
Heyyoo!! kangen gak, gak? It's okay.
...Let's end this : Tendou x Reader....
Hari itu, malam itu, adalah saat yang paling dihindari oleh (Name). Namun, sebanyak apapun dia menghindarinya, dia harus menghindarinya lagi dan lagi.
Karena sejak malam ini, semua tak lagi sama.
...❅。°❆· 。*.❅· °。·❆*...
(Name) menguatkan diri, menarik napas panjang hingga dadanya sesak, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu menarik napas lagi, begitu seterusnya seraya mengaitkan jemarinya mengusir dinginnya malam itu.
Gadis bersurai (H/C) itu menatap jam yang terpasang di kanopi halte.
Pukul 23.45.
Waktu menjelang tengah malam. Seharusnya dia sedang di kamar saat ini, dan tidur untuk melupakan segalanya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
Dia sudah menunggu selama tiga puluh menit, dan masih lima belas menit lagi hingga waktu yang dijanjikannya. Empat puluh lima menit dihabiskannya menyendiri di tengah malam yang sepi ini, menahan kantuk dan dingin.
Tiba-tiba suara klakson mobil dan cahaya lampu mobil mengejutkannya. (Name) menoleh ke arah sumber cahaya. Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju pelan ke arahnya, lalu berhenti di depan halte. Kaca mobil diturunkan, menampilkan seorang pria bersurai merah acak-acakan dengan wajah kuyu dan mengantuk.
"Hei. Selamat malam," sapanya, melambaikan tangan dengan canggung. Seberkas rasa pedih menusuk hati (Name), namun dia mengabaikannya. "M-maaf, aku ketiduran tadi...Apa kau sudah menunggu lama?"
"Tidak masalah untukku,
"Masih lima belas menit waktu janjian kita," (Name) berusaha menahan diri untuk tersenyum. Jika dia melakukan itu maka perasaannya hanya akan semakin hancur.
"Benarkah?" Si pria mengecek jam di dasbor mobilnya. Kembali tersenyum bodoh saat membaca waktu yang tertera. Pukul 11.45 PM.
"Ya ampun, aku tidak mengecek jam," dia mengusap tengkuknya sambil tertawa kecil. "Maaf membuatmu menunggu. Mau masuk?"
(Name) tak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.
•
Deru mesin mobil terdengar lembut, angin malam yang dingin berhembus berpadu dengan kesunyian yang menerpa. Sepanjang perjalanan mereka terdiam, tidak ada satupun yang berminat memulai percakapan.
Si pria sibuk menyetir dan fokus pada jalanan di depannya, sementara (Name) memandangi jendela, memperhatikan bagaimana objek diluar seakan berlari menjauh seiring laju mobil. Lampu jalan menyala redup, namun setidaknyamemberi penerangan yang cukup untuk mereka. Pohon-pohon dan semak berwarna hitam terlihat sedikit menyeramkan.
Si pria terus membawa mobil mengelilingi kota, melewati berbagai tempat dan spot, melawan keinginan untuk mampir dan masuk kesana. Tidak untuk saat ini. Mereka sering melakukannya dulu, dan untuk saat ini dan seterusnya, mereka sama-sama tahu mereka tidak akan bisa melakukannya lagi.
Bermenit-menit dalam keheningan, akhirnya (Name) membuka suara.
"Berhenti," ucapnya parau. Gadis itu menyentuh lengan si pria yang sedang memegang kemudi. Kemudian seakan menyadari perbuatannya, (Name) menarik tangannya dengan enggan.
Si pria menyadari perbuatan (Name) dan tanpa sadar tersenyum miris. "Baiklah," balasnya, perlahan menghentikan laju mobil dan memarkirkan mobil di pinggir jalan.
Keduanya kembali terdiam. (Name) merasa kedua matanya kembali memanas, keheningan ini menyiksanya.
"Tendou, aku masih mencintaimu, mencintaimu, sangat, sangat, sangat mencintaimu---"
"Jadi..."Si pria menghadap (Name) yang menundukkan kepala. Keheningan yang menggantung ini membuatnya nyaris gila.
"Kita benar-benar tak bisa melanjutkan ini?"lanjutnya disertai senyum pedih. (Name) mengangkat kepalanya dan memandang si pria. Air mata tumpah di pipinya, dan dia tidak berniat menghapusnya.
