
"Yan, gak ada niatan buat jenguk papa gitu?" Tanya Zion memecahkan keterdiaman Yovandra.
Yovandra melirik sekilas pada Zion, "Enggak." Jawab Yovandra dan beranjak pergi meninggalkan Zion yang menghela nafas pasrah.
"Kalau papa enggak ada, baru nyesel lo." Decak Zion.
Sementara Yovandra, dia memasuki kamarnya. Perlahan, dia berbaring di sebelah Qiara. Matanya menatap ke arah Qiara yang sedang teetidur pulas dengan tatapan kosong. Pria itu tengah memikirkan ucapan Zion barusan, ada rasa khawatir yang menyelinap di dalam hatinya. Namun, mengingat tentang kisahnya dulu. Membuat Yovandra urung untuk merasakan rasa rindunya.
Yovandra teringat saat dia masih SMA, dimana acara kelulusannya sang Papa datang dengan seorang wanita seusia papanya. Keduanya menghampiri Yovandra dengan tampak serasi, yabg mana membuat Yovandra bingung.
"Selamat atas kelulusan mu yah nak," ujar Abian pada putranya sembari memeluknya.
Yovandra mengangguk, dia membalas pelukan sang Papa dengan erat. Setelah pelukan keduanya terlepas, mata Yovandra beralih pada wanita yang Abian bawa dengan tatapan bertanya.
"Oh iya, kenalkan ... ini Tante Nadia, Calon istri papa."
Degh!
Yovandra termenung, dia menatap wanita yang tersenyum ke arahnya. Tatapanya pun beralih kearah tangan wanita itu yang terulur padanya.
"Hai Yovan, selamat atas kelulusannya yah. Papamu sering cerita banyak tentangmu, Tante senang akhirnya bisa ketemu kamu hari ini." Ujar Nadia dengan tersenyum lembut.
Yovandra mengabaikan uluran tangan itu, dia beralih menatap Abian dengan mata berkaca-kaca.
"Papa akan menikah dengan dia?" Tanya Yovandra yang mana membuat Avian mengangguk sembari tersenyum.
"Ya, papa mencintainya." ujar Abian sembari menatap Nadia dengan penuh cinta.
Yovandra mengangguk, dia mendongak untuk menghalau air matanya yang akan masuk.
"Lalu, papa akan meninggalkanku sama seperti mama? Begitu kah?"
Perkataan Yovandra membuat Abian menatap putranya tak percaya. Dia ingin meraih bahu Yovandra, tetapi pria itu justru menepisnya.
"Apa yang kamu katakan Yovan? Papa menikah lagi bukan berarti papa meninggalkan kamu. Kamu anak Papa satu-satunya, kamu kesayangan ...,"
"Mama menikah lagi dan meninggalkan aku, apa Papa enggak akan seperti mama?! Yang pergi meninggalkan aku dan enggak peduli keadaan ku saat itu! Kenapa Papa malah mengikuti jejak mama?! Apa aku sampah?! Sehingga kalian tak memikirkan keadaan dan perasaanku?!" Sentak Yovandra, matanya sudah memerah menahan air mata.
"Yovan, semuanya berbeda. Tante akan menganggap mu seperti ...,"
"Ibu kandungku saja membuang ku, apalagi anda!" Bentak Yovandra sembari menatap tajam ke arah Nadia.
"YOVAN! JAGA BICARAMU!" Sentak Abian.
Yovandra beralih menatap Abian dengan menatapnya tajam. "Jangan temuin Yovan lagi!" Sentak Yovandra dan beranjak pergi meninggalkan Abian yang terus memanggilnya.
"Mas kenapa?"
Yovandra terkesiap, dia segera menghapus air matanya yang tak terasa telah mengalir hingga membasahi bantal. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya memunggungi istri dan anak-anaknya. Lalu, buru-buru mengeringkan wajahnya.
"Tidak apa, tidurlah." Pinta Yovandra pada Aletta yang sepertinya terbangun karena mendengar isakan Yovandra.
Aletta tak diam begitu saja, dia beranjak duduk dan mendekati Yovandra. Melihat kedatangan Aletta membuat Yovandra ingin membalikkan tubuhnya. Sayangnya, Aletta justru menahan bahu pria itu.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Aletta sembari duduk di tepi ranjang.
"Tidak." Jawab Yovandra dengan singkat, pria itu menatap ke arah lain. Dia tak mau menatap mata Aletta yang tengah menatap ke arahnya.
"Oh, yasudah kalau gak mau jujur. Aku pikir, setelah menikah aku bisa menjadi tempat untukmu berbagi masalah." Celetuk Aletta dan berniat akan beranjak berdiri. Namun, sebelum Aletta berdiri. Tiba-tiba Yovandra mencekal tangannya.
Aletta beralih menatap Yovandra yang menatapnya dengan tatapan sendu. Lalu, secara mengejutkan pria itu mengangkat sedikit kepalanya dan beralih tidur di pangkuan Aletta. Melihat Yovandra yang tidur di pangkuannya, membuat tubuh Aletta menegang kaku.
"Kalau begitu, besok kita jenguk yah." Ajak Aletta.
Yovandra terdiam sejenak, "Tapi rasanya, aku masih membenci papa." Lirih Yovandra.
