
Yovandra mengantar Aletta kembali ke rumahnya, dia kini tengah serius menyetir mobilnya. Sedangkan Aletta, duduk di sebelahnya sembari menatap ke arah jendela luar. Sementara Qiara, dia asik menikmati mobil mahal milik papa barunya itu.
"Waaahh kelen kali, biaca pake angkot yang cuhu na dali angin glatis. Cekalang pake cuhu AC. Nda cia-cia aku culuh Mama nikah cama Papa na Atap lumah. Kenapa nda dali dulu ci Atap lumah buat dlama pingcan na." Celoteh Qiara dalam hatinya.
Karena suasana mobil yang sunyi, membuat Yovandra membuka suara. Dia melihat Qiara yang sedang senyum-senyun sendiri sambil membayangkan sesuatu.
"Qia senang enggak naik mobil?" Tanya Yovandra.
Qiara mengangguk antusias, "Biacana naik angkot, atau nda ojek motol. Bolo-bolo takci, kata mama habis duitna." Celoteh Qiara.
Aletta menoleh, dia menatap tajam putrinya yang telah membongkar sesuatu yang membuat dirinya merasa tak enak pada Yovandra.
"Begitu kah? Selama ini kamu bekerja atau ...,"
"Ya, aku bekerja. Hanya sebagai kasir di Butik Flow," ujar Aletta.
Yovandra mengangguk pelan, dia menghentikan mobilnya di lampu merah. Pria itu seperti memikirkan sesuatu, jari jemari tangannya mengetuk stir mobilnya. Tak lama, Yovandra menoleh. Matanya menatap Aletta yang sedang menengok ke arah Qiara.
"Jika aku minta kamu berhenti dari pekerjaanmu, apa ... kamu mau menurutinya?"
Sontak, Aletta langsung menoleh. Matanya langsung bersitatap dengan mata Yovandra. Sejenak, mereka menyelami perasaan satu sama lain. Hingga Qiara yang berada di tengah-tengah mereka pun mengerjapkan matanya bingung.
"Kenapa liat-liatan begitu?" Pekik Qiara yang mana membuat Aletta langsung memundurkan dirinya.
"Ehm ... kalau soal pekerjaan, sepertinya tidak bisa kak. Aku juga harus menghidupi Qiara, tak mungkin jika aku berhenti kerja." Tolak Aletta.
Mendengar itu, Yovandra menghela nafas kasar. "Apa kamu lupa? Sekarang kamu istriku, dan kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Semua keperluanmu dan Qiara, aku yang tanggung. Tak perlu khawatir," ujat Yovandra.
Aletta terdiam, dia masih tampak ragu untuk melepas kerjaannya. Dirinya juga tidak tahu, apalah dia akan terus menjalani pernikahannya dengan Yovandra. Secara, dia menikah dengan Yovandra hanya karena Altaf.
"Kak, aku tidak mau ambil resiko. Biarkan aku tetap bekerja, dan soal Altaf. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan tetap berusaha melengkapi kasih sayang untuk nya." Ujar Aletta tanpa menatap Yovandra yang kini sedang memejamkan matanya.
Yovandra kembali membuka matanya, dia melihat lampu sudah hijau. Sehingga, dirinya pun memutuskan untuk melajukan mobilnya. Tak lagi ada pembicaraan di antara mereka, hingga mobil yang Yovandra kendarai memasuki sebuah gang.
"Yang mana rumahnya?" Tanya Yovandra, nada pria itu terdengar sangat dingin. Membuat Aletta sedikit terkejut karena perubahan nada suara Yovandra.
"Ya-yang biru itu kak, setelah belokan." Jawab Aletta dengan gugup.
"Tapi kakak parkirnya di depan lapangan saja, jangan di depan rumah." Pinta Aletta.
Yovandra langsung mengangguk, dia tak banyak bertanya. Setelah dia menghentikan mobilnya, Aletta langsung membuka sabuk pengamannya.
"Kakak ikut masuk?" Tanya Aletta sembari menatap wajah Yovandra yang tak menatapnya.
"Duluan saja, aku ingin menghubungi seseorang." Jawab Yovandra sembari mengambil ponselnya yang ada di saku jas nya.
Aletta mengangguk kaku, dia pun keluar dari mobil Yovandra. Sementara Qiara, dia juga ikut menyusul sang mama keluar dari mobil itu.
Setelah kepergian keduanya, Yovandra menghubungi seseorang. Tampak, raut wajah pria itu terlihat serius.
"Halo, bilang pada owner butik Flow. Minta padanya untuk memecat Aletta hari ini juga." Ujar Yovandra dengan menatap tajam ke arah depan.
