Games In Home

Games In Home
Eunwoo And Jimin



Seulgi menggerutu, semalam ia ditinggal sendiri di ruang kerja Jimin dan mengharuskannya untuk pulang sendiri. Dan pria bodoh itu sampai pagi ini belum memunculkan batang hidungnya. Seulgi bersumpah serapah jika Jimin tak pulang di besok hari, Seulgi yang akan pergi dari rumah jelek Jimin ini.


Seulgi terlalu malas dan jengah jika harus menghubungi Jimin lebih dulu, rasanya Seulgi tidak ingin menurunkan harga dirinya dengan menanyai keberadaan dan keadaan Jimin lebih dulu. "Lihat kau Ryu Jimin, rumah jelekmu ini terkutuk"


Keadaan Jimin dan Seulgi tidak jauh berbeda, sama-sama sedang dalam keadaan kesal, bahkan Jimin sekarang di titik kekesalan yang sangat besar. Rasa dongkol menjalar di seluruh tubuhnya, ingin sekali piring yang berisi makanan ini Jimin lempar tepat mengenai wajah Eunwoo.


Jimin ada tapi tidak dianggap keberadaanya, mungkin untuk sekarang Yeri dan Eunwoo sudah tidak tau Jimin itu masih bernafas atau tidak. Ini semua berakar dari Eunwoo yang sengaja bermanja-manja tepat di depan mantan kekasih istrinya itu. Eunwoo meminta untuk disuapi Yeri, sesekali bibir pria itu tidak hanya menguyah, bibir itu terkadang aktif mengecup bagian wajah Yeri. Jimin menatap tajam Eunwoo. Pria brengsek itu harus diberikan satu pukulan sepertinya sekarang.


Yeri tentu malu atas kelakuan bebal Eunwoo, Yeri tau pria itu sengaja untuk memanas-manasi Jimin, tetapi Yeri begitu malu sekarang. Memang pada dasarnya Eunwoo adalah jenis spesies yang manja dan pencemburu. Tapi perlakuannya membuat wajah Yeri tiada harganya sekarang. Tetapi di balik semua sumpah serapah oleh Eunwoo, Yeri bersorak dalam hati, ketika melihat tatapan mata Jimin yang begitu tajam itu seolah-olah mengartikan masih ada cinta untuknya. Yeri tidak sebrengsek itu untuk meninggalkan Eunwoo demi bersama Jimin. Sebesar apa pun cinta Yeri pada Jimin, dan seberapa besar pun cinta Jimin padanya, tetap Yeri berpegang teguh untuk  sehidup semati bersama Eunwoo. Bagaimanapun pria itulah yang membangkitkan dirinya dari sebuah keterpurukan, pria itu yang menemaninya selama 20 tahun dalam keadaan suka mau pun duka. Pria itu yang merawatnya selama sakit dan pria itu yang menghapus air matanya yang digantikannya dengan gelak tawa.


"Aku pulang dulu" ucap Jimin ingin segera beranjak dari tempat terkutuk itu. "Jimin, ini hari sabtu kan. Kalian berdua libur bekerja sampai besok. Bagaimana kau menginap dua hari lagi. Aku ingin memperkenalkan anakku padamu dia akan pulang hari Minggu, dan mana tau kalian akan berbaikan nantinya jika tinggal satu atap" tawar Yeri.


"Tid ...." Ucapan itu disela begitu saja. "Untuk apa kau pulang? Bukankah anakmu pergi ke luar negri? Untuk apa menyendiri di sana"


"Sayang. Biarkan para...."


"Baiklah aku akan tinggal dua hari lagi"


Eunwoo mencabikkan bibirnya menghadap istrinya. Yeri dengan cepat mencubit pinggang pria itu dan beralih senyum kepada Jimin. "Sakiit"


"Akh lebih baik kalian main game berdua. Aku ingin bersih-bersih"


"Kenapa sekarang kau memperbolehkan ku bermain? Bukankah kau menyita semua peralatan gameku?" Tanya Eunwoo, Yeri menarik nafasnya dalam. Heran padahal Eunwoo sudah hidup lama di bumi ini tapi kenapa otaknya itu sepertinya hanya dijadikan pajangan tanpa digunakan untuk berpikir sedikit saja. "Mengertilah Eunwoo"


Yeri menggeleng, kenapa dirinya membuat keputusan untuk duduk di antara dua orang dewasa yang sedang seperti anak kecil. Kadang berdiri kadang duduk hanya karena sebuah permainan game. Tak jarang Yeri memukul mereka ketika kalimat-kalimat yang tak seharusnya keluar dan sekarang terbayak begitu saja. "Sialan" Yeri mengembuskan nafasnya prustasi ia kira dengan bermain bersama mereka akan berbaikan tetapi malah menambah persangingan sengit.


"Brengsek". "Fu*ck". "Eunwoo bajingan". "Tutup mulutmu sialan". "Sia..." Kata sampah itu belum terucap sepenuhnya, suara barang pecah membuat keheningan di antara mereka. Mereka yang bertarung sengit dengan posisi berdiri segera duduk dengan tenang.


