
Yovandra membawa putranya ke rumah sakit, perasaannya sudah campur aduk. Apalagi, melihat darah yang keluar dari belakang kepala putranya. Pertolongan pertama yang Yovandra lakukan, adalah menahan kepala Altaf dengan jasnya yang ia lepas. Agar darah tak banyak yang keluar.
Pikiran buruk sudah menghantui isi kepala Yovandra. Tapi, walau begitu. Yovandra tetap berpikir jernih untuk membawa putranya ke rumah sakit.
"DOOOKK!! TOLONG PUTRA SAYA!!" Teriak Yovandra.
Mengetahui situasi, suster yang ada dir umah sakit itu langsung bergegas mengambil brankar. Yovandra meletakkan putranya ke atas brankar, seorang suster pun mengambil alih jas yang Yovandra tahan di kepala putranya.
"Dia terjatuh di tangga, kepalanya terbentur dengan cukup keras hingga robek. Tolong putra saya, tolong dia." Mohon Yovandra.
"Baik Tuan, kami akan segera menangani pasien." Sahut seorang suster.
Brankar Altaf pun memasuki ruang UGD, sementara Yovandra hanya bisa menunggu di luar. Keadaannya cukup kacau, kemeja putihnya sudah terdapat noda darah yang cukup banyak.
"Altaf." Lirih Yovandra.
Selang beberapa saat menunggu, akhirnya dokter keluar dengan seragam medisnya. Yovandra langsung menghampiri dokter itu dan bertanya mengenai kondisi putranya.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" Tanya Yovandra.
Dokter itu melepas maskernya, dia menghela nafas pelan yang menandakan suatu hal yang buruk sedang terjadi.
"Keadaan putra anda sangat buruk. Benturan yang di terimanya cukup keras, hingga membuat keretakan pada bagian belakang kepalanya. Kabar baiknya, kami berhasil menghentikan pendarahannya. Namun ... kabar terburuknya, maaf tuan ...,"
"Putra anda mengalami koma."
"Apa?!" Tubuh Yovandra langsung lemas seketika, dia tak mampu lagi menopang tubuhnya. Hingga dokter itu pun menahan bobot tubuh pria itu.
"Tuan, tolong tenang kan diri anda!" Seru dokter tersebut.
"Altaf." Lirih Yovandra dengan mata berkaca-kaca.
Yovandra jadi teringat masa-masa kebersamaannya dengan sang putra. Senyuman hangat putranya, wajah kesal putranya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Papa jahat! Papa jahat! Altaf mau mama!" Itulah perkataan terakhir kali sebelum Altaf mengalami kejadian yang buruk ini.
"Maafkan Papa Altaf. Jangan tinggalkan Papa nak. Papa cuman punya Altaf." Batin Yovandra dengan air mata yang menetes di pipinya.
.
.
.
Pagi hari, Qiara kembali masuk ke sekolahnya. Sesampainya di kelas, dirinya melihat para temannya sedang membicarakan sesuatu hingga tak menyadari kehadirannya.
"Kalian lagi celita apa?" Tanya Qiara sembari menaruh tasnya di kursi.
Para teman Qiara pun menoleh pada Qiara, salah satu dari mereka menghampiri Qiara dan merangkul lengannya.
"Kamu nda tau? Altaf kan masuk rumah sakit. Dia jatuh dari tangga," ujar teman Qiara yang tidak cadel.
"Kok bica?!" Seru Qiara.
"Dia jatuh dali tangga, kepalana lobeeekk!! Cekalang di lawat di lumah cakit cempaka." Sahut teman Qiara yang sama sepertinya.
Kata Qiara membulat, dia bergegas mendorong temannya yang merangkul tangannya. Lalu, dia meraih tasnya dan berlari pergi dari sana.
Qiara berlari ke arah gerbang sekolah, raut wajahnya terlihat panik. Dirinya berharap sang mama masih ada di depan sekolahnya. Biasanya Aletta harus kembali menunggu angkutan umum untuk bisa sampai ke tempat kerjanya.
Syukurlah, ternyata Aletta masih berada di depan gerbang sekolahnya. Tampak, sang mama sedang mengobrol dengan salah satu wali murid tak jauh dari gerbang.
"MAAAA!!" Teriak Qiara.
Aletta yang tadinya asik mengobrol, seketika mengalihkan tatapannya. Keningnya mengerut saat melihat Qiara yang berlari datang menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Aletta setelah putrinya sampai di dekatnya.
