Give Love To Your Baby

Give Love To Your Baby
First time, tidur berempat



Yovandra tengah menahan amarahnya saat melihat putranya pulang dengan membawa makanan tidak sehat kembali. Pria itu ingin marah, tetapi Aletta justru menahannya.


"Gak papa kak, satu aja. Habis ini, akan ku minumkan madu anak. Kalau terus di larang, dia akan berbohong pada kita agar kita tidak marah. Kita berikan perhatian perlahan-lahan yah." Bujuk Aletta.


Yovandra menghela nafas panjang, "Terserah lah." Kesal Yovandra dan berlalu pergi dari kamar puranya.


Aletta menghela nafas kasar, dia beralih menatap Altaf yang sedang menunduk sembari memeluk cikinya. Perlahan, Aletta berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi Altaf. Lalu, wanita itu memegang kedua bahu kecil putranya.


"Altaf, dengarkan mama. Makana yang Altaf beli ini tidak sehat. Banyak mengandung pengawet dan perasa buatan. Kalau Altaf sering memakannya, tubuh Altaf akan sakit. Altaf mau sakit?" Altaf menggeleng kan kepalanya, dia tidak mau kembali sakit.


"Kalau begitu, hindari makana kemasan begini yah. Nanti, mama buatkan makanan yang persis seperti ciki yang sering Altaf makan. Pastinya, lebih sehat. Untuk sekarang, boleh di makan cikinya. Lain kali, cari cemilan yang sehat. Oke pintar?"


Altaf mengangguk sembari tersenyum, dia lebih suka di menasehati dengan cara halus di bandingkan dengan bentakan. Dia akan menurut, saat di berikan pengertian baik-baik, bukan dengan cara kasar.


"Oke, habis makan minum madu nya yah. Habis itu tidur." Titah Aletta.


"Heum. Kalau jajan abang-abang gelobak, boleh mama?" Tanya Altaf sembari mengerjapkan matanya.


Aletta meringis pelan, jajanan abang-abang sangat menggiurkan baginya. Dirinya lebih rela tak jajan kemasan di bandingkan dengan jajanan kaki lima.


"Kalau itu, di lihat dulu tempatnya. Kalau bersih, gak papa makan. Nanti mama ajak kamu beli batagor. Rasanya enaaakk banget!" Bisik Aletta.


"Waaahh!! Altaf mau! Altaf mau!" Pekik Altaf dengan mata berbinar terang.


"Mau apa?"


Keduanya sontak menoleh, dan mendapati Yovandra yang sudah kembali dan menatap tajam ke arah keduanya. DI susul oleh Qiara yang datang dengan susu kotak miliknya.


"Altaf mau tidul cama mama." Ujar Altaf sembari melirik ke arah sang mama.


Yovandra beralih menatap tanam ke arah Aletta, istrinya itu terlihat begitu mencurigakan. Apalagi, melihat putranya dan istrinya saling menatap seakan memberi isyarat.


"Kau telus yang tidul cama mama! Gantian Qia!" Pekik Qiara tidka terima.


"Kamu tidul cama Papa!" Seru Altaf


"Ndaa!! Malam ini Qia mau bobo cama mama. Atap lumah, bobo cama papa. Janan kau pancing emociku yah! Malam-malam ini!!" Pekik Qiara dengan kesal.


"Ekhee!! Maaa!!" Rengek Altaf pada Aletta yang mana membuat Qiara menatap tajam padanya.


Aletta bingung, keduanya berbeda kamar. Bagaimana caranya dia menemani keduanya? Dan tumben sekali Qiara ingin tidur dengannya.


"Begini saja, kita tidur di kamar Papa." Putus Yovandra yang mana membuat Aletta menatap Yovandra dengan tatapan protes.


"Kenapa? Aku tidak mungkin mencari kesempatan di kala ada anak-anak bukan?" Ujar Yovandra yang sekaan mengerti arti dari tatapan istrinya.


Aletta membenarkan, dia pun setuju untuk tidur di kamar Yovandra. Jadilah kini mereka berempat merebahkan diri di kasur king size milik Yovandra. Kedua bocah menggemaskan itu berada di tengah-tengah orang tuanya. Qiara yang ada di sebelah Yovandra, dan Altaf yang ada di sebelah Aletta.


