Games In Home

Games In Home
Alone



Malam gelap itu Seulgi jalani seorang diri. Jirae tidak kunjung pulang. Seulgi tak hentinya menangis merasa sepi akan hidupnya. Ini sudah malam ke tiga Seulgi hanya tinggal sendiri di rumah. Katanya dan tidak tau faktanya Jirae pergi untuk urusan pekerjaan, malam menunjukan pukul 2 malam. Seulgi membuka pintu gerbang rumahnya melajukan motor sport di tengah malam yang gelap. Bukan tidak begitu menyinarkan dirinya, hanya ada awan awan gelap yang bersinar menghalangi bulan.


Seulgi mengandarai motornya dengan kecepatan tinggi, rambutnya yang terurai berhembus oleh angin. Seulgi menangis di balik helm itu. Matanya perih panas ketika menangis dengan tertepa angin keras. Seulgi berhenti di sebuah apartemen yang tinggi menjulang. Memakirkan motornya dan berlari menuju sebuah bilik. Memasukan angka -angka itu di sana hingga pintu itu terbuka.


Seulgi masuk membuka semua katup pintu yang ada, tidak ada terlihat seseorang di sana. Pria yang sudah ia rindukan tidak tidur di sini, jadi di manakah pria itu tinggal. Seulgi menghubungi semua teman Jimin, tidak satupun yang tau keberadaan Jimin sekarang.


Jimin menatap Irene yang tidur dengan pulas di sofa empuk itu. Sebenarnya Jimin tidak terlalu peduli dimana ia tinggal, dan tidak peduli jika tidak ada yang membantunya, sebab uang bisa membeli segalanya. Tetapi di malam itu Jimin bertemu dengan Irene di gemercik malam. Irene menawarkan kebaikan dengan tidur di apartemennya. Irene sudah berjanji tidak akan memberi tahu Seulgi tentang segalanya.


Irene mengalah untuk tidak tidur di kasur, sebab sudah dua malam ini suhu tubuh pria itu terhitung tinggi. Pria yang terlihat tegar itu hanya diam menyelimuti tubuh dinginnya di balik selimut. Matanya tidak mau terpejam selama ia tinggal di apartemen Irene. Irene terusik dengan bunyi yang berasal dari tempat di sampingnya, gadis itu berjalan mendekati Jimin yang sama sekali belum tidur.


"Kenapa paman belum tidur? Paman masih memikirkan Seulgi? Seulgi baik-baik saja, baru tadi sore aku bertemu dengannya" bohong Irene untuk menenangkan Jimin yang selalu memikirkan keadaan anaknya. Irene belum sama sekali bertemu Seulgi semenjak Jimin ada di apartemennya. Jimin hanya tidur dan makan di waktu malam di sini. Jika siang Jimin akan pergi bekerja.


Seulgi pasrah memarkirkan motornya di depan sebuah tempat yang selalu diramaikan oleh pengunjung. Di sini banyak orang dengan berpasangan, tetapi Seulgi sendiri duduk di atas motornya. Menatap banyak wahana yang sedang di perjalankan. Sebuah mobil hampir saja menabrak Seulgi, bahkan dengan hal yang mengancam nyawanya Seulgi tidak begitu peduli, semua perhatiannya ada pada Jimin.


Pintu mobil itu terbuka, menampakan atensi wanita cantik dan menghampirinya. Menggapai kedua bahu Seulgi, melihat semua anggota tubuh si gadis. "Kau tidak apa-apa kan?" Khawatirnya. Seulgi menggeleng dan masih enggan berbicara. "Pulanglah nak, ini sudah malam. Tidak baik seorang gadis masih di luar" ujar wanita itu menasehati Seulgi yang terlihat menyedihkan. "Kau hanya bisa berbicara, sedangkan dirimu sendiri?"


"Aku baru pulang bekerja. Apakah kau baik-baik saja? matamu bengkak sebab menangis" Seulgi tidak menjawab malahan mengucurkan banyak air matanya, Seulgi sudah berusaha untuk terlihat tegar dan tidak menangis, tetapi ucapan wanita yang berada di depannya itu begitu lembut dan membuat hatinya menciut dan mengonfirmasi untuk menangis. Wanita itu terkejut apakah ia begitu lancang? Wanita paru baya itu menarik Seulgi masuk pada pelukannya, mengusap-usap punggung Seulgi demi menenangkannya.


"Aaaah begitu. Ayo ikut denganku, kau bisa menginap di rumahku untuk sementara" wanita itu menawarkan rumahnya sebagai tempat berteduh dan singgah supaya gadis itu tidak merasa kesepian dan pada akhirnya memilih jalan bunuh diri.


Seulgi menatap mata wanita itu dengan nanar, apakah benar dia ingin menampungnya? Padahal mereka baru saja bertemu. "Jangan menangis lagi, panggil aku Bibi Yeri. Aku orang baik" ujar Yeri menjawab pikiran Seulgi. "Suamimu akan marah bibi"


"Suamiku pergi ke luar kota, dan putriku tinggal sendiri. Aku juga butuh teman sekarang" Seulgi merasa itu tidak masalah, Seulgi mulai mengarungi kota malam ini di belakang mobil yang dikendarai Yeri. Tibalah mereka di dalam rumah Yeri, Yeri mempersilahkan Seulgi untuk segera tidur di kamarnya saja. Seulgi awalnya menolak dan meminta tidur di sofa saja, tapi Yeri sangatlah memaksa dan merasa tidak enak jika seorang tamu tidur di luar tanpa adanya kerajaan.


Yeri hanya menatap nanar wajah Seulgi yang sudah sedari tadi tertidur, mungkin gadis itu lelah setelah menangis berjam-jam. Yeri belum sama sekali tertidur, ia memikirkan keadaan suami dan anaknya yang jauh dari dirinya sekarang. Yeri butuh mereka untuk mengisi rumah yang besar ini, apakah Seulgi mau tinggal bersamanya? Pikir Yeri di dalam diam ini.


Pagi sudah datang, Seulgi menikmati sarapan buatan Yeri yang merasa ini sangatlah lezat. Mereka sama-sama pergi untuk keperluan masing-masing. Yeri sudah pasti bekerja dan Seulgi sudah yakin menuju tempat kerja Jimin. Seulgi sudah bertanya-tanya kepada banyak stap kariyawan untuk keberadaan Jimin. Dari semua stap yang sudah Seulgi tanyain, semua jawabannya sama bahwa Jimin sudah tidak bekerja dari tiga hari yang lalu.


Seulgi jadi pusing sendiri, mungkin di lain waktu Seulgi akan mencari Jimin kembali. Saat ini ia harus segera pergi menuntut ilmu di universitas. Seulgi langsung saja melesat menerpa angin dengan motor nya. Memarkirkan motornya di parkiran kampus dan segera turun melangkahkan kakinya menuju koridor. Yang pertama kali ia rangkul adalah atensi Irene yang terkihat terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba dari Seulgi yang berasal dari arah belakang.


Seulgi masih dengan wajah merungutnya, Irene sangat tau kenapa gadis itu memiliki suasana yang tidak baik saat ini. Rasanya Irene sangat ingin memberi tau keberadaan Jimin. Irene tidak tega melihat Seulgi yang selalu merungut, dan sangat tidak tega kepada Jimin yang terlihat saling membutuhkan. Sungguh Irene sekarang berada di ambang-ambang putus asa dan tidak tau harus berbuat apa.