Give Love To Your Baby

Give Love To Your Baby
Permintaan sederhana dari seorang anak



Disinilah Aletta dan Yovan berada, keduanya memutuskan untuk datang ke restoran terdekat untuk mengobrol sejenak. Sembari menikmati makan siang, bersama anak mereka. Bahkan, Yovan rela membatalkan janjinya dengan kliennya hanya karena Aletta.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Yovan memecah keheningan di antara keduanya. Sedangkan Qiara dan Altaf, mereka sibuk dengan makanan mereka masing-maisng.


"Baik, kak Yovan apa kabar? Dan, bagaimana kabar Kak Anna?" Jawab Aletta sembari menatap ke arah gelas minumannya, tanpa berani menatap ke arah Yovan


Sedangkan Yovan, dia justru menatap Aletta dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah mengapa, hatinya berbunga-bunga saat melihat Aletta.


"Keadaan ku baik, dan Anna ... kami sudah bercerai." Jawab Yovan.


Aletta terkejut, dia mengangkat pandangannya. Dirinya kembali mengingat perkataan Qiara, jika Altaf tak memiliki ibu. Jadi, inilah maksudnya. Keadaan Altaf dan Qiara sama, keduanya tak memiliki orang tua yang lengkap.


"Ehm, begitu yah ...." Lirih Aletta.


"AKu sudah lama tidak bertukar kabar dengan Xyan, bagaimana kabarnya? Dengar-dengar, dia sudah memiliki perusahaan sendiri."


Mendengar pertanyaan Yovan, Aletta pun tak suka dengan pertanyaan itu. Namun, Aletta mencoba menjawab hanya sekedarnya saja.


"Kami sudah bercerai." Terang Aletta.


Yovan membulatkan matanya, dia tak menyangka jika Aletta dan Xyan bercerai.


"Bagaimana bisa? Kalian kan ..."


"Kak, tolong. Berhenti membahasnya, itu akan kembali membuka luka yang sudah aku tutup. Aku sudah mengikhlaskan semua masa lalu yang menyakitkan. Sekarang, aku ingin fokus membesarkan putriku. Kita hanya sekedar teman sekolah yang tak terlalu dekat, jadi ... bukankan pertanyaan itu terkesan aneh?"


Yovan menutup mulutnya rapat, matanya beralih menatap ke arah lain. Sejenak, Yovan memejamkan matanya.


Dulunya, Yovan adalah kakak tingkat Aletta di SMA. Sejak Aletta masuk ke SMA nya, Yovan sudah jatuh hati pada wanita itu. Namun, dirinya memiliki prinsip. Dia ingin mengejar cita-citanya lebih dulu sebelum mencari pasangan. Di saat kelulusan tiba, Yovan berniat untuk menyatakan perasaannya. Dia ingin meminta Aletta untuk menunggunya berkarir.


Namun, sayang seribu sayang. Sahabatnya sendiri yang bernama Xyan, justru menyatakan cinta pada Aletta tepat di hadapannya. Yang mana, membuat Yovan mau tak mau mengikhlaskan cinta pertamanya itu. Dirinya tak pernah menyangka, jika kisah cinta Aletta dan Xyan berakhir sama seperti dirinya.


Melihat kedua orang dewasa itu diam, membuat Qiara mencondongkan tubuhnya ke arah Altaf. Lalu, anak menggemaskan itu berbisik padanya.


"Heh, meleka kenal dali mana?" Tanya Qiara.


"Nda tahu, Papa nda pelna celita kalau punya temen." Jawab Altaf yang sedang memakan ayam chicken nya.


"Heh Altaf! Papamu ganteng, kaya laya, baik kelihatan na. Kayaknya .... dia cuka mama Qia." Bisik Qiara sembari memperhatikan Yovan yang sedang menyeruput kopinya.


"Telus?" Tanya Altaf dengan menaikkan satu alisnya.


Seringai Qiara muncul, otak kecilnya sedang merangkai sebuah rencana. Altaf yang melihat ekspresi Qiara pun mengerutkan keningnya bingung.


"Kau mau Mama ku kan Altap?" Seru Qiana pada Altaf.


"Iya." Jawab Altaf dengan mengangguk polos.


"Ada catu cala bial kau dapat Mama ku, dan aku dapat Papa mu." Bisik Qiara.


"Calana?"


"Meleka halus nikah!" Seru Qiara yang mana membuat Altaf sontak membulatkan matanya.


"Ngawul! Nikah itu halus cama-cama cinta, kalau nda ya nda bi ...,"


"Kalian sedang apa? Berbisik berdua seperti itu huh?!"


Keduanya seperti tertangkap basah, mereka menoleh menatap ke arah Aletta yang sedang menatap penuh selidik ke arah Qiara. Sedangkan Yovan, dia melirik biasa ke arah putranya.


"Ndaa ... nda ada. Cuman tadi, ada temen yang olang tuana nikah. Ya kan Altap? Anakna jadi bahagia kali," ujar Qiara yang mana membuat raut wajah Aletta berubah datar.


"Kak Yovan, kami harus pulang. Terima kasih atas ajakan makan siangnya. Ayo Qia!" Pamit Aletta, dia buru-buru beranjak dari duduknya.


Belum sempat Yovan menjawab, Aletta sudah menarik putrinya pergi dari sana. Sementara Yovan, dia masih belum mengerti mengapa Aletta langsung pergi begitu saja setelah mendengar cerita dari Qiara.


Aletta menarik putrinya keluar area resto, membuat Qiara ayang kesal pun menyentak tangannya dari genggaman Aletta.


