Give Love To Your Baby

Give Love To Your Baby
SAH



"Saya terima nikah dan kawinnya Aletta Safira binti Reynan dengan mas kawin uang lima ratus ribu rupiah di bayar tu-nai!"


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH!"


Aletta terdiam, dirinya tak menyangka jika akan berada di posisi ini kembali. Bahkan, dirinya tak juga menyangka, jika dia akan menikah di ruangan ICU dengan para suster dan dokter sebagai saksi dari pernikahannya dan Yovandra. Mereka bahkan hanya duduk di sebuah kursi biasa yang ada di ruangan itu.


"DOKTER! TEKANAN DARAH PASIEN KEMBALI NORMAL!" Teriak seorang suster yang kembali mengecek kondisi Altaf.


Mendengar itu, sontak Aletta dan Yovandra beranjak dan langsung mendekat ke arah brankar Altaf. Senyum Yovandra mengembang, dia melihat wajah putranya yang tak sepucat tadi.


"Putra anda melewati masa kritisnya Tuan, selamat! Saya yakin, jika saat ini putra anda kembali berjuang untuk melihat mamanya." Seru dokter itu dengan tersenyum bahagia.


Yovandra mengangguk, dia meraih tangan kecil Altaf dan meng3cup nya. Air mata bahagianya luruh, dia sangat bahagia.


"Terima kasih. Terima kasih telah kembali berjuang, Papa menghadiahkan apa yang kamu inginkan. Kamu mau punya mama kan? Buka lah matamu, dan lihat ... sekarang kamu sudah memiliki Mama."


Hati Aletta turut menghangat ketika melihat senyum bahagia Yovandra. Dirinya ikut senang ketika Altaf menunjukkan tanda akan segera pulih.


"Tuan dan yang lainnya, di mohon untuk kembali keluar. Kami akan kembali memeriksa kondisinya, jika memungkinkan ... pasien akan di pindahkan ke ruang rawatnya." Pinta sang dokter.


Yovandra mengangguk, dia meng3cup punggung tangan Altaf yang tak terinfus. Lalu, mengelus pelan kening anak itu. Sebab, kepala Altaf kini di perban keseluruhan, Yovandra khawatir usapannya melukai kepala sang putra.


"Ayo kak." Ajak Aletta.


Yovandra mengangguk, dengan berat hati dia melepaskan genggamannya dari tangan Altaf. Setelah Yovandra dan Aletta keluar, keduanya kembali duduk di kursi tunggu. Jangan lupakan Qiara yang saat ini berada di pangkuan sang mama.


"Terima kasih Aletta, terima kasih. Karena mu, Altaf ...,"


"Bukan karena ku, semua sudah jalannya. Altaf berjuang demi Papa nya, dia tidak mau Papa nya sendiri. Dan soal menjadi ibu ALtaf, aku akan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri." Sela Aletta dengan cepat


Yovandra memandang wajah Aletta, wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Seharusnya, Yovandra merasa bahagia. Sebab, Aletta adalah cinta pertamanya saat masih SMA dulu. Namun, entah mengapa. Saat ini, Yovandra justru merasa bersalah pada Aletta.


"Sebenarnya aku masih belum siap untuk kembali berumah tangga." Lirih Aletta. Sejenak, Aletta menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Awalnya, pernikahanku dengan Xyan baik-baik saja. Hingga, pertengkaran di mulai di saat aku sedang hamil Qiara. Aku memergokinya selingkuh dengan sekretaris nya."


"Lalu, mengapa kamu tidak menceraikannya kalau begitu? Bukankah Xyan sudah benar-benar keterlaluan?" Heran Yovandra, dirinya juga turut kesal dengan Xyan.


"Yah ... aku memang bodoh. Xyan membujukku dengan mengatakan, jika dirinya akan berubah. Tapi apa yang ku dapat? Pengkhianatan lagi. Dia menceraikanku setelah aku melahirkan Qiara. Bahkan, dia tidak mau bertemu dengan putrinya sama sekali. Dia lebih memilih wanita itu, di bandingkan dengan darah dagingnya sendiri."


Kisah menyakitkannya kembali teringat. Sungguh, Aletta tak ingin ini semua terjadi. Dia mencintai Xyan saat itu, tapi kini. Rasa cintanya menjadi rasa benci yang mendalam.