"Ayo ke lumah cakit cempaka!" Seru Qiara.
"Ha? Ngapain? Qiara sakit?" Tanya Aletta, dia menjadi khawatir dengan keadaan sang putri. Untuk itu, Aletta langsung menempelkan punggung tangannya ke arah kening sang putri.
"Ish bukaaann!!" Kesal Qiara sembari menjauhkan tangan Aletta dari keningnya.
"Terus, Qiara kenapa?" Bingung Aletta.
Qiara meraih tangan sang mama, dia menatap wajah Aletta dengan tatapan berkaca-kaca.
"Katana temen Qia tadi, Altap di lumah cakit. Katana kepalana lobek hiks ... ayo kita lihat Altap mama."
Betapa terkejutnya Aletta setelah mendengar jika Altaf sakit. Pikirannya langsung tertuju pada anak malang itu. Apakah Altaf baik-baik saja?
"Ehm ... sayang, kita jenguknya sehabis Qia pulang sekolah aja yah." Aletta menyayangkan putrinya yang membolos sekolah. Lagian, dirinya tidak tahu bagaimana kondisi Altaf saat ini. Apakah memungkinkan untuk di jenguk, ataukah tidak.
"Ndaaa!! Qia mau ketemu Altap! Qia mau ketemu Altap cekalang hiks ... mau ketemu Altap!" Isak Qia dengan air mata yang sudah mengalir di pipi gembulnya.
Aletta menghela nafas pelan, "Oke! Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Putus Aletta.
Akhirnya, Aletta membawa Qiara pergi ke rumah sakit. Mungkin, nanti dia akan memberi pesan pada guru Qiara untuk mengizinkannya tidak sekolah hari ini.
Sesampainya di rumah sakit, Aletta berniat ingin bertanya pada resepsionis tentang keberadaan ruangan Altaf. Namun, sebelum dirinya sampai. Matanya menangkap sosok pria yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU. Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Yovandra.
"Kak Yovan." Panggil Aletta.
Yovan mengangkat pandangannya, dia terkejut ketika melihat Aletta berdiri di hadapannya. Seketika, Yovan berdiri. Namun, ketika dia berdiri. Tubuh Yovan sedikit oleng, yang mana membuat Aletta reflek memegangi tangannya.
"Kak Yovan gak papa? Belum sarapan yah? Letta belikan sarapan dulu yah." Ujar Aletta yang berniat ingin membantu Yovan.
Saat Aletta ingin pergi, Yovandra justru menahan tangan Aletta. Tatapan keduanya pun kembali bertemu, Aletta bisa melihat raut wajah kesedihan Yovandra yang terlalu dalam. Kantung mata pria itu terlihat lebih gelap, mungkin karena semalaman dirinya tidak tidur karena menunggu putranya.
"Tolong, temani kakak Letta. Kali ini saja," ujar Yovandra dengan nada memohon.
Aletta mengangguk ragu, dia membawa Yovandra kembali duduk. Pria itu terlihat kelelahan, di saat duduk pun Yovandra langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok.
"Bagaimana bisa Altaf masuk rumah sakit kak?" Tanya Aletta.
Sejenak, Yovandra menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Aku sempat berdebat dengan dia, setelah itu dia ... dia terjatuh dari tangga." Lirih Yovandra.
Aletta tertegun, "Apa yang kalian debatkan? Altaf masih kecil, apakah perlu berdebat dengan seorang anak ke ...,"
"Dia menginginkan kamu menjadi ibunya." Sela Yovandra dengan cepat sembari menatap Aletta dengan tatapan lekat.
Tubuh Aletta menegang kaku, mata nya membulat tak percaya. Bibirnya kelu untuk ia gerakkan, menggambarkan yang dirinya dengar adalah sebuah hal yang sangat mengejutkan.
"Aku sudah menduga ekspresimu, mana mungkin kita menikah. Kau tidak mencintaiku dan aku ...."
"Tidak mencintaimu." Ujar Yovandra sembari memalingkan wajahnya dari Aletta. Jujur saja, kata-kata ini sangat berat untuk dia katakan pada wanita yang sempat dirinya sukai.
Keduanya menjadi canggung, mereka bingung harus berkata apa lagi. Hingga, keduanya di kejutkan dengan seorang suster yang keluar dari ruang ICU dengan raut wajah yang panik.
"Ada apa dengan putra saya sus?!" Panik Yovan semabri beranjak dari duduknya.
"Pasien mengalami kejang, saya harus memanggil dokter." Jawab suster itu dengan cepat dan bergegas pergi.