"Sayaaaaang. Aku baru membelinya bulan lalu" rengsek Eunwoo memandang nasib malang stick game yang sudah hancur itu. Yeri dengan cekatan merebut stick itu dari tangan Jimin dan segera membantingnya karena sudah tidak tahan atas kelakuan dua orang tua yang penuh dosa. "Persetan dengan benda tidak berguna itu. Kalian mau mengadu mulut sampah kalian denganku?"


"Kepalaku sakit mendengarnya, berikan aku kartumu Eunwoo. Aku ingin berbelanja saja"


"Biar kutemani dan aku yang bayar" tawar Jimin.


"Dasar parasit. Suamimu akan mengantarmu nyonya"


"Brengsek. Kekasihmu ini pasti akan mengantarkamu kemana saja"


Yeri memijat pelipisnya, Yeri yang tadinya berdiri segera menghantamkan tubuhnya pada sofa. Menghela nafasnya panjang, Yeri kira rencananya berhasil untuk menjadikan mereka teman tetapi mereka hanya menguras emosinya saja.


"Kalian berdua boleh ikut" finishing Yeri.


"Ya Eunwoo, pinjam baju jelekmu lagi, tidak mungkin pergi memakai baju usangmu ini"


"Kau hanya meminjam berhenti memaki"


"Ya Tuhan, cabut nyawaku saja"


Akhirnya mereka sampai di mall terdekat, tidak di rumah saja, Eunwoo dan Jimin tetap bertengkar di dalam mobil tadinya. Eunwoo menyuruh Jimin mengebudi, dan Jimin tidak akan pernah Sudi menjadi sopir mereka berdua. Begitu pula sebaliknya Eunwoo tidak akan pernah menghalalkan menjadi sopir Jimin dan Yeri. Hal kecil itu mengharuskan Yeri yang mengemudi. "Kalian bertengkar di mall. Kalian akan kucincanh" ancam Yeri mendahului mereka untuk melihat-lihat barang-barang brended, sepertinya Yeri akan puas sekarang melihat ada dua ATM berjalan di belakangnya.


Yang pertama Yeri beli adalah dua buah tas. "Tasnya bagus-bagus tapi untung sekarang aku akan ambil dua saja" Jimin dan Eunwoo hanya mengamati gerak gerik Yeri yang berbicara bersama salah satu pegawai. "Apa yang kau lihat Eunwoo. Bayar!" Eunwoo mengangguk seperti orang bodoh dan pergi untuk mengurangi saldonya. "Tasnya bagus semua? Kau suka?" Tanya Jimin, hanya dihadiahi anggukan berkali-kali dari Yeri. "Akh nyonya, bungkuskan aku 10 buah lagi. Biarkan nyonyaku memilih yang paling bagus dari semua yang bagus"


"Tidak perlu biarkan hanya uang Eunwoo yang ku kuras, kau tid...." Ucapan Yeri terputus oleh suara Jimin. "Jika Nyonyaku tidak ingin memilih bungkus semuanya" Yeri melongo memikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan Jimin saat ini, memang tempat ini hanya memiliki sedikit pajangan tetapi tetap saja harganya mahal. Jimin pergi menyusul Eunwoo untung menggesekan kartu. "Tidak perlu sok kaya Ryu Jimin" Eunwoo menatap tajam Jimin hanya dengar ekor matanya. "Aku memang kaya raya" cih Jimin yang sombong.


Yeri sedikit belari melihat pajangan sepatu. Yeri baru memagang niat melihat sebuah sepatu, tetapi ucapan Eunwoo membuat Yeri terperanjat. "Bungkuskan untuk cintaku satu rak itu". Yeri bergelayut manja, mengalungkan tangannya di leher Eunwoo, memonyongkan bibirnya gemas. "Kenapa hanya satu? Aku ingin lebih Eunwoo"  rengek Yeri manja. Jimin memutar bola matanya malas, Jimin tau Yeri gila belanja, tetapi kenapa disaat ia ingin membelikannya Yeri menolak. Seharusnya wanita itu juga bergelayut pada tubuhnya dan membiarkan uangnya melarat begitu saja hari ini, itu sama sekali tidak membuat Jimin miskin. Eunwoo mengangguk mendekatkan bibirnya pada telinga Yeri. "Jangan lupa untuk service terbaik nanti malam" Eunwoo menjauh dari telinga itu dan menatap manik Yeri memberikan wanita itu kedipan sebelah mata, pria nakal.


Yeri puas untuk hari ini, lihatlah sekarang tubuhnya dikelilingi oleh banyak barang branded. Ini hasil membobol dua ATM no limit itu. Yeri tertawa puas melihat satu-satu benda yang baru ia beli. Ujung matanya melirik arah dapur memastikan dua ATM itu tidak bertengkar di saat disuruh masak bersama untuk makan malam.