"Sungguh, aku tidak akan membiarkan Qiara menemui Xyan. Sudah cukup selama di kandungan, Xyan selalu menyakitinya. Kehadirannya pun tak di sambut bahagia oleh papanya sendiri." Aletta mengelus kepala Qiara yang bersandar pada d4danya.


Yovandra mengamati Qiara, dia terenyuh dengan kisah menyedihkan Aletta dan juga Qiara. Pria itu merasa, jika Aletta dan Qiara pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pastinya, tidak bersama dengan pria seperti Xyan.


"Kalau begitu, biarkan aku membahagia kan Qiara. Aku juga papa nya, aku akan memberikannya cinta yang tidak dia dapatkan dari Xyan."


Perkataan Yovandra membuat Aletta sedikit terkejut, dia menatap canggung ke arah Yovandra yang sedang menatapnya dengan tatapan serius.


"Kak Yovan, sebenarnya tidak perlu. Aku hanya berceri ...,"


"Berikan Qiara padaku." Pinta Yovandra yang mama membuat Aletta terkejut.


"Ha?!" Bengong Aletta.


"Berikan." Yovandra mengambil alih Qiara dari pangkuan Aletta. Hal itu, membuat Qiara terkejut dengan perbuatan pria yang kini menjadi papa nya.


"Qiara." Panggil Yovandra.


"Iya om?" Sahut Qiara sembari mengerjapkan matanya lucu.


"Mulai saat ini, Qiara panggil om dengan sebutan Papa yah. Kan mama Qia dan Papa sudah menikah. Jadi, Qia sudah punya Papa sekarang." Penjelasan Yovandra tak di sambut antusias dengan Qiara, anak itu justru menoleh pada sang Mama untuk meminta penjelasan.


"Ma." Panggil Qiara.


Sebagai jawaban, Aletta hanya mengangguk. Qiara kembali menatap Yovandra, sorot mata Yovandra terlihat sangat meneduhkan. Mata bulatnya mengerjap pelan, dia tak menyangka jika Yovandra menjadi papanya. Bibir kecilnya terangkat, ingin mengucapkan satu kata.


"Papa." Panggil Qiara dengan suara bergetar.


"Ya, papa! Papa kembali untuk Qiara, apa Qiara merindukan papa?" Seru Yovandra dengan tersenyum lembut.


"Papa ... hiks ... papa." Bukannya tertawa Qiara justru menangis. Hal itu, tentu membuat Yovandra panik. Dia menarik Qiara ke dalam pelukannya.


"Qia kangen Papa, Papa ... Qia punya Papa." Seru Qiara dengan isakan tangisnya yang tertahan.


"Qia mau di antel cekolah na cama papa, Qia mau di gendong cama papa, Qia mau di temenin tidul cama Papa, Qia mau belmain cama papa, Qia mau bilang ke olang-olang kalau Qia punya Papa. Papa Qia cayang cama Qia, iya kan?"


Tak terasa, Aletta kembali menjatuhkan air matanya. Permintaan sederhana sang putri mampu membuat dirinya terenyuh. Bagaimana tidak? Semua yang putrinya katakan tadi, merupakan keinginan terpendam yang selama ini tak pernah di ungkapkan padanya. Qiara, anak itu takut sang mama akan sedih jika dirinya membahas tentang keinginannya itu.


"Papa hiks ...." Yovandra kembali memeluk Qiara, dia menyempatkan dirinya untuk meng3cup kening Qiara.


Pemandangan itu tak luput dari penglihatan Aletta. Dirinya jadi berpikir, bagaimana jika seandainya Xyan yang saat ini berada di posisi Yovandra.


"Lihatlah Xyan, bahkan putrimu sendiri memanggil orang lain dengan panggilan spesialnya untukmu. Kau akan menyesal karena telah memilih wanita itu di bandingkan kami." Batin Aletta.


.


.


.


Syukurnya, sore ini Altaf sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Dokter berkata, jika kondisinya semakin membaik. Yovandra hanya tinggal menunggu Altaf tersadar dari koma nya.


"Kalau olang koma lama yah Mama?" Tanya Qiara pada sang mama yang sedang menyeka tubuh Altaf dengan kain basah.


"Hem, bisa cepat juga. Qia doakan saja Altaf yah," ujar Aletta.


"Kalau titik atau galis lulus nda bica yah mama?" Tanya Qiara dengan polosnya.