Saat berjalan menuju rumahnya, tak sengaja Qiara melihat anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak itu tak lain adalah anak tetangga Qiara. Melihat mereka bermain dengan seru, jiwa anak-anak Qiara pun menuntunnya untuk menghampiri mereka.
"Kalian lagi main apa?" Tanya Qiara.
Terdapat, empat anak sedang bermain lompat tali. Ke empatnya beralih menatap Qiara yang sedang menatap mereka.
"Kenapa?" Tanya Qiara dengan polosnya.
"Kata mamaku, kamu itu gak punya papa. Kita cemua punya papa, jadi kamu nda boleh ikut." Seru seorang anak laki-laki bertubuh gendut.
Mendengar itu, sontak Qiara menatap tajam pada anak laki-laki itu.
"HEEEHH!! GENTONG AIL! QIA PUNYA PAPA YAH!! JANAN CEMBALANGAN KALAU NGOMONG!" Teriak Qiara yang mama membuat ke empat anak itu tertawa.
"Mana papa mu? Kamu kan selalu bilang, besok papa ku datang. Tapi sampai sekarang, papa mu gak datang. Kata temen-temen, papa kamu gak sayang kamu. Makanya kamu di tinggalin sama mama kamu." Seru anak perempuan yang lebih tinggi dari yang lainnya
Qiara mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam ke arah ke empat anak itu.
"QIA PUNYA PAPA!!" Teriak Qiara, dan karena kesal. Akhirnya Qiara mendorong seorang anak perempuan berambut pendek hingga terjatuh dan menangis.
"HUAAA!!"
"Qia nakal! aku aduin mama nya!" Sentak anak laki-laki itu, dan berlari untuk mengabarkan pada mama temannya.
Qiara terdiam, dia menatap anak yang sedang menangis itu tanpa ekspresi apapun.
"Siapa yang buat anak saya nangis hah?!"
Qiara menoleh, dia menatap seorang wanita yang datang pada nya dengan menatap tajam ke arahnya.
"Dia bibi, dia yang buat Tia nangis. Dia yang sudah dorong Tia." Seru anak laki-laki itu.
"Ooohh jadi kamu! Berani kamu sakitin anak saya hah?!" Sentak wanita itu.
Walau mulut Qiara tajam, dan yang namanya anak kecil, pastilah takut pada orang dewasa Seperti saat ini, Qiara tengah tertunduk dengan tubuh gemetar. Dia bahkan hampir menangis saat wanita itu membentaknya.
"Dasar! Berani sekali kamu ...,"
"Maaf, kenapa ibu memarahi anak saya yah?" Aletta yang mendengar suara keributan pun akhirnya datang menemui wanita tersebut.
"Heh Letta! Ajarin anak kamu cara berprilaku yang baik! Dia baru saja mendorong putriku! Apa kamu tidak bisa mendidiknya huh?! pantas saja suamimu meninggalkanmu, jadi ibu saja kamu tidak becus. Apalagi menjadi seorang istri!"
Aletta hanya diam, dia tak suka keributan. Dia beralih menatap putrinya yang menunduk ketakutan. Mulut para tetangganya sangat tajam, membuat Aletta yang seorang janda di anggap buruk bagi mereka.
"Maaf bu, mungkin putri ibu duluan yang memancing emosi anak saya." Ujar Aletta membela putrinya, yang mana membuat wanita tersebut menatapnya marah.
"Kamu pikir anak saya tukang cari masalah hah?! Kamu dan anak kamu lah yang bermasalah! Memang pantas suamimu meninggalkan kamu! atau jangan-jangan, Qia ini bukan anak suamimu yah! Tapi anak har ...,"
"Berani sekali anda menghina istri dan putri saya!"
Tatapan mereka langsung beralih pada Yovandra, terlihat pria tampan itu menatap tajam wanita tersebut. Terlihat, Yovandra berjalan mendekati Qiara dan membawanya ke dalam gendongannya. Merasa mendapat perlindungan, Qiara langsung memeluk leher Yovandra dan menumpahkan tangisnya yang sejak tadi tertahan.
"Tak apa." Bisik Yovandra sembari merangkul pinggang istrinya yang terlihat kaget dengan kedatangan Yovandra.
Yovandra kembali menatap ke arah wanita tersebut, dengan tegas dia pun membela Aletta serta Qiara. Dia tak terima Aletta dan Qiara di hina begitu saja. Baginya, Aletta dan Qiara sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Dalam artian, siapapun yang menyakiti dua wanita itu. Artinya, orang itu akan berurusan dengannya.
"Anda ... suami dari janda ini?!" Pekik wanita tersebut.
"Sekali lagi anda menyebut istri saya janda, saya akan pastikan, anda ... tidak akan bisa lagi menggunakan mulut anda untuk berbicara." Balas Yovandra yang mana membuat Aletta langsung menatap tak percaya pada Yovandra.