"Maaa!!" Kesal Qiara.


Aletta menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Qiara yang memasang raut wajah kesal padanya.


"Qia, dengar ... mama mengerti maksud Qia tadi. Itu gak sopan sayang, mereka orang asing. Qia tidak boleh seperti tadi," ujar Aletta dengan tatapan menyorot lemah.


"Ma ... Qia cuman mau punya papa. Altap ada papa tapi nda ada mama, Qia ada Mama tapi nda ada papa. Mama mau tunggu papa na Qia? Papa na Qia nda dateng-dateng. Qia bangun tidul, papa Qia nda ada dateng. Mama nanis mulu kalau Qia tanya Papa."


Jantung Aletta seakan berhenti berdetak, perkataan putrinya mampu membuatnya terdiam. Setiap bangun tidur, Qiara selalu menanyakan apakah papa nya datang atau tidak? Aletta selalu memalingkan pertanyaannya dengan candaannya. Walau begitu, Qiara tahu jika ibunya itu sedang menutupi kesedihannya.


"Qia, kamu anak kecil. Kamu belum mengerti," ujar Aletta.


"Celalu bilang begitu." Kesal Qiara.


Aletta hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah, dia tak habis pikir dengan saran dari putrinya yang terdengar sangat tak masuk akal baginya.


.


.


.


Yovandra dan Altaf sampai di rumah mereka, keduanya berjalan menaiki tangga. Altaf berjalan di belakang Yovandra, dia sedang memikirkan perkataan Qiara tadi.


Bukan hanya itu, Altaf juga terbayang dengan Aletta yang bersikap lembut padanya. Sifat keibuan Aletta, adalah hal yang selama ini Altaf inginkan. Dia menginginkan kasih sayang seorang ibu, perhatiannya, rasa khawatirnya. Altaf menginginkan itu. Dia iri dengan Qiara, walau tak ada ayah. Qiara bisa mendapatkan kasih sayang penuh dari ibunya, berbeda dengan dirinya.


Karena melamun, Altaf tak sadar jika dia sudah sampai di lantai dua. Dia tetap berjalan, tanpa melihat jika Yovan menghentikan langkahnya. Sehingga, bocah menggemaskan itu menabrak kaki sang papa.


Bugh!!


"Eh?!" Kaget Altaf.


Yovandra berbalik, dia menatap Altaf yang sedang memegang keningnya.


"Melamun?" Tanya Yovandra dengan kening mengerut.


"Nda." Cicit Altaf.


"Enggak? Papa tahu kamu sedang memikirkan sesuatu, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Yovandra sembari melipat tangannya di depan d4da.


Altaf menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Tangannya saling mer3mas untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Pa." Panggil Altaf.


"Hm?" Sahut Yovandra dengan alisnya yang terangkat satu.


"Altaf ... Altaf mau mama." Pinta Altaf dengan suara rendah.


Yovandra terdiam, dia mencerna keinginan putranya itu. Tak ada respon dari sang papa, membuat Altaf mendongak untuk melihat ekspresi papa nya saat ini.


"Kenapa?" Tanya Yovandra yang membuat Altaf bingung.


"Kenapa kamu menginginkan mama? Apa selama ini kasih sayang yang papa berikan untuk mu kurang? Apa kamu tidak nyaman tinggal di rumah ini? Perlu tambah mainan? Atau mau jalan-jalan ke luar negri lagi? Kali ini ke mana? Biar papa atur jadwal kerja papa untuk menemanimu," ujar Yovandra dengan cepat.


Mendengar itu, Altaf menggeleng ribut. Matanya menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca.


"Altaf mau mama, kayak mama Qia. Kata Qia, dia mau papa dan Altaf mau mamanya. Papa ... papa mau nikah nda cama mama na Qia? Bial Altaf juga punya mama cepelti mama na Qia." Ujar Altaf dengan suara bergetar.


Mendengar itu, entah mengapa Yovandra menjadi kesal. Dia merasa, permintaan putranya kali ini sangat tak masuk akal.


"Altaf, semuanya tidak sesederhana yang terlihat. Sekarang, masuk kamarmu dan tidur siang. Lupakan soal keinginanmu itu, semuanya tidak akan pernah terjadi!" Titah Yovandra. Kemudian, oria itu berbalik dan berniat untuk beranjak pergi.


Mendengar perkataan Yovandra, seketika Altaf menjadi kesal. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, memandang punggung sang papa yang mulai melangkah menjauh.


"Altaf cuman mau mama! Papa cibuk telus! Altaf mau mama yang antal Altaf cekolah! Bukan Papa!! Altaf mau mama! Altaf mau mama!! Papa jahat! Papa jahat!!" Teriak Altaf yang mana membuat langkah Yovandra terhenti.


Yovandra memandang ke arah lantai, kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Sejenak, dirinya memejamkan matanya. Perkataan Altaf seperti sebuah panah yang menancap tepat di jantungnya.


"Altaf, tidak semua hal yang ...."


BUGH!!


Terdengar suara jatuh yang terdengar cukup kencang di telinganya. Jantung Yovandra seakan berhenti berdetak, nyaris dirinya tak bisa bernafas. Dia pun segera berbalik dan tak mendapati putranya ada di belakangnya.


"TIDAAAKK!! TUAAANN!!" Teriak seorang pelayan dari lantai dasar.


Tanpa pikir lama, Yovandra berlari ke arah tangga. Mata nya membulat sempurna saat melihat putranya sudah tergeletak tak sadarkan diri di ujung tangga dengan kepalanya yang mengeluarkan darah.


"ALTAAAFFF!!"