Mendengar itu, Aletta bingung ingin berekpresi seperti apa. Ucapan putrinya menurutnya sangat lucu, tetapi juga sangat mengerikan.


"Kalau lurus, bahaya sayang. Artinya seseorang itu sudah meninggal," ujar Aletta memberi penjelasan.


"Kalau koma belalti nyawana lagi loncat batu bila nda lulus yah?"


Cukup, Aletta tak tahan. Dia akhirnya tertawa mendengar celotehan putrinya. Tatakannya beralih menatap Altaf yang masih memejamkan matanya.


"Dengar dia Altaf, dia sedang meledekmu. APa kamu tidak mau bangun untuk membalas ledekannya pada istri dan anak-anaku?" Seru Aletta pada Altaf uang belum sadar.


Mendengar kata ledekan, seketika Qiara teringat sesuatu. Saat di sekolah, keduanya sering meledek satu sama lain. Yang menjadi bahan pertengkaran, keduanya pun tak jauh dari orang tua mereka.


"DACAL NDA ADA MAMA!" Seru Qiara, menatap tajam Yovandra.


"HEEE!! NDA CADAL KAU LUPANA?! LUPA KALAU KAU JUGA NDA ADA PAPA HUH?!" Seru seorang bocah laki-laki berwajah tampan, tubuhnya sedikit berisi yang menambah kesan menggemaskan bagi anak itu.


"Hahaha olang tua kalian picah." Ledek teman dari kedua bocah itu.


Tatapan kedua bocah menggemaskan itu beralih menatap temannya yang sedang menertawakan mereka.


"DIAM! DALI PADA GIGIMU YANG PICAH!" Seru keduanya dengan kompak, yang mana membuat teman mereka terdiam sembari menutup mulutnya.


"Nda cadal dili lupana. Cekalang udah nda colona, nda pelu jaga jalak. Bilang cama gigimu, janan picah-picah. Teltekan kali diliku." Celoteh anak perempuan itu.


Mengingat itu, Qiara tertawa kecil. Menurutnya, itu adakah hal yang lucu. Dan sekarang, justru mereka menjadi keluarga.


"HEi, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Aletta sembari berkacak linggang.


Qiara menghentikan tawanya, raut wajahnya berubah takut ketika melihat tatapan Aletta padanya.


Cklek!


Mendengarnya suara pintu terbuka, Qiara pun tersenyum lebar. Dia segera berlari ke arah pintu dengan merentangkan tangannya. Terlihat, Yovandra baru saja masuk dengan paper bag di tangannya.


melihat Qiara yang berlari ke arahnya, membuat Yovandra segera berjongkok dan menangkap putri sambungnya itu ke dalam pelukannya.


"Papa habis dali mana? Tadi nda ada bilang Ke Qia." Tanya Qiara dengan cemberut kesal.


"Papa belikan Qia kin*der j0y, Qpa mau?" Yovandra menyodorkan sebuah coklat berbentuk telur tepat di hadapan Qiara.


Qiara mengamati coklat itu, dia merasa aneh dengan makanan yang berbentuk seperti itu. Tatapannya beralih ke arah Yovandra tang sedang menantikan dirinya untuk mengambil coklat.


"Ayo ambil, ini coklat. Enak rasanya," ujar Yovandra.


"Tokat?" Tanya Qiara dengan mengerjapkan matanya.


Tatapan Yovandra beralih pada Aletta yang sedang mengamati interaksi keduanya.


"Apa kau tidak pernah membelikannya makanan seperti ini?" Tanya Yovandra dengan kening mengerut. Menurutnya, coklat yang dirinya pegang adalah coklat murah. Biasanya, dia bahkan membelikan coklat yang lebih mahal dari itu untuk putranya.


Aletta melihat coklat yang ada di tangan Yovandra. seketika dia menggelengkan kepalanya.


"Menurutku rasa dan harga sangat tidak cocok dengan harga yang lumayan mahal. Mending aku menabung uangnya untuk bayaran sekolah Qiara, lebih berguna." Jawab Aletta.


Yovandra tertegun, dia menatap coklat yang ada di tangannya. Lalu, tatapannya beralih pada Qiara yang menatap penuh binar ke arah coklat itu.


"Sesulit apa kehidupan mereka? Xyan ... kau benar-benar harus membayar mahal atas kehidupan Aletta dan putrimu." Batin Yovandra dengan amarah yang terpendam.