamu." ucapnya sambil menjulurkan tangannnya di hadapan (Name).
(Name) yang merasa terpanggil oleh Sakusa segera mengadahkan kepalanya dan mencari lembar formulir miliknya.
"O- oh iya.. sebetar i-ini-aduh!"
Sakusa sedikit memfokuskan atensinya terhadap jari (Name). Dan bisa ia lihat sebuah darah segar sedikit menetes diujung jarinya, sepertinya ia barusan terkena paper cut saat terburu - buru mengambil formulirnya.
"Ck... kemarikan tanganmu."
Meskipun (Name) sangat terkejut, namun ia tetap menurut dan menjulurkan telapak tangannya. Sakusa mulai menggenggam lembut tangan (Name) yang sedikit gemetar 'Astaga jari - jariku bisakah kalian tenang sedkit?!'
"Kau ini selalu saja terluka ya" dengan perlahan Sakusa mulai menempelkan sebuah plester untuk menutupi luka (Name).
"Sudah selesai, sana! cepat kembali ke kelasmu."titahnya.
(Name) pun menuunduk dan mengucapkan terimakasih kepada Sakusa, setelah itu ia mulai melangkah dan berlari menuju pintu keluar dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya. Sementara itu (Name) tidak menyadari jika Sakusa terus memperhatikan punggungnya bahkan hingga menghilang dari dibalik pintu.
Sakusa mulai melangkah menuju kedepan ruang konferensi untuk mengumpulkan lembar formulir miliknya. Selama ia melangkah ke depan, ia terus memperhatikan dua lembar formulir yang tengah digenggamnya saat ini. saat itu juga sebuah senyum simpul namun penuh kebahagiaan tercipta diwajahnya.
End.
Lanjut Kita Shinsuke.