"Tidak, sayang sekali," jawab (Name) dengan suara yang dipaksakan tegas. "Hubungan kita tidak akan berjalan lancar. Maka, ayo kita akhiri ini."
"Ikatan ini, serupa duri. Melepaskan dengan cara cepat ataupun lambat, sama-sama terasa sangat menyakitkan dan meninggalkan bekas."
"Begitu," si pria menjawab pasrah. Dia tersenyum dan mencoba tertawa. Tawa menggema di mobil itu hingga air mata ikut tumpah di pipi. (Name) sendiri sudah terisak tanpa suara di kursinya, sangat terluka mendengar jawaban pria itu.
"Kalau begitu, (Name), terimalah ini," Si pria mengambil selembar kertas lusuh dari saku jaketnya, melipatnya dan memberikannya pada (Name). Gadis itu mengusap wajahnya dan menerimanya.
"Jangan buka sekarang. Buka ketika....kita sudah berpisah," Senyum yang dipaksakan di bibir pria itu membuat hati (Name) semakin hancur.
(Name) mengangguk dan menyimpan lipatan kertas itu. Dia kembali menghadap si pria, mencoba, menguatkan diri menatap kedua iris ambernya. Kedua matanya menampilkan sorot terluka yang begitu dalam, surai merahnya terkulai menutupi dahi. (Name) ingin, ingin sekali, menyentuh helai merah itu, mengusapnya, dan merasakannya sekali lagi di antara jari-jarinya, namun dia tahu itu mustahil.
Hati kita, sudah berdarah di sana-sini dan penuh bekas duri. Hancur sudah tak berbentuk....
"Tendou," Akhirnya (Name) memanggil nama pria tersebut. "Boleh aku memelukmu, untuk yang terakhir kali?"
Ini permintaan yang riskan. (Name) tahu bahwa dia mungkin tidak akan sanggup melepaskannya. Namun, sejak awal ini memang sudah sangat menyakitkan, jadi mengapa tidak sekalian saja?
Tendou tersenyum dan merentangkan tangannya. "Kemarilah."
Dan (Name), sekali lagi, melebur di dalam pelukan Tendou. Pria yang sangat, sangat dicintainya. Tendou balas memeluknya dengan erat. (Name) tidak bisa menahan air matanya lagi, membenamkan wajah di bahu Tendou dan menangis.
"Hm? Tubuhmu mengurus, (Name), ada apa?" tanya Tendou, mengelus punggungnya. "Apa kau jarang makan akhir-akhir ini? Apa kau terlalu sibuk? Ingat, jika kau jarang makan, maka maag-mu akan kambuh...."
"Kau sendiri?" Balas (Name), enggan melepaskan diri. Sudah dibilang, dia tidak sanggup melepaskan pelukan ini. "Apa kau rajin makan, Tendou? Siapa yang memasak untukmu?"
"Aku memasak sendiri, berkat ajaranmu..."
"Begitu...."
"Kudengar kau akan pergi ke Los Angeles untuk mengejar karirmu? Itu bagus...kau memang pantas mendapatkannya..."
"Kau juga akan pergi ke Australia, bukan? Insinyur itu mengundangmu...."
"Jadi, kita benar-benar akan berpisah, huh?"
"...."
"...."
"....."
"....."
"Aku sangat mencintaimu, kau tahu?"
"Aku juga. Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu."
Tendou melepas pelukan mereka. Percakapan mereka barusan memperlebar luka yang sudah besar sejak awal, hingga menutupnya tidak akan mudah. Butuh waktu lama. Dia menatap kedua iris (E/C) gadis itu yang bengkak dan penuh air mata. Diusapnya pipi gadis itu dengan lembut dan menciumnya.
"Jangan lupa bahagia, oke?"Akhirnya Tendou mengatakan kalimat tersebut. Rasanya sangat perih. "Ingat, kau harus bahagia."
(Name) tidak menjawab atau merespon pertanyaan yang satu itu. Tidak ingin. Dia tidak lagi punya kekuatan untuk itu.
Karena kebahagiaannya sudah sirna sejak awal mereka duduk bersama didalam mobil beberapa saat yang lalu.
