
Terlihat, kedua bocah menggemaskan sedang berlari memasuki gerbang sekolah. Karena terburu-buru, keduanya saling menabrak sebelum memasukinya. Hingga membuat keduanya terjatuh dan meringis.
"Awsss!! Bica nda kalau jalan liat-liat hah?! Cakit na p4ntatku!" Pekik seorang bocah perempuan, yang tak lain adalah Qiara.
"Memang citu doang yang cakit hah?! Liat! Lutut na Altaf juga cakit!" Pekik Altaf.
Di saat keduanya asik adu mulut, terlihat Aletta berlari ke arah keduanya dengan tatapan khawatir. Dia lebih dulu membangunkan putrinya, dan mengecek keadaan sang putri.
"Qiara! astaga ... mama bilang apa? Jangan lari! Bel nya masih lama, kenapa harus lari hm?" Omel Aletta sembari membersihkan rok putrinya.
Altaf yang akan beranjak berdiri pun tertegun melihat Aletta, raut wajahnya terlihat menyendu saat melihat Aletta yang begitu perhatiannya mengecek keadaan Qiara. Dengan mandiri, Altaf mulai beranjak dari duduknya. Dia bahkan tak menyadari jika saat ini lututnya terluka akibat tergesek aspal.
"Dia yang duluan kok!" Seru Qiara sembari menunjuk ke arah Altaf.
Tatapan Aletta beralih menatap Altaf, terlihat bocah itu sedang membersihkan celananya yang terkena debu. Tatapannya terhenti sejenak pada luka yang ada di lutut Altaf. Jiwa keibuan Aletta keluar, dia segera menarik lembut tangan Altaf yang sedang menepuk celananya.
"Lututmu terluka." Gumam Aletta sembari menatap lutut Altaf yang mengeluarkan darah.
"Ayo kemarilah! tante obati." Ajak Aletta sembari menggandeng tangan anak itu.
Altaf menatap tangannya yang di genggam lembut oleh tangan Aletta. Hatinya berdesir aneh, perasaannya menghangat ketika Aletta dengan lembut menariknya pergi. Altaf mendongak, dia menatap wajah cantik Aletta yang sedang menatap ke arah Qiara.
"Ayo Qiara, kau juga harus bertanggung jawab." Ajak Aletta.
"Tapi kan dia duluan kok! Bukan calah Qia Mama!!" Rengek Qiara.
"Qiaa." Peringat Aletta.
Qiara menggembungkan pipinya kesal, dia mengikuti sang mama yang berjalan menuju taman depan sekolahnya. Di sana, ada sebuah kursi, Aletta mendudukkan dirinya di sana. Sedangkan Altaf, duduk di sebelah kirinya.
"Sebentar, tante semprotin pake pembersih luka yah. Memang sedikit sakit, tapi biar lukanya gak kotor." Ujar Aletta sembari mencari keberadaan barang yang ia cari di dalam tasnya.
Qiara mendudukkan dirinya di sebelah Aletta, dia mengayunkan kakinya sembari melihat keadaan luka Altaf yang lumayan menyakitkan untuknya.
"Becal juga lukana. Pelacaan tadi yang di dolongna kenceng Qia deh. Tapi p4ntatna Qia dan ada luka geclekna. Kok dia ada." Gumam Qia, berperang dengan pikirannya sendiri.
Tatapan Qiara terangkat, keningnya mengerut saat melihat Altaf yang sedang mengamati Aletta. Otak kecilnya nya pun berpikir keras, mengapa Altaf segitunya menatap mamanya.
"Nah, sebentar yah. Tante semprotin, kalau sakit ngomong aja yah." Ujar Aletta sembari mengarahkan semprotan itu ke luka ALtaf.
Suara semprotan berbunyi sangat nyaring di telinga Altaf, sekaligus memberikan sensasi perih yang membuatnya meringis kesakitan. Namun, Altaf mencoba untuk menahan sakit di kakinya dengan cara menggigit bibirnya.
"Heeehh!! Janan kau gigit bibilmu itu! Doel nanti!" Pekik Qiara yang mana membuat Aletta menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah Altaf.
"Sakit yah? Tadi kan tante bilang, kalau sakit ngomong aja. Jangan di tahan," ujar Aletta dengan lembut.
Altaf melepas gigitannya pada bibirnya, dia mengerjapkan matanya. Sesaat, dirinya terpaku dengan kecantikan ibu dari temannya. Sosok wanita cantik yang memperlakukannya dengan lembut, mampu membuat hatinya menghangat.
"Kata papa, laki-laki halus kuat. Halus bica tahan cakit. Nda boleh cengeng, nanti jadi pelempuan kalau cengeng." Jawab Altaf dengan polosnya.
Mendengar itu, Aletta tersenyum. Dia mengusap rambut hitam Altaf dengan lembut.
"Dengar, kita harus bisa menunjukkan rasa sakit kalau kita sakit. Altaf pun harus begitu. Bukan karena lemah, laki-laki kan juga manusia. Kulit kita sama, pasti juga merasakan sakit. Jadi, kalau sakit Altaf harus bilang yah," ujar Aletta dengan memberi pengertian pada bocah seumuran putrinya.
