
Qiara asik menikmati coklatnya, dirinya sedang menjaga Altaf sendirian. Sementara Aletta sedang berada di kamar mandi. Yovandra, pria itu sedang kembali pulang untuk membersihkan diri dan mengambil beberapa pakaian miliknya dan juga Altaf.
Saat ini, Qiara duduk di kursi tepat di sebelah brankar Altaf. Sesekali anak menggemaskan itu menatap Altaf yang masih memejamkan matanya. Jangan lupakan masker oksigen yang terpasang apik di mulut dan hidungnya.
"Udah nda ada colona, tapi tetep pake maskel juga." Celoteh Qiara.
Setelah coklatnya habis, Qiara menaruh bungkusan nya di atas nakas. Lalu, anak itu kembali menatap Altaf dengan mata jernihnya.
"Heh atap lumah! Nda capek kau tidul telus? Bangun buluan! Nanti ku ambil lagi mama ku, balu tau laca! Cudah baik ku belikan mama ku, dali pada kau pelgi ke dunia belbeda." Ujar Qiara dengan omong kosongnya.
Altaf yang belum sadar pun hanya diam, hal itu membuat Qiara menghela nafas pelan.
"Bangun! Ku ambil balik mama ku benelan nih!" Seru Qiara.
"Qia nda main-main loh! Benelan ini!" Seru Qiara kembali.
"Nda pelcaya dia." Gumam Qiara.
Tak lama, suara pintu kamar mandi terbuka. Mendengar itu, senyum Qiara merekah. Dia melirik ke arah Altaf yang masih terbaring memejamkan matanya.
"MAAA!! AYO PULANG! NDA UCAH JADI MAMA NA ALTAP! DIA LEBIH CUKA JADI CET ...,"
Suara monitor berbunyi nyaring, membuat Aletta yang panik segera menekan tombol merah yang ada di dekat ranjang. Sementara Qiara, dirinya masih syok dengan apa yang terjadi.
"Qiara, sini sayang." Aletta mengambil putrinya menggendong nya.
Tak lama, dokter datang bersama dua orang suster. Mereka langsung mengecek keadaan Altaf. Terlihat, dokter membuka baju pasien milik Altaf dan mengecek keadaannya dengan stetoskop. Lalu, seorang suster menyuntikkan sesuatu di selang infus Altaf.
"Ma." Cicit Qiara yang terlihat khawatir.
Aletta mengelus kepala putrinya, dia juga syok dengan apa yang terjadi dengan Altaf. Hatinya sungguh khawatir, dia takut kondisi Altaf memburuk.
"Atap lumah! Kalau mau ganti lumah, janan cekalang. Cudah ku lelakan mamaku nikah cama papamu. Kalau kamu ganti lumah, cia-cia peljuanganku." Batin Qiara, matanya memerah menahan tangis. Dia tak tega melihat Altaf yang terus menerus kesakitan.
"Dok! Pasien sadar!" Seru seorang suster yang mana membuat Aletta membulatkan matanya.
Aletta berjalan mendekat, dia menurunkan Qiara dan menatap Altaf yang sedang membuka matanya. Tak terasa. air mata Aletta luruh. Drinya seakan tak percaya jika Altaf akan sadar secepat ini.
"Altaf." Lirih Aletta.
Altaf menolehkan kepalanya sedikit ke arah Aletta, matanya mengerjapkan pelan untuk melihat lebih jelas sosok wanita yang berjalan mendekat ke arahnya. Kedua sudut bibir Altaf terangkat, bibir pucatnya melengkungkan sebuah senyuman yang tipis di balik masker oksigennya.
"Mama." Panggil Altaf dengan suara lirih.
Tangan Altaf terangkat, dia ingin mencabut masker oksigennya. Dokter pun menggantikan masker oksigen Altaf dengan selang oksigen di hidung. Agar bocah itu lebih leluasa untuk bicara.
"Altaf." Lirih Aletta. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi hangat Altaf. Suhu tubuh Altaf tak seperti tadi, pipinya terasa hangat. Tak sadar, Aletta melengkungkan sebuah senyuman manis di bibirnya.
"Mama." Panggil Altaf.
Aletta mengangguk dengan air kata yang terus mengalir, "Iya, ini Mama. Altaf pasti dengar apa yang papa Altaf katakan tadi kan? Terima kasih sudah berjuang hiks ...,"
"Papa?" Altaf baru menyadari jika tak ada sang Papa di dekatnya.