"Kenapa kamu bisa membenci papa? Apa karena dia yang menikah lagi?" perdebatan Yovandra dan Abian, Aletta menyimpulkan jika hubungan keduanya terasa asing semenjak Abian menikah kembali dengan mama Zion.
"Aku hanya tinggal dengan papa setelah mama lebih memilih untuk bersama dengan pria lain. Kasih sayang yang papa berikan, membuat kepergian mama tidak mempengaruhiku. Aku masih bisa tumbuh menjadi anak yang ceria, kasih sayang yang papa berikan sudah lebih dari cukup. Sehingga, aku tidak merasa kekurangan kasih sayang."
"Tapi, setelah papa memutuskan untuk menikah lagi. Entah mengapa, aku merasa ... papa akan sama seperti mama. Aku kecewa karena papa lebih memilih menikah lagi. Bahkan, di saat yang bersamaan juga. Aku harus melihat orang yang ku cintai memilih pria lain."
Aletta tertegun sejenak, dia menunduk dan terkejut saat melihat Yovandra sudah menatapnya. Namun, tatapan pria itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Membuat tubuh Aletta menegang saat merasakan jantungnya berdegup sangat kencang.
"Wanita yang kak Yovan cintai siapa? Apa kak Anna? Bukankah kak Yovan menikah dengan ...,"
"Kamu, aku mencintaimu Aletta Safira." Sela Yovandra yang mana membuat Aletta membulatkan matanya.
Melihat respon Aletta yang sepertinya terkejut, membuat Yovandra tersenyum.
"Wanita pendiam, pintar, dan memiliki ketertarikan dengan buku. Membuat aku tertarik padamu. Awalnya hanya tertarik, tapi rasa ketertarikan itu berubah menjadi cinta."
"Namun, aku harus mengubur rasa cintaku setelah Xyan memintamu untuk menjadi kekasihnya. Bahkan, setelah acara wisuda kalian melangsungkan lamaran bukan?"
Aletta semakin terkejut lagi ketika Yovandra tahun mengenai dirinya dan juga Xyan.
"Di malam itu, aku merasa hancur dua kali. Orang yang ku cintai telah di ikat bersama pria lain. Dan ayahku mendapatkan cintanya yang baru. Aku merasa, dunia ini tidak adil. Tapi sekarang, dunia menunjukkan padaku jika ada pelangi setelah hujan." Yovandra meraih tangan kanan Aletta, lalu pria itu menempelkan telapak tangan istrinya itu ke pipinya.
"Dan kamu, adalah jawaban dari masa sulitku."
Aletta tak tahu harus berucap apa, dia sungguh terkejut dengan pernyataan yang Yovandra berikan untuknya.
"Jika sebelum kita menikah aku tidak mengharap cintamu, boleh sekarang aku mengharapkan cinta darimu ... istriku?"
Jantung Aletta bertambah berdetak tak karuan, tangannya pun terasa dingin di pipi Yovandra Namun, Yovandra sangat menantikan jawaban yang akan Aletta berikan untuknya.
"AKu akan menunjukkan padamu, jika pernikahan yang kita jalani sekarang adalah pernikahan manis bukan pernikahan pahit seperti yang kamu jalani bersama Xyan. Maupun, saat aku menikah dengan Anna. Tapi, aku masih mencintaimu. Tolong, berikan aku kesempatan untuk menunjukan padamu, jika aku bisa menghapus rasa trauma mu terhadap pernikahan."
"Mas." Lirih Aletta, dia tak sanggup untuk kembali melanjutkan ucapannya.
"Apakah kamu janji, jika tidak ada wanita lain yang akan merusak rumah tangga kita?" Tanya Aletta dengan sorot mata yang serius.
Dengan mantap, Yovandra mengangguk. Dia memindahkan tangan Aletta pada d4da di mana letak jantungnya berada.
"Kamu bisa merasakan detak jantungku bukan? Selama jantung ini masih berdetak, hanya kamu yang menjadi istriku. Tidak ada yang lain. Jika aku melanggar janjiku, kau boleh menghentikan detak jantungku" Seru Yovandra yang mana membuat Aletta terharu namun juga merasa lucu karena ucapan pria itu.
"Baiklah, aku akan mulai mencoba untuk menerima cinta yang kamu berikan." Ujar Aletta yang mana membuat Yovandra beranjak duduk. Matanya menatap lekat Aletta yang juga menatapnya. Hati Yovandra kini berbunga-bunga, cintanya tidak akan lagi bertepuk sebelah tangan.
Perlahan, tangan Yovandra meraih leher Aletta. Dia sedikit memiringkan wajahnya dan mendekatkannya. Aletta pun bersiap untuk memejamkan matanya.
"EKHEEE MAAA!! MAU BELAAAKK!!"
Yovandra memejamkan matanya kuat, dia kesal karena suara Altaf membuatnya tak dapat melanjutkan keinginannya. Tadi Qiara yang mengganggunya, sekarang Altaf. Besok, siapa lagi?
"Hais, nasibku gini amat sih. Gak bisa suasananya romantis dikit apa." KEsal Yovandra sembari menatap Aletta yang sedang menggendong Altaf dan membawanya ke kamar mandi.
___
Hari ini triple up yah yang lain lagi nyusul review🥳