Ketika Tendou mencium bibirnya untuk yang terakhir kalinya, (Name) menjadi lumpuh. Pikirannya langsung kosong, dan dia merasa damai entah bagaimana.
Kenapa? pikirnya, mengepalkan kedua tangan. Kenapa kami tidak ditakdirkan bersama? Kami saling mencintai, kami tidak melakukan apapun yang salah, 'kan? Kenapa kami berbeda? Apa yang menjadi standar seseorang untuk ditakdirkan bersama?
Ciuman itu lepas beberapa saat kemudian. Hanya ciuman biasa, saling menempelkan bibir, yang terasa hangat dan menyakitkan.
"Selamat tinggal,"bisik Tendou lirih. Dia tersenyum tulus. (Name) terperangah melihatnya. Itu senyum terindah, senyum yang sangat indah yang pernah Tendou perlihatkan. Dan dia menyaksikannya saat dia mengakhiri hubungan mereka.
Tiba-tiba Tendou membuka pintu di belakangnya, dan mendorongnya hingga dia terjatuh dari mobil. Kemudian, semua itu berlalu begitu cepat. Sebuah truk besar datang dari arah belakang, tidak bisa mengendalikan lajunya, oleng, dan menabrak sedan hitam Tendou dan membuatnya terguling ke jurang di sisi jalan. Suara tabrakan dan pecahan kaca, suara besi menghantam bebatuan mengisi heningnya malam itu.
Dan (Name) menyaksikan semuanya......
"Pengemudi sedan itu tewas seketika."
"Ya, dia terlempar keluar dari mobilnya dan tubuhnya menghajar bebatuan."
"Sungguh tragis, padahal usianya masih panjang."
(Name) mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya silau dari atas. Dia mendapati dirinya berada di rumah sakit, dengan beberapa orang perawat hilir mudik di dekatnya. Ketika menyadari dirinya sudah sadar, para perawat itu buru-buru mendekatinya.
"(Name)-san, Anda baik-baik saja?"
"Apa Anda merasa tidak enak?"
"Ada bagian yang terasa sakit, (Name)-san?"
(Name) menyentuh kepalanya yang pusing mendadak. "Aku...aku baik-baik saja. Hanya saja, kepalaku pusing. Apa yang...terjadi padaku?"
Perawat itu saling berpandangan.
"Panggilkan Shirabu-sensei."
"Baik."
(Name) mengenal pria itu, seorang dokter yang datang menghampirinya.
"Shirabu, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku disini?"
Dokter itu menggeleng, terlihat sedih. "Aku balikkan pertanyaan itu kepadamu, (Name)-san. Apa yang kau lakukan kemarin malam?"
"Kemarin...?"
Sekelebat bayangan memasuki pikiran (Name). Pelukan, ciuman, senyuman Tendou yang indah....lalu pemandangan mobilnya ditabrak truk besar dan masuk ke jurang....
"Tendou?!"(Name) menoleh ke arah Shirabu dan memasang wajah panik. "Tendou... Tendou....Aku harus...."
"(Name)-san, tenangkan dirimu," Shirabu berusaha menenangkan gadis yang berusaha memberontak itu.
"Aku ingat, Shirabu... Tendou, mobil Tendou ditabrak truk dan masuk ke jurang..."Air mata gadis itu kembali merebak, tubuhnya terkulai.
"(Name)-san, Tendou-san sudah tiada," Shirabu mencoba tersenyum, meski kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Bagaimanapun, Shirabu adalah orang yang dekat dengan Tendou. "Dia tewas seketika ketika mobilnya terguling ke jurang."
Jadi itu alasan Tendou mendorongnya keluar dari mobilnya. Untuk menyelamatkannya.
Teringat lipatan kertas kecil yang diberikan Tendou, gadis itu pelan meraihnya. Dengan tangan gemetar ia berusaha membukanya. Sedetik kemudian tangisnya kembali pecah. Dia terisak, menangis kencang seraya memanggil nama Tendou. Meski, Tendou tidak akan kembali padanya....
•
•
•
•
•
Whitout your love, I would die.
•
•
•
•
•
Hehe hallo lama ga jumpa, ya walau gk pernah jumpa kalian sih. Ehh btw hampir 1 tahun ya ga ngurus book ini. Maaf ya nunggu lama. Bye bye.