Give Love To Your Baby

Give Love To Your Baby
Gara gara soklin



Aletta beralih menatap Yovandra, dia berharap Yovandra dapat menjelaskan dari pertanyaan daru bocah itu. Sedangkan Yovandra sendiri, dia bingung ingin berkata apa.


"Nda ada mau jelacin? Kenapa golden lumah kontlakan di bawa? Kan kita na dah pindah cini ci mama?" Seru Qiara meminta penjelasan.


Memang benar, jika Aletta sudah keluar dari kontrakan itu. Yovandra lah yang mengurus segala kepindahannya. Membuat Aletta tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan pindahan. Sebab, semua barang-barang yang ada di kontrakan lamanya di biarkan di sana. Hanya Pakaiannya dan putrinya saja yang di bawa ke rumah ini.


"Ini bukan ...,"


"EKHEEE!! MAAA!!"


Aletta mendengar suara tangisan kencang dari putranya, dia bergegas menatap putranya dengan raut wajah yang panik.


"Qia samperin Altaf dulu gih, nanti mama nyusul yah." Pinta Aletta.


Qiara mengangguk setuju, dia segera berlari untuk menemui Altaf.


"CABAAALL!! NDA HABIS AIL MATAMU LUPANAAA!!" Teriak Qiara yang mana membuat Aletta menghela nafas pelan


Aletta pun beralih menatap Yovandra yang tersenyum menawan ke arahnya. Kening Aletta mengerut dalam saat matanya menangkap seringaian di bibir suaminya itu.


"Apa?!" Sewot Aletta.


"Gak penasaran sama yang tadi?" Tanya Yovandra yang mana membuat Aletta mengeritkan keningnya. Membuat Yovandra membungkukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu pada telinga istrinya.


"Kita kan hampi berc ...,"


BUGH?!


"KELUAR!"


"E-eh!!" Yovandra terkejut saat Aletta mendorong tubuhnya dan menariknya keluar. Dia bahkan sampai tak bisa mengelak usiran dari Aletta.


"Letta, kamu tega aku basah-basahan begini?!" Pekik Yovandra.


"Gak! Kak Yivan punya kakar sendiri! udah cukup yah modusnya!" Pekik ALetta berniat menutup punti kamar putrinya. Namun, Yovandra justru malah menahannya. Jadilah keduanya saling mendorong pintu.


"Kok kakak?! Sayang! AKu sudah minta kamu panggil aku sayang! Memangnya aku kakakmu!!" Seru Yovandra tak terima.


Perkataan Yovandra membuat Aletta memutar bola matanya malas.


"Sayang ... sayang ... makan tuh sayang!"


BRAK!!


Yovandra mengerjapkan matanya saat Aletta berhasil menutup pintu itu dan menguncinya. Sejenak, pria itu menghela nafas pelan.


"Apa aku yang terlalu agresif yah." Gumam Yovandra.


"Kalau gak gitu, gimana hubungan kita mau maju. Masa canggung mulu ... udah kayak tetangga kontrakan aja." Kesal Yovandra.


.


.


.


Terlihat, Zion berjalan ke arah pintu utama sembari memakai jaketnya. Dia berpapasan dengan Yovandra yang sepertinya baru saja dari luar sehabis mencari angin.


"Mau kemana kamu? pulang?" Tanya Yovandra dengan tatapan penuh selidik.


"Enggak lah! aku mau jajan," ujar Zion yang mana membuat kedua bocah yang baru saja datang menghampiri mereka memekik dengan girang.


"IKUUUTT!!" Seru keduanya.


Zion menoleh, dia tersenyum pada Altaf yang akhirnya berani mendekatinya.


"Ikut! Ikut! Ikut!" Seru Qiara dengan semangat.


"Boleh, gigit pipi nya dulu sini. Gemes om sama pipi bakpao kalian." Gemas Zion sembari mencubit pipinya sendiri


Qiara dan Altaf memegangi pipi mereka, keduanya merasa takut dengan keinginan Zion . Wajar saja, jika ZIon sudah menggigit pipi mereka. Sudah pasti, pipi kedua anak itu akan bertambah melar.


"Zion! Tambah melar nanti pipinya!" Kesal Yovandra.


"Mana ada." Sungut ZIon. Tatapan nya kembali pada kedua bocah menggemaskan itu.


Keduanya pun melompat senang, mereka meraih tangan ZIon dan menggandengnya keluar. Sementara Yovandra, tiba-tiba senyumannya pun terbit.


"Heee!! Kenapa aku baru sadar. Si zion ada gunanya juga dia. Gak ada lagi yang bisa ganggu waktuku berduaan sama Aletta." Gumam Yovandra dengan raut wajah yang terlihat bersinar.