Tubuh Yovandra bertambah lemas, dia jatuh terduduk dengan tatapan kosong. Sementara Aletta, dia juga sama terkejutnya dengan Yovandra. Tak lama, beberapa dokter datang ke ruang ICU untuk melihat keadaan Altaf.
"Altaf ... Altaf ...." Air mata Yovandra terjatuh, tetapi pandangannya terlihat kosong.
Qiara yang sejak tadi mengamati Yovandra seketika mendekat, tangan kecilnya meraih pipi Yovan yang basah dan mengusapnya pelan.
"Janan nanis, nanti Altaf ikut nanis." Ujar Qiara dengan suara lirih.
Yovandra hanya diam, dia masih syok dengan keadaan saat ini. Aletta menarik tangan Qiara, dia memangku putrinya yang turut merasakan kesedihan Yovan.
Cklek!
Ruangan ICU kembali terbuka, Yovandra buru-buru beranjak dari duduknya dan mendekati dokter yang sudah selesai menangani Altaf.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" Tanya Yovandra dengan perasaan khawatirnya.
Dokter itu menatap sendu ke arah Yovandra, "Tuan, sebaiknya anda masuk ke dalam untuk menemui putra andan Karena. .. kondisinya semakin drop. Kami ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi putra anda ... tampaknya sudah tidak ingin lagi berjuang."
Tanpa berlama-lama, Yovan langsung berlari masuk. Aletta pun langsung menggendong Qiara dan masuk untuk melihat keadaan Altaf. Di sana, Yovandra dapat melihat banyaknya selang yang tertempel di tubuh putranya. Dengan tangan bergetar, Yovandra mengangkat tangannya dan mengelus pipi dingin putranya.
"Altaf ... Altaf dengar papa nak? Altaf jangan tinggalin Papa. PApa hanya punya Altaf, Papa gak ada siapa-siapa lagi selain Altaf. Papa mohon, bertahan sayang." Lirih Yovandra.
Air matanya terus turun, hatinya sungguh sakit melihat keadaan putranya.
"DOK! TEKANAN DARAH PASIEN TERUS TURUN!" seru seorang suster yang mana membuat Yovandra terkejut.
"Altaf! Altaf dengar Papa! Altaf mau mama kan?! Papa akan memberikannya untukmu! Asal kamu bangun, Papa akan memberikannya untuk Altaf." Seru Yovandra sembari menggenggam tangan Altaf yang tak terinfus.
Air mata Aletta pun turut jatuh, dia merasakan apa yang di rasakan oleh Yovandra. Putranya adalah kebahagiaannya. Aletta bisa melihat jika Yovandra sangat mencintai putranya.
"Kak Yovan." Panggil Aletta ketika dokter meminta Yovan untuk menyingkir sebentar.
"Aletta!" Secara mengejutkan, Yovan berlutut di hadapan Aletta. Pria itu menangkupkan kedua tangannya dengan air mata yang bercucuran.
"Menikahlah denganku, jadilah ibu bagi putraku. AKu tidak akan menuntut cinta mu, aku tidak akan menuntut hakku. Aku Hanya ingin kamu sebagai ibu dari putraku. Tolong, berikan cinta untuknya. Berikan cinta yang tidak putraku dapat sebelumnya. Aku mohon, tolong Aletta. Tolonglah hiks ...."
Jantung Aletta serasa berhenti berdetak, permintaan Yovandra sangat mengejutkan dirinya.
"Dia ingin kamu menjadi ibunya. Tolong, menikahlah denganku. Mungkin, dengan begitu putra ku akan kembali berjuang hidup. Aletta, aku mohon hiks ...."
Qiara memandang wajah sang mama yang terlihat syok, mata bulat bocah menggemaskan itu menyorot sendu ke arahnya.
"Altap mau Mama, dia bilang cama Qia kalau dia mau Mama Qia." Lirih Qiara yang mana. membuat Aletta teringat dengan sorot sendu tatapan Altaf saat menatapnya.
"Altaf nda ada mama na."
"Ma ... kacian Altap." Gumam Qiara dengan suara bergetar.
Yovandra masih berlutut, dia menantikan jawaban Aletta padanya.
"Apapun yang kamu minta, aku akan memberikannya. Aku mohon, bantu aku. Hanya Altaf yang aku punya saat ini Letta," ujar Yovandra dengan suara lirih.
"Baiklah, kak ... aku mau menikah denganmu. Demi, Altaf."