Games In Home

Games In Home
Pure Love



Prom night itu tinggal dihitung jam akan segera dimulai, Wendy sudah pergi sejak pagi tadi ke rumah kekasihnya. Seulgi dan Jimin sedang bersiap-siap merapikan diri untuk segera menghadiri peringatan kelulusan beberapa mahasiswa dan mahasiswi tersebut. Jimin terkesima melihat begitu menariknya gadis yang berdiri di depannya sekarang. Gaun yang membalut tubuh itu sangatlah cocok di pakai Seulgi dengan polesan riasan wajah yang tak begitu tebal. Kulit putih dan tubuh ramping itu mampu menarik minat Jimin untuk selalu menatapnya tanpa mengetahui untuk merasa cukup.


Bukan hanya Jimin, Seulgi juga ikut terkesima atas penampilan Jimin malam ini. Begitu tampan dan menawan, tubuh atletis itu tak bisa berbohong, walaupun dibalut dengan kemeja dan ditimpali lagi dengan jas hitam. Tetap saja otot-otot itu terlihat. Pria itu terlihat sangat segar dan sehat tanpa sedikitpun rasa cacat.


Jimin menjulurkan tangan sedikit menunduk untuk menggapai tangan permaisurinya. "Bagaimana tuan ratu apakah aku pantas untuk bersanding denganmu?" Jimin berdiri mengecup punggung tangan Seulgi. Menggandeng lengan Seulgi dan berjalan menuju mobil mewahnya yang sudah siap meluncur kemana saja membawa sang ratu.


Sampailah kampus dimana Seulgi menuntut ilmu. Sudah ramai sekali tamu undangan maupun penyelenggara yang berdansa bahkan makan dan minum, berbincang-bincang dengan sesama. Meminum minuman yang memabukkan bukanlah hal yang asing di tempat tersebut. Banyak pria tampan dan wanita cantik sesuai ucapan Wendy beberapa waktu tadi.


"Pergilah, Daddy akan duduk disini. Kau bebas sekarang. Kau mau berdansa atau mabuk-mabukan" mimpi apa Seulgi salam mendapatkan kebebasan tanpa diminta. Kebebasan itu tak bisa Seulgi sia-siakan mungkin saja hal ini hanya menerpa hidupnya sekali seumur hidup. Seulgi mulai menjauh, tapi atensi Seulgi tidak akan pernah lepas dari dua manik Jimin.


Irene menuntun ayahnya untuk duduk di salah satu sofa empuk di prom night ini. Irene tersenyum sebelum ia benar-benar pergi untuk bersenang-senang. "Lihatlah ada seseorang disana yang akan menemani ayah untuk menungguku selesai" bukan hanya Seulgi, Irene teman dekat Seulgi pun membawa sang ayah untuk ke prom night ini.


Jimin yang memejamkan matanya tak melihat interaksi dua manusia yang berdiri di depannya duduk. Hingga sofa yang kosong di sebelah merasa di naiki seseorang.


Jimin membuka matanya perlahan, meneguk sedikit wine yang sudah terhidang. Bahkan Jimin menuangkan wine itu ke gelas yang lain, dan menyuguhkannya di depan seseorang yang duduk di sampingnya. Tanpa di sadari masing-masing mereka adalah dua orang yang saling mengenal. Mata itu bertatap tajam seolah ada pertarungan sengit di antara mereka. "Wah, apa kabarmu teman?" Ucapan itu terlihat diremehkan oleh pihak lawan bicara. Jimin bersmirik menaikan bibirnya ke atas. "Teman makan teman maksudmu Eunwo?".


"Santai sedikit Ryu, masalah itu masih kau ungkit? Bahkan kau sudah bahagia dengan Joyi" Eunwo menepuk pundang Jimin pelan. Sudah lama rasanya tak bertemu dengan Eunwo. "Aku sudah bercerai dengan Jirae" siapa yang tidak tau Joyi? Sebelum keduanya menikah Jimin dan Jirae adalah teman satu sekolah bahkan satu kelas selama tiga tahun itu. Bahkan Jimin sempat memberi panggilan khusus untuk Jirae, dan panggilan itu adalah Joyi. "Aku sama sekali tidak peduli dengan Jirae ataupun Joyi. Bagaimana keadaan Yeri?" Malas Jimin sangat tidak ingin membahas apa yang berhubungan dengan Jirae sedikitpun, Jimin terlalu membenci Jirae.