Sementara itu, Zion membawa keduanya ke penjual roti bakar. Mencium aromanya saja, membuat perut Zion meronta ingin di isi. Apalagi, cuaca malam ini yang terasa sangat dingin. Membuat roti bakar menjadi pilihan terbaik untuk menghangatkan perut.


"Pak, roti bakarnya dua yah," ujar Zion pada penjual roti bakar tersebut. Kedua bocah yang dia bawa pun menatap roti bakar yang sedang di olesi selai dengan tatapan berbinar.


"Mau rasa apa mas?" Tanya penjual roti bakar itu.


"Ehm rasa ... srilangka ada mas?" Tanya Zion yang mana membuat Qiara langsung mendelikkan mata padanya.


"Heeee!! Citu mau beli loti apa mau beli negala olang cih?!"


"Rasa roti kan? Srilangka." Seru Zion dengan wajah polosnya.


"CLIKAYAAA!! BUKAN CELILANGKAAA!! HII!! CETLES KALI AKU!" Pekik QIara dengan raut wajah yang kesal.


Zion menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia merasa canggung setelah dirinya salah menyebut nama selai


"Ya mas, srikaya maksudnya." Terang Zion


Bapak penjual roti bakar itu mengangguk sembari menahan senyumnya. Kemudian, dia langsung membuatkan roti bakar pesanan Zion. Sementara Zion, dia ingin duduk di kursi yang sudah di siapkan. Namun, karena ceroboh tak sengaja dirinya menginjak sebuah lubang yang berakhir jatuh.


Dugh!!


"Aww!!" Pekik Zion


Melihat om nya yang jatuh, kedua bocah menggemaskan itu langsung membantu om mereka untuk bangun.


"Makanaaa, janan celoboh! Untungna jatuh na nda ke combelan. Pulang-pulang bica jadi kelbau hitam om ini." Celoteh Qiara.


Zion menghiraukan celotehan Qiara, dia sibuk membersihkan celananya yang kotor.


"Aduh! Malah besok mau di pake buat endors lagi." Gerutu Zion.


"Pake s0klin aja mas, di jamin bersih dan wangi. Gampang kering juga, kalau pake pengering maksudnya." Seru pedagang roti bakar itu.


Mendengar itu, Zion menatap bapak penjual roti bakar itu dengan kening mengerut.


"S0klin? Apa itu?" Tanya Zion, dia baru pertama kalinya mendengar nama sebuah detergen. Maklum saja, pria itu yak pernah sekalipun mencuci baju. Jangankan mencuci, baju kotornya saja di ambil pembantu dari kamarnya langsung.


"Loh, mas nya ini tinggal di hutan to? Masa s0klin aja gak tau." Bingung bapak penjual itu.


ZIon menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Qiara, dia tentu tahu merk detergen itu. Sebab, sang mama dulu sering memintanya untuk membelikan detergen itu di warung.


"Ada di walung, di mini malket juga ada. Nanti cali aja." Ujar Qiara.


Zion mengangguk setuju. Selepas pesanannya jadi, Zion membayarnya dan langsung mengajak keponakannya pulang. Sebelum pulang, dia pun mampir dulu ke mini market dekat rumah.


"Mana Qia?" Tanya Zion yang mencari detergen di rak makanan.


"Nda ada yah, ciki cemua ini." Gumam Qiara yang turut bingung.


Sementara Altaf, dia sudah sibuk memasukkan ciki kecil ke dalam bajunya. Hingga bajunya terlihat menggembung, membuat anak itu terlihat menggemAskan bagi siapapun yang melihatnya.


"Nda boleh ketahuan papa, nanti bial om lempong belikan. Halus belikan, enak kali caya di pake buat endols tapi nda di bayal." Gumam Altaf.


Karena tak kunjung mendapatkannya, akhirnya Zion memanggil karyawan mini market tersebut. Yang kebetulan sedang mengisi stok.


"Cari apa mas?" Tanya karyawan itu.


"Saya cari sabun Solikin, ada mas?"


Pertanyaan Zion membuat Qiara langsung mendelikkan matanya. Bibirnya melengkung ke bawa, seakan bersiap ingin menangis.


"Solikin?" Tanya karyawan itu dengan bingung.


"Iya, soliki yang buat cuci ba ...,"


"Ekheee!! Solikin itu nama bapak ooolaaaangg!! Ini yang citu cali cabun cuci baju. Naman coklin, bukan colikiiinn!! Hiks ... teltekan kali diliku. Cetles kali. Tlauma cepeltina aku belanja cama om hiks ... nda mau lagi aku hiks .... cetles kali. Teltelan kali diliku hiks ...."