"Janan kau celakaaahh!! Bagi bantalnaaa!! Nda liat palaku macuk lobang. Nda ada pikilanmu. Cetles kali!" Omel Qiara yang sedari tadi kesal karena kepalanya tak bisa terkena bantal. Justru, kepalanya masuk di sela bantal.


Altaf menoleh sembari mendelik sinis, "Ada aja kau buat dlama, itu ada bantal Papa. Talik caja, beles. Nda ucah pucing. Hiii!! Banak kali dlama mu, cetles kali." Seru Altaf yang ikut kesal.


"Kamu yang cetles!" Pekik Qiara sembari mendudukkan dirinya


"Kamu! Nda ada itu pikilanmu!" Seru Altaf sembari beranjak duduk, dan mendekati tubuhnya pada Qiara.


Melihat kedua bocah itu yang hampir bertengkar, membuat Aletta dan Yovandra segera bertindak. Ada-ada saja mereka ini, setiap di kumpulin selalu bertengkar. Membuat Aletta dan Yovandra menjadi sedikit stres akibat ulah mereka.


Aletta bertindak, dia membawa tubuh Altaf ke tepi ranjang. Jadilah kini Aletta berada di tengah, sementara Qiara masih lah ada di tempat awal.


"Qiaranya juga gak di geser?" Tanya Yovandra dengan raut wajah polosnya.


Aletta yang mau tidur pun menoleh lagi," Kenapa di geser? Kan yang masalah mereka berdua, bukan masalah sama aku." Heran Aletta.


"Kan biar kita di tengah," ujar Yovandra yang mana membuat Aletta mendelikkan matanya.


"Modus aja kerjanya!" Ketus Aletta.


"Loh, kok modus sih?!" Pekik Yovandra tak terima.


"Kapan mau tidurnya kalau kakak nyerocos terus!!" Kesal Aletta


Mendengar istrinya memanggil kakak lagi, membuat Yovandra pun mendengus sebal


"Kakak ... kakak ... punya istri gak ada patuhnya. Kemarin liat sinetron, katanya istri gak taat suami matinya di makan cicak." Sindir Yovandra.


"Emangna cicak badannya cebecal apa?" Tanya Qiara dengan kening mengerut.


Aletta sudah menahan tawanya, dia tak peduli lagi bagaimana ekspresi Yovandra saat ini. Jelas saja, pria itu memasang wajah kesalnya.


"Mas sayang, tidur yuk. Sudah malam." Ajak Aletta yang mana membuat raut wajah Yovandra menjadi bersinar terang.


"Hehe ... mas sayang juga gak papa deh." Gumam Yovandra.


Qiara menatap sinis papanya itu, "Bicana tantlum kalna nda di panggil cayang." Batin Qiara.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Qiara dan Altaf serta Aletta tertidur pulas. Namun, Yovandra tampak masih membuka matanya. Pria itu terbiasa tidur tengah malam, dan sekarang masih jam sepuluh yang mana matanya belum bisa di pejamkan.


Yovandra memutuskan untuk keluar kamar, sebelum pergi dia memberikan pembatas di tepi ranjang. Karena khawatir Qiara akan terjatuh. Lalu, pria itu pun berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol air dingin.


"Ngapain van?"


Yovandra yang tadinya baru membuka kulkas menoleh sejenak, dia melihat adik tirinya sedang berjalan ke arahnya.


"Ambil air." Jawab Yovandra


Zion mengangguk, dia beralih duduk di kursi dapur. Matanya mengawasi Yovandra yang tengah membuka botol air dan meneguknya dengan cepat.


"Mama minta aku pulang besok." Ujar Zion yang mana membuat Yovandra menghentikan acara minumnya. Pria itu beralih menatap adiknya dengan tatapan santai.


"Baguslah, sudah seharusnya kamu pulang. Lagian, ngapain juga kamu disini." Sahut Yovandra sembari menutup kembali botolnya.


"Kau tidak bertanya mengapa mama menyuruhku pulang?" Tanya Zion yang di balas gelengan oleh Yovandra.


"Bukan urusan ...,"


"Papa sakit, dia di temukan tak sadarkan diri di kamar mandi."


Deghh!


Yovandra terdiam seribu bahasa, hatinya seperti tercubit. Namun, egonya melambung tinggi. Mana kah yang akan Yovandra pilih? Dia akan mengikuti hatinya, atau mengikuti egonya?


___