Dengan lugu nya, Altaf mengangguk. Aletta yang melihat anggukan Altaf mengacak gemas rambut bocah laki-laki itu.
"Tante gak punya obat merah, nanti pulang sekolah minta sama mama Altaf buat obatin lukanya yah," ujar Aletta yang mana membuat Altaf kembali menunduk.
Qiara menatap Altaf, dia mengerti mengapa Altaf merenung seperti itu. Anak itu pun berbisik di samping telinga sang mama.
"Mama, Altaf nda ada mama. Dia ada na papa." Bisik Qiara.
Aletta tertegun sejenak, pantas saja Altaf terdiam. Rupanya, dia menyinggung perasaan bocah laki-laki itu.
"Altaf nda punya mama, Altaf ada na papa. Biacana Altaf minta tolong bibi, nanti Altaf minta obatin sama bibi." Ujar Altaf sembari tersenyum tipis.
"Maaf yah, ehm begini saja ... nanti pulang sekolah, tante yang obatin luka Altaf. Sekarang, tante harus kerja dulu. Jemput Qiara, sekalian tante belikan kamu obat. Gimana? Atau mau minta sama UKS sekolah?" Aletta memberikan saran untuk Altaf, berharap bocah itu tak sedih lagi.
Altaf menggeleng, "Boleh cama tante aja?" Ujar polos anak itu yang mana membuat Qiara langsung melototkan matanya.
"Heeehh .... atap lumah!! Minta cama papamu caja! Janan Mamaku!" Pekik Qiara tak terima.
"Qia ..." Tegur Aletta.
Qiara memasang wajah kesal, dia dan Altaf memang bukan teman yang akur. Sedari awal masuk sekolah, Altaf dan Qiara selalu saja bertengkar. Teman sekelas mereka juga sudah pada tahu, jika Altaf dan Qiara tidak bisa akur jika di dekatkan.
"Calah telus, teltekan kali diliku" Kesal Qiara.
Aletta menatap Altaf, "Nanti pulang sekolah tunggu tante dengan Qia yah. Nanti akan tante obati lukanya."
Altaf mengangguk, bibirnya melengkungkan senyuman lebar. Berbeda dengan Qiara yang memasang wajah cemberutnya.
"Yasudah, kamu ajak Altaf masuk gih. Mama juga harus berangkat kerja." Pinta Aletta pada putrinya.
Qiara mengangguk, dia turun dari kursi dan menarik tangan Altaf. Yang mana, hal itu tentu membuat Altaf terkejut.
"Qia ...." Tegur Aletta, dia heran mengapa putrinya sebar-bar itu.
"MACUK DULU MAAA!!" Seru Qiara sembari berlari dengan menarik Altaf.
Aletta menggelengkan kepalanya, dia melihat bagaimana Altaf kesulitan menyeimbangkan langkah Qiara.
"Qiaa ... Qiaa ...."
.
.
.
Yovandra datang menjemput putranya, dia berjalan memasuki gerbang sekolah putranya dengan ponsel yang tertempel di telinganya. Pria itu tampak bertelponan sembari mencari keberadaan putranya.
"Ya, sepuluh menit lagi saya sampai. Kabarkan pada klien untuk menunggu sebentar," ujar Yovandra pada orang yang dirinya telepon.
Setelah menelpon, tatapan Yovandra jatuh pada kedua bocah yang sedang duduk manis di taman. Keduanya tampak menikmati susu kotak di tengah cuaca terik. Bergegas, Yovandra menghampiri keduanya. Karena salah satu dari kedua anak itu tak lain adalah putranya.
"Altaf!" Sery Yovan.
Altaf terkejut, dia langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Qiara.
"Ayo pulang." Ajak Yovan sembari menarik tangan putranya.
Altaf menarik tangannya yang di genggam Yovan, dia berusaha bertahan di tempat itu. Melihat putranya yang tak kunjung melangkah, Yovan pun kesal.
"Cepatlah! Papa harus meeting sekarang!" Sentak Yovan.
"Ndaa!! Altaf mau nunggu tante tantik." Pekik Altaf, dia berusaha melepaskan tangan dari cengkraman Yovan.
"Altaf! Jangan buat masalah disini, atau papa akan ...."
"MAMAAA!!" Teriak Qiara saat melihat kedatangan sang mama.
Aletta yang mendengar panggilan putrinya pun tersenyum, dia melangkah mendekatinya. Dirinya belum sadar dengan sosok pria yang membelakanginya sembari memegang tangan Altaf. Sementara Altaf, dia tersenyum senang saat melihat kedatangan Aletta.
Melihat senyum putranya pada seseorang yang Qiara panggil mama, membuat Yovan menoleh ke belakang. Seketika, Yovan melepaskan tangannya dari sang putra. Matanya tertuju pada Aletta. Tatapan mereka bertemu, senyum Aletta pun langsung luntur seketika. Jantung Yovan berdebar tak karuan, darahnya serasa berdesir. Dia membalikkan tubuhnya, sehingga kini keduanya saling berhadapan.
"Letta." Lirih Yovan.
"Kak Yovan?!" Kejut Aletta.