Bruk!!
Terdengar, ada suara barang yang terjatuh. Tatapan mereka semua beralih menatap ke arah ambang pintu. Terlihat, Yovandra berdiri di sana dengan raut wajah yang terlihat terkejut. Tampaknya, pria itu baru saja kembali. Pakaiannya sudah berganti yang baru, tak lupa dirinya juga membawa tas baju ganti untuk dia dan Altaf.
"Altaf." Lirih Yovandra.
"Papa." ucap Altaf dengan sangat lirih. Bahkan, nyaris tak terdengar suaranya.
Yovandra juga bingung harus berkata apa, dia hanya bisa meneteskan air matanya saat melihat putranya kembali sadar. Ketakutan Yovandra sebelumnya sidah runtuh, putranya kembali bertahan di sisinya.
"Kondisi putra anda sudah membaik tuan. Tinggal tahap proses pemulihan, setelah itu putra anda sudah boleh pulang. Apabila sudah pulih. Untuk saat ini, besok pagi kami akan mengecek kondisi kepala Altaf. Semoga, semuanya baik-baik saja." Terang Dokter, menjelaskan tentang kondisi Altaf
Yovandra menarik dirinya, dia menghapus air matanya dengan lengannya. Lalu, matanya menatap sang dokter uang masih menunggu jawaban darinya.
"Baik dokter, terima kasih banyak atas bantuan anda dan tim medis lainnya," ujar Yovandra dengan haru.
Dokter itu mengangguk, dia pun pamit kembali ke ruangannya bersama dia krang suster yang dirinya bawa. Setelah kepergian dokter, Yovandra mengambil tas yang dirinya jatuhkan tadi.
"Heehh!!" Panggil Qiara tang kini berdiri di sisi Brankar.
Altaf menoleh, dia menatap Qiara dengan kening mengerut.
"Bangun juga kau atap lumah! Untungna kau bangun, telat cedikit cudah ku bawa pulang mamaku." Celoteh Qiara dengan mata menyipit sinis.
"Nda boleh!" Seru Altaf dengan tatapan tajam.
"Heee!! awas lobek lagi itu palamu, belani belteliak lupana."
"Qiaaa ...." Tegur Aletta.
"Dia duluan." Sahut Qiara tak terima di salahkan.
Aletta menggelengkan kepalanya, dia kembali menatap Altaf yang menatapnya dengan tatapan penuh binar.
"Altaf haus enggak?" Tanya Aletta.
Altaf mengangguk, Aletta pun mengambilkan segelas air putih dan menyodorkannya pada Altaf.
"Cucah." Cicit Altaf.
"Eh iya, sebentar ... tante mintakan sedotan dulu sama suster." Ujar Aletta. Dia belum terbiasa dengan panggilan mama ke Altaf, sehingga panggilan tadi membuat Altaf terlihat tak suka.
"Mama!" Sentak Altaf.
Sentakan Altaf membuat Yovandra mengalihkan perhatiannya, dia berjalan mendekati brankar dan menatap bingung ke arah sang putra.
"Kenapa kamu membentak mama?" Tanya Yovandra dengan kening mengerut.
"Ehm Kak, tadi aku yang salah. AKu lupa kalau aku harus membiasakan menyebut diriku mama pada Altaf. Maaf, lain kali tidak gitu lagi." Ujar Aletta yang merasa bersalah.
Yovandra menggelengkan kepalanya pelan, dia menatap putranya yang sepertinya tengah memalingkan wajah darinya dan juga Aletta.
"Ngambek pula kau lupana?! Calah nda di cengaja itu ... kacian mama Qia loh." Cetus Qiara.
"Qia, syutt." Seru Aletta, dia khawatir kondisi Altaf akan drop karena celotehan putrinya.
Qiara melipat tangannya di depan d4da, lalu dia memalingkan wajahnya dengan kesal. Walau begitu, dia masih sempat-sempatnya untuk menatap Altaf dengan tatapan meledek. Matanya sempat melirik ke arah Yovandra dan Aletta yang saling berbincang. Bocah itu pun memajukan tubuhnya mendekat ke arah Altaf.
"Kau tidul, ku ambil balik mama ku." Bisik Qiara telat di telinga Altaf.
"MAAA!!"
"Qia ...." Tegur Aletta kembali.
"Ish! Cengeng kali! Ma Mu Ma Mu doang kau bicana! Teltekan kali diliku." Kesal Qiara sembari mengibas rambut pendeknya.