
Tengah malam, Xyan terbangun dari tidurnya. Malam ini, dia sungguh gelisah. Bayangan wajah Qiara terus terbayang di benaknya, apalagi wajah cemberut bocah menggemaskan itu. Entah mengapa, hati Xyan selalu berdebar kala mengingat tentang bocah cerdik itu.
"Hais, kenapa aku selalu memikirkan Qiara." Batin Xyan.
Xyan menoleh ke samping, dimana istrinya masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu pun beranjak dari ranjang secara perlahan agar tidak membangunkan istrinya yang tertidur pulas. Perlahan, Xyan berjalan menuju pintu balkon dan membukanya. Hawa dingin langsung menusuk ke tulang-tulangnya, te...