"Satu yang harus kau tau Seul, foto itu bukanlah aku itu hanyalah editan belaka". Suga berusaha semampu mungkin untuk membela dirinya, bahwa ia tidaklah selingkuh di belakang Seulgi. "Jika itu editan kenapa kau tidak menjalin kasih bersamaku lagi? Dan kau malah kembali bersama Wendy" Seulgi terasa ditusuk dari berbagai arah melihat Wendy datang ke prom night itu dengan menggandeng tangan Suga sebagai kekasihnya. Seulgi sama sekali tidak merasa benci ataupun marah pada Wendy, tapi Seulgi sangat marah serta kecewa terhadap Suga yang tak memiliki rasa setia dan tidak memiliki usaha untuk mempertahankan dirinya.


Suga mengusap air mata Seulgi yang jatuh oleh dirinya, menggapai dua tangan Seulgi dan mengecupnya pelan. Tangan Seulgi terasa sedikit hangat ketika tersentuh dengan tetesan air mata Suga. Mata mereka saling menatap, tatapan tulus dari hati ke hati. "Lihatlah mataku, aku selalu menatapmu seperti ini, disana terlihat bayanganmu ketulusan atas cinta untukmu kau tidak bisa membohongi tatapan tulusku padamu. Tapi kenapa kau tidak bisa menatapku seperti itu, aku selalu melihat banyak kebohongan dan kegelisahan di manikmu Seul. Sedangkan tatapan yang Wendy miliki selalu menatapku dengan cara aku menatapmu, hanya Wendy yang menatapku penuh cinta"


"Perlu kau tau, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun, tapi aku lebih memilik Wendy, dicintai itu jauh lebih baik dari pada mencintai". Suga memeluk Seulgi dengan erat, apakah ini kala terakhir untuk mereka melakukan hal ini, sangat tidak mungkin Seulgi memeluk Suga kembali sedangkan Wendy temannya sendiri adalah kekasih Suga. Suga sesegukan melimpahkan tangisnya di bahu Seulgi. "Maafkan aku Seul".


"Aku juga, mungkin aku tidak sempurna" tanpa pamit Seulgi berlari dari tempat sepi itu, ia berlari sekuat apa yang ia bisa. Menumbukan tubuhnya ke tubuh kekar pria yang duduk di sana. Memeluk erat dan menangis di bahu kekar pria itu. "Dad, bawa aku pulang" Eunwo menjadi heran, ketika pergi anaknya adalah Irene dan kenapa sekarang berubah menjadi Seulgi. Eunwo menunjuk punggu Seulgi dan telunjuk itu berbalik ke arah Jimin. Jimin mengangguk untuk jawaban pertanyaan Eunwo. Selama 1 jam Eunwo dan Jimin berbicara seakan berperang, sangatlah sengit dan saling menyudutkan tapi ntah kenapa tidak ada satupun yang ingin pindah dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


Jimin mengambil alih Seulgi, Seulgi yang tau ia salah peluk orang semakin terisak terasa malu. Wajah cantiknya ia sembunyikan di dada bidang Jimin. "Bawa aku pulang ini memalukan" Seulgi malah memukul punggung Jimin untuk menyalurkan rasa kesalnya. "Tidak perlu malu, itu hal biasa" walaupun Eunwo memberi sedikit penenangan tapi tetap saja Seulgi merasa sangat malu atas perlakuannya. Bibir itu mencabik dengen lucu membuat Jimin ingin mematuk bibir itu rasanya.


Masuk ke dalam rumah langsung saja Seulgi menghempaskan tubuh rampingnya di sofa empuk di ruang tamu itu. Satu jam berbaring dengan merungut memikirkan Suga dan memikirkan pria yang ia peluk tadi membuat Seulgi terasa pening terlebih-lebih atas malunya memeluk Eunwo.


Terlinat atensi Wendy masuk dan duduk di dekat Seulgi. "Maaf, aku akan pergi. Mungkin aku adalah orang yang tidak tau rasa malu jika tetap berada di rumahmu"


Seulgi bangun dari pembaringan, memeluk Wendy yang menatapnya sayu. Mengusap lembut punggung Wendy di dalam dekapannya. "Tidak, jangan pergi aku mohon. Jika kau pergi kau adalah orang yang tidak tau malu. Jika kau pergi siapa yang akan menjadi temanku?" Wendy tersenyum licik di balik dekapan itu. Membalas pelukan hangat Seulgi dan sedikit bernada lirih membuat Seulgi merasa sangat sayang pada Wendy. "Terima kasih Seul"