Games In Home

Games In Home
Meet You



Tidak terasa waktu 2 tahun tanpa seorang ibu telah Wendy jalani bersama Jimin. Jimin memudahkan semua hidupnya, Wendy mendapat kasih sayang yang begitu besar dari Jimin, tapi rasa rindu tetap akan menjalar, rindunya selalu membuncah mengingat nama Jirae. "Daddy ingatkan janji Daddy?"


"Iya sayang, lusa kita berangkat" Jimin tidak akan bisa menolak keinginan Wendy. Gadis kecilnya ingin pindah dari universitas Canada ke Amerika.


Sekarang sudah waktunya Wendy masuk di kuliah di hari pertama di universitas barunya. Wendy itu cantik tidak heran bisa kedatangan Wendy bisa terdengar dengan cepat di telinga-telinga para pria yang suka dengan pemandangan gadis cantik.


"Emesralda kau sangat cantik" Wendy merasa muak ketika teman sekelasnya selalu merayu dengan kata-kata cantik tidak perlu diucapkan Wendy sudah tau sejak lama jika dirinya cantik. Andai Suga ada di sini, kepala pria itu mungkin sudah terpisah dari badannya. Hanya seorang Suga yang tau keberadaan Wendy, Suga terkadang berkunjung ke Canada untuk bertemu dengan kekasih manisnya. Jimin tidak akan pernah suka dengan hubungan itu, apalagi Suga sudah dicap dengan pria brengsek sebab berani membuat Seulgi menangis. Tapi bukan berarti Jimin menolak Suga bersama Wendy, hanya saja dulu Jimin itu mencintai Seulgi makanya Jimin tidak akan pernah rela Seulgi bersama pria lain.


"Floryn, aku dengar-dengar ada seorang mahasiswi baru pindahan dari universitas yang sama dengan kita" Irene memberitakan hal yang tidak penting menurut Seulgi.


"Terus aku harus apa? Jika ada siswa yang sama dengan kita, kita akan membawanya berteman dan...."


"Namanya Esmeralda, mari kita ajak berteman" sesak Irene


"Song Ireng atau Irene Bae, Esmeralda itu bukan orang penting yang harus kita ajak berteman"  Irene mendengus mendengar nama aslinya dicapkan Seulgi. Irene duduk di samping Irene yang bermalas-malasan berguling di meja, memainkan ponselnya mamandang postingan-postingan media sosial. Irene membulatkan matanya ketika salah satu teman sekel asnya memosting sebuah foto bersama orang yang sangat ia kenal. Di dalam postingan itu diberi caption "Nice To Meet You Esmeralda"


"Floryn, lihatlah ini Esmeralda" Seulgi sedikit menoleh, Ryu Seulgi tifak kalah terkejutnya dengan Irene. Mereka tidak salah lihatkan, Esmeralda itu adalah Wendy. "Ha? Wendy? Dia dapat beasiswa?"


"Apa ibunya sudah kaya sekarang?" Mereka berdua tidak pernah tau rupa ibu Wendy, tapi Wendy selalu mengeluh masalah ekonomi lihatlah sekarang, bukankah ini sangat tidak mungkin Jika Wendy bisa masuk di universitas mahal yang diisi kebanyakan hanya kalangan atas saja yang mampu menuntut ilmu di sini. "Apa benar ibunya sudah kaya? Dulu Wendy adalah orang yang selalu menumpang tidur dirumahku" ujar Seulgi masih tidak percaya.


Untuk memastikan lebih tepatnya Seulgi dan Irene mendatangi fakultas Wendy. Bener adanya jika Esmeralda itu adalah Wendy. Seulgi teringat bagaimana bringasnya Wendy merebut Suga darinya. Memang Seulgi memaafkan Wendy dan itu tidak menutup kemungkinan Seulgi tetap ingin balas dendam. "Diam di sini Krystal dan jangan hentikan aku" Seulgi berjalan menghadapa Wendy yang terlihat bingung dan senang melihat sahabat lamanya. Wendy ingin memeluknya tapi Seulgi lebih dulu menampis tangan Wendy.


Seulgi meraba-raba pakaian Wendy, menikmati tekstus pakaian yang melekat di tubuh gadis putih itu. "Wah, asli dan mahal. Orang miskin sepertimu dapat uang darimana untuk mendaftar di sini? Apakah kau memanfaatkan wajah cantikmu untuk mendapat uang? Akh maksudku pria mana yang kau kuras habis hartanya? Apa Suga sudah jatuh miskin karena mu sekarang?" Ini lebih tepatnya pembullyan.


"Apa maksudmu Seul...."


"Namaku Floryn"


"Bukankah kita berteman? Aku kau dan dia? Kau membenciku?" Tunjuk Wendy pada Irene.


"Akh bagaimana aku membenci sahabatku" orang-orang yang berada di sana sedikit lega, rupanya Floryn yang dikenal baik itu hanya bercanda tentang ucapannya tadi.


Mereka duduk menyeruput kopi yang tadinya mereka pesan.


"Bagaimana kau bisa di sini?" Tanya Irene.


"Aku bertemu ayahku, rupanya ayahku orang kaya hahaha." Wendy masih enggan menyebutkan nama Jimin.


"Kau kemari dengan ibumu?" Wendy menggeleng.


"Wendy, kau punya nomor Daddy Jimin?" Wendy terdiam sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Seulgi menghembuskan nafasnya, susah sekali untuk bertemu Jimin rupanya.


Seulgi memisahkan dirinya dari Irene setelah kelasnya berakhir. Seulgi meneguk alkohol yang terjadi di depannya. Melihat keramaian yang sedang menari di lantai dansa. Seulgi hanya ingin bermain-main di bar sebentar, hanya minum. Seulgi lelah harus berpisah jauh dengan Jimin dakam waktu yang semakin lama. Sudah 2 tahun setengah jalannya waktu begitu cepat.


Seulgi terbangun di dekapan seorang pria, pikiran Seulgi melayang apakah yang terjadi semalam? Ia terbangun hanya bisa melihat dada bidang seorang pria tanpa menggunakan pakaian. Seulgi mencium bau yang sangat ia kenal, ukiran yang ada di dada itu mengingatnya akan suatu hal, ukiran itu dimiliki oleh Jimin. Seulgi menggelengkan kepalanya tidak mungkin Jimin ada di sini. Seulgi harus segera pulang, pasti saat ini Eunwoo sedang duduk di kursi depan dengan muka datar dan tatapan tajamnya.


"Eegh" pria itu sedikit melenguh melepas lilitan lengannya dari Seulgi. Seulgi mematung menatap hal yang sangat tak terpercaya ini, Seulgi semalam tidur di pelukan Jimin? Sepertinya Seulgi sedang bermimpi. Gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya masih tidak percaya.


"Kenapa kau mundur? Kau sudah punya kekasih baru? Dan kau pasti sudah memiliki ayah baru"


"Kau sudah punya kekasih baru? Atau kau sudah menikah? Atau kau menggandeng tangan mama Ye...."


Mulut Seulgi dibungkam Jimin, Jimin menyatukan bibir mereka berdua. Jimin tidak suka apa yang diucapkan Seulgi tadi, bagaimana bisa kekasihnya itu berpikiran hal yang tidak-tidak.


"Aku hanya milikmu, milik Ryu Seulgi"